Kemajuan Sebuah Kota Tidak Lepas dari Peran Pemimpinnya

Konferensi

300 orang ahli sejarah dari 25 negara berkumpul dalam pembukaan konferensi ahli sejarah se-Asia ke-22 di Solo. Acara ini adalah salah satu hasil dari promosi Kota Solo sebagai kota budaya "the spirit of Java" dan sebagai salah satu tujuan wisata serta MICE industry yang dilakukan oleh pemerintah kota setempat yang dipimpin oleh Jokowi.

Kota Surakarta (juga biasa disebut Kota Solo) kini mendapat sorotan tidak saja dari masyarakat lokal dan nasional, melainkan juga dari masyarakat international. Sejumlah prestasi membanggakan ditorehkan Kota Solo hingga membuat banyak orang terkagum-kagum dengan perubahan yang terjadi dan akhirnya mengunjungi kota yang dipromosikan sebagai “the spirit of Java” tersebut.  Walaupun sempat diguncang aksi kerusuhan pada tahun 1998 yang menyebabkan kelumpuhan pada sektor ekonomi, sosial dan budaya, saat ini Kota Solo sudah mengalami perubahan yang sangat signifikan.

Perubahan yang terjadi di Kota Solo, tidak terlepas dari pemimpinnya, yaitu Joko Widodo atau biasa disebut Jokowi. Sebagai seorang walikota, Jokowi yang terpilih pada bulan Juli 2005, memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat untuk menata Kota Solo yang kala itu masih belum memiliki perencanaan dan tata kota yang mapan. Jokowi dan wakilnya, FX. Rudyatmoko berkomitmen melakukan perubahan total terhadap Kota Solo. Tidak tanggung-tanggung, berbagai kebijakan yang mendasar dan  reformasi birokrasi dilakukan untuk menata Kota Solo.

Ketika mendengarkan sharing pengalaman Jokowi pada acara Indonesian Young Changemaker Summit (IYCS) di Bandung, terungkap sejumlah resep yang diterapkan Jokowi sebagai seorang pemimpin dalam membangun Kota Solo. Sebagai seorang pengusaha yang telah lama berkecimpung di dunia, Jokowi memahami prinsip-prinsip memasarkan sebuah produk ke konsumen. Dengan prinsip-prinsip itu, Jokowi pun memperlakukan Kota Solo sebagai sebuah produk yang harus dikelola sehingga mampu menjadi Kota yang memiliki daya kompetitif di mata masyarakat Kota Solo sendiri, Indonesia hingga mancanegara. Untuk mewujudkan itu, Kota Solo tidak saja melakukan branding strategy namun yang juga tidak kalah penting adalah memersiapkan fasilitas, sistem serta sarana dan prasarana  agar Kota Solo betul-betul menjadi kota yang maju dengan tetap memertahankan keunikan dan kekayaan budaya.

http://1.bp.blogspot.com/-SJAe6sk5NmU/Tc5IOwclYII/AAAAAAAAAEc/B_XpFo7SBh4/s1600/DSC00860.JPG

Bus tingkat wisata yang beroperasi di Kota Solo siap menyambut dan melayani wisatawan lokal, nasional dan mancanegara. Sumber gambar http://bit.ly/Na9NOF

Penataan kota, penyediaan fasilitas masyarakat dan reformasi birokrasi dilakukan secara berani demi terciptanya Kota Solo yang BERSERI (Berseri adalah slogan Kota Solo yang berarti Bersih, Sehat, Rapi dan Indah). Senada dengan slogan kampanye Jokowi pada pemilihan Walikota tahun 2005 yang lalu, Berseri Tanpa Korupsi,  setelah terpilih, reformasi birokrasi diterapkan seperti pada pengurusan izin usaha dan pembuatan KTP. Jokowi membalikkan paradigm yang selama ini dipercaya “jika bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah” dengan “jika bisa dipermudah, kenapa dipersulit” untuk menarik investor-investor nasional dan internasional masuk Kota Solo. Dengan langkah tersebut, para pengusaha yang semula enggan berbisnis di Kota Solo akibat proses birokrasi dan perizinan yang rumit dan tidak jelas, kemudian berbalik badan.

Sebagai seorang penguasaha, Jokowi tidak tanggung-tanggung memasarkan Kota Solo. Maksudnya adalah menarik investor, wisatawan dan acara-acara nasional dan internasional supaya diadakan di Kota Solo. Dalam sebuah wawancara, Jokowi mengungkapkan cara-cara memasarkan Kota Solo dengan cara menawarkan Kota Solo menjadi tuan rumah sebuah konferensi. Jokowi melakukan jemput bola ke berbagai negara seperti Russia, China, Turki, Kenya, Yunani dengan maksud agar Solo dipercaya sebagai tuan rumah. Jika diterima, maka dengan sendirinya, banyak delegasi dan wisatawan yang akan mengunjungi Kota Solo yang bisa berdampak ekonomi kota.

