Orang Miskin Belanda, Lebih Baik Mati Daripada Hidup
Awalnya saya mengira sebuah gundukan tanah, ternyata rumah
Menyusuri Belanda Tempoe Doeloe
Hari Sabtu lalu, saya pergi ke Arnhem. Saya berangkat jam 09.00 pagi dari Groningen Centraal Station. Kereta Nederland Spoorwagen yang saya tumpangi seharusnya sampai di Arnhem pada pukul 11.19, namun ketika transit di Zwolle, kereta sempat ditunda 30 menit karena ada perbaikan jalur kereta. Hari Sabtu dan Minggu memang dikenal dengan hari yang cukup membuat kerepotan jika pergi naik kereta. Saya beberapa kali mengalaminya. Hal ini karena biasanya ada perbaikan jalur sehingga membuat perjalanan tidak sesuai dengan jadwal.
Keperluan saya ke Arnhem adalah berkumpul dan bertemu dengan sesama mahasiswa penerima beasiswa yang saat ini berkuliah di Wageningen, Den Haag, Utrecht, Enschede dan Amsterdam. Kegiatan yang diorganisir oleh Nuffic itu bertujuan diadakan untuk tujuan keakraban dan refreshing. Bagi saya, kesempatan ini sangat penting untuk menyegarkan pikiran setelah seminggu berkutat dengan kuliah. Di Arnhem, saya dan teman-teman akan bertemu di Openluchtmuseum. Setelah membuka website Openluchtmuseum (open air museum), sekilas saya mendapatkan informasi bahwa di sana saya bisa menjelajah kehidupan Belanda 200 tahun yang lalu. Berarti, masa ketika VOC berkuasa di Indonesia.
Lima orang wanita bernyanyi menghibur pengunjung Openluchtmuseum
Saya tiba di Arnhem jam 11. 49. Saya harus segera berlari menuju bis yang menuju ke Openluchtmuseum karena bus berangkat pada pukul 11. 56. Masih ada beberapa menit lagi. Di dalam bus, saya sudah bertemu dengan beberapa teman yang saya kenal. Sambil menunggu bus, kami bercakap-cakap tentang kuliah kami masing-masing hingga 30 menit kemudian kami sampai di Openluchtmuseum di jalan Schelmseweg 89, Arnhem. Begitu check-out OV-Chipkaart, kami berjalan menuju ke museum.
Di sana beberapa teman sudah datang. Kami akan berfoto bersama jam 12.45 dan kemudian kami akan masuk ke dalam museum. Begitu masuk museum, kami sudah diberi satu kotak yang berisi makan siang berupa beberapa potong roti, buah apel, permen dan minuman. Sambil menunggu waktu berkeliling, kami membuat lingkaran dan makan siang di sana. Saat kami akan diajak untuk berkeliling, ternyata ada hiburan. Ada 5 orang wanita yang bernyanyi. Sontak semua pengunjung datang mengerumuni sambil berjoget dan mengambil gambar.
Berbagai Macam Bangunan Belanda
Setelah menyambut dan perkenalan singkat, pemandu dari Openluchtmuseum mengajak saya dan rombongan berjalan berkeliling. Di Openluchtmuseum, kami akan melihat beragam jenis rumah dan bangunan dari hampir semua wilayah di Belanda pada zaman dahulu, mulai dari rumah orang miskin, menengah hingga kaya. Kami juga diberitahu bahwa pada tahun 2012 nanti, Openluchtmuseum akan merayakan ulang tahun yang ke-100. Berarti, Openluchtmuseum sudah berdiri sejak tahun 1912.

Peta Openluchtmuseum, Arnhem
Bagian pertama yang ditunjukkan oleh pemandu dari Openluchtmuseum adalah sebuah rumah dari masyarakat Enschede. Jauh sangat berbeda dengan tipe dan model rumah masa kini, rumah yang kami kunjungi tersebut terbuat dari kayu. Di dalam rumah tersebut, terdapat sebuah meja dan kursi sebagai tempat makan serta beberapa perkakas. Di dalam rumah itu juga dipakai sebagai tempat ternak. Di sisi samping, ada sebuah bilik kecil yang dipakai untuk tempat tidur. Menurut penjelasan pemandu, di sana orang tidak tidur berbaring, namun sambil duduk bersandar. Saya lantas membayangkan, bagaimana jika musim dingin? Pemandu itu memjawab pasti sangat dingin sekali ketika winter. Bahkan, ada yang sampai mati kedinginan.
Rumah dari Enschede
Selanjutnya, kami menuju ke bangunan yang lain. Setelah sekilas melihat rumah tempat membuat roti, kami menuju ke sebuah windmill. Meskipun sudah tidak lagi beroperasi, kami diperbolehkan untuk masuk ke dalam untuk melihat cara kerja dan beberapa contoh hasil produksi. Saya dan kawan-kawan harus mengantri dengan pengunjung lain yang ingin melihat dari dekat pada tiap-tiap lantai di windmill itu. Selain windmill, di Openluchtmuseum, pengunjung juga bisa melihat watermill dan horsemill yang menarik untuk dikunjungi.
Pemandu itu mengajak saya beserta rombongan berhenti pada sebuah gundukan tanah. Dari kejauhan saya sudah melihat sebuah gundukan tanah yang diselimuti dengan rerumputan. Awalnya saya mengira sebuah gundukan tanah biasa, ternyata gundukan itu adalah sebuah rumah. Pemandu itu berkata bahwa rumah ini dihuni oleh para pekerja miskin. Rumahnya sangat kecil dan sempit. Saat saya masuk kedalamnya, saya tidak bisa membayangkan kehidupan pada masa itu.
“Oooo, ada orang miskin di Belanda?” gumam saya ketika masuk ke dalam dan melihat sebuah bilik tempat tidur.
Oleh sebab itu, menurut informasi pemandu wisata yang menemani kami, penduduk waktu itu memiliki semacam slogan bahwa pilihan yang terbaik itu mati, dan yang terburuk adalah hidup. Jadi, lebih baik mati daripada hidup sengsara dan menderita.
Kami juga sempat melihat proses pembuatan dan pengolahan kertas dari bahan baku kain. Kebetulan sekali ada demo yang ditunjukkan sehingga banyak pengunjung ramai melihatnya. Selain itu, kami juga sempat masuk ke beberapa bangunan dan rumah yang dahulu dimiliki oleh orang menengah ke atas, tempat pembuatan kain dan tenun serta peternakan. Tentu bangunan dan isinya berbeda dengan dua bangunan rumah seperti yang diceritakan di atas.
Naik Tram di Openluchtmuseum, Arnhem
Sebetulnya masih ada banyak tempat-tempat yang menarik dikunjungi. Namun sayang, tidak semua bangunan bisa dilihat satu per satu karena keterbatasan waktu. Di Openluchtmuseum, karena wilayahnya cukup luas, di sana juga bisa menikmati fasilitas tram bersejarah yang berkeliling sepanjang 2.3 km. Dengan tram tersebut, pengunjung bisa berkeliling dari stasiun ke stasiun mini kota-kota di Belanda.









hallo mas Win, apa kabar?
Saya berpikir akan ada cerita yang kaitannya dengan jaman penjajahan di Indonesia, hehe.
find to one’s mind your things ready it Orang Miskin Belanda, Lebih Baik Mati Daripada Hidup | Winarto’s Hermitage
salam action semuanya….
thanks info yang sangat dahsyat.salam action