Melamar Visa Inggris Dari Belanda

Apply for visa online

Apply for a visa

Salah satu alasan saya memilih kuliah di Belanda adalah kesempatan yang sangat terbuka untuk berkeliling negara-negara di Eropa. Selain berkunjung di negara-negara yang masuk ke dalam wilayah Schengen, negara-negara seperti Inggris juga sangat menarik dikunjungi meskipun harus melamar visa terlebih dahulu. Walaupun akhirnya aplikasi visa disetujui, tetapi ada cerita yang menarik pada saat prosesnya. Tulisan singkat ini merangkum perjalanan saya melamar visa ke Inggris. Semoga dapat membantu teman-teman yang ingin mengajukan permohonan visa ke sana.

Proses melamar visa yang saya lalui melewati beberapa tahapan. Sebelum saya mengisi aplikasi, saya bertanya terlebih dahulu ke Kak Emmy Primadona yang kebetulan memiliki pengalaman yang sama berkunjung ke Inggris ketika sedang berkuliah di Den Haag, jadi paling tidak bisa memberikan gambaran proses yang dilalui ketika melamar visa Inggris dari Belanda.

Informasi yang diberikan Kak Emmy sangat global, berupa website untuk memasukkan aplikasi online, pembayaran hingga penyerahan dokumen visa. Dari website yang diberikan, saya harus membaca dengan teliti persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dan tahapan-tahapan yang dilalui. Tiga buah alamat website yang WAJIB dibookmark dan dipelajari adalah http://www.visa4uk.fco.gov.uk/, http://www.ukba.homeoffice.gov.uk/ dan https://www.visainfoservices.com/Pages/dest_org.aspx

Dalam mengajukan aplikasi visa, ada beberapa alasan berkunjung ke UK, misal hanya untuk berkunjung, untuk belajar atau untuk bekerja. Masing-masing tentu memiliki persyaratan yang berbeda-beda. Saya hanya ingin berbagi pengalaman pengajuan visa berkunjung ke UK sebagaimana yang pernah saya alami pada bulan November 2011 yang lalu. Berikut ini adalah tahapan yang saya lalui.

Begitu membuka website http://www.ukba.homeoffice.gov.uk/, saya pelajari halaman tersebut dan mengklik Do I Need Visa karena saya belum memiliki pengalaman melamar visa. Pasti ada banyak informasi yang saya peroleh di halaman tersebut. Di sana, saya harus memasukkan alasan berkunjung ke UK (Visit), passport yang saya miliki (Indonesia) dan Di mana saya tinggal sekarang (Netherlands). Setelah melengkapinya, saya memperoleh informasi mengenai syarat-syarat mengajukan visa dengan berdasarkan tujuan dan alasan berkunjung. Saya mempelajari dengan serius bagian General Visitors dan mencerna informasi yang diberikan. Di halaman tersebut, saya mengunduh dokumen dalam bentuk pdf sebagai sebuah rangkuman persyaratan-persyaratan untuk mengajukan visa ke Inggris.

Setelah membaca dan mempelajari dokumen yang dibutuhkan, saya mengumpulkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Saya buat list dokumen dan mencentangnya apabila dokumen sudah tersedia. Prinsip saya, lebih baik memberikan dokumen selengkap mungkin untuk meminimalkan lamaran visa saya ditolak. Ada 4 kelompok dokumen yang harus dilengkapi yang meliputi (Dapat dilihat di dokumen pdf:

  • Information about you (dokumen saya berupa: passport, pas foto berwarna (harus sesuai dengan ketentuan ini) dan surat pernyataan bahwa saya mahasiswa di Groningen University)
  • Information about your finances and employment (dokumen saya berupa: bank statement)
  • Your accommodation and travel details (dokumen saya berupa: tiket pulang-pergi dan alamat tinggal selama berada di UK).
  • Information about your visit to the UK (Print formulir pendaftaran visa online (akan dijelaskan kemudian), undangan/supporting letter dari teman yang tinggal di UK disertai dokumen pendukungnya seperti fotokopi passport dan kartu mahasiswa).

