Memaknai Eksis di Internet

Eksis di Internet; gambar ilustrasi http://www.gadgetboys.nl/wp-content/uploads/2012/02/Internet.jpg

Eksis di Internet; gambar ilustrasi http://www.gadgetboys.nl/wp-content/uploads/2012/02/Internet.jpg

~Realitas Masyarakat~

Suatu kali, saya pernah masuk di sebuah warnet yang terletak di kampus Universitas Indonesia Salemba. Saya kebetulan masuk ke sana untuk mencetak tugas yang harus segera dikumpulkan. Sejenak saya melihat para pengunjung warnet yang tengah terlihat sibuk memainkan mouse dan memandangi layar komputer. Monitor itu menampilkan situs jejaring sosial yang sudah tidak asing bagi saya dan masyarakat saat ini, Facebook. Sambil menunggu penjaga warnet yang sedang sibuk, saya mencoba untuk merenung berdasarkan apa yang pernah saya lihat dan alami. Perenungan itu membawa pada sebuah kesimpulan bahwa setiap kali saya masuk ke sebuah warnet, lebih dari 50% pengunjungnya sedang membuka Facebook.

Pada situasi lain, saya sering pergi dengan teman-teman untuk menghadiri sebuah acara. Sudah menjadi ritual jika pergi bersama teman-teman, saya selalu diajak berfoto bersama dengan memakai smartphone ataupun kamera saku. Jika menggunakan smartphone, tidak berapa lama, foto tersebut sudah dapat dilihat di Facebook dan Twitter. Semua teman-teman di Facebook dan Twitter jadi tahu di mana posisi saya dan teman-teman pada saat itu. Bila memakai kamera saku, foto yang sudah tersimpan dalam bentuk file akan segera diunggah ke jejaring sosial sesegera mungkin ketika tersambung dengan Internet.

Tidak sedikit juga pengguna Internet dan jejaring sosial yang menampilkan lokasi (geolocation) keberadaan mereka pada saat meng-update status atau mengunggah foto. Dengan memanfaatkan GoogleMaps, maka titik lokasi pengguna jejaring sosial bisa terlihat dengan jelas. Ibarat sebuah radar, keberadaan seseorang bisa dengan mudah terpantau melalui aktivitas di jejaring sosial. Tidak perlu menunggu dalam waktu yang lama, para pengguna jejaring sosial yang lain bisa dengan cepat menanggapi dan saling berbalas komentar.

Selain itu, masyarakat juga sedang disuguhi fenomena “menjadi artis dunia maya” melalui aksi dan akting di Youtube. Dengan berbekal sebuah alat perekam video, seseorang bisa menyanyi, bermain film atau mengabadikan sesuatu yang menarik lantas menampilkannya di Youtube. Ketika tautan di Youtube itu dibagikan, maka semua pengguna Intenet di seluruh dunia dapat mengaksesnya dan melihat aksi video yang disajikan. Bila Dewi Fortuna sedang baik, video itu akan dengan cepat tersebar dan mendapat beragam komentar. Tidak sedikit orang yang lantas menjadi terkenal seusai menampilkan sebuah video di Youtube, sebut saja Justin Bieber, Shinta & Jojo atau Norman Kamaru dan kisah lucu Udin sedunia.

Uraian di atas menggambarkan bagaimana realitas di masyarakat saat ini. Masyarakat ingin menunjukkan keberadaan mereka melalui beragam jejaring sosial. Keramaian di dunia Internet akan semakin bertambah ketika terjadi saling berbalas komentar.Internet seakan telah menjadi sebuah candu bagi masyarakat sehingga mereka akan ketagihan untuk bermain-main di sana.

~Internet dan Konsep Eksis(tensi)~

Internet sebagai sebuah teknologi telah hadir di tengah masyarakat dunia dan berhasil menciptakan sebuah dunia baru, dunia virtual. Keberadaan teknologi Interconnected Network (Internet) yang semula digagas untuk menghubungkan komputer dalam sebuah jaringan dan dipakai di bidang pertahanan dan militer semakin menjamur seiring dengan era globalisasi yang ditandai dengan runtuhnya batas-batas antar negara. Jika dipahami dan ditelusuri lebih lanjut, Internet telah menyatukan masyarakat dunia menjadi komunitas yang hidup di sebuah desa global (global village). Berbekal teknologi Internet, telah terjadi sebuah revolusi dalam bidang komunikasi dalam cakupan wilayah yang sangat luas. Artinya, kendala komunikasi yang selama ini terbentur pada permasalahan jarak, dapat teratasi dengan kehadiran Internet termasuk kemunculan jejaring sosial, email, chatting, blog atau microblogging.

Hasilnya, masyarakat global bisa saling berkomunikasi real-time. Ilustrasi sederhananya adalah tontonan sepakbola yang dimainkan di Benua Eropa bisa dinikmati secara langsung di seluruh belahan dunia. Dalam lingkup yang lebih kecil, seseorang yang tinggal terpisah dengan keluarga, dapat bercakap-cakap langsung dengan anggota keluarga dengan menggunakan fasilitas video call. Cara lain yang banyak ditempuh adalah dengan cara mengunggah foto atau video di situs jejaring sosial yang langsung bisa dinikmati, dilihat bahkan dikomentari oleh orang lain. Banyak pengguna jejaring sosial juga berlomba-lomba menuliskan beragam kata dan kalimat dalam “What’s on you mind” milik Facebook atau di Twitter. Secara otomatis, update tersebut langsung diterima oleh mereka yang terhubungi dengan pelempar status di jejaring sosial tersebut.

Beragam foto dan video yang diunggah atau status yang ditulis di media sosial menjadi sebuah ciri masyarakat yang ingin menunjukkan eksistensinya (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “eksistensi” berarti hal berada atau keberadaan. Kata “eksis” sebetulnya tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Banyak orang yang menyingkat “eksistensi” menjadi “eksis”. Kata itu bisa juga diambil dan disesuaikan dari Bahasa Inggris, “exist”) dalam lingkungan desa global. Model di dunia virtual ini sangat sejalan dengan pemikiran dan proses pergaulan antar manusia dalam sebuah komunitas masing-masing anggota kelompok ingin menunjukkan keberadaannya. Maka itu, tidak heran jika dalam hitungan detik, teman-teman di Facebook atau Twitter dapat melihat keberadaan seseorang melalui aktivitas di jejaring sosial.

Eksis dengan Internet telah dianggap menjadi sebuah kebutuhan. Oleh sebab itu, banyak yang berkata jika tanpa Internet di komputer atau tanpa memegang smartphone, maka mereka akan menjadi mati gaya. Orang akan menjadi “gatal” saat momen-momen penting tidak diabadikan dan tidak dibagikan ke dunia virtual atau jejaring sosial. Akibatnya, ukuran keberadaan dan eksistensi seseorang diukur dari aktivitasnya di jejaring sosial.

Jika sudah demikian, masyarakat seakan lupa jika ada aktivitas lain yang tetap bisa membuat eksis meskipun tidak bisa online. Ketika dahulu sebelum zaman Internet saya, masyarakat bisa tetap eksis, mengapa harus mati gaya ketika tidak ada Internet? Memang betul jika Internet bisa membantu melanglang buana ke seluruh jagat tanpa ada batasan. Namun ketika harus/dipaksa offline (tanpa Internet), beragam aktivitas lain tetap bisa dilakukan, misalkan mengerjakan tugas-tugas, membaca buku atau berbincang-bincang dengan orang yang ada di sekitar kita. Bila kondisi itu terjadi, sebetulnya hendak mengingatkan agar tetap menjaga keseimbangan hubungan antar manusia baik online maupun offline.

Masyarakat Yang Eksis Belajar

Internet adalah teknologi yang sangat luar biasa. Beragam informasi dari segenap penjuru dunia dapat ditemukan dengan hanya duduk di depan komputer. Informasi dan peristiwa yang terjadi di negara dan benua lain bisa langsung dinikmati seketika melalui berbagai macam koran dan media mainstream online. Di samping itu, jejaring sosial dan microblogging membantu terjadinya sharing informasi dan komunikasi antar warga di lingkungan desa global.

Jika dikaji lebih dalam, eksis dengan Internet sebetulnya tidak sekedar tampil dan aktif di berbagai jejaring sosial saja, tetapi juga menyangkut kemauan dan eksistensi seseorang untuk belajar. Jadi, smartphone dan laptop terkoneksi dengan Internet tidak hanya dipakai untuk update status dan mengunggah foto saja, tetapi bisa lebih dimanfaatkan untuk menggali informasi dalam rangka proses belajar.

Khalayak ramai sudah melihat bahwa banyak siswa-siswi sekolah dan mahasiswa yang saat ini memiliki smartphone dan laptop. Tetapi dari sisi penggunaan, alat-alat berteknologi canggih tersebut belum dipakai secara optimal. Sangat disayangkan jika gadget mahal itu hanya dipakai untuk mengupdate status dan membuka Facebook, sedangkan sebetulnya banyak sumber-sumber pengetahuan yang bisa diperoleh. Bahkan, beragam pengetahuan yang diperoleh di sekolah, dapat ditemukan dengan mudah di Internet.  Siswa tidak perlu khawatir apabila harus mengerjakan tugas pekerjaan rumah dengan adanya Internet. Dengan kondisi seperti itu, perlu terus digencarkan kepada masyarakat agar memanfaatkan Internet sebagai media belajar dan sumber informasi.

Kenyataannya, kesadaran membaca sumber-sumber informasi di Internet masih belum kuat. Walaupun banyak sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas komputer atau berupa bantuan pengadaan laptop untuk siswa, namun di beberapa kesempatan, pemanfaatnya masih jauh panggang dari api. Sebuah laporan dari jurnalisme warga Syukri Muhammad Syukri menerangkan bahwa banyak siswa yang merajuk dibelikan smartphone atau laptop. Alat-alat tersebut bukannya dipakai untuk membantu kegiatan belajar di sekolah, malahah dipakai untuk bermain game atau berjejaring sosial. Sangat disayangkan bukan?

Di Youtube, beragam jenis video dapat ditemukan. Tidak sedikit yang menampilkan video-video pendidikan dan kuliah dari para dosen-dosen di dalam dan luar negeri. Materi-materi kuliah dan jurnal-jurnal juga banyak yang tersedia gratis diunduh. Kelimpahan sumber informasi itu yang belum dimanfaatkan secara optimal. Malahan, mungkin dengan informasi yang berlimpah ruah menjadikan seseorang menjadi bingung untuk menyaring dan memanfaatkannya.

Jadi, eksis dengan Internet bisa dimaknai ketika seseorang mampu memanfaatkan keberadaan Internet sebagai sarana belajar. Sumber informasi yang tersedia di Internet apabila dipelajari akan menambah wawasan dan pengetahuan sehingga akan tetap eksis ketika berinteraksi dengan masyarakat.

Masyarakat Yang Eksis Bergerak

Dalam konteks ruang publik yang dicetuskan Habermas, Internet dan jejaring sosial menciptakan sebuah ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi dan bersuara dan beropini atas kepentingan serta kebutuhan mereka.Oleh sebab itu, keterlibatan masyarakat untuk eksis bergerak dalam ruang publik semakin terbuka lebar dalam bentuk diskusi di forum-forum dunia maya. Teknologi internet sangat memungkinkan terjadinya interaksi dan dialog antar pengguna Internet di seluruh penjuru dunia tanpa perlu harus bertemu dan bertatap muka.

13231240491073444686

Gambar ilustrasi; Asia Top Internet Countries; sumber http://www.internetworldstats.com/stats3.htm

Dengan adanya Internet, seseorang tidak saja menjadi warga sebuah negara, tetapi mereka juga menjadi cyber residents di lingkungan global. Aktivitas masyarakat tidak lagi hanya berada di dunia nyata saja, namun mereka juga terlibat aktif dalam dunia virtual. Dengan semakin meningkat jumlah pengguna Internet berarti telah terjadi migrasi virtual. Menurut data Internet World Stats, jumlah pengguna Internet pada tahun 2011 (Data bulan Desember 2011) sebanyak 55,000,000 dari jumlah estimasi jumlah penduduk Indonesia sebanyak 245,613,043. Dengan demikian, sekitar 22.4 % penduduk Indonesia adalah pengguna Internet. Meskipun berada di posisi keempat di antara negara-negara Asia (setelah China, India dan Jepang), jumlah tersebut menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan jumlah pengguna Internet pada tahun 2000, yaitu hanya sejumlah 2,000,000 pengguna. Masih dengan data yang sama, Facebook subscribers di Indonesia tercatat sebanyak 41,777,240 pengguna.

Dengan berdasarkan data tersebut, berarti ruang publik di dunia maya menjadi sangat terbuka bagi masyarakat untuk saling melemparkan opini. Masyarakat bisa eksis dengan Internet untuk bergerak bersama-sama agar saling berkontribusi pada pembangunan di masyarakat. Selain itu, dengan adanya Internet, masyarakat bisa menunjukkan keberadaannya dengan bertukar pandangan dengan orang-orang di segenap penjuru dunia tanpa ada batasan wilayah.

Telah banyak dilakukan dan dibuktikan bahwa masyarakat yang eksis bergerak dapat menimbulkan perubahan. Ruang publik baru di dunia maya mampu menciptakan gerakan di dunia nyata sehingga bisa menyuarakan beragam opini dan pendapat ke ranah kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu banyak diperbincangkan tentang anak-anak sekolah di Banten yang menyeberangi jembatan berbahaya ala film Indiana Jones And The Temple Of Doom, seperti disebut DailyMail. Ruang publik bergairah memberikan beragam komentar yang akhirnya berujung pada perbaikan. Peran cyber residents telah terbukti ampuh untuk membuat perubahan sepanjang mereka eksis dengan Internet melalui diskusi di ruang publik.

Eksis dan Tanggung Jawab

Kata eksis dalam konteks global village merujuk pada sebuah tanggung jawab terhadap masyarakat. Jika melihat Internet sebagai sebuah ruang berekspresi bagi publik, maka aktivitas pengguna Internet perlu memandang kaidah-kaidah berinteraksi di lingkungan virtual sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai tindakan yang dilakukan di dunia maya dapat merugikan diri sendiri atau bahkan merugikan kepentingan umum. Misalnya, melampiaskan kemarahan kepada seseorang melalui jejaring sosial atau menyebarkan kabar berita bohong atau hoax. Dengan kecepatan penyebaran berita yang real-time, berita-berita yang bohong tersebut dapat merugikan orang-orang yang bersangkutan.

Dengan beragam informasi yang bisa diperoleh dengan sangat mudah, pengguna Internet hendaknya perlu berhati-hati ketika membagikan berita tersebut ke khalayak ramai. Jangan hanya karena ingin eksis, maka informasi yang diberikan di jejaring sosial atau blog adalah berita bohong yang tidak teruji kebenaran dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Walaupun di dunia virtual, dunia Internet dan media sosial harus tetap memegang kaidah dan norma-norma yang ada di masyarakat, baik berupa nilai kesopanan, kesusilaan, norma agama dan norma hukum. Masing-masing pengguna Internet perlu menyadari bahwa meskipun bebas berekspreasi, tetapi kaidah dan norma tetap harus dipegang.

Salah satu cara eksis bertanggung jawab adalah penggunaan identitas yang jelas dan terverifikasi. Penggunaan berbagai macam nama serta identitas yang berbeda-beda bisa berpeluang untuk disalahgunakan misalkan untuk mengirim kabar hoax atau untuk melakukan kejahatan di dunia maya. Hal ini tentu sangat disayangkan bila eksis dengan Internet dipakai untuk melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat dan tidak bertanggung jawab.

Oleh sebab itu, beragam aktivitas yang bisa dilakukan di dunia maya seperti pertemanan di dunia maya, penyaluran bakat dan minat, bisnis dan usaha hingga pencurahan isi hati di blog atau microblogging perlu tetap berhati-hati. Ada banyak kasus yang memanfaatkan Internet untuk melakukan perbuatan yang merugikan. Mereka eksis dengan Internet tetapi dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela. Selain itu, baru-baru ini ada sebuah penelitian bahwa seseorang bisa diprediksi job performance-nya melalui apa yang ditulis dan dilakukan di Facebook. TIME menuliskan berita penelitian tersebut tanggal 22 February 2012 dengan tajuk Your Facebook Profile Can Predict Your Job Performance. Jadi, eksis di Internet harus dilakukan dengan hati-hati, waspada bertanggung jawab.

~Epilog~

Internet telah hadir sebagai sebuah teknologi yang mampu memberikan perubahan berdampak besar di masyarakat global. Kehadirannya mengubah sebagian besar aspek kehidupan umat manusia dan meruntuhkan tembok-tembok batas dan jarak antar negara sehingga menciptakan sebuah lingkungan virtual. Aktivitas masyarakat di lingkungan virtual itu semakin meningkat melalui beragam fasilitas yang bisa dikelola seperti jejaring sosial, blog, microblogging atau chatting. Fasilitas tersebut membuat masyarakat ingin tampak eksis.

Tetap perlu diingat, bahwa eksis dengan Internet memiliki makna tidak sekedar menuliskan status di Facebook atau mengunggah foto di Facebook, tetapi juga bermakna bagaimana masyarakat menggunakan Internet secara konsisten sebagai media pembelajaran dan ruang publik untuk menyalurkan opini. Oleh karena itu, interaksi dan eksis dengan Internet di dunia virtual pun harus mengedepankan rasa toleransi dan bertanggung jawab.

Sudah banyak contoh kasus yang menyalahgunakan Internet untuk tindakan yang merugikan orang lain, tetapi marilah memulai dari diri sendiri ketika beraktivitas dengan menggunakan Internet dilakukan dengan sopan, hati-hati dan tetap bertoleransi. Marilah menjadi pribadi yang eksis dengan Internet dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab sebagai sebagai media yang membawa kemuliaan bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Banner-AXIS-Clean-Small

2 thoughts on “Memaknai Eksis di Internet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>