Lawan Procrastination dan Perfectionism

Pada bagian akhir kuliah, Dr. Ahmed menampilkan slide presentasi yang berbunyi “fight against procrastination and perfectionism” yang diikuti dengan penjelasan dalam konteks belajar dan kuliah. Bagian ini saya kira yang paling menarik di antara teori-teori yang dijelaskan sebelumnya karena menjadi bahan refleksi saya, tidak hanya dalam lingkungan kuliah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

http://www.insightoutlifecoaching.com/io_wordpress/wp-content/uploads/2010/09/Procrastination.jpg

Procrastination; sumber gambar www.insightoutlifecoaching.com

Dosen yang memiliki minat penelitian di bidang motivasi dan emosi tersebut, memberikan ilustrasi berupa gambar yang menunjukkan bagaimana seseorang yang terus menunda-nunda pekerjaan hingga kertas-kertas menggunung dan berserakan. Akibatnya, tampak di dalam gambar, wajah orang tersebut terlihat sangat frustasi karena berhadapan dengan banyak pekerjaan yang terus ditunda.

Seringkali ketika harus menyelesaikan sebuah pekerjaan, banyak orang yang memutuskan untuk menunda menyelesaikannya dengan beralasan bahwa masih ada hari esok. Beberapa hari kemudian, ada pekerjaan lagi yang harus diselesaikan. Karena batas waktu menyelesaikan masih panjang, lagi-lagi menunda pekerjaan yang seharusnya bisa segera dirampungkan. Akibatnya, semakin banyak pekerjaan yang harus diselesaikan namun karena sudah terlanjur banyak, maka datanglah stress dan bingung memilih pekerjaan mana yang harus diselesaikan. Dampak selanjutnya kemudian muncul. Ketika deadline semakin mendekat, yang terjadi adalah kepanikan.

Sembari mendengarkan penjelasan, saya merenung. Apakah saya sering menunda-nunda pekerjaan? Dalam konteks belajar, paling tidak, saya pernah merasakan bagaimana rasanya ketika menunda-nunda pekerjaan dan akhirnya menumpuk. Saya juga sering melihat teman-teman saya yang melakukan hal yang serupa. Sebetulnya jika dicermati, menunda-nunda pekerjaan adalah sesuatu hal yang bodoh. Sistem Kebut Semalam (SKS) menjadi senjata andalan ketika test atau deadline tugas hampir datang. Seluruh tenaga dikerahkan untuk menyelesaikan tugas yang sebetulnya bisa diatasi dengan mengerjakan tugas tersebut lebih awal.

Ketika mengerjakan pekerjaan tersebut jauh-jauh hari, maka kemungkinan besar untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebagai gambaran, misalnya ada sebuah tugas menyusun paper 4 lembar. Ketika dikerjakan jauh-jauh hari, maka akan ada kesempatan untuk banyak membaca jurnal atau buku. Selain itu, ada waktu untuk membuat outline dan memulai menulisnya. Bila dikerjakan lebih awal, maka masih ada kesempatan untuk mengeditnya sebelum disubmit.

Sama halnya ketika menghadapi test. Ketika mempersiapkan materi jauh-jauh hari, maka akan ada banyak materi yang dipahami daripada mereka yang mempersiapkan test dengan sistem kebut semalam. Selain materi yang dipahami relatif lebih sedikit, dengan sistem kebut semalam juga akan menyebabkan badan tidak beristirahat dengan cukup. Dampaknya bisa berakibat buruk pada saat test berlangsung.

Bagian lain adalah berkaitan dengan perfectionism (the wish for everything to be correct). Perfectionist mungkin tidak suka menunda-nunda pekerjaan karena dia menginginkan semua yang dikerjakannya benar dan berhasil. Jadi, ketika diberi tugas, maka dia akan segera mengerjakannya dengan teliti untuk meminimalkan kesalahan yang dibuat. Sebagai contoh, perfectionist akan betul-betul mengecek kata demi kata, kalimat demi kalimat tulisan yang dibuat sehingga jangan sampai ada kesalahan ketik, salah grammar dan sebagainya.

Karena memiliki harapan dan goal yang tinggi, perfectionist akan selalu berhati-hati ketika mengerjakan sesuatu. Sebuah gambar yang ditunjukkan Dr. Ahmed menampilkan seseorang yang hendak bunuh diri dengan menggunakan sebuah pistol. Karena tidak bisa memenuhi harapan dan mencapai tujuan, dia hendak bunuh diri. Mungkin terlihat ekstrem, namun ada kemungkinan seseorang yang perfectionist akan merasa kecewa dan depresi ketika hasil pekerjaannya tidak memuaskan dan tidak sesuai dengan harapannya.

Oleh sebab itu, ada baiknya jika mengerjakan sesuatu agar berpedoman dan berprinsip pada “lakukan yang terbaik” sebab tidak mungkin seseorang terhindar dari kesalahan. Contohnya, bahkan seorang yang native speaker pun akan tetap membuat kesalahan tata bahasa ketika menulis sebuah paper. Dengan usaha yang terbaik, maka hasil yang terbaiklah yang akan diperoleh.

Sebagai penutup, menunda-nunda pekerjaan itu sangat merugikan dan cenderung berbahaya. Maka itu, akan lebih baik jika segera menyelesaikan pekerjaan dan jangan sampai menunda-nunda. Dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab tersebut, kerjakan dengan sungguh-sungguh dan lakukan yang terbaik, niscaya akan mendapatkan hasil yang terbaik pula.

Groningen, 19 Oktober 2011

Masih belajar untuk menghadapi test minggu depan