Proses berikutnya adalah mengisi aplikasi online. Pelamar visa harus membuka website http://www.visa4uk.fco.gov.uk/ dan memilih Apply for Visa. Untuk dapat mengisi formulir tersebut, pelamar visa membutuhkan alamat email yang aktif. Pelamar visa harus melengkapi application security karena semua informasi aplikasi visa akan dikirim melalui email. Formulir online tersebut harus dilengkapi. Aplikasi tersebut dapat disimpan apabila pelamar merasa capek karena cukup banyak pertanyaan yang harus dijawab. Untuk membuka atau melanjutkan kembali aplikasi visa, maka perlu membuka kembali website Visa4UK di atas dan memilih Existing Application Login here kemudian masukkan alamat email dan password sesuai dengan pada waktu pertama kali mengisi application security. Sebelum dan selama mengisi aplikasi online, bisa mempelajari 2 buah dokumen yang disediakan berupa VAF1A Application form general visitors dan VAF1A guidance note.

Bila semua formulir aplikasi sudah terisi, maka pelamar diwajibkan untuk membayar biaya pengajuan visa sebesar 90 euro. Pembayaran dilakukan secara online dengan menggunakan kartu kredit, Mastercard atau Visa. Karena saya tidak memiliki kartu kredit, saya meminta bantuan seorang teman untuk membayar visa saya tersebut dan menggantinya dengan uang tunai. Setelah terbayar, formulir tersebut harus diprint sebab harus diserahkan ke WorldBridge Service sebagai lembaga yang mengurus pengajuan visa. Di Belanda, penyerahan dokumen tersebut harus dilakukan di Jerman, tepatnya di Kota Duessoldorf.

Ada informasi yang mengatakan bahwa pengajuan visa UK bisa dilakukan di Amsterdam. Namun berdasarkan  berita lebih lanjut, hanya Mobile Biometric Clinic saja yang tersedia di di sana. Biayanya pun lebih mahal sekitar €147.56 dan harus mengirimkan sendiri aplikasi pengajuan visa ke UK Border Agency di Croydon, Inggris. Karena sepertinya lebih rumit, saya memilih pergi ke Duesseldorf sekalian mengunjungi salah satu kota di Jerman tersebut.

Untuk menyerahkan dokumen aplikasi ke kantor WorldBridge Service di Duessoldorf, saya harus membuat appointment terlebih dahulu. Appointment bisa dilakukan secara online di website https://www.visainfoservices.com/Pages/dest_org.aspx. Agar mendapatkan informasi kantor WorldBridge Service di Duessoldorf, ketika membuka website visainfoservices itu, masukkan United Kingdom sebagai Destination Country dan Germany sebagai Origin Country. Kemudian, pilih Make/reschedule an appointment at the visa application centre. Lanjutkan dengan mengisi isian formulir sebagai syarat mengajukan appointment di kantor WorldBridge Service. Pilih visa application centre di Duessoldorf, Visa Application Number dan isian lain untuk bisa melanjutkan memilih tanggal dan waktu appointment. Tentu, sesuaikan dengan waktu longgar pelamar, paling tidak bisa travelling ke Duessoldorf selama satu hari.

Sebelumnya, saya membeli tiket pulang-pergi Groningen-Duessoldorf di nshispeed. Entah murah atau mahal, saya membeli tiket pp tersebut seharga 40 euro. Hal terpenting adalah atur waktu perjalanan dan waktu appointment sebaik mungkin, jangan sampai terlambat. Untuk mengunjungi Dusseldorf, saya menggunakan kereta dari Groningen. Dari Groningen saya harus pergi ke Utrecht dan dilanjutkan dengan menggunakan kereta ICE International menuju ke Duessoldorf. Paling tidak perjalanan memakan waktu kira-kira 4 jam. Berbekal sebuah peta yang sudah saya persiapankan, setiba di Stasiun Duessoldorf, saya segera mencari Kantor WorldBridge Service yang tidak begitu jauh dari stasiun.

