• Home »
  • Daily Stories »
  • Strategi adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim: Sebuah pendekatan holistis dan integratif

Strategi adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim: Sebuah pendekatan holistis dan integratif

Perubahan iklim: Sebuah fakta

Perubahan iklim bukan lagi sebuah isu. Perubahan iklim adalah sebuah fakta yang harus dihadapi oleh masyarakat di bumi. Selain itu, perubahan iklim tidak hanya menjadi konsumsi para akademisi, pemerintah dan pelaku bisnis semata sebab topik ini telah menjadi pembicaraan masyarakat umum karena dampaknya yang dirasakan secara langsung dan nyata terasa. Media massa, baik cetak, elektronik maupun online turut meramaikan topik perubahan iklim tersebut dengan cara menyebarluaskan temuan-temuan penelitian terkait perubahan iklim termasuk memberitakan tantangan, kesempatan dan praktik-praktik masyarakat dalam upaya mencegah dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Mengingat dampak yang ditimbulkan semakin luas dan signifikan, diperlukan penanganan yang komprehensif, integratif dan holistik. Ada dua konsep utama yang diperkenalkan untuk menghadapi dampak perubahan iklim, yaitu mitigasi dan adaptasi.  Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah sebuah upaya yang penting dilakukan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Secara singkat, mitigasi berarti sebuah  usaha yang dilakukan untuk mencegah, menahan dan atau memerlambat efek gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global di bumi.  Berkebalikan dengan mitigasi, adaptasi lebih kepada upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan dirasakan oleh manusia di bumi. Mitigasi saja tidak cukup, demikian pula dengan hanya beradaptasi saja. Keduanya harus berjalan beririnan.  Oleh sebab itu, baik mitigasi dan adaptasi sangat penting dilakukan secara bersama-sama dan terintegrasi dalam menghadapi perubahan iklim.

Mengingat tema dan topik yang berkaitan dengan mitigasi dan adaptasi sangat luas, tulisan ini lebih lanjut akan lebih fokus kepada adaptasi yang perlu dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim. Hal ini juga sesuai dengan tema lomba blog yang diselenggarakan oleh Oxfam  mengenai praktik-praktik beradaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim. Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Meskipun demikian, mengingat kedua konsep mitigasi dan adaptasi begitu sangat berkaitan, pada beberapa bagian, tulisan ini juga harus menyinggung konsep dan praktik mitigasi perubahan iklim.

Sebelum melangkah ke diskusi mengenai adaptasi terhadap perubahan iklim, mari sejenak mengulas secara singkat tentang perubahan iklim berupa penyebab, dampak yang mungkin ditimbulkan, hingga kemunculan upaya-upaya untuk mencegah dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi. Oleh sebab itu, pada bagian selanjutnya, akan dibahas mengenai pengertian, penyebab, dampak dan seluk-beluk perubahan iklim yang tetap menjadi topik terpanas dalam penelitian, pengambilan kebijakan serta diskusi.

Perubahan Iklim: Pengertian, Penyebab dan Dampak

Dalam buku “Bumi Makin Panas”, secara lugas Meiviana dkk.  Selaku penulis menjelaskan konsep perubahan iklim. Menurut buku tersebut, perubahan iklim adalah “meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim lainnya, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan di udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya merubah pola iklim dunia” (Meiviana dkk, 2004, hal. 3).

Perubahan iklim tersebut terjadi karena proses alam yang melibatkan gas rumah kaca sehingga disebut dengan efek rumah kaca. Radiasi sinar matahari yang mencapai bumi dipantulkan kembali ke atmosfer bumi. Namun, tidak semua gelombang sinar matahari menembus atmosfer bumi, sebab ada gelombang cahaya yang ditangkap oleh gas-gas yang berada di atmosfer, atau gas rumah kaca yang berasal dari berbagai kegiatan manusia, terutama aktivitas industri dan setiap aktivitas yang menggunakan bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara, seperti penggunaan kendaraan bermotor dan penggunaan alat-alat elektronik).

Proses alamiah gas rumah kaca sebetulnya bermanfaat bagi kehidupan manusia, sebab membuat suhu bumi layak dihuni oleh manusia dan makhluk hidup. Namun, seiring dengan perkembangan industri yang semakin meningkat, penggunaan bahan bakar fosil yang tidak terkontrol, serta penebangan pohon dan hutan yang menjadi paru-paru dunia, menyebabkan akumulasi gas rumah kaca di atmosfer tidak terkendali. Akibat yang ditimbulkan adalah suhu di bumi mengalami peningkatan dan memberikan dampak yang serius bagi kelanjutan hidup penghuni bumi.

