Mau Survive di Belanda, Pahami 3 Ciri Masyarakatnya
“Tell me the time for discussion to day“, demikian salah satu komentar yang masuk ke dalam akun Facebook saya. Sebelumnya, orang yang sama juga mengirimkan pesan melalui email yang menanyakan hal serupa. Padahal sehari sebelumnya, saya dan teman dalam satu kelompok tugas matakuliah, termasuk pengirim pesan tersebut, sudah sepakat bahwa akan berdiskusi di kafe fakultas pada pukul 12.00 tepat. Tetapi, mungkin karena lupa, 15 menit sebelum jam 12.00 dia menanyakan lagi kapan waktu untuk berdiskusi kelompok.
Peristiwa lupa jam janjian di atas sudah 3 kali dilakukan teman saya itu. Saya masih bersabar dengan cara memberitahunya. Ketika saya sudah duduk bersama dengan anggota kelompok yang lain di kafe, saya membalas email teman saya itu. Saya menulis supaya dia segera datang karena diskusi akan segera dimulai. Tetapi, saya bisa memperkirakan bahwa dia akan datang sekitar jam 12.30 karena jarak tempat tinggalnya ke kampus harus ditempuh selama 20 menit dengan menggunakan sepeda.
Semenjak saya berada di Belanda, saya mulai berhati-hati bila janjian atau bepergian dengan transportasi umum seperti bus dan kereta. Saat membalas email teman saya tersebut, saya hanya berpikir bagaimana jika teman saya itu berhadapan dengan orang Belanda yang sangat sensitif terhadap yang namanya waktu. Segala sesuatu yang berurusan dengan namanya waktu haruslah jelas dan tepat.
Jangan pernah bermain-main dengan waktu di Belanda sebab apabila tidak tepat waktu, “bahaya” sedang mengancam. Seperti pengalaman saya ketika menggunakan kereta api. Ketika itu saya akan pergi ke Dusseldorf. Karena parkir sepeda penuh, saya kesulitan mencari parkir sepeda di stasiun. Alhasil, ketika saya melihat jam, 4 menit lagi kereta akan berangkat. Saya lantas menyelipkan sepeda di tempat parkir yang sudah penuh, menguncinya dan segera berlari menuju ke peron. Bisa dibayangkan jika saya terlambat satu menit saja, maka rencana perjalanan saya bisa berantakan.
Oleh sebab itu, untuk bisa survive dan beradaptasi di Belanda, memiliki jam yang tepat adalah syarat yang tidak bisa dielakkan. Jam tangan, jam dinding, handphone atau komputer, hendaknya disetel tepat waktu. Saya biasa menyesuaikan jam saya dengan jam internet. Saya juga mencocokkannya dengan jam yang saya bawa dengan jam di kampus atau stasiun dengan maksud agar lebih yakin bahwa jam saya sesuai dengan jam-jam tersebut.
Dengan melakukan hal tersebut, maka membantu saya untuk selalu tepat waktu dalam mengikuti kuliah, janjian dengan seseorang, menunggu bus atau kereta. Beberapa dosen yang mengajar di kelas saya selalu mengawali kuliah dan mengakhirinya dengan tepat waktu. Beberapa kenalan mahasiswa PhD mengatakan bahwa professor-professor mereka selalu datang, istirahat dan pulang tepat waktu. Mereka tidak mau pulang terlambat bahkan sampai malam atau pagi hari seperti yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa mereka. Mereka bekerja sesuai dengan waktu yang sudah diagihkan dan dibayar sesuai dengan jam kerja mereka.
Karena berharganya waktu, masyarakat Belanda selalu memiliki jadwal yang padat. Mereka menyusun kegiatan dan aktivitas mereka dengan sangat rapi. Banyak orang yang mencatat agenda mereka di handphone, tetapi masih banyak juga yang menuliskannya di buku agenda. Merasa bahwa buku agenda memiliki peranan penting, maka saya pun memilikinya untuk mencatat aktivitas, janjian, kegiatan yang hendak saya ikuti. Buku agenda itu juga berguna sebagai pengingat agar jangan sampai tidak bertabrakan dengan acara atau kegiatan yang lain.
Karena itulah, segala sesuatu harus membuat janjia. Sebagai contoh, bila hendak pergi ke dokter harus membuat janjian (afspraak) terlebih dahulu. Xing, teman saya dari China tadi siang mengatakan bahwa dia harus menunggu 1 minggu untuk bertemu dengan dokter yang akan memeriksa matanya yang kini sering berwarna merah. Bahkan, ada teman yang harus menunggu 1 bulan untuk bisa bertemu dengan dokter gigi. Oleh sebab itu, memiliki buku agenda adalah saran yang setidaknya harus diikuti. Hal tersebut dilakukan agar tidak lupa dengan janjian yang sudah dibuat.
Menariknya adalah, kebiasaan memiliki buku agenda itu sudah dibiasakan sejak dini. Saat saya sedang membeli lampu sepeda di ACTION pada awal tahun ajaran baru yang lalu, saya mengamati beberapa anak kecil yang sedang memilih buku agenda bersama dengan orang tua mereka. Kebiasaan itu diajarkan supaya sedari kecil, mereka memiliki perencanaan waktu yang tersusun rapi.
Satu hal terakhir yang ingin saya sampaikan mengenai ciri masyarakat Belanda adalah mereka selalu berbicara mengenai cuaca. Cuaca adalah faktor alam yang tidak bisa dikontrol oleh manusia. Mereka hanya bisa memperbincangkan cuaca yang tidak menentu; dalam sehari bisa panas, hujan atau gerimis. Maka itu, selama 5 menit penyampaian prakiraan cuaca di berita televisi, pasti akan menarik perhatian orang yang menontonnya. Ketika mereka sudah mengetahui prakiraan cuaca yang disiarkan di televisi, masyarakat Belanda bisa mempersiapkan diri dengan pakaian dan peralatan yang dibutuhkan. Bila hujan atau germis, mereka harus sudah siap dengan payung atau mantel.
Oleh karena itu, jika ingin survive beradaptasi di Belanda, ingatlah ketiga ciri masyarakat di Negeri van Oranje itu. Pastikan memiliki jam yang cocok, buku agenda yang mencatat segala macam aktivitas dan appointment serta siap-siaplah mendengar obrolan orang Belanda tentang cuaca.
Groningen, 2 Desember 2011 jam 11.04 CET