Berbagai acara kesenian berlevel Internasional pun pernah digelar di Kota Solo. Dengan mengusung “Solo’s Future is Solo’s Past”, Jokowi memposisikan Kota Solo sebagai sebuah kota maju yang bercirikan budaya daerah. Dengan usaha dan kerja kerasnya, pada tahun 2007, Solo menggelar International Ethnic Music Festival. Tahun berikutnya, dengan menonjolkan budaya khas batik, di Solo digelar the Solo Batik Carnival. Setahun kemudian, International Performing Arts Festival juga sukses dilaksanakan. Solo juga dipercaya menjadi tuan rumah the International Symposium of World Heritage Cities pada tahun 2008. Dengan capaian-capaian tersebut, kini Solo menjadi salah satu kota tujuan MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) industry.

Kesuksesan Solo di bidang MICE industry terus berlanjut. Di tahun 2011, digelar beberapa international events seperti Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Commission for the Promotion and Protection of the Rights of Women and Children, the Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development, dan the International Conference on New Media and Technology. Di tahun 2012, diselenggarakan 22nd International Associations of Historian of Asia (IAHA) yang digelar di kompleks Kraton Kasunanan Solo. Menurut laporan VOANews berjudul Solo Gelar Konferensi Ahli Sejarah se-Asia (3/7/2012), konferensi ini dihadiri oleh 300 delegasi yang datang dari 25 negara.

Bila dikaitkan dengan perubahan dan prestasi Kota Solo, penyelengaraan berbagai acara budaya dan konferensi di atas terjadi berkat kegigihan pemimpin, dalam hal ini Jokowi dan FX Rudyatmoko, dalam menjalankan roda pemerintahan di Kota Solo. Mengundang dan menjadi tuan rumah bagi 300 delegasi yang datang dari berbagai negara tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dalam usahanya, proposal Jokowi beberapa kali ditolak sebagai tuan rumah sebuah konferensi. Penyelenggara sebuah konferensi (Biasanya sebuah asosiasi atau organisasi, seperti International Associations of Historian of Asia, United Nations, Association of Southeast Asian Nations dan lain sebagainya) memiliki banyak kriteria sebelum menetapkan sebuah kota menjadi tuan rumah. Kriteria tersebut misalnya berkaitan dengan kapasitas ruang pertemuan (convention centre), hotel dan fasilitasnya, bandara yang melayani penerbangan nasional dan internasional, transportasi lokal, tempat wisata yang bisa dikunjungi serta fasilitas penunjangnya.

http://brand929fm.files.wordpress.com/2010/02/cimg3441.jpg

Kirab boyongan PKL yang berlangsung aman dan damai. Sumber gambar http://bit.ly/Tc1y5N

Untuk itulah, Jokowi beserta segenap jajarannya melakukan berbagai pembenahan pada setiap sektor. Hal ini dilakukan untuk memersiapkan Kota Solo sebagai kota yang layak dan pantas dijadikan salah satu tujuan wisata dan tujuan bisnis. Salah satu pembenahan yang dilakukan adalah menata para pedagang kali lima (PKL) yang semula menumpuk di sekitar Banjarsari. Melalui pendekatan yang halus, nguwongke uwong (memanusiakan manusia), relokasi PKL yang biasanya disertai bentrok antar pedagang dan petugas, di Solo bisa dilakukan secara aman dan damai, bahkan dikirab dan dipimpin langsung oleh Walikota Jokowi. Relokasi yang berjalan secara damai tersebut dilakukan secara bertahap, yaitu dengan cara memersiapkan wilayah baru beserta dengan fasilitas-fasilitasnya yang jauh lebih bersih, tertata dan aman dibandingkan dengan lokasi yang lama. Upaya mendekati warga pun dilakukan secara dialog dengan disertai jamuan makan bersama. Barangkali pengalamannya sebagai seorang penguasa telah membuat Jokowi tahu persis bagaimana bernegosiasi dan menghadapi orang.