Saya datang satu jam sebelum waktu appointment. Karena kebetulan sepi, saya langsung dipersilakan menuju ke loket dan menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Dari rumah saya sudah menata dokumen yang diperlukan sehingga ketika petugas mengecek kelengkapan dokumen semua bisa berjalan dengan lancar. Apabila visa sudah jadi, oleh petugas, saya ditawari 2 opsi, pertama saya akan mengambil visa tersebut ke Duesseldorf kembali atau visa dikirim ke alamat dengan biaya 34 euro. Mengingat waktu dan biaya transportasi, saya memilih visa dikirim ke alamat. Apabila memilih opsi dikirim, pastikan memiliki alamat yang jelas dan aman. Apabila tinggal di student housing yang kotak posnya tidak tertib, lebih baik menghubungi teman atau kenalan yang memiliki rumah untuk dipinjam alamatnya. Selepas penyerahan dokumen, saya menuju ke ruang Biometric untuk cap sidik jari dan foto. Tidak sampai 5 menit, saya sudah keluar ruangan Biometric dan selesai sudah proses penyerahan aplikasi visa UK. Berikutnya, tinggal menunggu apakah visa ditolak/diterima. Semua bisa dicek di visainfoservices website dengan login berdasarkan nomor passport dan visa application number.

Berdasarkan pengalaman saya, hanya seminggu waktu yang dibutuhkan dari penyerahan dokumen hingga visa selesai dan dikirim ke Belanda. Mengenai hal ini, kasusnya bisa berbeda-beda, tergantung jumlah pelamar waktu itu dan kemungkinan kelengkapan berkas dokumen. Sebetulnya saya waswas ketika mengajukan visa ke UK ini mengingat nama saya hanya 1 kata saja, Winarto. Pengalaman pengunduran waktu keberangkatan ke Belanda bulan April 2011 karena pengajuan visa yang sedikit terkendala menjadi penyebabnya. Namun, kekhawatiran saya itu akhirnya hilang setelah mengecek secara online proses pengajuan visa di website dan menyatakan bahwa visa saya sudah dikirim sesuai dengan alamat yang saya berikan. Tetapi, ada satu yang menarik. Saya mendapat nama tambahan dari pemerintah United Kingdom. Di belakang nama Winarto, kini terdapat XXX. Terima kasih pemerintah United Kingdom untuk anugerah nama XXX di visa saya dan 6 bulan bisa berkunjung di negerimu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Dihapus, Selamat Tinggal Mokmen (Razia Polantas)

13273684961422163751

Foto ilustrasi: Razia polisi di jalan; sumber http://4.bp.blogspot.com/-4A-0KD0CSts/TdshDH5SUGI/AAAAAAAAACo/QtBVkxV8LYU/s1600/razia%2Bpolisi%2B2.JPG

Saat mendengarkan streaming Radio SoloPos FM, ada sebuah berita yang membuat saya terkejut. Mulai bulan Januari 2012, Polda Jateng mengeluarkan kebijakan untuk menghapus mokmen, istilah bagi pemeriksaan surat kelengkapan kendaraan bermotor di satu titik jalan yang dilakukan oleh polisi lalu lintas. Menurut Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jateng, Kombes Polisi M Naufal Yahya, seperti dilansir oleh Solopos FM, penghentian razia itu dilakukan berdasarkan hasil evaluasi Polda Jateng bahwa razia tak bisa menekan kasus kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Razia dinilai tidak efektif membuat masyarakat sadar berlalu lintas. Walaupun diterapkan di wilayah Jawa Tengah, namun kebijakan itu dilakukan bersamaan dengan kecelakaan tragis di kawasan Tugu Tani Jakarta.

Dengan dikeluarkan kebijakan tersebut, tentu banyak pro dan kontra yang bermunculan. Razia yang biasanya dilakukan pada titik-titik tertentu dimaksudkan untuk menegakkan kedisiplinan para pengguna jalan. Namun, pada kenyataannya, mokmen banyak disalahgunakan dengan cara mencari-cari kesalahan meskipun surat berkendara sudah lengkap. Pengguna jalan yang seringkali terhadang mokmen barangkali akan senang karena tidak ada lagi razia yang seringkali menyita banyak waktu. Sebaliknya, mungkin ada masyarakat yang kontra dengan penghapusan razia tersebut. Lha wong ada mokmen saja banyak yang melanggar, bagaimana kalau dihapus?

