Belajar Menulis Esai Sejak Dini

http://gdb.voanews.eu/D6FDD39A-D7A7-40D4-956A-F5CE1492043C_w640_r1_s.jpg

Dalam sistem One World Education, murid menulis langsung topik yang ingin mereka pelajari, dan kemudian dikembangkan secara profesional sebagai kurikulum. Foto: Ilustrasi VOA

Program One World Education

Ketika saya masih di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, ada beberapa teman mengeluh ketika guru meminta murid-muridnya untuk mengarang dengan topik tertentu di pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan panjang karangan sekitar satu lembar halaman kertas folio, tugas mengarang seakan-akan menjadi “momok” bagi setiap murid sebab harus menulis sebuah karangan yang terstruktur dan bercerita. Problem tersebut barangkali dialami oleh sebagian besar siswa di sekolah karena ketika membuat tugas menyusun kalimat sederhana, setara dan bertingkat pun, dengan kata-kata tertentu, tugas itu seringkali dikomentari sulit dikerjakan atau membutuhkan waktu yang lama dalam penyelesaiannya.

Menulis karangan atau esai bukanlah perkara yang mudah. Banyak orang yang mungkin pintar berbicara dan menyampaikan ide-idenya di depan publik, namun ketika diperhadapkan pada alat tulis atau komputer, mereka kesulitan dalam menuangkan konsep dan gagasan yang sudah ada di kepala ke dalam sebuah tulisan yang terstruktur lewat kata, kalimat dan paragraf yang saling berkaitan. Hal itu terjadi karena dalam menulis dibutuhkan ketrampilan untuk menuangkan ide secara runut dan terstruktur sehingga bisa dipahami oleh pembacanya.

Sebuah berita dari situs VOANews yang berjudul Sekolah di AS Kembangkan Kurikulum Berbasis Esai Murid (29/5) sangat menarik untuk dicermati dan didiskusikan dalam kaitannya dengan ketrampian menulis esai. Di berita tersebut menyebutkan bahwa One World Education memiliki program untuk mengembangkan kurikulum berdasarkan esai oleh murid-murid SMP dan SMA. Di program tersebut, murid menulis langsung topik yang ingin mereka pelajari, dan kemudian dikembangkan secara profesional sebagai kurikulum dan digunakan di sekolah-sekolah untuk mengajar siswa lainnya.

Ide dan program kelompok One World Education itu sangat brilian. Mereka mengikutsertakan murid-murid SMP dan SMA untuk aktif dan terlibat dalam proses perencanaan pendidikan melalui esai yang ditulis berdasarkan minat hingga akhirnya esai tersebut dipilih dan dikembangkan secara professional sebagai kurikulum yang dipakai dan diterapkan secara lebih luas di sekolah-sekolah lain. Dengan program seperti ini, tantangan yang besar akan menghadang, terlebih berkaitan dengan cara dan metode One World Education untuk mengajak, mengembangkan, melatih dan membimbing siswa-siswa SMP dan SMA untuk menulis esai. Meskipun tantangan muncul di atas muncul, saya yakin bahwa senantiasa jalan apabila ada kemauan.

Motivasi dan Apresiasi

Jamak ditemui di sistem pendidikan Indonesia, pendidikan dan pembelajaran di kelas berpusat pada peran guru (teacher-centered learning). Imbasnya adalah, siswa didik menjadi lebih pasif karena terlalu banyak mendengarkan guru di kelas serta kurang berinteraksi dengan materi pelajaran yang diberikan. Kecenderungan yang muncul akhirnya, siswa dipaksa untuk memahami banyak materi lebih diarahkan untuk menghafal materi pelajaran (rote learning) dibandingkan dengan aktif mencari dan membangun pengetahuannya (active learning).

Maka itu tidak heran jika siswa mengeluh kesulitan menulis sebuah karangan. Hal ini terjadi karena siswa tidak dibiasakan secara dini untuk berpikir secara sistematis dan logis. Mereka hanya diarahkan untuk menerima dan menghafal pengetahuan tanpa mengetahui bagaimana prosesnya. Mereka hanya tahu menjawab “apa” tetapi akan menemui kesulitan ketika hendak menjawab pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” sebab dibiasakan menghafal buku. Jadi, kesulitan muncul ketika diminta untuk mengorganisasikan ide dan gagasan.

Patut disadari, menulis bukan perkara yang mudah. Bahkan, seorang penulis handal sekalipun akan menemui kesulitan dalam mengorganisasikan ide-idenya. Rebecca Cooke, seorang tutor saya di Maastricht University, pernah berkata bahwa meskipun sudah beberapa kali diedit dan direvisi dan tulisan dirasa sudah sempurna, tetapi ketika dibaca oleh reviewer atau pembaca lainnya, tulisan tetap akan ada kekurangan-kekurangan yang perlu dibenahi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah sebuah proses yang panjang dan perlu keberanian dalam menuangkan ide yang sistematis serta membuka pintu seluas-luasnya untuk menerima kritik dari pembaca.

