You are here: Home > Nev(d)erland, Opinion > Pernak-Pernik Reuni: Mengapa Harus Hamburkan Uang?

Pernak-Pernik Reuni: Mengapa Harus Hamburkan Uang?

Ilustrasi Reuni; Gambar dari Google

Ilustrasi Reuni; Gambar dari Google

~Ilustrasi dan Definisi~

Ketika saya jalan-jalan ke Kota Brussel bulan Agustus yang lalu, ada pesan masuk ke handphone saya yang dikirim oleh Tante Jane, ibu angkat saya di Belanda. Dalam pesannya, Tante Jane meminta tolong untuk dibelikan souvenir dan pernak-pernik khas Brussel.  Sebelum mendapat SMS tersebut, saya pun juga sudah berniat untuk membeli pernak-pernik di ibu kota negara Belgia itu. Akhirnya, setelah berkeliling di beberapa tempat yang menarik di Brussel, saya dan beberapa teman masuk ke sebuah toko souvenir.

Saya mendadak bingung. Toko souvenir tersebut menyediakan berbagai macam pernak-pernik cenderamata dengan beragam bentuk, warna dan harga. Ada patung Manneken Pis dengan beragam ukuran dan warna, bermacam-macam bola salju, berbagai model kartu pos, gantungan kunci dan masih banyak lagi.

Berangkat dari ilustrasi di atas, saya hendak mengupas tentang reuni, sebuah kata yang memiliki bermacam-macam pernak-pernik yang menarik untuk dibahas, dengan bersumber pada pengalaman dan observasi. Reuni menjadi sebuah kata yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang yang sudah sudah lama tidak bertemu, biasanya dalam konteks sekolah atau pekerjaan. Menurut definisi Cambridge Advanced Learner’s Dictionary Third edition, kata reuni (reunion) memiliki dua makna:

  • a social event for a group of people who have not seen each other for a long time
  • situation when people meet again after they have not seen each other for a long time

Ada persamaan dan perbedaan dari dua pengertian di atas. Persamaannya adalah dalam konteks waktu pertemuan orang atau kelompok yang sudah lama tidak bertemu. Definisinya sangat kualitatif (for a long time), jadi bisa dipersepsikan ke berbagai jangka waktu, misalnya setahun, 5 tahun, 10 tahun dan sebagainya. Kemudian, kedua definisi reuni tersebut terdapat perbedaan pada cirinya. Pengertian pertama lebih condong kepada event atau kegiatan sedangkan pengertian kedua lebih cenderung pada situasi. Bila reuni dipandang sebagai sebuah event, maka dibutuhkan perangkat (panitia), acara dan pengisi acara, hidangan dan sebagainya. Namun, ketika reuni dimaknai dalam konteks situasi, maka sifatnya lebih cair, artinya reuni tidak perlu tempat, hidangan dan pengisi acara khusus.

Pengalaman Reuni

Saya ingin mencoba membahas fenomenan reuni dari pengalaman saya. Beberapa tahun lalu, ada beberapa teman SMP yang berinisiatif mengajak mengadakan reunian kelas. Pertanyaan klisenya muncul, siapa ketua panitianya? diadakan di restoran atau hotel? dimana? siapa pengisi acaranya? dan pertanyaan-pertanyaan yang masih berkaitan. Setelah berdiskusi, terbentuklah panitia kecil yang akan mengorganisasi jalannya reuni kelas. Panitia kecil itu juga menentukan besarnya uang pendaftaran, lokasi reuni termasuk susunan acara. Reuni tersebut dilakukan di Restoran Boga-Bogi di Solo.

Walaupun tidak semua anggota kelas hadir, jalannya reuni berjalan lancar. Saya masih ingat, panitia membagikan satu stiker reuni sebagai kenang-kenangan yang bertulisan nama-nama seluruh anggota kelas. Di sana, kami saling bercerita pengalaman masa lalu yang dilakukan ketika sekolah. Juga berbagi kisah tentang masa-masa sesudah masuk SMA. Di sela-sela acara tersebut, ada hidangan ikan dan ayam bakar/goreng khas Restoran Boga-Bogi.

Konteks reuni seperti di atas, juga banyak dilakukan oleh kelompok orang yang ingin mengadakan reuni. Kegiatan seperti itu sangat umum dilakukan dengan berbagai macam varian tempat, hidangan, pengisi acara dan sebagainya. Intinya, acara tersebut lebih bersifat formal karena membutuhkan kepanitiaan yang mengatur dan menjalankan. Persiapan yang dilakukan pun akan lebih banyak diperlukan agar acara reuni berjalan dengan lancar.

Dalam konteks pengertian reuni yang kedua, sifatnya lebih cair dan informal karena lebih menekankan pada situasi bukan pada acara, tempat atau hidangan. Artinya, reuni bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Apabila bertemu dengan kawan sekolah yang sudah lama tidak bertemu, kemudian duduk di angkringan sambil minum wedang ronde dan nasi kucing dan pada waktu yang bersamaan mereka berbagi cerita, maka itulah reuni. Di sana lebih menekankan pada situasi yang lebih informal, santai dan tanpa harus repot merencanakan kapan dan dimana acara reuni akan dilakukan. Acara reuni ini tidak membutuhkan kata-kata sambutan yang lazim dilakukan di reuni pada definisi yang pertama.

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang kakak angkatan yang menjadi salah satu panitia reuni angkatannya. Dia bercerita bagaimana rumitnya mengadakan sebuah acara reuni. Ada pembentukan panitia, banyak rapat, pengumpulan dana, pengisi acara, panggung, menyebar undangan, mencari alamat teman-teman dan seterusnya. Sangat merepotkan dan menyita banyak waktu. Dia akhirnya bertanya, mengapa reuni harus mewah-mewah dan menghabiskan banyak uang. Apakah tidak sebaiknya uang tersebut diserahkan kepada adik angkatan yang tidak mampu untuk membayar sekolah ketimbang bayar panggung dan band? Mengapa harus hamburkan uang? Jadi, tambahnya, reuni seharusnya tidak perlu direpotkan dengan berbagai macam aktivitas yang menyebabkan esensi reuni (bertemu dan bercerita) menjadi pudar. Berbeda halnya kalau dilakukan secara santai dan spontan, reuni akan jadi lebih bermakna.

Reunion Potpourri

Salah satu hal sulit dan menantang untuk mengadakan reuni adalah mencari alamat keberadaan teman yang sudah lama berpisah. Sebelum adanya teknologi telekomunikasi macam internet dan telepon, sangat sulit mencari seseorang yang sudah lama tidak pertama. Biasanya setelah lulus sekolah, mereka langsung tersebar dan terpencar ke wilayah yang berbeda, bisa luar kota atau luar negeri. Tetapi, ada juga yang masih dalam satu wilayah dan sering bertemu. Seperti yang saya alami. Ketika SD (beruntung saya lulus sebelum sekolah ini dibubarkan karena kekurangan murid), dalam satu kelas hanya ada 21 orang siswa dan kebanyakan berasal dari satu kampung dan bertetangga kampung. Jadi meskipun sudah lulus, kami masih sering bertemu dan bermain, meskipun ada yang memutuskan untuk pindah ke kota lain. Suatu saat, timbul keinginan untuk mengadakan reuni kecil-kecilan. Karena sebagian besar sudah tahu alamatnya, maka pekerjaan berat menunggu yaitu mencari alamat teman yang sudah berpindah ke daerah lain. Saya kira, kasus seperti ini banyak ditemui.

Tetapi, pasca perkembangan teknologi informasi, mencari seseorang akan lebih mudah. Melalui Facebook misalnya, situs jejaring sosial yang banyak dimiliki dan dijadikan media untuk mencari konco lawas. Saya sendiri banyak menemukan teman-teman SMP dan SMA yang sudah lama tidak bertemu melalui Facebook. Bulan Juli 2010, kami saling berdialog di situs jejaring sosial tersebut. Sangat ramai sekali. Saya sempat mendokumentasikannya dalam sebuah tulisan berjudul Wow!!!! Reuni Kelasku di Facebook. Ketika itu saya menemukan buku kenangan ketika SMA. Saat itulah saya berinisiatif untuk mengunggah gambar kartun yang digambar oleh Melani dan dipajang di buku kenangan. Di gambar tersebut, saya menandai teman-teman SMA saya di Facebook, dan disanakah kami reuni di dunia maya. Pertemuan diudara itu dilanjutkan dengan pertemuan darat dengan suasana yang santai di angkringan.

Gambar kartun, reuni di Facebook

Sangat menyenangkan dan berkesan. Jauh dari kesan formal karena kami duduk lesehan sambil menikmati angin malam Kota Solo. Kami saling bercerita ketika masa-masa menyenangkan di SMA. Masa saat kami ngerjai guru, masa ketika saling ejek di kelas namun tidak ada yang marah karena ejekan itu sebagai bumbu persahabatan. Ejekan tersebut sebetulnya bukan untuk merendahkan, tetapi merupakan bentuk kedekatan sebagai seorang kawan. Ejek-ejekan itu pun masih terus dilakukan ketika kami saling bertemu pada saat itu. Kami lebih menekankan pada suasana kangen-kangenan yang melingkupi. Kami sangat bersyukur ketika mendengar seorang teman yang sudah berhasil dan bekerja mapan.

Ada yang bilang reuni itu memiliki beragam tujuann. Reuni dimaknai sebagai ajang menyambung silaturahmi dan persahabatan, mengenang dan memutar masa lalu yang telah terlewati dan ada pula yang berkata reuni dipakai sebagai ajang pamer seperti pernah yang diungkapan oleh kakak angkatan saya di atas. Untuk yang pertama dan kedua pasti banyak orang yang akan setuju, tetapi belum tentu setuju pada bagian ketika. Ada yang menyetujui, menolak atau pada posisi di tengah-tengah. Memang pamer apa? Bisa pamer istri, pamer anak, pamer mobil dan lainnya. Namun, apapun tujuan reuni, bertemu dengan teman-teman lama itu alhamdulilah ya….sesuatu banget!!!! #SyahriniModeOn

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

One Response to “Pernak-Pernik Reuni: Mengapa Harus Hamburkan Uang?”

  1. informasi yang sangat berharga dan bermanfaat. thank’s

Leave a Reply