Rawagede, Pemerintah Belanda Meminta Maaf

http://assets.kompas.com/data/photo/2011/09/18/1339055620X310.jpg

Gambar ilustrasi: Makam korban pembantaian Rawagede oleh pasukan Belanda di Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang. Sumber gambar: Kompas http://assets.kompas.com/data/photo/2011/09/18/1339055620X310.jpg

Ketika hendak memasuki pintu utama housing, ada setumpuk koran yang diletakkan di lantai. Saya mendekat dan mengambil satu. Ternyata surat kabar independen yang terbit mingguan, UniversiteitKrant (UK) Groningen. Setiap minggu, koran tersebut terbit 16 halaman yang terdiri dari 13 halaman berbahasa Belanda dan 3 halaman berbahasa Inggris.

Di halaman berbahasa Inggris, koran tersebut menurunkan berita singkat berjudul Rawagede, sebuah nama yang tidak asing. Berita yang ditulis oleh René Fransen tersebut berkisah tentang sejarah singkat peristiwa Rawagede di tahun 9 Desember 1947 dan besok tepat pada peringatan ke-64, Pemerintah Belanda melalui Duta Besarnya untuk Republik Indonesia, akan meminta maaf secara resmi atas peristiwa pembunuhan missal (massacre). Berikut ini adalah berita yang dimuat di koran UK.

On 9 December 1947 Dutch troops raided the Indonesian village of Rawagede in search of rebel fighters. They rounded up 431 men – roughly the entire male population – and executed them on the spot. The massacre was part of the attempt to re-establish Dutch rule in Indonesia, formerly the Dutch East Indies colony.

After the Second World War, when Indonesia was occupied by Japan, a strong independence movement was formed. During what were euphemistically called ‘police actions’, in 1947 and 1949, Dutch troops tried to defeat the freedom fighters. Many war crimes were committed by the Dutch and the Rawagede massacre was one of the worst. It was condemned by the United Nations, but since the Dutch never officially recognized it as a war crime, they have never officially apologized for it. Some regret was expressed back in 1949 and in 1966 it was decided to invest EUR 400,000 of development aid in Rawagede as compensation.

In 2008 ten widowed survivors of the massacre took the Dutch government to court. The state advocate pleaded the statute of limitations, but last September the court ruled that the Dutch government was still liable for damages.

This week it was announced that on Friday 9 December the Dutch Ambassador to Indo­nesia will issue a formal apology at the Rawagede Memorial. Also, the seven widows and two descendants will receive ’symbolic’ compensation of EUR 20,000.

Permintaan resmi Pemerintah Belanda tersebut dilakukan menyusul menyusul keputusan pengadilan distrik Den Haag pada September lalu yang memerintahkan kepada pemerintah Belanda untuk memberikan ganti rugi kepada tujuh janda korban pembantaian massal Rawagede dan seorang pria yang menderita luka tembak pada 1947 (BBC Indonesia 5 Desember 2011, Belanda akan meminta maaf soal Rawagede).

Menurut rencana, Duta Besar Belanda untuk Indonesia akan berpidato di RawaGede (sekarang bernama Balongsari, Karawang). Peringatan Peristiwa Rawagede pada tanggal 9 Desember 2011 nanti akan sangat istimewa sebab setelah melalui perjuangan yang panjang hak-hak korban pembantaian Rawagede akhirnya diakui pasca keputusan Pengadilan Den Haag. Keputusan Pengadilan Den Haag tersebut sedikit terlambat bagi salah seorang penggugat Putusan pengadilan Den Haag ini terlambat bagi salah satu penggugat, Saih bin Sakam, karena satu-satunya korban hidup itu meninggal dunia sebelum putusan pengadilan dibacakan pada bulan September lalu (BBC Indonesia 14 September 2011, Tuntutan pembantaian Rawagede dikabulkan).

