Mak Ijem

Dengan sebutan apa Anda memanggil seorang perempuan yang telah melahirkan Anda? Ibu? Mama? Mami? Bunda? Kalau saya, orang yang telah melahirkan saya 27 tahun yang lalu, saya panggil dengan sebutan Emak.

Namanya Mak Ijem

Di Kampung Benowo Wetan, tempat saya dilahirkan, dan sekitarnya, nama Mak Ijem sangatlah popular. Nama itu merujuk pada nama ibu saya. Nama lengkapnya Mujiyem, namun karena Bapak, Kakak dan saya memanggilnya dengan sebutan “Mak” atau “Emak” maka orang-orang kampung pun ikut-ikutan memanggil nama ibu saya dengan sebutan Mak. Sejak kecil, saya sudah familiar memanggil dengan sebutan itu.

Secara historis, saya tidak tahu persis mengapa saya memanggill ibu saya dengan sebutan itu, padahal teman-teman sebaya saya dan para tetangga memanggil ibu mereka dengan sebutan Ibu, Mama, Mami atau Bunda. Beberapa orang masih menyebut dengan panggilan “Mbok” atau “Simbok”. Namun, menurut cerita Bapak dan Emak saya, panggilan Emak tersebut dikarenakan ikut-ikutan kakak-kakak keponakan saya yang memanggil ibu mereka dengan sebutan Emak. Jadi, sedari kecil hingga sekarang, saya memanggil ibu saya dengan sebutan Emak.

Saya tidak aneh dengan menyebut panggilan itu, walaupun menjadi sebutan yang minoritas bagi anak-anak di kampung dan teman-teman saya kepada ibu mereka. Dalam beberapa kali kesempatan, teman-teman sekolah saya menanyakan mengapa saya memanggil ibu dengan sebutan Emak. Mereka juga bertanya apakah panggilan itu akan terus dipakai atau ada rencana untuk memanggil dengan sebuatn lain, ibu misalnya? Mungkin mereka merasa aneh karena panggilan itu jarang dipakai lagi seperti halnya Mbok atau Simbok. Dengan sederhana saya menjawabnya bahwa saya ikut-ikutan kakak keponakan yang memanggil ibu mereka dengan sebutan Mak dan saya sangat mencintai panggilan itu.

Semua anak barangkali akan menyebut ibu mereka sebagai pahlawan. Emak saya adalah pahlawan bagi saya dan keluarga. Walaupun secara pendidikan formal hanyalah lulusan Sekolah Dasar, namun Emak memiliki cita-cita supaya anak-anaknya memiliki pendidikan tinggi agar bisa merubah nasib keluarga. Emak bersama Bapak memiliki keinginan yang kuat supaya saya dan kakak saya memiliki kehidupan yang lebih baik. Dengan kemampuan finansial yang terbatas, Emak dan Bapak berusaha agar saya dan kakak saya bersekolah hingga ke jenjang pendidikan tinggi.

Jika dipikir-pikir, untuk ukuran keluarga saya, berinvestasi dengan menyekolahkan anak dari pendidikan daasar hingga perguruan tinggi bukanlah pekerjaan yang mudah. Cita-cita Bapak dan Emak adalah menyekolahkan saya dan kakak saya dijenjang yang setara, yaitu Sarjana. Meskipun harus ditempuh dengan bekerja keras memeras keringat, berkat doa dan perjuangan, semua itu bisa dilakukan oleh Bapak dan Emak. Saya menerima ijasah S1 pada tahun 2008, sedangkan kakak saya beberapa tahun sebelumnya. Prestasi ini sangatlah luar biasa.

Emak Hebat!

Hampir tidak ada kata yang terucap untuk bisa menggambarkan perjuangan Emak dan Bapak. Ibarat sepakbola, kerjasama Emak dan Bapak sangatlah rapi dalam melakukan serangan dan pertahanan untuk mencapai tujuan, yaitu goal. Dengan sabar dan tekun, mereka bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga serta mengupayakan agar anak-anak bisa bersekolah.

Tidak ada tuntutan dari Emak dan Bapak terkait dengan sekolah. Jika ada teman-teman saya yang merasa tertekan dengan tuntutan orang tua seperti harus berprestasi dan belajar di jam-jam tertentu, saya hanya diminta masuk ke sekolah dan belajar yang rajin. Saya betul-betul melakukannya dengan senang hati mengingat Emak dan Bapak sudah berpeluh dan bermandi keringat membayar uang sekolah, buku dan memberi uang saku.

Jadi, tidak ada kata mbolos. Alasannya sederhana. Kalau membolos berarti saya berdosa kepada Bapak dan Emak. Jika saya colut (keluar dari kelas tanpa izin), berarti saya tidak amanah. Pernah suatu kali, saya diajak teman-teman untuk keluar dari kelas, karena jam-jam terakhir kelas kosong dan guru memberi tugas. Entah kenapa saya ikut mereka. Tapi di tengah jalan, perasaan saya sama sekali tidak damai sejahtera.

Kecuali sakit dan ada sesuatu yang memang tidak bisa ditinggalkan, saya pasti pergi ke sekolah. Bapak dan Emak selalu berkata kalau saya tidak masuk, maka saya akan ketinggalan pelajaran. Ketika beberapa hari sakit dan sudah kelihatan segar kembali, Bapak atau Emak sering meminta saya masuk dengan iming-iming saya diberi uang saku yang berlebih dari biasanya. Mereka hanya ingin saya tidak ketinggalan pelajaran yang banyak.

Dukungan orang tua bagi saya ketika masih sekolah sangat luar biasa. Mereka hebat. Bapak saya selalu terbangun lebih awal lantas membangunkan Emak. Sekitar jam setengah lima pagi, Emak sudah keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Tanpa basa-basi dan otomatis, aktivitas yang dikerjakan adalah memasak nasi, air dan lauk-pauk. Bapak membantu Emak di dapur yang menjaga kayu dan api di pawon. Ketika pagi hari, di saat saya siap-siap berangkat ke sekolah, sarapan dan teh manis hangat sudah tersedia. Aktivitas rutin itu terus dikerjakan tanpa terkesan ada rasa bosan. Makanan itu dipersiapakan sebagai sarapan sebelum berangkat sekolah, juga untuk Bapak sebelum berangkat bertugas sebagai tukang sampah dan Emak yang hendak pergi ke pasar.

Ketika sudah selesai memasak, maka di pagi hari, Emak juga siap-siap berangkat ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan pecel yang menjadi bisnis rumah tangga sejak saya masih berada di Taman Kanak-Kanak. Saat awal-awal berjualan pecel hingga kira-kira awal tahun 2000-an, Emak pergi ke pasar dengan naik sepeda kayuh. Berangkat kira-kira jam 7 pagi dan kembali ke rumah jam 8. Dengan membawa 2 plastik besar yang dipegang di kanan dan kiri stang sepeda sebab tidak memiliki keranjang sepeda.

Aktivitasnya tidak lantas berhenti. Emak memersiapkan sayuran-sayuran yang akan dimasak pecel. Tidak hanya pecel, Emak juga memasak bakmi/bihun goreng yang juga dijual. Selain itu, pekerjaan yang cukup membutuhkan tenaga adalah membuat sambal pecel karena harus menumbuk kacang beserta dengan bumbu-bumbunya hingga jadi bumbu pecel. Tetapi alangkah hebatnya, semua itu bisa dikerjakan sendiri. Jika saya atau kakak saya libur, maka saya ikutan membantu pekerjaan di dapur itu. Kira-kira jam 10 pagi, ketika persiapan sudah selesai, maka pecel dan bakmi itu siap dijual bersamaan dengan makanan kecil. Karena tidak memiliki tempat yang permanen, toples-toples berisi makanan harus dikeluarkan dari dalam rumah dan ditata di meja yang terletak di teras rumah. Ketika sudah sore, toples-toples itu kembali dibawa kembali ke dalam rumah. Meskipun Bapak, kakak dan saya membantu, namun pada dasarnya, Emak adalah motor utama penggeraknya.

Keuletan

Salah satu kunci kelanggengan usaha pecel Emak adalah keuletannya. Usaha pecel yang dirintis sejak awal tahun 1990-an tersebut tetap bertahan hingga sekarang. Emak tetap bersabar dan tekun sehari-harinya berjualan pecel. Secara umum, pecel dan bakmi yang dijual sangat laris terjual, meskipun ada kalanya sepi pembeli, tetapi Emak terus ulet menjalankan roda bisnis kecil tersebut. Beberapa tetangga mencoba untuk membuka usaha makanan, namun berdasarkan pengalaman, usaha itu tidak berlangsung lama. Usaha tersebut hanya berlangsung beberapa bulan dan sesudah itu tidak ada lagi.

Berkat usaha pecel tersebut, rumah saya menjadi pusat bertemu banyak orang. Mereka menjadi terbiasa berkunjung ke tempat saya hanya untuk sekedar duduk nongkrong atau membeli pecel Emak. Karena usaha pecel itulah, nama Mak Ijem dikenal oleh banyak orang sehingga orang-orang yang tinggal di seputaran kampung Benowo itupun berdatangan membeli pecel. Bila ada orang yang bepergian jauh atau ada tamu dari jauh, mereka memesan bumbu pesel ke Emak yang dibawa sebagai oleh-oleh.

Jadi, bumbu pecel Mak Ijem sudah sampai ke beberapa kota di Indonesia. Ketika saya berada di Jakarta selama 6 bulan, beberapa kali Emak mengirimkan bumbu pecel itu ke Jakarta. Saya makan beramai-ramai bersama teman-teman. Ketika saya ke Belanda, saya juga membawa sekilo bumbu pecel dan beberapa kali, Emak mengirimkan bumbu pecel itu melalui teman yang pulang ke Indonesia untuk dibawa ke Belanda. Bumbu pecel itu tidak saja dinikmati oleh kawan-kawan dari Indonesia, tetapi beberapa kawan asing juga merasakannya. Testimoni dari mereka yang pernah merasakan bumbu pecel mengatakan bahwa pecel buat Emak memang sangat enak.

Emak mungkin tidak membayangkan sebelumnya bahwa bumbu pecelnya sudah sampai di beberapa kota di Indonesia bahkan sampai Belanda. Namun itu semau terjadi berkat kesabaran dan ketekunannya menjalankan usaha kecil tersebut. Itu terjadi berkat keuletannya bangun pagi-pagi, memersiapkan makan pagi untuk anak-anaknya yang sekolah dan Bapak yang berangkat kerja pagi. Berkat ketekunan Emak itulah, saya mendapatkan dukungan yang luar biasa terutama dalam bidang pendidikan hingga akhirnya mendapat sebuah kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi di Belanda melalui Ford Foundation-International Fellowships Program.

Satu hal yang patut diteladani juga adalah Mak itu sangat amanah. Karena rumah menjadi pusat nongkrong, banyak tetangga yang sering titip uang cicilan kredit perkakas dapur dan rumah tangga untuk diberikan ke tukang kredit. Emak biasa menjadi orang yang bertanggung jawab mengumpulkan uang sumbangan jika hendak pergi menjenguk orang sakit. Sepanjang pengetahuan saya, banyak orang yang percaya pada Emak dan sama sekali tidak ada masalah yang terjadi. Walaupun tidak memiliki pendidikan tinggi, bukan seorang Sarjana Ekonomi, namun dalam hal pengaturan uang, Emak adalah juaranya. Buktinya, dengan segala keterbatasannya, semua bisa diatur oleh emak.

Seperti yang saya ungkapkan di atas, tidak ada kata yang bisa menggambarkan kehebatan Emak. Saya di tenun dalam kandungannya, dilahirkan, dibesarkan, dididik hingga besar seperti saat ini. Tidak kalah penting, bait-bait doa selalu dimunajatkan ke hadapan Sang Pencipta. Hanya doa dan terima kasih yang bisa kuberikan. Terima kasih Emak. Terima kasih Bapak.

I love you Pak’e & Mak’e

Groningen, 30 Mei 2012