Untuk menegakkan kedisiplinan berkendara di jalan, Jajaran Satlantas Polres  Karanganyar  mengambil kebijakan, melakukan hunting. Bila di satu tempat polisi memergoki ada pengguna jalan melakukan pelanggaran, misal ada yang tidak memakai helm atau berboncengan 4 orang, melanggar marka, kelengkapan kendaraan tidak ada, maka pengguna jalan tersebut akan langsung dikejar dan ditilang. Apakah cara tersebut akan efektif meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas dan mengurangi angka kecelakaan?

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Banyak hal yang berpengaruh terhadap kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas, demikian pula dengan penyebab kecelakaan di jalan raya. Polisi lalu lintas sebagai pihak yang bertugas untuk menegakkan disiplin perlu berbenah. Mereka harus menindak setiap pelanggar lalu lintas sesuai dengan hukum yang berlaku. Permasalahannya, selama ini jika ada pelanggaran lalu lintas, maka penyelesaiannya dengan cara berdamai. Terkait dengan kesadaran masyarakat, banyak yang sembrono ketika berlalu lintas. Sebagai contohnya adalah berkirim SMS atau bertelepon ketika berkendara.

Pemahaman masyarakat mengenai Undang-Undang berlalu lintas harus dipahami oleh masyarakat. Ada atau tidak ada razia, sebagai masyarakat yang disiplin berlalu lintas, semestinya kelengkapan surat-surat dimiliki dan dibawa ketika bepergian. Ada atau tidak ada polisi, masyarakat tetap harus menjaga ketertiban dan berdisiplin dalam berlalu lintas seperti menaati lampu lalu lintas, memakai helm, tidak ngebut atau tidak melanggar marka jalan. Selain itu, salah satu hal yang bisa dipelajari dari beberapa kasus kecelakaan lalu lintas adalah pengemudi harus dalam keadaan sadar dan tidak sedang dalam pengaruh obat.

Kepolisian perlu terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kedisplinan berlalu lintas. Penyuluhan ke sekolah-sekolah misalnya, dapat dilakukan oleh kepolisian untuk meningkatkan kesadaran dan santun berlalu lintas. Kepolisian bersama masyarakat perlu terus mengkampanyekan santun dan aman berlalu lintas di jalan raya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Wisata Belajar, Berburu Buku Murah di Inggris

1326228289969477778
Beberapa buku yang dibeli di toko charity; foto dokumentasi pribadi

Perjalanan darat yang cukup melelahkan dari Groningen ke Inggris telah saya tempuh dengan bus Eurolines. Tidak hanya itu, segala macam persiapan yang saya lakukan mulai dari pengajuan visa ke UK, penyerahan dokumen visa ke Dusseldorf hingga berkemas barang-barang yang dibutuhkan selama di Inggris haruslah berbuah sesuatu yang manis. Ketika diberitahu bahwa saya bisa hunting buku-buku murah di toko-toko charity, hati saya langsung semringah. Obsesi saya untuk memiliki perpustakaan, paling tidak perpustakaan pribadi, selalu menggiring saya untuk berburu buku-buku. Apalagi jika mendengar buku murah, naluri saya langsung mengarah untuk datang ke sana. Liburan ke Inggris dalam rangka Natal dan Tahun Baru harus menghasilkan sesuatu, tidak hanya sekedar cuci mata dan senang-senang. Dengan berburu buku di toko charity, pasti akan ada manfaat yang saya peroleh. Charity shops, I’m coming!!!