Oleh karena peristiwa gas rumah kaca terjadi secara global, dampak yang ditimbulkan juga dirasakan oleh seluruh penduduk dan makhluk hidup dipermukaan bumi. Akibat suhu udara yang meningkat, es dan gletser mencari, terutama di Kutub Utara dan Kutub Selatan, yang pada akhirnya membuat ketinggian air laut naik. Dengan peristiwa ini, maka akan menimbulkan efek yang berbahaya terutama masyarakat yang tinggal di pesisir laut dan pulau-pulau kecil. Mereka terancam kehilangan tempat tinggal dan penghidupan.

Akibat lain yang dihasilkan oleh perubahan iklim adalah kemungkinan terjadinya perubahan dan pergeseran musim. Para ahli memerkirakan bahwa dampak yang mungkin ditimbulkan dari perubahan iklim berupa musim kemarau dan kekeringan yang melanda bumi. Selain itu, juga akan timbul banyak angin kencang, namun dengan intensitas hujan yang berkurang (Melviana, dkk., 2004). Dengan peristiwa tersebut, maka akan muncul ancaman gagal panen bagi para petani hingga akan berdampak pada ketahanan dan keamanan pangan.

Ancaman dampak perubahan iklim tersebut dimungkinkan akan merubah pola hidup manusia dan makhluk hidup, sebab juga berpeluang berkembangnya penyakit-penyakit baru yang bisa menyerang manusia, hewan dan tumbuhan. Di daerah tropis seperti Indonesia misalnya, akan berpeluang munculnya penyebaran penyakit seperti demam berdarah dan malaria. Jika peningkatan suhu bumi terus berlanjut, bisa dimungkinkan beberapa makhluk hidup yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan suhu akan mati.

Pertanyaan lanjutannya adalah, bagaimana mengatasi dan mencegah dampak dari perubahan iklim yang sudah nyata-nyata ada dan mengancam kelangsungan hidup penghuni bumi? Pada bagian selanjutnya, akan diuraikan mengenai berbagai cara beradaptasi yang dilakukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Seperti yang dijelaskan pada bagian pertama, bahwa mitigasi dan adaptasi adalah proses yang sejalan dan tidak terpisahkan. Oleh sebab itu, selain fokus kepada strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, bagian berikut juga akan menyinggung topik mitigasi perubahan iklim.

Mencegah dan Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Dampak perubahan iklim sudah sangat nyata. Perubahan iklim sebetulnya bukan peristiwa yang baru, sebab pada dasarnya iklim bumi senantiasa berubah. Tetapi, persoalan yang dihadapi sekarang adalah perubahan iklim yang terjadi lebih cepat akibat akumulasi gas rumah kaca di atmosfer bumi. Selain aktivitas industri dan aktivitas manusia yang menggunakan bahan bakar fosil, tindakan manusia yang melakukan penggundulan hutan secara membabi buta hingga paru-paru dunia berkurang secara signifikan, membuat perubahan iklim berlangsung lebih cepat. Akibat yang ditimbulkan atas perubahan iklim itu juga terlihat nyata.

Ada dua langkah primer yang diambil, mitigasi (pencegahan) dan beradaptasi. Mitigasi pada prinsipnya adalah berbagai tindakan aktif untuk mencegah, memerlambat terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global dan mengurangi dampak perubahan iklim melalui penurunan emisi gas rumah kaca dan peningkatan penyerapan gas rumah kaca. Menurut laporan UNEP (2008), ada 4 prinsip dalam mitigasi, yaitu:

  • Eliminasi, dengan cara menghindari penggunaan alat-alat penghasil emisi gas rumah kaca, misalnya mengganti bola lampu pijar dengan lampu LED yang lebih hemat energy.
  • Pengurangan, dengan cara mengganti peralatan lama dan/atau mengoptimalkan struktur yang sudah ada, misalnya melalui mematikan alat-alat listrik yang tidak terpakai, menggunakan energy secara hemat dan efisien.
  • Substitusi: Penggunaan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan/atau pemanas, misalnya dengan memanfaatkan tenaga surya, angin, air, bio energi atau panas bumi sebagai pengganti bahan bakar fosil.
  • Offset: cara ini berbiaya rendah, tetapi memiliki manfaat yang cukup besar. Langkah yang diambil adalah melalui reboisasi dan reforestasi. Cara ini harus dilakukan dengan cakupan yang besar sehingga sering menjadi kendala.

