Delfzijl, Pesona Pantai Utara Belanda dan Muzeeaquarium
Mencari Ombak Pantai di Delfzijl; EemsHotel di Pantai Delfzijl; foto dokumentasi pribadi
Setelah menyelesaikan test dan mengirim paper tugas akhir kuliah, saya ingin meregangkan otot-otot tubuh yang kaku. Saya lantas berpikir untuk melupakan sejenak rute housing-kampus, housing perpustakaan, buku yang menumpuk dan komputer. Saya yakin saya akan sangat merindukan semua itu, namun saya percaya pasti saya akan kembali untuk memeluknya lagi. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk meninggalkannya sejenak. Tapi pergi kemana?
Saya kemudian teringat dengan kegiatan bersepeda PPI-Groningen pada awal bulan Oktober yang lalu. Mereka bersepeda ke daerah utara Belanda, Delfzijl. Karena pada saat itu saya memiliki keperluan lain, saya tidak bisa gabung dengan teman-teman PPI-Groningen. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke pantai di utara Belanda itu, namun tidak dengan menggunakan sepeda, tetapi dengan naik kereta. Lalu saya membuka website jadwal kereta api yang berangkat dari Groningen ke Delfzijl yang dikelola oleh Nederland Spoorwagen (NS).
Kereta tujuan Delfzijl; foto dokumentasi pribadi
Sebelum berangkat di hari Selasa siang, saya mempersiapkan bekal berupa roti, buah pisang dan sosis. Saya sudah tidak sabar menikmati pantai. Dalam bayangan saya, saya sudah duduk di tepi Pantai Kuta, seperti yang sering lakukan ketika bekerja di Bali. Saya sudah mengimajinasikan suara deburan ombak. Setelah persiapan selesai, saya segera mengayuh sepeda ke Groningen Centraal Station. Setiba di sana saya segera membeli tiket dagretour (tiket pergi-pulang) di mesin tiket yang ada di stasiun. Delfzijl semakin dekat. Saya naik StopTrein Arriva dan butuh waktu 37 menit untuk sampai ke Delfzijl.
Kereta melaju dengan cepat. Ada 7 stasiun yang dilewati sebelum berhenti di Delfzijl. Untuk membunuh waktu, makan roti yang saya bawa sambil sesekali melihat pemandangan di sepanjang rel kereta. Saya semakin tidak sabar duduk di tepi pantai hingga sebuah pengumuman membuyarkan lamunan itu. Kereta sudah memasuki stasiun Delfzijl. Wah, senangnya. Saya memasukkan bekal makanan ke dalam tas, memakai jaket dan menyusul penumpang lain yang sudah berdiri di depan pintu menunggu kereta berhenti.
Pantai Tak Berombak
Melamun di Pantai Delfzijl; foto dokumentasi pribadi
Saya pengikuti petunjuk jalan yang ada di dekat stasiun. Untuk sampai ke pantai, saya melangkah ke utara. Saya cukup beruntung karena matahari bersinar terang dan tidak berangin, walaupun masih cukup dingin. Saya berjalan kaki sepanjang trotoar yang mengantar ke pantai. Daerah kejauhan, saya sudah melihat beberapa orang yang bermain layang-layang, bersepeda atau sekedar berjalan kaki. Saya mempercepat langkah agar segera sampai di pinggir pantai.
Akhirnya saya sampai juga. Sudah lama sekali saya tidak pergi ke pantai. Kondisi pantai di utara Belanda itu meskipun berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya, tetapi sudah bisa mengobati kerinduan saya. Saya melihat dari dekat orang-orang yang bermain layang-layang. Mereka sangat bergembira. Melihat ada sebuah kursi yang kosong, saya duduk di sana sambil memandangi lautan tenang yang ada di depan mata saya.
Lautan tanpa ombak. Pantai di Delfzil memang tidak berombak seperti yang ada di Pantai Kuta atau Pantai Sanur di Bali. Di sana juga tidak ada pohon kelapa dan para penjual makanan dan minuman yang lalu lalang seperti yang biasa terlihat di bali. Tapi mau bagaimana lagi? Beruntung saya membawa bekal makanan. Saya mengambil kotak makanan di dalam tas, membukanya dan menikmati roti, pisang dan sosis yang saya bawa. Nikmat sekali berkah Tuhan Selasa siang itu. Perjalanan saya teruskan dengan berjalan kaki di sepanjang pantai. Angin semilir berbisik di telinga.
Muzeeaquarium
Bagian depan Muzeeaquarium, terlihat jangkar yang sangat besar; foto dokumentasi pribadi
Kalau sudah di pantai, saya sangat betah sekali. Saya ingin berlama-lama di sana. Tetapi, saya harus segera melangkahkan kaki. Ada museum yang sangat menarik di dekat pantai. Namanya Muzeeaquarium. Museum tersebut menampilkan koleksi benda-benda arkeologi, pelayaran, geologi, kerang-kerangan dan aquarium ikan. Sesampai di depan museum, saya mendapatkan informasi harga tiket yang harus dibayarkan yang dibagi-bagi ke dalam kelompok usia. Saya harus membayar 5 Euro untuk bisa masuk ke dalam.
Begitu masuk, saya disambut oleh resepsionis museum. Saya menyerahkan uang 5 Euro untuk membayar tiket lalu masuk ke dalam museum. Saya melangkahkan kaki pelan-pelan sambil melihat gambar dan foto-foto yang terpasang di dinding museum. Saya lalu berjalan ke akuarium untuk melihat koleksi-koleksi ikan. Akuarium tersebut berada di sebuah bunker sisa perang dunia ke dua yang lalu. Terhitung ada 10 akuarium besar dan kecil yang diisi beragam jenis ikan dan beberapa lemari kaca yang berisi benda-benda laut.
Stalaktit di Muzeeaquarium; foto dokumentasi pribadi
Selesai puas melihat ikan, saya berjalan ke ruangan berikutnya yang berisi benda-benda arkeologi dan geologi. Beragam jenis batu-batuan, mineral dan benda-benda zaman purba tampak dipamerkan di museum itu. Yang menarik, suasana yang diciptakan pada masing-masing bagian disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya. Seperti sebuah stalaktik yang didesain di dalam sebuah goa dan di sana suara tetes-tetes air dapat dinikmati oleh pengunjungnya.
Replika Kapal Laut di Muzeeaquarium; foto dokumentasi pribadi
Ruangan yang tidak kalah menarik adalah pada bagian pelayaran. Ruangan yang cukup luas tersebut dilengkapi dengan bermacam-macam koleksi replika kapal, baik besar maupun kecil. Menurut cerita, kapal-kapal tersebut banyak dipakai untuk kegiatan perdagangan dan mengangkut bahan-bahan makanan. Di sana juga ada peralatan navigasi dan radar yang masih bisa difungsikan dan dipelajari cara bekerjanya.
Tak terasa puas sekali saya berkeliling di museum itu. Saya kemudian memilih duduk di tempat bermain anak-anak. Mumpung sepi, sambil beristirahat saya menyelesaikan beberapa puzzle yang ada di sana. Setelah capek sedikit berkurang, saya berpamitan dengan resepsionis museum. Jarum jam menunjukkan pukul 16.00. Sebelum pulang, saya ingin berkeliling di pusat kotanya sambil mencari gantungan kunci dan kartu pos yang bertuliskan Delfzijl. Saya ingin mengirimkan kartu pos itu ke para sahabat di Indonesia.








