Kuliah di Luar Negeri Mau Dapat Apa?

Academic Building, Groningen University
Emang Enak Dapat Beasiswa?
Seusai bertukar pikiran dengan salah seorang teman tentang budaya dan gaya belajar di Belanda, saya sempat mencari jawaban atas pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran saya. Kuliah di luar negeri mau dapat apa? Pertanyaan tersebut timbul karena sebagai seorang mahasiswa yang mendapat kepercayaan untuk bersekolah lanjut di luar negeri, saya memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Saya memiliki amanah besar yang harus saya jalankan selama menjalani beasiswa ini. Jangan sampai idealisme yang sudah saya tuliskan melalui aplikasi beasiswa dan diuji melalui tes wawancara hanya menjadi sebuah ” bumbu perayu” agar mendapatkan sponsor sekolah di luar negeri.
Menjalani beberapa bulan menempuh studi, saya merasa tantangan yang muncul semakin berat. Sebelum sampai di Groningen University, saya harus bertarung dengan program pre-master yang mensyaratkan hasil tertulis tes kemampuan berbahasa Inggris. Pilihannya hanya ada dua, berhasil atau gagal. Namun, berbekal kemauan dan semangat yang keras, akhirnya saya bisa melalui tahap demi tahap dengan optimal. Kini, saya harus melangkah ke tahap berikutnya.
Setiap tahap memiliki tantangan yang berbeda. Inilah nikmatnya hidup karena semakin tinggi pohon, angin yang bertiup akan semakin kencang. Saya kini dituntut untuk belajar demi menjalankan amanah yang saya emban. Bersama teman-teman penerima beasiswa yang lain, kami sempat berucap tatkala harus menghadapi tumpukan materi dan tugas dengan sebuah kalimat “emang enak dapat beasiswa?” untuk menggambarkan bahwa tanggung jawab dan konsekuensi mendapat beasiswa itu tidak ringan.
Lantas bagaimana saya harus menjalankan amanah ini? Saya kemudian teringat dengan salah satu tembang macapat, Pocung, yang berbunyi;
Ngelmu iku, kalakone kanthi laku.
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani
setya budya pangekese dur angkara
Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia, diambil dari link berikut ini:
Ilmu Pengetahuan hanya dapat diperoleh dengan belajar sungguh-sungguh,
Dengan ketekunan, keuletan dan pantang menyerah,
mampu mengatasi tantangan hidup
serta menahan nafsu angkara murka
Setiap kali menghadapi tumpukan buku, saya kemudian teringat dengan tembang itu. Saya harus membaca lembar demi lembar buku yang disyaratkan dalam sebuah matakuliah. Terkadang, mata dan keinginan hati sudah menolak ketika harus membaca artikel dan buku. Bagaimana tidak menolak, jika buku yang dipegang memiliki halaman lebih dari 1000 lembar? Pertanyaan “Emang enak dapat beasiswa?” tiba-tiba juga muncul.
Cari Apa di Luar Negeri?
Pagi ini, saya dikejutkan dengan sebuah status Facebook yang ditulis oleh Mbak Siska Aprilianti. Di status itu tertulis;
ada penelepon bertanya, “lebih menguntungkan beasiswa ***** atau beasiswa *** ya?” Alhamdulillah, polos banget ya pertanyaannya…. (*nggak pake jedug2in kepala saking takjubnya)
Memang ada banyak keuntungan dengan mendapat beasiswa sehingga banyak pencari dan pelamar beasiswa yang mendaftar ketika dibuka pengumuman. Motivasi yang dimiliki masing-masing pelamar juga berbeda-beda. Seperti status Facebook di atas, tampaknya si penelpon ingin membandingkan besarnya jumlah uang yang diterima ketika mendapatkan beasiswa A dengan beasiswa B. Saya tidak mau pusing dengan hal itu karena setahu saya, besaran living allowance sebuah beasiswa, sudah disesuaikan dengan biaya hidup di kota yang bersangkutan.