Langkah kedua dalam menghadapi perubahan iklim adalah dengan melakukan adaptasi atau penyesuaian dengan perubahan itu. Adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan proses yang terjadi secara alamiah yang dilakukan oleh manusia dan makhluk hidup lain dalam habitat dan ekosistemnya sebagai sebuah reaksi atas perubahan yang terjadi. Menurut definisi UNDP yang dikutip UNEP (2008), adaptasi adalah “a process by which strategies aiming to moderate, cope with, and take advantage of the consequences of climate events are enhanced, developed and implemented.” Di dalam laporan tersebut juga menyertakan 4 prinsip dalam proses adaptasi perubahan iklim yaitu; menempatkan adaptasi dalam konteks pembangunan, membangun pengalaman beradaptasi untuk mengantisipasi variabilitas perubahan iklim, memahami bahwa adaptasi berlangsung dalam level yang berbeda, terkhusus di level lokal dan memahami bahwa adaptasi adalah proses yang terus berjalan.

Lebih lanjut, menurut UNEP (2008), untuk mencapai tujuan dari adaptasi di atas, perlu langkah-langkah strategies sehingga tepat sasaran dan meminimalkan kerugian dari perubahan iklim. Langkah-langkah adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut meliputi:

  1. Mendapatkan orang dan pihak yang tepat untuk terlibat dalam proses partisipatif. Hal ini didasari pada adaptasi perubahan iklim yang yang harus dilakukan secara terintegrasi dalam rencana dan program pembangunan. Dengan demikian, orang dan pihak yang terlibat; misalnya pemerintah, industri, masyarakat adat, masyarakat pesisir, NGOs; perlu duduk bersama membicarakan langkah-langkah yang ditempuh untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan menghasilkan keputusan melalui proses yang konprehensif.
  2. Mengidentifikasi kerentanan, meliputi risiko saat ini dan risiko potensial yang mungkin ditimbulkan. Setelah menentukan orang dan pihak terkait, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi risiko dan ancaman perubahan iklim, baik risiko saat ini maupun risiko jangka panjang.
  3. Penilaian kapasitas adaptasi. Hal ini berkaitan dengan properti yang dimiliki oleh pihak-pihak terkait dalam proses adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Penilaian kapasitas adaptasi ini penting untuk mengurangi risiko akibat perubahan iklim.
  4. Mengidentifikasi pilihan-pilihan adaptasi. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi pilihan-pilihan adaptasi yang mungkin dilakukan berdasarkan analisis risiko dan penilaian kapasitas adaptasi.
  5. Mengevaluasi pilihan. Jika pilihan-pilihan adaptasi sudah teridentifikasi, maka opsi-opsi tersebut perlu dipilih berdasarkan efektivitas, kemudahan dalam implementasi, penerimaan dari masyarakat lokal, dukungan dari ahli dan dampak sosial yang ditimbulkan.
  6. Implementasi. Tahap implementasi adalah tahap pelaksanaan pilihan adaptasi yang telah diputuskan untuk diambil dalam menyesuaikan diri dengan perubahan iklim.
  7. Monitor dan mengevaluasi adaptasi. Tahap terakhir adalah monitor pelaksanaan implementasi dan melakukan evaluasi atas pilihan adaptasi. Karena proses adaptasi adalah proses yang terus berjalan, dipenuhi dengan variabilitas dan cost yang ditimbulkan sulit untuk diperhitungkan/diprediksi, maka monitor dan evaluasi pilihan adaptasi perlu dilakukan.

Pada bagian di atas sudah diuraikan secara singkat dan umum mengenai mitigasi perubahan iklim dan adaptasi. Lantas, pertanyaan dalam konteks Indonesia adalah, bagaimana sikap dan tindakan pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam menghadapi perubahan iklim? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pada bagian berikutnya, akan didiskusikan secara khusus adaptasi yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, industri dan pihak-pihak terkait dalam menghadapi perubahan iklim.