Paradigma yang dibangun dalam pendidikan di Indonesia selama ini adalah bahwa prestasi siswa hanya diukur berdasarkan angka-angka test dan tugas. Selain itu, kelemahan pendidikan di Indonesia adalah ketiadaan apresiasi dan penghargaan atas capaian yang diraih oleh siswa. Berbeda dengan pendidikan di luar negeri, di Belanda misalnya. Sejak dini, para siswa diajarkan untuk berani berargumen, menyampaikan ide serta memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih, bahkan prestasi sekecil apapun harus diberikan acungan jempol.

Kondisi tersebut berakibat pada hasil yang dicapai. Jika pendidikan hanya berorientasi pada nilai dan angka, maka siswa akan berupaya mencapai angka tersebut agar naik kelas atau lulus. Jika dikaitkan dengan teacher-centered learning, maka siswa akan menjadi siswa yang pasif dan hanya menghafal materi pelajaran. Mereka tidak dibiasakan sejak dini berargumen di kelas baik secara tertulis maupun lisan. Akibatnya, ketika mereka diberi tugas untuk membuat karangan dan tugas esai, banyak siswa yang mengeluh hingga akhirnya melakukan plagiasi atau menyuruh orang lain mengerjakannya.

Program One World Education hendaknya bisa membuka mata pendidik, terutama di Indonesia, supaya mereka memberi perhatian pada isu pelibatan siswa dan memberikan apresiasi atas karya siswa dalam bentuk tulisan esai. Perubahan paradigma perlu dilakukan dari teacher-centered learning ke student-centered learning. Siswa mana yang tidak bangga ketika diberi kesempatan untuk menulis dan kemudian tulisan tersebut dipilih dan digunakan untuk mengajar di sekolah-sekolah? Mereka akan terpacu dan termotivasi menghasilkan karya yang sebaik mungkin.

Belajar Menulis Sejak Dini

Solusinya adalah, perlu ada kemauan untuk mau berubah. Berubah dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk terbebas dari penjara yang membelenggu kebebasasan berpikir. Mereka perlu diberi kesempatan berpikir secara luas dan bebas tetapi tetap bertanggung jawab. Siswa perlu diberi kesempatan menjadi siswa yang aktif dalam kelas. Guru dan tutor berfungsi memandu dan mengarahkan siswa.

Dalam kaitannya dengan menulis esai, jika sedari dini siswa dibiasakan untuk menulis, maka ketrampilan menulis itu dengan sendirinya akan terasah. Bila sejak kecil siswa sudah dibiasakan untuk menulis esai, maka ketika beranjak dewasa, ketrampilan menulis itu sudah tertanam dan tinggal terus diasah dan dipertajam. Saya percaya bahwa siswa-siswa SMP dan SMA yang turut berkontribusi pada program One World Foundation membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. Di samping fasilitas dan arahan yang diberikan, siswa menjadi senang menulis karena mereka mengerjakan sesuatu yang mereka minati dan berdasarkan individual interest.

Program seperti yang dilakukan oleh One World Education inilah yang semestinya menjadi bahan pembanding dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Bisa dibayangkan jika setiap siswa dengan minat dan ketertarikan masing-masing dapat menekuni dan mendalami sebuah pengetahuan atau studi kasus tertentu. Dengan didukung oleh guru dan tutor mereka yang menjadi pengarah serta sumber-sumber informasi baik melalui buku dan internet, siswa akan ditempa dan dilatih berpikir secara rasional, logis dan terstuktur dalam sebuah tulisan esai.

Untuk memulainya, siswa bisa diarahkan untuk menuliskan pengalaman sehari-hari mereka dalam sebuah jurnal atau buku harian. Jika saat ini banyak berkembang situs dan blog gratis atau berbagai website citizen journalism, mereka bisa turut bergabung membangun sebuah halaman yang khusus menampung tulisan-tulisan harian mereka. Tulisan itu bisa berupa puisi, cerpen, prosa atau berfokus pada topik tertentu sesuai minat mereka.

Jika sejak kecil sudah dibiasakan untuk menulis, maka untuk kelanjutannya, siswa perlu tetap memertajam ketrampilan menulisnya. Hal ini karena ketrampilan menulis tidak bisa meningkat jika tidak didukung dengan latihan. Selain itu, ketrampilan ini juga membutuhkan ketrampilan lain supaya mendukung dan memberikan inspirasi dalam menulis. Selain melalui observasi dan berdasarkan pengalaman sehari-hari, membaca dan berdiskusi adalah cara yang ampuh supaya mendapatkan ide tulisan. Saya pernah menulis tips singkat langkah-langkah praktis menulis supaya tetap produktif dalam menulis dan tidak kehilangan ide. Rangkumannya adalah:

  1. Catat inspirasi dan ide
  2. Susun materi dari topik yang hendak diangkat
  3. Mulai menulis
  4. Cari sumber-sumber pendukung
  5. Self dan peer review tulisan
  6. Publikasikan
  7. Perhatikan dan tanggapi komentar
  8. Terus menulis dan dokumentasikan tulisan

Mencatat ide adalah sebuah langkah penting supaya ide-ide tersebut aman dan tidak lari. Seringkali orang mandeg menulis karena tidak ada ide. Padahal, ide bisa datang apapun, bahkan, Pepih Nugraha pernah menulis bahwa lirik lagu pun bisa dijadikan sebuah inspirasi tulisan. Dengan mencatat maka, paling tidak penulis bisa menampung garis besar tulisan dan menghemat waktu. Mencatat ide menjadi penting karena ide bisa datang kapanpun dan apabila tidak dicatat, maka ide itu kemungkinan akan lari dan dilupakan.