Pembenahan juga dilakukan pada beberapa pasar tradisional yang menjadi ciri khas Kota Solo. Pasar tradisional yang semula identik kesemrawutan dan jauh dari pasar yang sehat, ditangan Jokowi, pasar tersebut dibenahi dan ditata sehingga menjadi pasar yang rapi. Negosiasi dengan pedagang pun berlangsung mulus. Pedagang diminta untuk dipindah ke tempat lain sementara pasar direnovasi. Ketika tempat sudah siap, maka pedagang bisa kembali berjualan ke tempat yang lama namun kini dengan keadaan yang jauh lebih baik dan sehat. Pedagang diberikan kemudahan dan fasilitas-fasilitas sehingga mereka merasa diuntungkan dengan adanya renovasi pasar tersebut. Sebagai contoh hasil dari penataan pasar ini, Pasar Gede sebagai salah satu simbol pasar tradisional Kota Solo, meraih juara pertama Lomba Penataan Pasar Tradisional tingkat Provinsi Jateng tahun 2011. Selain itu, penataan pasar tradisional di Solo mendapat respon yang cukup bagus dari berbagai pihak. Contohnya, negara Swedia melakukan studi banding dan belajar ke Kota Solo mengenai bagaimana cara menata pasar tradisional.

Pembenahan lain yang dilakukan oleh Jokowi adalah pada layanan publik. Misalnya, jaminan kesehatan diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu berupa pemberian kartu kesehatan. Mereka yang memenuhi kriteria akan mendapatkan kartu jaminan kesehatan dan mendapatkan pelayanan secara gratis. Dalam sebuah wawancara, ide ini diberikan karena Jokowi sering mendapatkan tamu dari masyarakat yang mengeluhkan biaya kesehatan yang mahal dan tidak mampu membayarnya. Jokowi juga membenahi layanan pembuatan KTP yang semula berlangsung beberapa hari dan rawan sogok menjadi layanan yang cepat, murah dan jauh dari potensi suap. Jokowi menyiapkan sistem-sistem pendukungnya sehingga masyarakat bisa menikmati layanan publik yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Kantor pelayanan perizinan di Kota Solo. Sangat profesional dan ramah menyambut setiap calon investor/pengusaha. Sumber gambar: http://bit.ly/IR5djR

Kantor pelayanan perizinan di Kota Solo. Sangat profesional dan ramah menyambut setiap calon investor/pengusaha. Sumber gambar: http://bit.ly/IR5djR

Masih berkaitan dengan layanan publik, Jokowi menyadari bahwa masyarakat sebuah kota membutuhkan lapangan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Lapangan pekerjaan bisa tercipta jika iklim bisnis yang stabil dan mudah mendapatkan izin usaha. Jika sebelumnya proses mendapatkan izin usaha begitu berbelit-belit, tidak jelas dan rawan korupsi, maka Jokowi membenahi melalui One Stop Service, atau layanan satu pintu. Dengan sistem yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan didukung dengan teknologi informasi, proses pengajuan izin usaha bisa cepat dilakukan, jelas dan tidak berpotensi terjadinya suap. Tempat layanan perizinan pun dibuat sebagaimana layaknya sebuah bank dengan ruang tunggu yang nyaman, antrian yang jelas dan staff yang melayani dengan ramah. Perubahan itu dimaksudkan untuk memberikan respon dan sambutan yang positif kepada para penguasaha yang akan berinvestasi di Solo. Pemikirannya sangat sederhana. Jika pada proses perizinan saja sudah tidak jelas dan dipersulit, bagaimana mungkin para pengusaha membuka bisnis di Kota Solo? Sebaliknya, jika proses perizinan dipermudah dan jelas, maka dimungkinkan banyak pebisnis akan berinvestasi di Solo hingga akan tercipta lapangan pekerjaan bagi masyarakat Solo.

Sebagai seorang pengusaha, Jokowi tahu betul bagaimana membentuk brand image sehingga konsumen bisa tertarik. Melalui berbagai usaha pembenahan yang dilakukan, Jokowi ingin membentuk image di mata publik bahwa Kota Solo adalah kota tetap memertahankan budaya dan memiliki iklim bisnis yang aman dan kondusif. Oleh sebab itu, ketika sebuah bom meledak di sebuah gereja di Solo, Jokowi langsung turun tangan dan melalui sebuah radio mengumumkan bahwa Solo adalah kota yang aman dan bom tersebut bukan sebagai pertanda bahwa tidak ada perselisihan antar agama di Solo. Respon cepat Jokowi tersebut menjadi sinyal bahwa sebagai seorang pemimpin, Jokowi bertanggung jawab menjaga Kota Solo agar tetap aman sehingga tidak mengganggu rutinitas warga Kota Solo.