Peringatan peristiwa Rawagede ke-64 akan bertempat di Monumen Rawagede. Pemerintah Belanda juga akan memberikan ganti rugi sebesar 20.000 euro per keluarga korban yang mengajukan gugatan. Para keluarga korban meminta kepada Pemerintah Belanda agar tidak hanya mengucapkan permohonan maaf saja tetapi juga segera membayar kompensasi dalam bentuk uang sebagai pengganti kerugian materi dan nonmateri yang mereka derita setelah kehilangan suami, pekerjaan, bahkan harta benda (Vivanews, 8 Desember 2011, Korban Rawagede: Belanda Jangan Cuma Maaf).

Semoga keadilan bisa terus ditegakkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Media Sosial, Migrasi Virtual dan Desa Global

13231995721718975040

Gambar ilustrasi; sumber: http://oregonlawpracticemanagement.files.wordpress.com/2010/08/cyber.jpg

Menjelajah Dunia Virtual

Ketika membaca beberapa berita terkait dengan Solo Cyber Day yang digagas oleh Walikota Solo, Joko Widodo, terdapat beberapa poin yang menarik untuk dikaji. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 4 Desember 2011 tersebut, seperti diberitakan oleh Johan Wahyudi di Kompasiana, bahwa ribuan peserta mengikuti Solo Cyber Day di sepanjang jalan protocol Slamet Riyadi, Solo. Acara ini digagas supaya Internet dikenal oleh warga Solo, dan melaluinya, Kota Solo dapat dipromosikan melalui dunia maya kepada segenap penjuru masyarakat, tidak hanya di Indonesia namun juga masyarakat global.

Kehadiran Internet dan media sosial membawa perubahan yang berdampak besar pada sendi-sendi kehidupan masyarakat. Bermula dari ide untuk menghubungkan komputer dalam sebuah jaringan dan dipakai di bidang pertahanan dan militer, teknologi Interconnected Network (Internet) terus dikembangkan dan kini penggunaannya terus merambah ke segenap aspek kehidupan manusia. Internet tidak hanya dijadikan sebagai sebuah media komunikasi di bidang militer belaka, namun berkembang ke aspek bisnis hingga pendidikan. Melalui internet pula, informasi dan pengetahuan dapat ditemukan sekaligus menjadi sarana saling interaksi dan berbagi baik melalui media sosial, blog atau microblog.

Kemunculan Internet dan media sosial memungkinkan terjadinya sebuah interaksi dalam dunia virtual. Pengguna Internet dan media sosial dapat berkomunikasi, berinteraksi satu dengan yang lain meskipun mereka tidak bertatap muka. Perubahan ini menjadikan jarak sebagai suatu hal yang tidak jadi masalah. Selama pengguna Internet saling terhubung, mereka dapat berkomunikasi dan berinteraksi. Berkat Internet, segala macam peristiwa yang terjadi di belahan negara lain, dapat dinikmati pada saat itu juga.

Dengan kemunculan media sosial seperti Facebook, blog dan wiki, media komunikasi dan interaksi di dunia virtual menjadi lebih interaktif. Facebook hadir dan menawarkan situs pertemanan yang mengajak penggunanya untuk berbagi pemikiran (what’s on your mind), saling berkomentar, berbagi foto dan video hingga berbagi catatan. Sementara blog muncul sebagai sebuah kekuatan baru untuk berbagi informasi serta cerita dan pembaca dapat menaruhkan komentar atasnya. Melalui wiki, pengguna dapat saling berkolaborasi dalam menulis, saling berbagi informasi serta mengeditnya. Dengan demikian, masyarakat menjadi sangat tertarik untuk masuk ke dalam dunia virtual.

Migrasi Virtual dan Fenomena Desa Global

Apakah yang dimaksud dengan migrasi virtual? Kegiatan Solo cyber Day dapat dipakai untuk menjelaskan migrasi virtual. Layaknya sebuah migrasi (perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat yang lain), kegiatan Solo Cyber Day, mengajak wong Solo bermigrasi untuk menjadi cyber resident, seperti judul yang dirilis the Jakarta Post pada tanggal 4 Desember 2011 yang lalu.

Migrasi virtual menandakan bahwa seseorang akan memiliki aktivitas di dunia nyata maupun di dunia virtual. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki blog atau akun di Facebook, maka, orang tersebut akan beraktivitas di dunia nyata seperti bekerja atau belajar, juga akan berinteraksi dan terlibat dalam aktivitas dunia maya seperti menulis dan berkomentar di blog atau Facebook.

13231240491073444686

Gambar ilustrasi; Asia Top Internet Countries; sumber http://www.internetworldstats.com/stats3.htm

Hari makin hari, jumlah migrasi virtual semakin bertambah. Hal tersebut dapat dilihat dari statistik jumlah pengguna internet. Di Indonesia, menurut data Internet World Stats, jumlah pengguna Internet pada tahun 2011 (Data bulan Juni 2011) sebanyak 39,600,000 dari jumlah estimasi jumlah penduduk Indonesia sebanyak 245,613,043. Dengan demikian, sekitar 16,1% penduduk Indonesia adalah pengguna Internet. Meskipun berada di posisi keempat di antara negara-negara Asia (setelah China, India dan Jepang), jumlah tersebut menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan jumlah pengguna Internet pada tahun 2000, yaitu hanya sejumlah 2,000,000 pengguna. Masih dengan data yang sama, Facebook subscribers di Indonesia tercatat sebanyak 38,860,460 pengguna.

Data dan angka pengguna Internet di Indonesia tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Komitmen pemerintah, salah satunya Walikota Solo dengan mencanangkan Solo Cyber Day, dapat menjadi sebuah sinyal terus meningkatnya jumlah pengguna Internet di Indonesia. Dengan demikian, jumlah migrasi virtual di masyarakat Indonesia juga akan terus meningkat.

Adanya migrasi virtual tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif. Melalui Solo Cyber Day, sebagai contoh, Walikota Solo berharap agar Kota Solo semakin popular melalui peran dunia maya. Jika warga Solo banyak yang mengakses Internet dan menulis tentang Solo di blog maka dengan sendirinya Kota Solo akan semakin dikenal. Meskipun demikian perlu tetap berhati-hati karena sebagaimana dunia nyata, kejahatan dan hal-hal negatif lainnya bisa timbul dengan cara memanfaatkan Internet dan media sosial.

Itulah sebabnya, banyak yang berpendapat bahwa Internet dan media sosial bak pedang bermata dua yang tajam pada kedua sisinya. Telah banyak terbukti gerakan-gerakan di media sosial yang mampu memberikan perubahan dan mempromosikan Indonesia ke masyarakat luar. Tetapi, tidak sedikit pula penyalahgunaan Internet dan media sosial untuk berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Oleh karena itu, perlu dipikirkan supaya media sosial dimanfaatkan untuk mendatangkan kemaslahatan bagi pengguna dan masyarakat sekitarnya.

Metafora desa global, sering dipakai untuk menggambarkan fenomena Internet dan media sosial. Di media tersebut, jarak fisik bukan lagi sebuah kendala karena Internt dan media sosial dapat menjadi sebuah jembatan untuk mengatasi masalah komunikasi yang terjadi karena perbedaan wilayah. Komunikasi bisa dilakukan secara real-time dengan bantuan Internet Karena hubungan dan interaksi antar individu jadi lebih mudah.

Konsekuensi dari desa global adalah bahwa tanggung jawab sosial tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu saja, namun lebih luas dan mengglobal. Permasalahan dan peristiwa di negara lain dapat segera terdengar di segenap penjuru dunia. Analogi desa menjadi sangat tepat karena komunikasi antar penduduk desa biasanya sangatlah intensif dan guyub sehingga peristiwa yang menimpa salah seorang penduduk desa, dapat dengan segera terdengar ke seluruh penduduknya.

Sebuah Refleksi

Bagi saya, Internet dan media sosial memberi perubahan yang berdampak besar. Internet dan media sosial hanyalah sebuah media yang dioperasikan oleh manusia, jadi manfaat/mudarat yang mungkin ditimbulkan terjadi karena faktor manusia. Jika memakai analogi pisau, maka pisau itu akan bermanfaat apabila dipakai untuk memasak, namun apabila dipakai untuk menodong, maka pisau tersebut akan melukai dan mengancam orang lain.

Internet dan media sosial menciptakan ruang berekspresi. Saya banyak menuliskan cerita dan pengalaman keluarga, sekolah maupun kehidupan sehari-hari di blog. Selain itu, melalui Kompasiana, saya juga membagikan cerita-cerita yang saya alami dengan maksud agar cerita dan kisah tersebut bisa bermanfaat untuk pembaca. Peran Kompasiana sebagai sebuah situs jurnalisme warga juga sangat strategis. Melalui berbagai genre tulisan yang disajikan, menjadikan Kompasiana sebagai salah satu media jurnalisme warga untuk menampung ide, gagasan, tulisan dan diskusi. Di Facebook, saya banyak menemukan teman-teman lama hingga dapat bersilaturahmi dan bernostalgia dengan mereka. Jadi, walaupun saat ini saya berada di Belanda, namun saya tetap bisa berkomunikasi dengan mereka dan berbagi kisah mereka yang saya tulis di Facebook, Twitter, blog atau Kompasiana.

Namun perlu diingat bahwa kehidupan dunia nyata dan dunia maya haruslah seimbang. Jangan sampai aktivitas di dunia maya mengganggu sosialisasi dan relasi manusia dengan manusia. Kehadiran sosial media yang bisa diakses dengan mudah di handphone seringkali membuat orang lupa akan aktivitas sosial kemasyarakatan. Mereka diasyikkan dengan beragam kegiatan di dunia maya. Dengan kata lain, aktivitas di dunia maya dan dunia nyata perlu keseimbangan. Maka itu banyak komunitas online yang melakukan kopdar (kopi darat) dengan maksud agar jalinan silaturahmi di dunia maya dapat berlanjut dan lebih erat dengan acara kopdar itu.

Walaupun tidak terlihat, namun dunia di Internet dan media sosial harus tetap memegang kaidah dan norma-norma yang ada di masyarakat, baik berupa nilai kesopanan, kesusilaan, norma agama dan norma hukum. Masing-masing pengguna Internet perlu menyadari bahwa meskipun bebas berekspreasi, tetapi kaidah dan norma tetap harus dipegang. Selain itu, pengguna media sosial juga perlu didorong untuk terus berbagi informasi, kisah dan pengalaman sehingga dapat menginspirasi pembaca. Sebagaimana harapan Walikota Solo, melalui Internet dan media sosial, para pengguna media sosial bisa terus menulis konten-konten yang positif seperti tempat wisata, kuliner, seni dan budaya supaya dapat dikenal di segenap penjuru dunia.

Oleh sebab itu, Internet dan media sosial bisa menjadi ajang promosi dan penghimpun informasi yang menimbulkan semangat dan energi yang positif untuk kemajuan pembangunan. Beberapa kali, #hastag terkait dengan Indonesia muncul di worldwide trending topic, misalnya ketika gelaran final sepakbola SEA Games beberapa waktu yang lalu. Inilah salah satu fenomena media sosial yang kini mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat karena Internet dan media sosial menjadi sebuah media yang powerful untuk mengangkat nama Indonesia. Pada aras lokal, cara Walikota Solo dengan menggelar Solo Cyber Day berupaya untuk mengangkat konten-kontel lokal untuk memopulerkan Solo melalui dunia maya.

Manfaatkan Internet dan media sosial untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Selamat menjadi cyber residents.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Menelpon Untuk Buka Pintu Toilet Umum, Bagaimana Caranya?

13229957601425440300

Gambar ilustrasi: Pintu toilet di stasiun kereta Leeuwarden. Harus menelpon untuk membukanya. Foto: dokumentasi pribadi

Toilet umum menjadi sebuah tempat favorit orang-orang yang suka melakukan perjalanan jauh, baik menggunakan sepeda motor, mobil, bus, kereta atau pesawat terbang. Jika sedang jalan-jalan di mall atau pusat perbelanjaan, toilet umum terlihat banyak orang yang mengunjunginya. Apalagi kalau sudah kebelet, rasanya, toilet umum adalah sebuah tempat pertama yang ingin dituju. Oleh karena itu, tidak heran jika setiap kali mampir ke toilet umum, orang-orang mengantri menunggu giliran.

Biasanya, untuk menggunakan toilet umum, orang harus membayar sesuai dengan tarif yang dipasang. Maka itu, ada orang yang bertugas menjaga toilet umum. Di Belanda, sistem itu masih dipakai pada beberapa toilet-toilet umum, namun ada juga yang sudah mulai beralih ke mesin. Caranya, orang yang ingin masuk ke toilet umum harus memasukkan koin 50 sen euro supaya pintu terbuka.

Tetapi, bagaimana kalau ada toilet umum yang tidak dijaga dan tidak ada lubang untuk memasukkan koin? Kalau di Indonesia, bila kebelet kencing, tinggal cari pohon besar atau di bawah jembatan (minta izin kencing kalau perlu), maka urusan kebelet sudah selesai. Tapi, bagaimana kalau kebelet di Belanda? Kencing sembarangan akan didenda, kalau tertangkap.

Pengalaman itu, saya alami bersama Daniel. Suatu malam di Stasiun Kereta Leeuwarden, saya dan Daniel tengah menunggu keberangkatan Sneltrein (kereta cepat) yang akan menuju ke Groningen. Kami memilih sneltrein ketimbang stoptrein (berhenti di setiap stasiun) karena pertimbangan waktu. Karena ada panggilan alam (kebelet kencing), maka kami mencari tanda petunjuk toilet. Kami menemukannya.

Sesampai di depan pintu toilet, kami bingung. Tidak ada penjaga, tidak ada lubang memasukkan koin. Di pintu tersebut ada petunjuk, namun dalam bahasa Belanda. Kami hampir menyerah, karena tidak tahu artinya. Maklum, penguasaan bahasa Belanda kami berdua sangat minim.

Di dekat toilet tersebut, berdiri seorang laki-laki. Daniel menghampirinya dan bertanya maksud tulisan di pintu toilet itu. Laki-laki itu pun membaca tulisan yang ada di pintu toilet itu sambil menjelaskannya. Dia berkata bahwa kami harus menelpon nomor yang ada di pintu tersebut supaya pintu akan terbuka. Biayanya 60 sen euro sekaligus sebagai biaya jasa toilet. Hanya 15 menit saya kesempatan berada di dalam toilet dan pada menit ke-12 akan ada pemberitahuan pertama. Jika tidak keluar hingga menit ke-15, maka pintu akan tertutup.

Daniel pun menelpon nomor yang tertera di pintu. Beberapa saat kemudain, terdengar suara sebagai tanda kunci pintu toilet tersebut terbuka. Daniel kemudian masuk ke dalam. Belum sampai 5 menit, Daniel sudah keluar. Kami berdua tertawa. Mungkin karena orang desa maka ketika mengalami pengalaman pertama seperti ini, kami takjub dibuatnya.

Rasa kagum belum berhenti. Di toilet itu ada 3 pintu, namun bagaimana bisa pintu toilet yang ada dihadapan Daniel-lah yang terbuka, buka pintu yang lain? Hingga muncul pertanyaan-pertanyaan bodoh, bagaimana mendeteksinya? Apakah dengan deteksi suhu tubuh? Deteksi sinyal?

Saya mencoba mencari tahu. Ah, ternyata nomor yang tertera di pintu tersebut berbeda-beda. Sama seperti menelpon operator handphone, jika 1 untuk informasi saldo pulsa, jika 2 untuk isi pulsa dan seterusnya. Di pintu pertama nomornya adalah 1010, pintu kedua 2020 dan pintu ketiga 3030. Terjawab sudah. Mungkin karena mirip dan masih kagok teknologi, jadi mata kami kurang teliti bahwa nomor tersebut berbeda.

Groningen, 4 Desember 2011….Selamat hari Minggu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS