Kasihan, Anak Tropis Kedinginan di Eropa
Autumn in Groningen
Kejutan Cuaca
Musim panas (summer) sudah lewat. Walaupun tidak begitu panas, tapi ketika sinar mentari menyinari dan menghangatkan bumi, maka pada saat itu, gembira muncul tak tertahankan. Saat sinar matahari langka, saya begitu merindukan panas matahari yang begitu melimpah di Indonesia. Kejutan dan kekagetan cuaca sering saya alami. Hal yang sama juga diutarakan oleh teman-teman saya yang berasal dari iklim tropis. Namun, ketika keluhan cuaca tersebut disampaikan kepada beberapa orang mahasiswa Belanda, mereka dengan ringan menjawab, mengapa memilih sekolah di Belanda? Saya jadi bingung juga ditanya dengan pertanyaan itu.
Di Groningen, daun-daun sudah mulai menguning dan berguguran. Jalanan banyak tertutupi oleh dedaunan yang berguguran. Selama seminggu terakhir, langit Groningen diselimuti dengan awan hitam dan disertai dengan angin yang cukup bisa mendorong saya bergerak ke samping ketika mengayuh sepeda. Ketika mengayuh sepeda dalam keadaan angin, saya perlu berhati-hati agar tidak sampai terdorong ke samping. Saya juga butuh tenaga ekstra untuk mengayuh pedal agar bisa bergerak.
Senin pagi jam 07.00, di luar masih gelap, hujan dan berangin. Saya keluar kamar untuk mencuci piring di dapur dan bertemu dengan seorang kawan dari Spanyol. Dia bertanya mengapa saya bangun pagi sekali. Saya menjawab bahwa saya memiliki janji bertemu dengan beberapa teman di pagi hari sehingga harus mempersiapkan diri. Dia pun juga harus ke kampus di pagi hari. Walaupun sepertinya enak di kamar karena di luar sangat dingin, tapi kami harus tetap beraktivitas. Setelah selesai mandi dan sarapan, saya menghampiri kamar seorang kawan dari Tanzania. Kami akan berangkat bersama. Karena dia sedang memakai sepatu, saya menunggunya di tempat parkir sepeda sebab saya harus memompa ban sepeda yang sedikit kempis.
Saat dia muncul di parkir, dia langsung berkata mengapa tidak diliburkan saja ketika cuaca hujan, mendung dan berangin seperti ini. Sangat berbeda dengan yang terjadi di negaranya. Dia sempat frustasi dengan cuaca di Groningen yang hampir tiap hari mendung, hujan dan berangin. Saya lebih beruntung, sebab saya memiliki waktu yang lebih panjang untuk beradaptasi. Pada mulanya saya juga merasakan kekagetan pada suhu udara di Belanda. Bibir kering dan pecah-pecah menjadi keluhan di hari-hari pertama datang. Seorang teman malahan kakinya mengalami kram karena tidak tahan dengan udara dingin.
Mau bagaimana lagi? Memang beginilah cuaca dan musim di Belanda. Pertanyaan teman-teman Belanda yang dilontarkan mengapa saya dan teman-teman dari negara tropis datang ke negara sub-tropis seperti Belanda ini ada benarnya juga kalau datang hanya kemudian mengeluh dengan keadaan cuaca. Yang diperlukan adalah bagaimana beradaptasi dengan keadaan yang ada. Dengan demikian, selama di Belanda dapat belajar dengan nyaman.
Strategi Bertahan
Merenungkan pertanyaan tersebut, saya lantas perlu menyusun strategi bertahan agar saya tidak mengalami masalah dengan cuaca yang tiba-tiba bisa berubah. Pernah suatu kali saya sedang bersepeda menuju ke kampus. Keluar dari housing, langit sangat terang. Namun ketika sampai di tengah jalan, hujan turun. Dalam keadaan tersebut, sangat beruntung saya selalu siap dengan jas hujan agar terlindung dari air.
Berada pada daerah dengan cuaca yang berubah-ubah memang tidak menyenangkan. Bagian inilah yang barangkali menjadi salah satu kecemasan saya sebelum datang ke Belanda, bahkan setelah berada di negara ini. Tapi, saya tidak ingin tenggelam dalam keluhan-keluhan yang membuat hari-hari belajar dan bersosialisasi tidak menyenangkan. Saya ingin menjadikan cuaca yang sering berubah dan berangin menjadi sesuatu yang menyenangkan dan nyaman.
Bagaimana melakukannya? Pertama, saya memotivasi diri sendiri bahwa pilihan pegi ke Belanda adalah untuk belajar. Banyak orang yang menginginkan sekolah ke luar negeri, dan di saat saya sudah mendapati kesempatan itu, masak saya hari mengeluh hanya karena hambatan cuaca? Ketika mengayuh sepeda di tengah angin misalnya, dalam hati saya memompa semangat saya bahwa situasi tersebut hanyalah bagian dari proses belajar. Saya harus belajar bagaimana hidup dan bertahan hidup.
Hal kedua yang saya lakukan adalah menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk melindungi dari dari hujan dan angin. Saat mengetahui bahwa akhir-akhir ini cuaca sangat tidak bersahabat, di tas saya kini selalu tersedia jas hujan, sarung tangan dan tentu saya peralatan sepeda kalau-kalau sepeda rusak di jalan.. Saya juga memakai beberapa lapis pakaian untuk melindungi tubuh dan membuat badan saya tetap hangat. Saya pernah berada pada kondisi yang tidak menyenangkan. Karena dari dalam kamar matahari bersinar terik, namun ketika saya keluar untuk berbelanja makanan, saya tidak memakai jaket yang cukup tebal. Aibatnya, saya merasakan kedinginin ketika mengayuh sepeda. Sejak saat itu, saya selalu memakai jaket, bersepatu dan apabila diperlukan memakai sarung tangan.
Tidak kalah penting adalah menentukan jadwal dan waktu yang seminimal mungkin menghindari aktivitas di luar. Selain kewajiban kuliah, saya juga perlu memikirkan kapan waktu untuk berbelanja bahan-bahan makanan. Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, saya lebih memilih untuk menimbun bahan-bahan makanan sehingga tidak perlu sering-sering berbelanja. Saya memanfaatkan cuaca yang sedikit bersahabat untuk pergi berbelanja. Kalau tidak terpaksa sekali, saya lebih memilih berada di dalam ruangan, di perpustakaan atau di dalam kamar saja karena lebih hangat.
Tidak jarang, saya menaruh pakaian saya di atas pemanas ruangan yang selalu bekerja pada seminggu terakhir ini. Ketika suhu udara dingin, saya mengenakan pakaian yang saya taruh di atas pemanas ruangan tersebut dengan maksud agar mampu memberikan kehangatan. Hasilnya cukup lumayan karena saya mendapatkan kehangatan.
Saat saya menceritakan cara saya menghangatkan diri tersebut ke beberapa teman kuliah, dengan spontan dia berkata bahwa cara tersebut memang oke, tapi akan lebih mantap jika mencari “teman kamar” untuk bisa saling menghangatkan. Mendengar perkataan itu, kami yang ada di kelompok kecil tersebut langsung tertawa.
Groningen, 11 Oktober 2011, mendekati jam 02.00 CEST









[...] Kasihan, Anak Tropis Kedinginan di Eropa [...]
[...] Kasihan, Anak Tropis Kedinginan di Eropa [...]
informasi yang sangat berharga dan bermanfaat. thank’s
Luar Biasa! Tips sederhana