Hubungan yang terjalin antara Jokowi dengan masyarakat juga terbilang mesra. Jokowi selalu rutin turun lapangan untuk melihat secara langsung program-program yang dikerjakan. Sebagai walikota, dengan langsung terjun di tengah-tengah masyarakat, Jokowi bisa secara langsung mendapatkan kritik, masukan dan keluhan dari masyarakat dan segera menindaklanjutinya. Jokowi memiliki prinsip keterbukaan melalui dialog sebagai cara menyelesaikan masalah. Sejak awal kepemimpinannya di tahun 2005, Jokowi menggelar rembug kota yang dihadiri oleh ribuan masyarakat Solo yang bertujuan menampung seluruh keluh kesah. Di tahun-tahun pertamanya sebagai walikota, Jokowi begitu banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat. Melalui keluhan itu, Jokowi segera bertindak guna melakukan pembenahan. Dialog tersebut tetap konsisten dilakukan sebagai sarana komunikasi dan dialog, dan jika ada permasalahan agar segera diselesaikan. Dengan cara ini, hubungan antara pemimpin dengan masyarakat begitu sangat dekat, dan bahkan tidak ada gap antara pemimpin dengan masyarakat. Inilah salah satu kunci kepemimpinan Jokowi yang hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat dan membuat banyak orang terkagum-kagum akan keberhasilannya memimpin Kota Solo.

Guna mendukung Solo sebagai kota tujuan wisata, sarana transportasi pun dibenahi. Bandara Adi Soemarmo menjelma menjadi bandara internasional yang memberi kemudahan untuk mengakses Kota Solo dari berbagai daerah. Transportasi lokal menjadi prioritas. Setelah bus Solo Batik Trans yang diluncurkan pada tahun 2010. Di tahun 2012, Railbus Batara Kresna juga diluncurkan dengan menempuh jalur Sukoharjo, Solo dan Jogjakarta. Kemudahan transportasi mengakses Solo dan transportasi lokal diharapkan dapat mendorong pertumbuhan jumlah pengunjung yang datang ke Kota Solo untuk menikmati Solo sebagai kota budaya yang dikemas secara modern.

Perubahan yang terjadi di Kota Solo tidak terlepas dari peran sentral seorang pemimpinnya. Jokowi sebagai seorang pemimpin berhasil mengajak masyarakat Kota Solo untuk maju bersama membangun kota. Selain itu, peran Jokowi sebagai pemimpin yang tegas mampu memotivasi bawahannya untuk mau melayani warga dan menjalankan tugas-tugasnya. Prestasi yang diraih Jokowi pada awal kepemimpinannya dan akhirnya mendapatkan simpati dari berbagai kalangan adalah keberhasilannya “menaklukkan” pedagang kaki lima (PKL) di seputaran Banjarsari Solo. Sebagai hot-button issue, Jokowi mengajak para warga dan aparat pemerintah Kota Solo untuk bekerja sama demi Kota Solo yang lebih tertata dan rapi. Melalui dialog dan komunikasi dua arah, berbagai persoalan dan keluh-kesah warga bisa didengar langsung oleh Jokowi. Tidak berhenti di situ saja, sebagai seorang pemimpin, Jokowi langsung bekerja dan bertindak agar permasalahan-permasalahan warga kota bisa diselesaikan hingga tercipta perubahan ke arah yang lebih baik.

Sebagai buah dari kerja keras bersama-sama dengan rakyat dan staffnya, kini Kota Solo banyak menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain di Indonesia bahkan juga suaranya terdengar hingga ke mancanegara. Berbagai penghargaan juga menghampiri Kota Solo dengan berbagai kategori seperti penghargaan Pelopor Inovasi Pelayanan Prima tahun 2009, kota terfavorit yang dikunjungi wisatawan dan kota dengan pelayanan terbaik dari Indonesian Tourism Award tahun 2010. Di bulan Juli 2012, Kota Solo juga dinobatkan sebagai salah satu Green City, atau kota yang memiliki komitmen menjaga lingkungan hidup. UNICEF pun di tahun 2006 memberikan penghargaan kepada Kota Solo untuk program perlindungan anak. Sebagai pemimpin Kota Solo, Jokowi juga turut mendapatkan penghargaan sebagai “10 Best Indonesian Major in 2008” oleh Majalah Tempo. Di tahun 2012, Jokowi juga menjadi salah satu finalis the Best Major in the World. Tentu deretan prestasi yang membanggakan tersebut terlahir dari komitmen dan kerja keras seorang pemimpin beserta aparatnya termasuk kontribusi dari masyarakat.

Sebagai concluding remark, keberhasilan dan kemajuan sebuah kota adalah hasil dan buah dari kerja sama antara pemimpin beserta jajarannya bersama-sama dengan masyarakat. Ketika pemimpin secara ikhlas memikul tanggung jawabnya tanpa mengusung kepentingan pribadi dan golongan, mendengarkan dan merespon setiap permasalahan masyarakat dan bekerja hanya untuk kepentingan masyarakat, maka yang tercipta adalah sinergi yang dinamis dan menghasilkan hasil yang optimal demi kepentingan bersama.