Menelpon Untuk Buka Pintu Toilet Umum, Bagaimana Caranya?

Gambar ilustrasi: Pintu toilet di stasiun kereta Leeuwarden. Harus menelpon untuk membukanya. Foto: dokumentasi pribadi
Toilet umum menjadi sebuah tempat favorit orang-orang yang suka melakukan perjalanan jauh, baik menggunakan sepeda motor, mobil, bus, kereta atau pesawat terbang. Jika sedang jalan-jalan di mall atau pusat perbelanjaan, toilet umum terlihat banyak orang yang mengunjunginya. Apalagi kalau sudah kebelet, rasanya, toilet umum adalah sebuah tempat pertama yang ingin dituju. Oleh karena itu, tidak heran jika setiap kali mampir ke toilet umum, orang-orang mengantri menunggu giliran.
Biasanya, untuk menggunakan toilet umum, orang harus membayar sesuai dengan tarif yang dipasang. Maka itu, ada orang yang bertugas menjaga toilet umum. Di Belanda, sistem itu masih dipakai pada beberapa toilet-toilet umum, namun ada juga yang sudah mulai beralih ke mesin. Caranya, orang yang ingin masuk ke toilet umum harus memasukkan koin 50 sen euro supaya pintu terbuka.
Tetapi, bagaimana kalau ada toilet umum yang tidak dijaga dan tidak ada lubang untuk memasukkan koin? Kalau di Indonesia, bila kebelet kencing, tinggal cari pohon besar atau di bawah jembatan (minta izin kencing kalau perlu), maka urusan kebelet sudah selesai. Tapi, bagaimana kalau kebelet di Belanda? Kencing sembarangan akan didenda, kalau tertangkap.
Pengalaman itu, saya alami bersama Daniel. Suatu malam di Stasiun Kereta Leeuwarden, saya dan Daniel tengah menunggu keberangkatan Sneltrein (kereta cepat) yang akan menuju ke Groningen. Kami memilih sneltrein ketimbang stoptrein (berhenti di setiap stasiun) karena pertimbangan waktu. Karena ada panggilan alam (kebelet kencing), maka kami mencari tanda petunjuk toilet. Kami menemukannya.
Sesampai di depan pintu toilet, kami bingung. Tidak ada penjaga, tidak ada lubang memasukkan koin. Di pintu tersebut ada petunjuk, namun dalam bahasa Belanda. Kami hampir menyerah, karena tidak tahu artinya. Maklum, penguasaan bahasa Belanda kami berdua sangat minim.
Di dekat toilet tersebut, berdiri seorang laki-laki. Daniel menghampirinya dan bertanya maksud tulisan di pintu toilet itu. Laki-laki itu pun membaca tulisan yang ada di pintu toilet itu sambil menjelaskannya. Dia berkata bahwa kami harus menelpon nomor yang ada di pintu tersebut supaya pintu akan terbuka. Biayanya 60 sen euro sekaligus sebagai biaya jasa toilet. Hanya 15 menit saya kesempatan berada di dalam toilet dan pada menit ke-12 akan ada pemberitahuan pertama. Jika tidak keluar hingga menit ke-15, maka pintu akan tertutup.
Daniel pun menelpon nomor yang tertera di pintu. Beberapa saat kemudain, terdengar suara sebagai tanda kunci pintu toilet tersebut terbuka. Daniel kemudian masuk ke dalam. Belum sampai 5 menit, Daniel sudah keluar. Kami berdua tertawa. Mungkin karena orang desa maka ketika mengalami pengalaman pertama seperti ini, kami takjub dibuatnya.
Rasa kagum belum berhenti. Di toilet itu ada 3 pintu, namun bagaimana bisa pintu toilet yang ada dihadapan Daniel-lah yang terbuka, buka pintu yang lain? Hingga muncul pertanyaan-pertanyaan bodoh, bagaimana mendeteksinya? Apakah dengan deteksi suhu tubuh? Deteksi sinyal?
Saya mencoba mencari tahu. Ah, ternyata nomor yang tertera di pintu tersebut berbeda-beda. Sama seperti menelpon operator handphone, jika 1 untuk informasi saldo pulsa, jika 2 untuk isi pulsa dan seterusnya. Di pintu pertama nomornya adalah 1010, pintu kedua 2020 dan pintu ketiga 3030. Terjawab sudah. Mungkin karena mirip dan masih kagok teknologi, jadi mata kami kurang teliti bahwa nomor tersebut berbeda.
Groningen, 4 Desember 2011….Selamat hari Minggu