Perkembangan Terkini

Saat ini, perkembangan dunia tulis menulis terus mengalami peningkatan. Indikatornya terletak pada semakin meningkat jumlah tulisan-tulisan yang dibuat oleh masyarakat umum baik dalam bentuk blog atau buku-buku antologi.  Di Facebook, saya sering membaca pengumuman untuk mengikuti audisi buku antologi dengan topik-topik yang beragam, misalkan tentang keluarga, pengalaman sekolah, cinta hingga kumpulan puisi. Para penulis muda dan pemula banyak yang mengikuti kompetisi ini sebab menjadi motivasi tersendiri ketika karya tulisan dibukukan.

Di bagian lain, beragam kompetisi menulis esai juga digelar oleh berbagai macam institusi dan dengan penghargaan yang sangat menarik. Penghargaan dan apresiasi sangat penting dalam meningkatkan motivasi menulis. Jika dikaitkan dengan program One World Education, siswa-siswa SMP dan SMA yang terlibat termotivasi karena hasil karya mereka dihargai dan diapresiasi, terlepas dari berbagai kekurangan yang ada. Yang utama adalah, setiap karya yang dibuat dengan proses perjuangan yang keras, perlu diberikan penghargaan.

Bila One World Education sudah bisa bermain hingga tataran kurikulum pendidikan yang disokong oleh siswa-siswa SMP dan SMA, perkembangan di Indonesia paling tidak sudah menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan arti penting menulis. Selain audisi buku antologi dan kompetisi, beragam pelatihan menulis baik offline maupun online bermunculan untuk menyemaikan benih dan virus menulis kepada masyarakat luas, terutama para generasi muda.

Selain itu, testimoni dari mereka yang sudah berpengalaman menulis juga sangat diperlukan untuk mengajak masyarakat menulis. Ada keasyikan tersendiri ketika merangkai kata demi kata menjadi kalimat yang terstruktur dan logis. Ada kalanya, seorang penulis akan menghadapi tantangan dalam menyelesaikan tulisannya. Pada saat itulah, ketrampilan menulis diuji. Seorang penulis perlu memberikan pengetahuan-pengetahuan yang relevan sebagai jawaban atas topik yang diangkat. Melalui membaca, mengobservasi, diskusi dan brainstroming, seorang penulis akan terasah kemampuan menulisnya hingga kecakapan bahasa dan komunikasi bisa semakin meningkat.

Seperti yang telah dikatakan di bagian pertama, bahwa peran pembaca sangat penting untuk memberikan kritik atas tulisan yang dibuat. Komentar pembaca bermanfaat memberikan feedback dan masukan sehingga tulisan dapat lebih baik. Oleh karena itu, hendaknya para penulis terbuka terhadap kritik dan menjadikan kritik sebagai masukan agar bisa menulis lebih baik.

Akhirnya, semoga berita dari VOA mengenai One World Education bisa menginspirasi pendidikan di Indonesia. Jika beberapa waktu lalu santer pemberitaan tentang syarat lulus S1 adalah publikasi di jurnal dan ditanggapi dengan respon yang positif dan negatif, melalui tulisan ini, saya hanya mengajak untuk memulai belajar menulis esai sejak dini. Menulis akademik di jurnal itu sangat menantang, kalau tidak mau disebut sulit. Oleh karena itu, akan lebih mudah jika dimulai dulu dengan hal-hal yang kecil dan sederhana, yaitu menulis di jurnal harian atau blog pribadi. Dengan demikian, para generasi muda dan para siswa didik sudah dipupuk keberaniannya merangkai kata-kata hingga menghasilkan tulisan yang apik. Di sana juga, para penulis bisa menerima komentar dan tanggapan yang bisa dipakai untuk memerbaiki kekurangan yang masih ada.

Usulan bacaan:

  1. Kirszner, Laurie G., Stephen R. Mandell. (2011). The Pocket Wadsworth Handbook 5th edition. Wadsworth Pub Co: Boston.
  2. Macmillan, Kathleen, Jonathan Weyers. (2010). How to Write Essays & Assignments. Pearson Education Limited: Essex.
  3. Starkey, Lauren. (2007). How To Write Great Essays. Learning Express: New York.
  4. Taylor, G. (2009). A students writing guide: How to Plan and Write Successful Essays. Cambridge University Press: Cambridge.