Menelanjangi Koruptor

Korupedia, situs yang diluncurkan oleh aktivis anti korupsi di Indonesia.

Korupedia, situs yang diluncurkan oleh aktivis anti korupsi di Indonesia.

Koruptor: Pemangsa Bangsa Sendiri

Sejumlah pemberitaan di media massa baru-baru ini melaporkan mengenai adanya dugaan korupsi pengadaan Al-Quran di Departemen Agama yang melibatkan salah seorang anggota DPR. Mendengar dan membaca berita-berita itu, hati dan perasaan saya teriris-iris. Praktek korupsi sudah mewabah dan menjadi penyakit borok yang terus menggerogoti negara kesatuan. Hampir tiap hari, pemberitaan di media massa, baik cetak, online maupun media sosial, tidak berhenti membahas dan mendiskusikan tentang praktek pencurian uang negara dalam bentuk korupsi. Walaupun kebusukan para koruptor satu per satu terungkap, namun memerangi dan memberantas korupsi bukanlah semudah membalikkan telapak tangan.

Saya hanya membayangkan betapa rakus para pejabat publik yang menggelapkan uang anggaran negara. Sementara banyak masyarakat yang hidup serba kekurangan dan banyak anak-anak membutuhkan pendidikan dan kesehatan yang layak, para koruptor tersebut menggelapkan uang negara demi untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mereka yang terlibat perkara kasus korupsi telah menodai amanah yang diembannya sebagai pejabat publik yang seharusnya menjadi seseorang yang dipercaya menjalankan roda pemerintahan demi kesejahteraan masyarakat.

Permasalahan yang dihadapi sudah sangat mengkhawatirkan. Para elite sudah menguasai jaringan ekonomi, politik, birokrasi bahkan sudah merambah pada ranah hukum (Masduki, 2012). Itulah sebabnya, dalam proses pengadilan para koruptor, terutama yang melibatkan nama pejabat tinggi, kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan KPK akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketika kasus korupsi melibatkan nama pejabat tinggi, maka hukum seakan tidak bisa menjangkau mereka. Fasilitas yang mewah masih bisa dinikmati oleh para terduga koruptor ketika mendekam di dalam sebuah “kamar penjara”, keadaan yang berbeda ketika seorang rakyat biasa yang kedapatan mencuri ayam yang langsung dibuat tidak berkutik di depan hukum bahkan seringkali dihajar oleh massa.

Menyadari bahwa praktek korupsi semakin menggila, para pejuang anti korupsi muncul sebagai soko guru pemberantasan korupsi bersama dengan lembaga penegak hukum, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka hadir mengawal upaya pemberantasan korupsi di Indonesia dengan harapan para koruptor dapat ditangkap dan diadili sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Keberadaan pejuang anti korupsi menjadi sangat penting dalam mengungkap kasus-kasus korupsi yang terus saja menggerogoti anggaran negara dan merugikan masyarakat.

Namun, persoalan yang muncul adalah bagaimana membuat koruptor jera dengan perbuatannya dan tidak diikuti oleh oknum-oknum lainnya. Menilik hukum yang “bisa dimainkan” oleh orang-orang berduit melalui mafia kasus, maka hukuman yang layak bagi seorang koruptor menjadi perdebatan serius. Selain tetap mengusung semangat law reinforcement dan equality before the law, salah satu ide brilian yang diusung para pegiat dan aktivis anti-korupsi adalah perjuangan melalui teknologi informasi yang memanfaatkan website dan jejaring sosial. Dengan memanfaatkan web 2.0 dan wiki, website www.korupedia.org muncul sebagai cara untuk mengumpulkan data dan informasi kasus korupsi yang terjadi di Indonesia.

Korupedia: Gerakan Inovatif Berantas Korupsi

Kehadiran korupedia.org ditujukan untuk memublikasikan kasus-kasus korupsi di Indonesia. Situs ini akan mendokumentasikan kasus-kasus korupsi yang sudah diputuskan oleh pengadilan dan memiliki kekuatan hukum tetap disertai dengan berbagai isu korupsi yang data dan informasinya sudah terverifikasi dan berbagai berita online tentang korupsi. Dengan demikian, masyarakat dapat dengan mudah mengakses berbagai kasus tindakan penggelapan uang negara melalui situs korupedia.org.

Ensiklopedia koruptor yang diluncurkan dalam bentuk korupedia.org sebagai salah satu langkah strategis dalam pemberantasan korupsi. Situs korupedia.org akan menelanjangi para koruptor di depan mata publik. Label “koruptor” yang disematkan kepada seseorang dan data dirinya dimuat di korupedia.org diharapkan dapat membuat para koruptor jera dan mereka yang memiliki niat untuk melakukan tindak pencurian uang negara dapat berpikir panjang.