Saya juga sempat ditanya dengan beberapa orang penerima beasiswa mengenai besaran uang yang diterima. Jika dibandingkan, pasti ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil. Tapi, terlepas dari besar dan kecil uang itu, saya mencoba untuk selalu bersyukur bahwasanya mendapat kesempatan sekolah lagi ini saja adalah sebuah anugerah yang luar biasa.
Memang ada banyak tujuan yang ingin dicapai ketika berkuliah di luar negeri. Ada yang berkata untuk cari ilmu, cari uang, cari pasangan hidup, jalan-jalan dan sebagainya. Sempat seorang teman bertutur bahwa ke luar negeri untuk mendapatkan Master dan Mister. Sah-sah saja bukan? Untuk yang dibiayai orang tua, sekolah di luar negeri bisa jadi sebagai sebuah kebanggaan keluarga karena mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke luar negeri. Bagi penerima beasiswa seperti saya, sampai tidak bisa diucapkan rasa syukur Bapak dan Emak saya, keluarga dan tetangga ketika saya mendapat kesempatan emas berkuliah di luar negeri. Hal itu karena mengingat secara kemampuan ekonomi, Bapak saya yang pensiun sebagai seorang tukang sampah di bulan Januari tahun 2011 yang lalu karena faktor usia dan Emak saya yang kini masih berjualan pecel, tidak akan mungkin mampu menyekolahkan saya hingga ke Belanda.
Meskipun ada rasa penolakan ketika harus membaca tumpukan buku dan artikel, saya harus terus menantang arus keinginan itu. Perjalanan 16 jam dari Indonesia ke Belanda, berpisah dengan keluarga dan ketiadaan makanan-makanan enak Indonesia selama beberapa bulan tidak boleh sia-sia. Oleh sebab itu, saya harus sungguh-sungguh belajar. Walaupun berat, ibarat jabang bayi Tetuko yang digodok di Kawah Candradimuka dan akhirnya menjadi kesatria sakti Gathotkaca, saya harus mampu bertahan hingga pendidikan yang saya tempuh selesai. Selain itu, sebagaimana diucapkan oleh John Dewey bahwa “education is not preparation for life, education is life itself” maka saya juga mendapat banyak ilmu dan pelajaran berharga melalui perjalanan dan pengalaman selama berada di luar negeri.
Bagi saya, tanggung jawab dan amanah tersebut tidak berhenti ketika masa studi dan kontrak beasiswa ini habis. Walaupun masih jauh, tugas dan tanggung jawab yang lebih besar sudah menunggu di depan. Saat ini saya hanya berdoa bahwa apa yang saya kerjakan di Belanda ini tidak sia-sia dan ketika nanti selesai, saya bisa mengamalkan ilmu dan pengetahuan yang saya peroleh. Amen!
Groningen, 26 September 2011
Ketika mengerjakan tugas kuliah, namun terjun dalam perenungan setelah mendengar lagu Ebiet G. Ade, Tatkala Letih Menunggu









mantap win,,setuju banget,,setelah menjalani perkuliahana memang ga semudah dan seindah yang dibayangkan,,,teramat sangat kompetitif malah,,but like u said we’ve already committed to study so lets do our best,,ayo berjuang dapatkan ilmu kanuragan biar sakti mandarguna kayak gatot kaca . Tot ziens
Mantap..super sekali
He..he..jangan lupa play harder mas,
Party hardest
setuju Win, memang tidak gampang dapet beasiswa, tapi bukan hal yang mudah juga untuk mempertanggungjawabkannya. As you said tantangan terberat adalah apa yang bisa kita sumbangkan setelah selesai dari study ini?
Tetap semangat Kak, pasti bisa
Ilmu baru nieh, siipp mass, salam
makasih infonya… semoga barokah…salam
Ilmu baru nieh, siipp mass, salam
makasih bang atas pencerahan nya….bravo action…