Adaptasi Perubahan Iklim dalam Konteks Indonesia

Ringkasan strategi adaptasi

Ringkasan strategi adaptasi berdasarkan Adaptasi terhadap perubahan iklim: Policy brief

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan bahari yang sangat melimpah serta produksi di sektor pertanian yang tinggi. Namun, kekayaan tersebut saat ini menghadapi tantangan dengan adanya perubahan iklim yang mengancam para petani, nelayan dan masyarakat yang tinggal di daerah yang rawan bencana, seperti mereka yang tinggal di pesisir dan pulau-pulau kecil, sebab mata pencaharian mereka tergantung pada sektor pertanian dan perikanan yang peka terhadap iklim. Hal ini karena perubahan iklim telah mengakibatkan terjadinya perubahan cuaca dan musim dan naiknya permukaan air laut sehingga memberikan ancaman bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup. Jika tidak segera diantisipasi, sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengandalkan aktivitas penghidupan dari sektor-sektor yang rentan terhadap iklim seperti pertanian dan perikanan akan sangat terpukul dan merasakan dampak perubahan iklim yang signifikan.

Biaya yang ditimbulkan atas perubahan iklim memang belum bisa dikalkulasikan secara tepat. Namun yang pasti, melihat fakta-fakta perubahan iklim yang sudah nyata dan dampaknya yang mulai dirasakan, perlu segera diambil tindakan beradaptasi dengan perubahan iklim. Mengingat dampak perubahan iklim yang sudah nyata, misalnya kejadian cuaca yang lebih ekstrem, kenaikan permukaan air laut, kenaikan suhu air laut dan kenaikan suhu udara, pemerintah bersama dengan segenap pihak terkait perlu segera bertindak untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan atau bencana yang mungkin terjadi.

Dengan memerhatikan sektor-sektor yang potensial terkena dampak perubahan iklim, ada beberapa hal yang perlu segera dilakukan untuk beradaptasi. Sesuai dengan kerangka adaptasi yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, cara, metode dan opsi adaptasi perlu diimplementasikan dan diintegrasikan dengan rencana pembangunan, dengan tujuan melindungi dan masyarakat yang terkena dampak langsung perubahan iklim. Oleh karena itu, menyadari Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim, pemerintah lantas menyusun Rencana Aksi Nasional untuk Adaptasi Perubahan Iklim. Upaya-upaya adaptasi tersebut berguna sebagai dasar pembuatan rencana antisipasi, mulai dari penyebarluasan informasi, tindakan dan penanganan, hingga pelibatan masyarakat.

Dalam bentuk apa sajakah adaptasi perubahan iklim dilakukan? Di sektor pertanian misalnya, para petani perlu segera mempertimbangkan varietas tanaman dengan disertai pengelolaan dan cara penyimpanan air dan irigasi yang baik, sedangkan masyarakat di daerah pesisir, perlu mempertimbangkan mengatasi permasalahan kenaikan air laut melalui strategi membuat perlindungan dengan menanam pohon mangrove, mundur dan bermukim di daerah jauh dari pantai atau melakukan penyesuaian dengan mencari sumber pekerjaan lain. Di bidang kesehatan, karena perubahan iklim rentan terhadap penyebaran penyakit, misalnya demam berdarah atau malaria, diperlukan pengawasan penyebaran penyakit tersebut agar tidak terjadi wabah penyakit di tengah masyarakat.

Rahmasari (2011) menguraikan strategi adaptasi fisik, adaptasi sosial ekonomi dan adaptasi sumber daya manusia melalui pendekatan proaktif dan reaktif. Strategi adaptasi fisik dapat dilakukan dengan pendekatan proaktif yaitu dengan menanam tanaman yang secara langsung dapat menahan kenaikan muka laut, hantaman gelombang besar dan rob dan pendekatan reaktif yaitu dengan mengejar musim dan pengelolan terumbu karang. Strategi adaptasi sosial ekonomi dengan pendekatan proaktif melalui penggunaan bioteknologi di bidang budidaya tanaman yang nantinya akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir dan pendekatan reaktif yaitu masyarakat pesisir beralih ke mata pencaharian lain yang kemungkinan tidak akan terkena dampak perubahan iklim. Strategi adaptasi sumber daya manusia dapat dilakukan dengan cara manajemen pasca panen yaitu dengan memperhatikan penangkapan ikan di atas kapal sampai pada ikan tersebut siap diolah lebih lanjut atau dipasarkan, pola nafkah ganda yang bertujuan mendapatkan pendapatan alternatif dan melakukan kegiatan usaha di luar perikanan.

Penutup

Bahwa biaya (cost) dampak perubahan iklim memang sulit dihitung dan diprediksi, namun karena dampak itu sudah nyata dirasakan, maka mengevaluasi dan memonitor langkah-langkah adaptasi yang telah dipilih dan disesuaikan dengan kapasitas adaptasi masyarakat sangat penting dilakukan karena jika terjadi permasalahan dapat segera diatasi dan ditanggulangi.

Beradaptasi terhadap perubahan iklim merupakan prioritas mendesak bagi masyarakat di seluruh dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Setiap langkah adaptasi yang diambil perlu disesuaikan dengan program-program pembangnan sebab berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, keamanan pangan, pengendalian penyakit, perencanaan kota dan pengelolaan bencana. Oleh sebab itu, karena perubahan iklim memberi dampak pada semua sektor, maka penanganannya pun harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi dengan melibatkan segenap elemen masyarakat dan pemerintah.

Akhirnya, bumi dan alam telah berubah. Sebagaimana teori survival the fittest, bahwa hanya yang bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan-lah yang akan survive dan lestari, maka manusia dan makhluk hidup lainnya perlu menyesuaikan diri dengan perubahan iklim yang saat ini dampaknya sudah nyata. Manusia sebagai makhluk yang dikarunia akal budi oleh Sang Pencipta memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga kelestarian alam dan tidak merusak lingkungan.

Referensi bacaan:

Meiviana, dkk. (2004). Bumi Makin Panas – Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia.

Simpson, M.C., Gössling, S., Scott, D., Hall, C.M. and Gladin, E. (2008) Climate Change Adaptation and Mitigation in the Tourism Sector: Frameworks, Tools and Practices. UNEP, University of Oxford, UNWTO, WMO: Paris, France.

UNDP. (2007). Sisi lain perubahan iklim Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya. Diakses dari http://www.undp.or.id/pubs/docs/UNDP%20-%20Sisi%20Lain%20Perubahan%20Iklim%20ID.pdf.

Adaptasi terhadap perubahan iklim: Policy brief. Di akses dari http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/Publication/280016-1235115695188/5847179-1258084722370/Adaptasi.terhadap.Perubahan.Iklim.pdf.

Supriyatna, Jatna. Dampak Perubahan Iklim terhadap Kemiskinan. 8 Mei 2012. Diakses dari http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11075

Rahmasari, Lisda. (2011). Strategi adaptasi perubahan iklim bagi masyarakat pesisir.  Jurnal Sains dan Teknologi MARITIM, 10 (1), diakses dari http://www.unaki.ac.id/index.php/ejournal/jurnal-ilmiah/134-strategi-adaptasi-perubahan-iklim-bagi-masyarakat-pesisir.

http://rumahiklim.org/masyarakat-adat-dan-perubahan-iklim/adaptasi/

http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/11/strategi-untuk-mengurangi-dampak-ekstrem-perubahan-iklim

http://eprints.undip.ac.id/36496/1/bab_1-3.pdf

http://www.pdii.lipi.go.id/read/2012/02/15/adaptasi-mitigasi-masyarakat-pesisir-dalam-menghadapi-perubahan-iklim-dan-degradasi-sumber-daya-laut.html

http://www.aipi.or.id/en/news-and-messages/events/162-mengarusutamakan-adaptasi-terhadap-perubahan-iklim-dalam-agenda-pembangunan

http://pustaka.pu.go.id/new/artikel-detail.asp?id=319

http://www.satudunia.net/content/indepth-reportbelajar-upaya-adaptasi-perubahan-iklim-dari-semarang

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197212031999031-WAHYU_SURAKUSUMAH/Adaptasi_dan_mitigasi.pdf

http://www.mongabay.co.id/2012/12/14/mayoritas-orang-indonesia-sadar-dampak-perubahan-iklim-namun-gagal-lakukan-adaptasi/

http://rumahiklim.org/resources/apa-itu-redd-sebuah-panduan-untuk-masyarakat-adat-2010/

http://yogas09.student.ipb.ac.id/tolong-sisakan-mangrove-untuk-anak-cucu-kamii/

http://teguhalkhawarizmi.wordpress.com/2013/02/22/merawat-bakau-menjaga-hutan-bambu-melawan-pemanasan-global/

http://www.streamindonesia.org/resource-center/mitigasi-perubahan-iklim?language=id