Mengunjungi Sekolah Belanda, Apa Ada Yang Beda?

Salah satu kelas de starter1

Pelajaran Untuk Sekolah di Indonesia

Hari Senin pagi, saya keluar dari housing pukul 08.30 CET. Jam 09.00 CET, saya memiliki janji dengan beberapa orang teman untuk mengunjungi salah satu sekolah di Groningen, de Starter, yang berlokasi di Parkweg 128, Groningen. Cuaca pagi itu sangat tidak bersahabat. Langit mendung, gerimis mengucur dan angin berhembus cukup kencang. Tapi, saya tidak mengurungkan niat karena ini adalah pengalaman pertama saya mengunjungi salah satu sekolah di Belanda.Saya berangkat bersama Fabian, seorang mahasiswa dari Tanzania, yang sempat mengeluh karena faktor cuaca di Eropa.

Di tengah air yang mengguyur dari langit, saya mengayuh sepeda ke lokasi sekolah. Saya melindungi tubuh saya dengan jaket yang cukup tebal supaya tidak kedinginan. Saya juga memakai sarung tangan. Kira-kira 10 menit kemudian, saya sudah sampai di de Starter. Sekolah ini mengadopsi prinsip-pinsip Dalton Onderwijs yang dikembangkan oleh seorang educationalist Amerika. Prinsip-prinsipnya meliputi belajar mengenai kebebasan memilih, mengembangkan belajar mandiri dan belajar bekerja dalam kelompok.

Sesampai di sana, saya bertemu dengan Bernyco, Margriet dan Collins yang datang beberapa menit kemudian. Berlima kami masuk ke dalam sekolah. Udara dingin yang saya sangat rasakan di luar ruangan berubah menjadi hangat saat memasuki pintu kaca di de Starter. Margriet yang juga kerja partime sebagai pengajar di sana telah meminta izin supaya kami boleh berjalan berkeliling di beberapa ruang kelas.

Memasuki sebuah ruang kelas, saya disuguhi pemandangan anak-anak kecil yang sedang duduk di kursi dan membuat sebuah lingkaran. Di sana ada seorang guru. Sangat disayangkan sekali, karena penguasaan bahasa Belanda yang masih rendah, saya tidak bisa mengikuti alur diskusi yang ada di kelas tersebut. Tetapi menurut Margriet, siswa-siswa saat ini sedang berbagi pengalaman selama liburan akhir pekan. Ketika guru tersebut bertanya siapa yang ingin bercerita, sontak banyak anak yang mengacungkan tangan. Setelah ditunjuk oleh guru salah seorang dari mereka bercerita.

Rupanya, saya sedikit mendapat jawaban atas pertanyaan dan keheranan saya ketika pertama kali masuk dalam kelas yang hampir 80 persen adalah mahasiswa Belanda. Saat pengajar mengajukan pertanyaan, banyak dari mereka yang mengangkat tangan. Terus terang saya sangat terkejut. Dari Sekolah Dasar hingga kuliah, saya jarang, bahkan mungkin tidak pernah dalam sebuah kelas yang mahasiswanya aktif mengangkat tangan dan merespon jawaban pengajar. Namun, kali ini saya mendapatinya. Saya menduga kejadian tersebut tidak terjadi begitu saja. Ada proses panjang yang dilakukan mahasiswa Belanda sehingga begitu ceplas-ceplos dalam mengutarakan pendapat.

Barangkali sejak dari kecil inilah mereka dibiasakan untuk berbicara dan berani mengungkapkan pendapat. Melalui pengalaman di de Starter, kebiasaan untuk berani mengungkapkan pendapat sudah mulai ditanamkan sejak kecil. Pertanyaan yang diajukan oleh guru juga berupa pertanyaan yang ringan berdasarkan pengalaman mereka masing-masing. Jadi, tidak ada jawaban yang salah atau benar. Dengan metode demikian, siswa sudah sejak dari kecil terbiasa untuk mengutarakan pendapat.

Bagaimana dengan posisi guru? Murid-murid aktif dalam aktivitas kelas dan guru menjadi teman belajar atau fasilitator. Saat saya ada di dalam kelas tersebut, sebagai contoh, saya mengamati bagaimana guru menjadi teman belajar para siswa. Saat belajar perkalian, guru tersebut menggunakan ilustrasi berupa jumlah petak kaca yang ada di dalam kelas tersebut. Metode tersebut dipakai untuk menanamkan pemahaman prinsip-prinsip utama dalam perkalian.

Bebas, Mandiri dan Belajar Bersama

Sempat saya dan teman-teman ngobrol dengan guru tersebut. Dia menjelaskan aktivitas hari ini. Selain berbagi cerita akhir pekan dan perkalian, siswa-siswa harus belajar dan bekerja mandiri berdasarkan project yang mereka pilih. Ada yang memilih menulis, menggambar di buku atau belajar melalui internet. Masing-masing siswa diberi kebebasan untuk memilih materi yang mereka minati. Ketika mereka merasa mendapati jalan buntu, mereka bisa datang ke guru dan meminta penjelasan.

Jadwal

Salah satu buku rencana aksi siswa de Starter.

Masing-masing siswa harus bertanggung jawab atas pilihan subjek dan project yang dipilihnya. Oleh sebab itu, mereka memiliki buku yang berisi action plan tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan, kapan dilakukan dan kapan harus diselesaikan. Dengan pedoman itulah, murid di sana menyelesaikan setiap tahap pembelajaran yang harus dikerjakan dan diselesaikan.

Seorang anak sedang menggambar frendzzz!!!

Seorang anak sedang menggambar frendzzz!!!

Karya-karya yang dihasilkan pun sangat beragam dan kreatif. Ada yang berupa lukisan, boneka dari kertas, lukisan komputer dan sebagainya. Karya-karya tersebut dipajang di dalam kelas dan beberapa sudut sekolah sebagai wujud apreasiasi. Saat saya mengambil beberapa foto, saya memperhatikan seorang anak yang sedang menggambar dengan sebuah komputer di dalam kelas. Anak tersebut sedang memaknai makna friendship melalui sebuah gambar bertuliskan frendzzz! Saya sangat percaya makna gambar yang sedang dikerjakan oleh siswa tersebut akan memiliki arti yang mendalam.

Siswa-siswa di sana juga diajarkan untuk belajar dan belajar mandiri, dalam artian tidak tergantung pada peran seorang guru di kelas. Guru hanyalah fasilitator kelas yang memberikan panduan dan instruksi. Siswa didorong untuk memanfaatkan semua bahan pelajaran yang tersedia di dalam kelas, misalnya buku, komputer dan alat tulis, namun juga dibebaskan untuk belajar di luar kelas. Dengan begitu, siswa-siswa dapat secara bebas berkreasi dalam menyelesaikan project mereka. Walaupun bekerja mandiri, siswa-siswa juga dimotivasi untuk bekerja dalam kelompok. Ketika menghadapi masalah, maka mereka bertanya ke teman-temannya. Ketika tidak ada yang bisa membantu, maka mereka datang ke guru mereka untuk meminta penjelasan.

Saya dan teman-teman juga diajak untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Ketika pintu dibuka, saya melihat beberapa rak berisi bermacam-macam dagangan seperti layaknya sebuah mini market. Saya kira sebuah toko yang dikelola sekolah, tetapi ternyata, ruangan tersebut hanyalah tempat simulasi untuk berdagang. Ada yang akan berperan sebagai penjual dan pembeli. Mereka bisa bemain role play. Di sebelah “toko jadi-jadian” tersebut, ada sebuah ruangan yang disebut sebagai laboratorium. Isinya beragam perkakas yang dipakai untuk bereksperimen.

Karena waktu yang terbatas, saya dan teman-teman diajak ke bangunan sekolah yang terpisah dengan bangunan pertama. Setelah mengambil sepeda, kami bergerak ke lokasi bangunan tersebut. Dari kejauhan saya melihat kotak-kotak mirip sebuah kontainer yang dijajarkan. Tetapi begitu mendekat, saya melihat banyak anak-anak kecil yang sedang belajar (mungkin tepatnya bermain-main sambil belajar) di dalam dan di luar kelas. Rupanya, kotak-kotak yang dijajarkan tersebut memang sebuah kontainer yang didesain sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan sebagai ruang kelas.

Saya dan teman-teman puas berkeliling selama 1,5 jam di salah satu sekolah di Groningen tersebut…sesuatu banget deh hari Senin kemarin. Saya merasa belajar di sana sangat menyenangkan. Apakah ada yang berbeda dengan sekolah di Indonesia?

Groningen, 11 Oktober 2011