You are here: Home > (Not) Daily Stories > Disiplin Menguras Energi dan Hati

Disiplin Menguras Energi dan Hati

perilaku disiplin di jalan raya; foto dokumentasi pribadi

Perilaku disiplin di jalan raya; foto dokumentasi pribadi

Hampir tiap hari, saya melewati jalan yang tampak pada gambar di atas. Jalannya tidak begitu lebar karena hanya butuh sekitar 5 langkah kaki untuk menyeberanginya. Di jalan tersebut terdapat lampu lalu lintas yang berfungsi dengan baik. Setiap kali melintas jalan tersebut, saya memerhatikan orang-orang yang lewat. Walaupun jalannya kecil, namun orang-orang tersebut dengan setia menunggu apabila lampu lalu lintas berwarna merah.

Sambil menunggu lampu berubah hijau, saya tersenyum geli sambil membayangkan apa yang pernah saya lihat dan lakukan di Indonesia. Pernah suatu saat saya dan teman-teman ingin makan siang di rumah makan padang yang terletak di seberang UI Salemba. Lalu lintas yang padat pada siang itu tidak menghalangi saya dan teman-teman serta beberapa orang untuk menyeberang di jalan tanpa zebra cross itu. Walaupun ada jembatan penyeberangan halte bus TransJakarta UI Salemba, tapi sepertinya terlalu lama dan terlalu banyak langkah kaki yang dibutuhkan untuk sampai di seberang. Berdebar-debar rasanya seraya melambai-lambaikan tangan meminta mobil dan kendaraan menurunkan kecepatannya.

Bagaimana ketika naik sepeda motor? Ketika menunggu lampu merah, terutama jika tidak ada polisi yang berjaga, terus terang saya jadi mengikuti kendaraan yang ada di depan saya walaupun lampu belum berubah jadi hijau. Dorongan untuk segera tancap gas tidak bisa ditolak. Apalagi jika malam hari dan melaju di jalan yang relatif sepi, lampu lalu lintas dianggap sebagai sebuah lampu taman alias hiasan karena sama sekali tidak dihiraukan.

Ketika membaca tulisan Pak Johan Wahyudi yang berjudul Mengapa Guru Sekolah Swasta Lebih Disiplin Daripada Sekolah Negeri?, sebagai bagian dari anak produksi sekolah di Indonesia, saya seringkali dibuat pusing ketika ada guru yang datang terlambat atau tidak hadir di kelas karena teman-teman kelas saya sangat ribut. Sebagai ketua kelas, saya berusaha menenangkan teman-teman apabila hal itu terjadi atau dengan cara pergi ke kantor guru untuk meminta tugas.

Lingkungan menjadi faktor yang berpengaruh. Karena sudah dibiarkan terjadi dan menjadi sesuatu hal yang umum, maka menyeberang di jalan raya menjadi suatu hal yang biasa, walaupun tindakan tersebut berbahaya. Demikian pula ketika mengendara sepeda motor yang menganggap lampu lalu lintas sebagai sebuah lampu taman atau hiasan saja. Kejadian di kelas seperti yang diceritakan oleh Pak Johan juga menjadi sebuah peristiwa yang sudah sering dan umum dilihat. Lantas, mau bagaimana lagi?

Bila faktor lingkungan berpengaruh pada ketidakdisiplinan, maka faktor tersebut pula juga berpengaruh pada kedisiplinan. Hal tersebut saya rasakan ketika berada pada lingkungan orang yang berdisiplin selama berada di Belanda. Seperti ketika menyeberang jalan atau ketika berhenti di lampu lalu lintas. Pada gambar di atas, terutama ketika sepi, saya awalnya heran mengapa pada saat sepi tersebut banyak orang yang masih setia menunggu, padahal beberapa langkah saja sudah sampai di seberang. Jika lampu merah itu di Indonesia, maka sudah bisa dipastikan bahwa hanya akan menjadi hiasan saja.

Karena faktor lingkunganlah saya belajar untuk berdisiplin. Virus disiplin itu seperti menular ketika orang-orang di sekitarnya bertindak disiplin, demikian sebaliknya. Selama 2,5 tahun saya berada di Bali. Namun, saya melihat banyak orang asing yang melanggar lalu lintas di sepanjang kota Denpasar dan Kuta, yang saya yakin mereka tidak melakukan pelanggaran tersebut di negara mereka. Mungkin ini karena “kandangnya” berbeda.

Ketika berada pada masa peralihan “kandang”, saya perlu melakukan beberapa penyesuaian. Ketika berbicara tentang disiplin waktu, saya harus memiliki rencana yang matang sehingga ketika saya janjian atau masuk kelas tidak akan datang terlambat. Ketika di jalan raya, saya mencoba untuk menahan diri menyeberang dan menunggu sampai lampu hijau menyala. Bila berjalan kaki dan hendak menyeberang, saya berusaha untuk menggunakan zebra cross. Pada mulanya saya berpikir aneh dan janggal sambil berkata dalam hati, “kalau di Indonesia sudah langsung ambil sembarang jalan untuk menyeberang!”

Selain kesadaran, barangkali yang juga penting adalah penegakan hukum. Contohnya, semua sepeda onthel wajib menyalakan lampu depan dan belakang, bila tidak dilakukan maka akan ditilang oleh polisi. Otomatis dengan pemberitahuan seperti itu, saya tidak lupa menyalakan lampu sepeda, bahkan memiliki cadangan sehingga kalau terjadi apa-apa bisa ada penggantinya. Bila tidak ditilang oleh polisi, maka yang ada adalah tilang kamera, terutama untuk mobil. Ketika ada sebuah mobil yang melanggar lampu merah, maka kamera akan mencatat nomor mobil tersebut dan beberapa hari kemudian, tagihan karena pelanggaran akan sampai di kotak pos rumah.

Pada masa peralihan itu sangat capek dan melelahkan energi dan hati. Harus menunggu hingga lampu merah berganti lampu hijau, mencari zebra cross untuk menyeberang, datang janjian tepat waktu; sesuatu yang mungkin jarang ditemui di Indonesia. Tapi saya mencoba dan berusaha bertahan dalam tempaan kedisiplinan ini. Lama kelamaan menjadi sesuatu yang biasa. Saya yakin akan ada manfaatnya dan berharap ketika pulang ke “kandang” yang bernama Indonesia, rasa kedisiplinan ini bisa menular, paling tidak untuk orang-orang yang ada di sekitar saya. Ataukah malahan akan kembali menikmati euforia ketidakdisiplinan? Semoga saja tidak.

Groningen, 24 Oktober 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

One Response to “Disiplin Menguras Energi dan Hati”

  1. Lila says:

    Di Bogor lebih parah kl u/ urusan disiplin mas. lampu merah seringkali diterosbos. Yangg bikin jengkel, kita sudah taati itu rambu2 (pas lampu merah berhenti), trus di belakang ada yg mau nerobos, eee malah kita yg di klakson dan kena omel mereka….capek deeeh…

Leave a Reply