Di Brighton, saya menemukan banyak toko charity. Ketika pertama kali masuk ke sebuah toko yang dimiliki oleh Oxfam, serasa saya ingin membeli semua buku-buku itu dan mengirimnya ke Indonesia. Tapi akhirnya saya tersadar bahwa semuanya harus disesuaikan dengan isi kantong. Memang harga buku rata-rata antara 1 pound hingga maksimal 3 pound, namun jika diambisi itu dituruti, maka habislah uang di dompet. Akhirnya saya memilih buku-buku yang menurut saya menarik.

Saya sadar bahwa untuk mewujudkan mimpi memiliki perpustakaan harus dicicil sedikit demi sedikit. Saya suka buku cerita anak-anak, buku-buku sejarah, novel, biografi atau buku-buku pengetahuan umum. Di toko charity milik The British Heart Foundation, ketika saya menemukan The Oxford Dictionary of Quotations dengan harga 1.99 pound, saya segera mengambilnya. Demikian pula ketika menemukan buku Richard Dawkins berjudul The God Delusion dengan harga 2 pound, saya segera memegangnya karena takut kalau diambil oleh orang lain.

Di toko charity Save the Children, saya banyak menemukan buku cerita anak-anak. Beberapa buku karya Grid Blyton yang dijual dengan harga 1.5 pound langsung saya amankan. Saya ingin menjadikan buku karya Grid Blyton tersebut dalam koleksi perpustakaan saya nantinya. Beberapa buku bacaan juga saya beli di toko charity yang dikelola oleh Martlets Shop, the Sussex Beacon dan YMCA Sussex Central.

13262364731641743955

Di depan toko charity milik Oxfam; foto dokumentasi pribadi

Bila masuk ke sebuah toko charity dan menemukan harga buku tertulis 30 atau 50 pence, kaki saya selalu melangkah untuk melihat judul buku yang dijual. Seperti ketika masuk ke toko the Sussex Beacon, di sebuah keranjang tertulis harga buku 30 pence. Buku tentang Roy Keane, salah satu bintang lapangan Manchester United yang menjadi idola saya, saya beli dengan harga 30 pence. Buku lain berjudul the Kite Runner karya Khaled Hosseini, saya beli dengan harga 50 pence. Murah bukan?

Tidak hanya buku yang dijual di toko-toko charity, namun juga berbagai macam pakaian, hiasan dinding, mainan anak-anak atau souvenir. Barang-barang itu disumbangkan oleh masyarakat untuk dijual dan uang hasil penjualan tersebut didonasikan kepada pihak tertentu sesuai dengan latar belakang organisasi yang mengorganisir toko charity tersebut. Jadi, dengan menyumbangkan barang-barang ke toko charity dan barang tersebut dibeli, maka uang tersebut dapat dipakai untuk membantu pihak-pihak tertentu yang membutuhkan. Seperti yang dilakukan Save the Children. Dalam poster yang terpasang di toko, tertulis sebagai berikut:

Everyday 30,000 young children die from preventable disease
We’re working flat out to save the children
You’re helping by shopping here

Perjalanan saya ke Inggris berbuah manis. Saya mendapat double kebahagiaan. Saya mendapat buku-buku yang saya inginkan dengan harga murah, sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan amal organisasi-organisasi yang memiliki charity shop. Secara total, saya membeli buku sebanyak 45 buah berupa cerita anak-anak, novel, pengetahuan umum dan biografi. Perjalanan saya kali ini semakin mewujudkan impian saya untuk memiliki perpustakaan. Saya bermimpi untuk memiliki koleksi buku yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang di sekeliling saya untuk menambah pengetahuan. Visa UK saya masih berlaku hingga Mei 2012. Saya masih memiliki waktu untuk hunting buku-buku lain di bulan-bulan lain sebelum visa saya habis masa berlaku. Saya juga perlu menabung terlebih dulu supaya dapat membeli buku lebih banyak lagi dan membayar ongkos kirim dengan kapal laut ke Indonesia.

Apakah ada yang hobi berburu buku dan memiliki mimpi seperti saya? Jika ada, we’re in the same boat. Apakah ada yang bisa kita lakukan bersama-sama sehingga mimpi tersebut terwujud?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS