Catatan Pendek Kontes Ngeblog VOA: Mendongkrak Semangat Menulis

http://media.voanews.com/images/Kontes+Ngeblog+VOA+Banner+480+x+200.jpg

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin deras, masyarakat setiap hari disuguhi dengan berbagai macam arus informasi dari berbagai sumber seperti media cetak maupun elektronik. Kehadiran teknologi membuka peluang bagi masyarakat untuk menikmati bermacam-macam informasi yang tersedia dari dalam negeri maupun luar negeri. Dengan kekuatan yang dimiliki oleh teknologi, pertukaran informasi lintas daerah dan negara dapat berlangsung secara aktual dan diterima pada waktu yang bersamaan.

Layanan media sosial dan blog yang terintegrasi dalam teknologi Internet memungkinkan masyarakat untuk aktif dalam proses pertukaran informasi dan pengetahuan. Hal ini berarti masyarakat tidak hanya lagi sebagai konsumen berita yang dikelola oleh media mainstream, namun sebaliknya masyarakat mampu menjadi produsen berita yang melaporkan dan menceritakan kejadian-kejadian yang ada di lingkungan sekitarnya. Kemunculan blog, dan jejaring sosial menjadi tempat bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam menyuarakan dan menyampaikan informasi kepada khalayak ramai.

Melalui layanan dan fasilitas di atas, masyarakat juga diberi kesempatan untuk beropini dan berpendapat atas sebuah peristiwa. Dengan teknologi Internet, masyarakat diajak untuk peduli dengan peristiwa yang terjadi, tidak hanya kejadian di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Dengan demikian, masyarakat menjadi lebih kritis dan berani dalam menyuarakan pendapat mereka lewat saluran yang tersedia di sosial media atau blog.

Semangat itulah yang terus gencar disuarakan, terutama di Indonesia. Dengan mengusung semangat demokrasi dan kebebasan berpendapat, masyarakat Indonesia diajak untuk peduli dan terlibat pembangunan demokrasi melalui menulis. Mengapa menulis? Ada banyak alasannya, tetapi beberapa prinsip pokoknya adalah bahwa tulisan mampu membawa perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat. Melalui tulisan, banyak orang akan mendapatkan inspirasi-inspirasi baru. Lewat tulisan pula, banyak orang yang mendapatkan semangat untuk melakukan perubahan.

Masyarakat Indonesia sudah semakin sadar akan pentingnya menulis. Menurut data yang dikeluarkan oleh SalingSilang.com yang melakukan inventarisasi jumlah blogger, di Indonesia kini terdapat 4, 1 juta pada Februari 2011. Dari data ini menunjukkan besarnya animo masyarakat melalui menulis. Data tersebut akan semakin menarik apabila disandingkan dengan data jumlah pengguna Internet di Indonesia. Menurut catatan Internet World Stats, jumlah pengguna Internet pada tahun 2011 (Data bulan Juni 2011) sebanyak 39,600,000 dari jumlah estimasi jumlah penduduk Indonesia sebanyak 245,613,043. Dengan demikian, sekitar 16,1% penduduk Indonesia adalah pengguna Internet. Dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet yang cenderung meningkat, maka masih ada potensi yang besar dalam memotivasi masyarakat Indonesia untuk menulis

Walaupun demikian, pekerjaan besar masih menunggu di depan mata. Selain mewujudkan pemerataan fasilitas Internet di Tanah Air, tidak kalah penting adalah memotivasi masyarakat untuk terus mau menulis. Menumbuhkan semangat menulis memang tidak mudah, namun bukan sesuatu hal yang tidak mungkin. Beragam cara bisa ditempuh dalam upaya untuk meningkatkan semangat menulis seperti melalui pelatihan atau lewat perlombaan. Perlombaan ditempuh untuk merangsang dan mendongkrak minat dan motivasi masyarakat untuk berani menulis atau paling tidak berani memulai menyusun sebuah tulisan. Hal ini sangat disadari oleh Voice of America (VOA), sehingga VOA menyelenggarakan sebuah kontes menulis bertajuk Kontes Ngeblog VOA.

Mengapa melalui perlombaan? Sebelum menjawabnya, mari kembali pada teori motivasi. Menurut teori motivasi, seseorang bisa termotivasi melakukan dan mengerjakan sesuatu, ada dorongan yang melatarbelakanginya karena dorongan dari dalam (intrinsik) atau dorongan dari luar (ekstrinsik). Seseorang yang termotivasi dari dalam, akan melakukan sesuatu berlandaskan kesenangan dan kepuasan untuk melakukan tersebut. Sebaliknya, seseorang yang termotivasi secara ekstrinsik, akan melakukan sesuatu untuk mengejar tujuan yang disediakan berupa imbalan-imbalan eksternal. Demikian juga dalam menulis. Seseorang menulis karena ada dorongan dan alasan tertentu. Jika dikaitkan dengan konteks motivasi intrinsik dan ekstrinsik, seseorang menulis karena ada dorongan dari dalam dan dorongan dari luar.

Bila dipadupadankan dengan teori motivasi, cara yang ditempuh VOA sangat menarik, yaitu mengajak para blogger untuk menjadikan berita-berita hasil liputan VOA pada program-program VOA di televisi nasional dan lokal, di radio daerah, di situs web VOA, Facebook, YouTube serta Twitter sebagai bahan inspirasi menulis. Berangkat dari kedua motivasi di atas, ada dua hal pokok yang bisa dipelajari dari sebuah perlombaan menulis.

Pertama, apapun motivasinya, salah satu faktor terpenting dalam menulis adalah konsistensi. Seseorang yang termotivasi dari dalam atau dari luar akan diperhadapkan pada situasi untuk menjaga agar terus memiliki semangat menulis. Persoalan tersebut muncul bisa karena ketiadaan ide menulis. Ketika itu terjadi, maka bisa mengendorkan semangat menulis sebab tidak tahu apa yang hendak ditulis. Akibatnya, produktivitas menulis menurun.

Tetapi, Kontes Ngeblog VOA mencoba mematahkan hal itu. Syarat perlombaan meminta peserta untuk menulis dengan bersumber dari program berita Voice of America. Dengan begitu banyak pemberitaan yang dimuat dan diproduksi di televisi, radio, website, Facebook dan Twitter, VOA ingin menunjukkan bahwa begitu banyak ide dan inspirasi menulis yang akan didapat dengan membaca berita. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan ketiadaan ide menulis sebab dengan membaca dan melihat program-program VOA yang beraneka ragam mulai dari politik, olahraga, pendidikan hingga budaya bisa dijadikan sumber inspirasi tulisan.

Kedua, VOA mencoba memotivasi pembaca untuk tidak hanya menjadi konsumen berita, namun juga sebagai produsen tulisan. Memotivasi bukanlah pekerjaan yang mudah, namun VOA melihat bahwa motivasi menulis bisa ditingkatkan dengan cara memberikan hadiah melalui sebuah kontes. VOA “menyerang dan menantang” blogger lewat Kontes Ngeblog VOA dengan maksud untuk mendongkrak semangat menulis.

Akhirnya, ucapan terima kasih secara khusus ditujukan untuk VOA yang menyelenggarakan Kontes Ngeblog VOA sebagai salah satu langkah untuk mendorong dan memotivasi blogger supaya terus bersemangat menulis. Melalui kontes ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan arti penting membaca dan menulis. Terus menulis dengan semangat berbagi sebab berbagi tak pernah rugi.

Catatan pendek di atas ditulis berdasarkan pengumuman Kontes Ngeblog VOA http://www.voanews.com/indonesian/news/130652368.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Perpustakaan Digital Cambridge, Buku dan Tulisan Tangan Isaac Newton Bisa Diakses Dunia

13237933261311611278
Cover Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica; sumber gambar http://cudl.lib.cam.ac.uk/collections/newton

Pada tanggal 9 Desember 2011 yang lalu, Cambridge University Library merilis berita yang sangat menarik. Perpustakan milik salah satu universitas ternama di dunia tersebut memberikan kemudahan kepada mereka yang ingin membaca buku dan tulisan para ilmuwan terkenal di dunia secara online. Proyek digitalisasi buku tersebut dimulai dengan mengunggah buku-buku karya Isaac Newton.

Siapa yang tidak kenal Isaac Newton? Sejak pendidikan dasar, Isaac Newton (1642-1727) sudah diperkenalkan dengan teorinya yang terkenal tentang gerak dan gravitasi. Namun, ada banyak orang yang tidak/belum mengetahui buku asli karya atau catatan tangan penulisnya. Jikalau harus membaca buku tersebut, maka harus pergi ke Perpustakaan Cambridge University.

Namun, orang di seluruh dunia kini dimudahkan untuk mengakses buku dan karya Isaac Newton dengan cara menggeser-geser mouse dan duduk di depan komputer. Melalui Cambridge Digital Library http://cudl.lib.cam.ac.uk/collections/newton, pengunjung bisa menikmati buku-buku terkenal Newton seperti Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica (atau lebih dikenal dengan Principia) yang dipublikasikan pada Juli 1687. Di buku tersebut, Newton meletakkan dasar-dasar Matematika, hukum gerak dan gravitasi.

1323793407172938454
Tulisan tangan Newton; sumber http://cudl.lib.cam.ac.uk/collections/newton

Selain Principia di perpustakaan digital Cambridge juga bisa mengakses buku Newton’s Waste Book. Jika pembaca ingin melihat tulisan tangan Newton dan hasil kerjanya dalam ilmu Calculus, maka sangat tepat membuka buku Newton’s Waste Book. Buku tersebut difoto pada tahun 2011 sedangkan transkripnya masih sedang pengerjaan dan menurut rencana akan tersedia pada tahun 2012.

Sampai saat ini, pengunjung juga bisa melihat beberapa buku catatan ketika Newton kuliah undergraduate di Trinity College yang berjudul Trinity College Notebook. Catatannya di bidang matematika dan geometri juga bisa diakses di buku College Notebook, sementara pemikiran awal Newton di bidang matematika dan kalkulus bisa dibaca di Early Papers.

Ke depan tentu masih ada karya Newton yang akan meyusul didokumentasikan di Cambridge Digital Library. Proyek digitalisasi buku tersebut sudah dimulai pada tahun 2010 dan koleksi buku-buku Newton sudah difoto sejak Summer tahun 2011. Dengan kecepatan penuh, setiap hari 200 halaman bisa terfoto. Menurut Anne Jarvis, librarian di University University Library, proyek ini akan melanjutkan mengunggah ribuan halaman karya Newton sampai semua karya Isaac Newton dapat diakses oleh seluruh penduduk dunia melalui internet.

Selamat membaca

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Rawagede, Pemerintah Belanda Meminta Maaf

http://assets.kompas.com/data/photo/2011/09/18/1339055620X310.jpg

Gambar ilustrasi: Makam korban pembantaian Rawagede oleh pasukan Belanda di Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang. Sumber gambar: Kompas http://assets.kompas.com/data/photo/2011/09/18/1339055620X310.jpg

Ketika hendak memasuki pintu utama housing, ada setumpuk koran yang diletakkan di lantai. Saya mendekat dan mengambil satu. Ternyata surat kabar independen yang terbit mingguan, UniversiteitKrant (UK) Groningen. Setiap minggu, koran tersebut terbit 16 halaman yang terdiri dari 13 halaman berbahasa Belanda dan 3 halaman berbahasa Inggris.

Di halaman berbahasa Inggris, koran tersebut menurunkan berita singkat berjudul Rawagede, sebuah nama yang tidak asing. Berita yang ditulis oleh René Fransen tersebut berkisah tentang sejarah singkat peristiwa Rawagede di tahun 9 Desember 1947 dan besok tepat pada peringatan ke-64, Pemerintah Belanda melalui Duta Besarnya untuk Republik Indonesia, akan meminta maaf secara resmi atas peristiwa pembunuhan missal (massacre). Berikut ini adalah berita yang dimuat di koran UK.

On 9 December 1947 Dutch troops raided the Indonesian village of Rawagede in search of rebel fighters. They rounded up 431 men – roughly the entire male population – and executed them on the spot. The massacre was part of the attempt to re-establish Dutch rule in Indonesia, formerly the Dutch East Indies colony.

After the Second World War, when Indonesia was occupied by Japan, a strong independence movement was formed. During what were euphemistically called ‘police actions’, in 1947 and 1949, Dutch troops tried to defeat the freedom fighters. Many war crimes were committed by the Dutch and the Rawagede massacre was one of the worst. It was condemned by the United Nations, but since the Dutch never officially recognized it as a war crime, they have never officially apologized for it. Some regret was expressed back in 1949 and in 1966 it was decided to invest EUR 400,000 of development aid in Rawagede as compensation.

In 2008 ten widowed survivors of the massacre took the Dutch government to court. The state advocate pleaded the statute of limitations, but last September the court ruled that the Dutch government was still liable for damages.

This week it was announced that on Friday 9 December the Dutch Ambassador to Indo­nesia will issue a formal apology at the Rawagede Memorial. Also, the seven widows and two descendants will receive ’symbolic’ compensation of EUR 20,000.

Permintaan resmi Pemerintah Belanda tersebut dilakukan menyusul menyusul keputusan pengadilan distrik Den Haag pada September lalu yang memerintahkan kepada pemerintah Belanda untuk memberikan ganti rugi kepada tujuh janda korban pembantaian massal Rawagede dan seorang pria yang menderita luka tembak pada 1947 (BBC Indonesia 5 Desember 2011, Belanda akan meminta maaf soal Rawagede).

Menurut rencana, Duta Besar Belanda untuk Indonesia akan berpidato di RawaGede (sekarang bernama Balongsari, Karawang). Peringatan Peristiwa Rawagede pada tanggal 9 Desember 2011 nanti akan sangat istimewa sebab setelah melalui perjuangan yang panjang hak-hak korban pembantaian Rawagede akhirnya diakui pasca keputusan Pengadilan Den Haag. Keputusan Pengadilan Den Haag tersebut sedikit terlambat bagi salah seorang penggugat Putusan pengadilan Den Haag ini terlambat bagi salah satu penggugat, Saih bin Sakam, karena satu-satunya korban hidup itu meninggal dunia sebelum putusan pengadilan dibacakan pada bulan September lalu (BBC Indonesia 14 September 2011, Tuntutan pembantaian Rawagede dikabulkan).

Peringatan peristiwa Rawagede ke-64 akan bertempat di Monumen Rawagede. Pemerintah Belanda juga akan memberikan ganti rugi sebesar 20.000 euro per keluarga korban yang mengajukan gugatan. Para keluarga korban meminta kepada Pemerintah Belanda agar tidak hanya mengucapkan permohonan maaf saja tetapi juga segera membayar kompensasi dalam bentuk uang sebagai pengganti kerugian materi dan nonmateri yang mereka derita setelah kehilangan suami, pekerjaan, bahkan harta benda (Vivanews, 8 Desember 2011, Korban Rawagede: Belanda Jangan Cuma Maaf).

Semoga keadilan bisa terus ditegakkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS