Tolong Saya Sakit, Saya Butuh Kerokan
Saat Meriang
Di hari Senin, saya beraktivitas seperti hari-hari biasa dengan kegiatan utama diskusi kelompok dan kemudian nongkrong di perpustakaan kampus. Cuaca Groningen kala itu sangat asyik. Sinar matahari berlimpah. Meja perpustakaan yang biasanya penuh, hari itu sedikit lengang karena banyak mahasiswa yang duduk dan belajar di taman yang terletak di belakang gedung perpustakaan. Dengan cuaca yang sangat bersahabat tersebut, banyak mahasiswa yang memilih membawa buku dan komputernya ke taman sambil menikmati sinar matahari.
Saat jarum jam menunjukkan jam 5 sore, saya memutuskan untuk pulang ke housing. Setelah menata dan memasukkan buku dan laptop ke tas, saya menuju ke parkir sepeda dan mengayuhnya. Dengan santai saya melewati jalanan yang mulai dipadati dengan sepeda. Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit dari kampus ke housing.
Sesampai di kamar, saya mengeluarkan kembali buku dan laptop dan meletakkannya di meja belajar. Sebagai selingan, saya mencuci piring dan perabotan kotor di dapur dan memasukkan baju kotor di mesin cuci. Setelah selesai, saya mulai merasakan keanehan pada badan saya. Saya merasa badan saya dingin, walaupun saat itu matahari masih bersinar terik. Menjelang jam 7 malam, saya merasakan semakin kedinginan. Saya putuskan untuk memakai kaos kaki dan sarung tangan wol. Saya juga memakai celana panjang dan 2 buah jaket sekaligus.
Badan saya menggigil kedinginan. Di saat sendiri seperti itu, saya mencoba tenang. Saya harus segera minum obat. Namun, saya belum masak. Saya ingin makan-makanan yang berkuah hangat. Lantas, saya memaksa diri untuk memasak buat makan malam. Saya melepas sarung tangan kemudian mengambil bahan-bahan makanan dan bumbu dapur lalu memasak bakso kuah. Saya juga membuat teh panas.
Pingin Kerokan
Pada situasi seperti itu, saya ingin sekali di rumah. Jikalau di rumah, pasti saya akan meminta Mak untuk mengeroki. Dengan berbekal koin 5 rupiah yang sudah halus permukaannya dan minyak tanah, Mak saya sangat terampil mengeroki punggung dan sekujur tubuh saya. Tidak jarang pula, saya meminta tetangga saya yang berprofesi sebagai tukang pijat tradisional, Mbok Tini, untuk memijat sekaligus kerokan jika badan saya merasa tidak enak. Itu jika kalau saya ada di rumah.
Kalau tidak ada di rumah? Ketika kuliah dan di Denpasar, biasanya ada teman yang saya minta untuk mengeroki punggung dan badan saya jika sakit. Saya juga biasa diminta untuk mengeroki dan memberikan sedikit relaksasi untuk teman-teman. Simbiosis yang saling menguntungkan. Saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar tukang pijat. Kalau terpaksa, saya bisa mengeroki tubuh saya sendiri pada bagian-bagian yang bisa dijangkau.
Sesudah makan, saya minum obat dan kemudian berbaring di kasur. Badan saya mulai pegal-pegal dan semakin menggigil walaupun sudah memakai dua buah jaket. Saya mengambil koin dan minyak kayu putih. Saya keroki diri saya sendiri dengan maksud untuk meredakan sakit. Lumayan, beberapa bagian sangat merah.
Tapi rasanya tidak puas. Sesungguhnya saya ingin meminta teman di koridor untuk mengeroki. Namun, saya urungkan niat itu karena mereka mungkin tidak tahu kerokan dan tidak bisa melakukannya. Ketika bersama dengan teman yang dari Indonesia pun, walaupun mereka tahu tentang kerokan, masih banyak dari mereka yang tidak ngeroki. Mungkin saya harus menerangkan terlebih dahulu apa itu kerokan, bagaimana melakukannya, tinjauan medis, apa efeknya dan pertanyaan yang mungkin saya tidak bisa jawab tentang kerokan. Jangan-jangan malahan dituduh melakukan kekerasan karena kerokan.
Kuliah atau Jualan Obat?
Sebelum saya berangkat ke Belanda, saya khawatir tentang cuaca di sana. Saya belum bisa membayangkan bagaimana cuaca di sana. Katanya sih dingin, tapi dingin yang seperti apa? Katanya juga berangin, tapi angin yang seperti apa? Selain itu, banyak cerita yang mengatakan bahwa di Belanda kemana-mana harus menggunakan sepeda. Jadi, kalau misalkan merasa pegal bagaimana?
Oleh karena itulah, saya memutuskan untuk mendaftar obat-obatan yang cocok dan saya konsumsi jika sakit. Kegiatan mendaftar ini saya jadikan salah satu agenda utama agar jika saya sakit di luar negeri, saya tidak kerepotan mencari obat yang cocok. Selesai mendaftar, saya lantas pergi ke salah satu apotek di kawasan Salemba Jakarta Pusat.
Tercatat ada beberapa obat-obatan yang saya bawa. Saya membawa 3 botol minyak kayu putih ukuran botol sedang, satu kotak Decolgen, satu kotak Asamefenamat, satu kotak Diapet, dua buah botol minyak gandapura, dua botol geliga, dua botol obat batuk, 3 kotak plester dan 5 bungkus koyo cabe. Supaya lebih aman dan terjamin, saya memilih obat-obatan yang memiliki masa kadaluarsa paling tidak sampai tahun 2012.
Begitu sampai di Belanda di bulan April lalu, sebenarnya saya jarang memakai obat-obatan tersebut. Paling-paling saya memasang koyo cabe di punggung ketika terasa pegal dan membaluri tubuh dengan minyak gandapura. Saya ingin merasa aman dan nyaman dengan memiliki obat-obatan tersebut, walaupun saya tidak sakit. Jika saya sakit, saya juga segera mengkonsumsi obat-obatan tanpa harus pergi ke toko obat.
Sebetulnya saya sempat khawatir kalau obat yang saya beli sebanyak itu tidak bisa masuk ke Belanda. Ada saran supaya saya membawa nota kuitansi pembelian sehingga jika ada pemeriksaan, saya bisa lolos karena obat-obatan tersebut legal. Dan dengan jumlah obat sebanyak itu, saya tidak sedang berjualan obat. Pertimbangan saya adalah dengan membeli obat-obatan tersebut di Indonesia, selain obatnya sudah cocok dengan saya, harganya jauh lebih murah. Saya pernah kebetulan melihat harga satu botol minyak kayu putih seperti yang dijual di Indonesia seharga 4 Euro. Mahal? Kalau dibandingkan dengan harga di Indonesia jelas mahal. Memang wajar kalau lebih mahal karena botol tersebut sudah melintas lautan dan benua.
Oleh karena itulah, ketika ada teman yang pulang ke Indonesia dan berangkat ke Belanda lagi, saya titip beberapa botol minyak kayu putih dan koyo cabe sebagai tambahan koleksi kotak obat dan kalau-kalau ada teman yang membutuhkan. Tapi semoga saya sehat-sehat saja.
Hari Selasa, panas badan sudah menurun. Bahkan, karena sudah niat, saya keluar kamar dan ikut serta dalam acara dadakan foto bersama dengan PPI-Groningen. Hari ini saya jauh lebih baik.










udah sampe belanda tetap aja ya kembali ke pengobatan tradisional asli indonesia.
maju terus pak