Dari sisi penampilan website, situs korupedia.org cukup menarik dikunjungi. Meskipun baru diluncurkan pada Juni 2012, Ensiklopedia Koruptor Indonesia sudah menampilkan banyak informasi koruptor per kategori seperti korupsi APBN/APBD, pemerasan, penggelapan, korupsi perbankan, gratifikasi, penyuapan, pungutan liar dan penyalahgunaan wewenang. Manariknya lagi, begitu pengunjung masuk ke korupedia.org, mereka langsung disuguhi peta Indonesia dengan bulatan-bulatan merah. Peta tersebut menunjukkan persebaran korupsi yang data dan informasinya sudah dimuat di korupedia.org.

Seperti dimuat dalam situs pemberitaan VOA (13/6) Aktivis Anti Korupsi Luncurkan Situs Ensiklopedia Korupsi Pertama di Indonesia, Teten Masduki sebagai Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (TII), diluncurkannya media online bertajuk korupedia.org (Ensiklopedia Korupsi Indonesia) menjadi pilihan yang sangat tepat agar informasi-informasi korupsi dapat lebih mudah diakses oleh publik, siapapun, dimanapun dan kapanpun.

Dengan semangat tersebut, situs berita VOA (27/6) juga melaporkan bahwa korupedia.org sudah dikunjungi oleh lebih dari dua juta orang. Capaian jumlah pengunjung yang termasuk tinggi untuk ukuran website yang baru diluncurkan seminggu menjadi sinyal bahwa isu korupsi terus menjadi bahan perbincangan publik. Masyarakat ingin melihat bagaimana situs korupedia.org menampilkan siapa saja koruptor dan kasus-kasus korupsi di Indonesia. Selain dimuat di berbagai pemberitaan, kabar peluncuran situs korupedia.org ini juga tersebar luas di jejaring dan sosial media. Secara khusus, korupedia.org memiliki akun Facebook dan Twitter yang membantu memublikasikan website korupedia.org supaya banyak masyarakat yang membuka dan mengakses website Ensiklopedia Korupsi Indonesia.

Refleksi

Saya memandang situs Ensiklopedia Korupsi Indonesia adalah sebauh gebrakan baru dalam memerangi korupsi. Situs ini saya pandang sebagai “hukuman moral” yang akan diterima oleh para koruptor. Meskipun perkara hukum sudah selesai dan sudah terbebas dari hukuman yang diputuskan pengadilan, namun informasi perkara dan tindak pidana korupsi yang dilakukan masih tersimpan, berikut dengan data dan informasi pribadi koruptor di situs korupedia.org. Hasilnya, mereka yang tersangkut perkara korupsi akan jera dan tidak akan mengulangi perbuatan penggelapan uang negara lagi, demikian juga akan mencegah munculnya koruptor-koruptor baru.

Situs korupedia.org juga menjadi media pengingat bagi masyarakat akan kasus-kasus korupsi yang sudah masuk ke pengadilan maupun kasus-kasus yang macet. Saya masih ingat betul ketika tahun 2009, nama Anggodo Widjojo begitu santer di pemberitaan media cetak dan elektronik. Hampir tiap hari, nama itu selalu saya dengar di berita televisi dan membaca namanya di media online. Tetapi, sering perjalanan waktu, nama itu sudah hilang dalam memori. Tetapi, begitu situs korupedia.org diluncurkan dan saya membaca update di jejaring sosial dan Twitter, saya kembali diingatkan mengenai sosok Anggodo kembali.

Barangkali itulah yang dimaksudkan pendiri Ensiklopedia Korupsi Indonesia. Situs tersebut menjadi alat pengingat bagi masyarakat tentang kasus-kasus korupsi di Indonesia sekaligus mengajak masyarakat untuk turut serta memerangi korupsi. Ditampilkannya kasus-kasus korupsi yang macet di website korupedia.org sebagai sebuah inisiatif agar masyarakat ikut bergerak untuk mendesak ke penegak hukum agar menyelesaikan perkara tersebut hingga tuntas.

Bagi saya, tampilan website korupedia.org sangat menarik ditelusuri, untuk ukuran website yang digalang secara sukarela dan baru saja diluncurkan. Di website tersebut, saya bisa menelusuri berbagai perkara korupsi yang sudah memiliki kekuatan hukum tetap dari tahun 2000 hingga 2012. Selain dituangkan dalam sebuah peta korupsi, di website korupedia.org juga menyediakan tabel guna melihat jumlah kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Tersangka koruptor juga bisa dilihat dengan jelas informasi diri dan kasus yang membelitnya. Dengan informasi yang dimuat di korupedia.org, diharapkan rasa malu bisa muncul sehingga mampu mencegah terjadinya korupsi.

Mari bersama-sama berantas korupsi. Kehadiran website korupedia.org memberikan angin segar bagi pemberantasan korupsi di Indonesia. Sebanyak 120 koruptor sudah masuk daftar dan bisa diakses di Ensiklopedia Korupsi Indonesia serta kemungkinan besar akan terus bertambah jika melihat beberapa kabar berita penangkapan para pejabat yang terlibat kasus korupsi. Yah, saya kira yang juga tidak kalah penting adalah penegakan hukum yang konsisten dan tanpa ada korupsi diproses hukum. Hukum harus ditegakkan dan siapa yang bersalah harus diproses tanpa pandang bulu.