Menempuh Perjalanan Darat Belanda – Inggris

13262162471395111619
Gambar Ilustrasi: Bus Eurolines; dokumentasi pribadi

Libur tlah tiba…libur tlah tiba…hatiku gembira…Hore…Hore…Hore!!!!

Syair lagu yang dinyanyikan Tasya di atas terngiang-ngiang dalam telinga ketika saya menutup pintu kamar dan meninggalkan Student Housing di Groningen pada 2 hari menjelang Natal. Sore itu, jam hampir menunjukkan pukul 6 sore, dengan membawa satu buah tas koper warna merah dan satu tas ransel, saya berjalan menapaki jalanan basah akibat guyuran hujan. Hawa dingin 8 derajat Celcius menyelinap di sela-sela kulit, namun tidak memadamkan rasa gembira saya untuk mengunjungi tanah seberang, Inggris.

Perjalanan panjang sudah menunggu. Saya akan menempuh perjalanan darat dari Belanda ke Inggris. Tiket bus Eurolines dari Utrecht ke London sudah saya pesan bersamaan dengan pendaftaran visa pada bulan November yang lalu. Karena saya tinggal di Groningen, untuk sampai Utrecht, saya harus naik kereta Nederland Spoorwagen kurang lebih 2 jam dari Groningen Centraal Station. Menurut itinerary, bus Eurolines yang tumpangi nanti akan sampai di London Victoria Coach Station pada pukul 06.45 pagi waktu setempat.

Saya sengaja memilih perjalanan via darat sebagai sebuah nostalgia. Ketika saya bekerja di Bali, pada saat libur Natal dan tahun baru, saya naik bus dari Denpasar ke Solo dan sebaliknya. Jadi momen libur Natal 2011 dan tahun baru 2012 kali ini, saya ingin memiliki pengalaman yang serupa melalui perjalanan darat dari Belanda ke Inggris dengan menggunakan bus. Wow, betapa asyiknya.

Sesampai Utrecht Centraal Station, saya segera menuju ke Jaarbeursplein sebagaimana disebutkan dalam tiket. Saya agak kesulitan mencari halte bus Eurolines sebab di Jaarbeursplein terdapat banyak halte bus. Menurut beberapa blog yang pernah saya baca, halte bus Eurolines terkadang tidak kelihatan sebab hanya memakai satu papan kecil bertuliskan Eurolines. Pada saat mencari itu, saya bertemu dengan dua orang penumpang lain yang hendak pergi ke London juga. Jadilah kami bertiga bersama-sama mencari halte Eurolines.

Karena tidak menemukan halte Eurolines, jadilah kami bertiga berteduh di sebuah halte. Malam itu, hujan mengguyur tanah Belanda. Kami hanya mengandalkan pandangan mata pada setiap bus yang masuk ke kawasan Jaarbeursplein. Sempat lelah menunggu, akhirnya sebuah bus bertuliskan Eurolines datang. Kami bertiga lega. Sambil menanti di mana bus tersebut akan berhenti, kami mengangkat tas masing-masing.

Waktu menunjukkan pukul 21.15. Penumpang bus Eurolines segera mendekati bus yang akan mengantar ke London. Namun sebelum masuk bus, para penumpang dipersilakan untuk memasukkan tas bawaan mereka ke dalam bagasi dengan diatur driver bus. Saat para penumpang rebut memasukkan tas mereka, saya mencari-cari petugas Eurolines lain yang membantu driver. Tapi ternyata tidak ada. Driver itu mengerjakan tugasnya sendiri.
Lantas driver itu berdiri di pintu bus. Dia meminta satu per satu menunjukkan tiket dan kartu identitas untuk daftar ulang. Saya masih berharap ada seseorang yang membantunya seperti yang sering dilihat di perusahaan-perusahaan bus di Indonesia. Bus malam langganan saya di Indonesia paling tidak dalam setiap perjalanan memiliki 2 driver yang saling bergantian bertugas dan satu orang kernet. Dalam batin saya bertanya, apakah mungkin driver Eurolines ini hanya bertugas sendirian?

Setelah cek tiket selesai, driver berbicara melalui microphone. Dia meminta semua penumpang memasang sabuk pengaman sebab perjalanan akan segera dimulai. Bus bus melaju perlahan meninggalkan Jaarbeursplein dan menyusuri jalanan Utrecht. Para penumpang masih bercakap-cakap. Namun perlahan satu per satu mereka terlelap dalam tidur. Suasana di dalam bus jadi hening.

Pertanyaan saya mengenai apakah driver Eurolines itu akan bertugas sendirian menjurus pada jawaban “ya”. Saya yang sempat tertidur di dalam bus dikejutkan dengan suara driver bahwa dia akan berhenti untuk istirahat selama 45 menit. Jam menunjukkan pukul 01.00 pagi. Bus berhenti di sebuah pompa bensin di Belgia. Para penumpang turun dan menuju ke sebuah supermarket yang ada di pompa bensin itu. Ada yang pergi ke toilet, ada yang membeli kopi, roti dan makanan ringan.

Saya juga berniat membeli kopi. Di sana banyak penumpang yang duduk di kursi yang tersedia, banyak pula yang berdiri. Di sebelah mesin kopi otomatis, driver bus Eurolines tampak menikmati kopi yang diminumnya. Saya berdiri di sampingnya dan tersenyum. Saya berdialog dengannya. Ternyata dia memang bertugas sendirian dan memang begitulah sistemnya. Tidak ada driver cadangan, tidak ada kernet. Hebat juga ya!!

Penumpang diminta naik ke bus kembali sebab perjalanan dilanjutkan. Sebelum berangkat, driver menghitung jumlah penumpangnya agar jangan sampai ketinggalan. Cukup capek dan repot juga ketika driver tidak memiliki kernet dan sopir cadangan. Bus pun akhirnya melaju di jalan raya Belgia dan memasuki negara Perancis. Mata saya kembali terpejam.

Kembali terdengar pengumuman. Kali ini bus memasuki wilayah pelabuhan Calais. Akan ada cek passport dan visa sebelum masuk ke kapal ferry. Semua penumpang turun dan mengantri. Ada dua kali pengecekan, pertama oleh kepolisian dan oleh UK Border. Ketika tiba giliran saya diperiksa seorang polisi UK, saya sempat menunggu hampir 5 menit. Polisi itu mengecek visa, passport dan residence permit saya. Dia membolak-balik buku passport, mencocokkannya dengan visa dan residence permit. Polisi itu masuk ke sebuah ruangan lantas kembali lagi.

Saya bisa mengerti mengapa dia mengecek dokumen saya lebih lama. Nama saya di visa UK berbeda dengan nama di passport dan residence permit. Nama saya hanya terdiri dari 1 kata; Winarto; di passport dan residence permit tertulis “Winarto” tetapi di visa UK tertulis Winarto XXX. Ketika saya pertama kali menerima visa itu, saya juga kaget, saya mendapat tambahan nama XXX oleh UK Border. Namun setelah teliti dicek, akhirnya saya bisa melanjutkan pengecekan di UK Border. Di sana saya diminta mengisi formulir keimigrasian dan ditanya alasan saya mengunjungi UK. Selesai pengecekan dokumen, semua penumpang kembali masuk ke dalam bus. Mereka tampak bercakap-cakap satu sama lain. Mereka tidak tidur lagi sebab beberapa saat lagi bus akan masuk ke kapal ferry.

Bus pun akhirnya masuk ke kapal yang dioperatori oleh P&O Ferries. Dari luar, kapal ferry tersebut tampak megah dan mewah. Memang demikianlah adanya. Para penumpang turun dari bus bisa naik ke kapal dan menikmati fasilitas-fasilitas di sana seperti kafe, restoran, tempat permainan, minimarket, atau sekedar duduk dan tidur di sofa yang tersedia sambil menunggu waktu 1,5 jam untuk menyeberang dari pelabuhan Calais ke Dover. Waktu tersebut juga dipergunakan para driver bus untuk beristirahat atau duduk sambil bersantai. Saya sendiri memutari sudut-sudut kapal ferry dan melihat apa yang ada dan terjadi di sana. Tapi akhirnya lelah juga dan memutuskan untuk duduk di sebuah sofa sambil membaca majalah.

Kapten kapal ferry mengumumkan bahwa beberapa saat lagi kapal akan berlabur di Port of Dover. Para penumpang diminta kembali ke bus atau mobil masing-masing sambil menunggu kapal bersandar sempurna. Saya turut serta dalam antrian penumpang yang kembali ke bus. Satu per satu penumpang masuk ke bus. Sebelum berangkat, driver menghitung jumlah penumpang yang sudah ada di dalam.

13262220151668531221
London Victoria; foto dokumentasi pribadi

Akhirnya, bus memasuki tanah Inggris. Jam menunjukkan pukul 4.30 pagi. Hari masih sangat gelap. Perjalanan dilanjutkan menuju ke London. Masih butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke London. Saya memanfaatkan waktu perjalanan yang tersisa untuk memejamkan mata dengan harapan ketika membukanya kembali, saya sudah sampai di London.

Dua jam kemudian, bus memasuki London Victoria Coach Station. Oh senangnya, tiba juga di London setelah menempuh perjalanan jauh dari utara Belanda. Saya segera mengambil tas di bagasi, mengucapkan terima kasih dan jalan ke London Victoria Station. Perjalanan yang melelahkan tetapi sangat menyenangkan. Tunggu cerita berikutnya.