Koopzondag, Sebulan Sekali di Belanda
Meneer de Vos menata buku-buku dagangan di Vismarkt, Groningen
Koopzondag Groningen
Di Belanda, hari Minggu biasanya toko-toko dan pusat perbelanjaan tidak buka. Namun, sebulan sekali di hari minggu tertentu, toko-toko di city centre akan buka yang dikenal dengan sebutan Koopzondag. Tiap-tiap kota di Belanda memiliki jadwal yang berbeda. Agenda koopzondag pada tiap-tiap minggu dapat diakses melalui website www.koopzondagen.net.
Di Kota Groningen, koopzondag dilakukan tiap bulan pada minggu pertama. Hari Minggu 4 September 2011 yang lalu merupakan pengalaman pertama saya mengamati koopzondag di kota itu. Sebetulnya, tidak ada perbedaan yang mencolok antara koopzondag dengan aktivitas hari-hari biasa, tetapi nuansa yang timbul ketika koopzondag-lah yang membuat hari Minggu terasa berbeda.
Pada mulanya saya tidak menyadari kalau hari minggu pertama di bulan September ini ada koopzondag. Minggu siang jam 12.00, saya selesai mengantar 3 orang teman dari Tanzania ke gedung Behavioral and Social Sciences di Grote Rozenstraat. Saya hendak pergi ke gereja di Paterswoldsweg, saya melintasi VisMarkt dan melihat banyak buku second hand yang dijual. Saya baru menyadari kalau sedang ada koopzondag. Centrum Kota Groningen sangat ramai dan toko-toko banyak yang buka.
Saya melihat jam. Saya masih memiliki 1,5 jam untuk sekedar berkeliling di city centre sebelum mengikuti ibadah Minggu. Saya lantas mencari parkir sepeda dan sesudah menemukannya, saya mengunci sepeda dengan rantai yang baru saya beli di ACTION. Titik-titik air gerimis sedikit membasahi pusat kota Groningen. Tapi hal itu tidak menyurutkan niat orang-orang untuk berjalan berkeliling.
Suasana Vismarkt pada saat koopzondag
Menyulap VisMarkt menjadi BookenMarkt
Saya berjalan melihat buku-buku yang dijual di Vismarkt. Lokasi yang semestinya sebagai pasar ikan, kini dipakai untuk pasar buku. Ada banyak penjual buku, tetapi ada satu orang bapak penjual buku yang menarik perhatian saya. Bapak itu tidak memiliki tenda seperti penjual lain hingga ada seseorang gadis yang melewati Vismarkt dan mengucapkan satu kalimat singkat, “Bagaimana mungkin orang berjualan buku di tengah hari yang hujan begini?”
Dia memiliki koleksi buku paling banyak di antara para penjual di Vismarkt siang hari itu. Buku-buku itu dia pajang pada kotak persegi empat yang tertata rapi menurut kategori tertentu. Ketika melihat deretan buku yang terpajang, tiba-tiba ada seseorang yang berkata di belakang saya.
Satu Kotak Berisi Buku Tentang Indonesia
“Are you from Indonesia? I have some books about Indonesia!” kata seorang laki-laki yang tidak lain ada penjual buku sambil menunjukkan kotak berisi buku-buku tentang Indonesia. Saya pun lantas melihat koleksi buku-buku miliknya. Cukup banyak buku yang ada di kotak persegi empat tersebut yang ditulis terutama dalam Bahasa Belanda, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Saya tertarik untuk membeli 2 buku buku; satu tentang Christian Progress in Muslim Java dan Mysticism & Everyday Life in Contemporary Java. Pada masing-masing buku itu tertulis 5 euro dan 15 euro. Saya lantas membawa buku tersebut ke penjual dengan maksud meminta diskon.
Sambil bercakap-cakap, saya akhirnya mendapat kedua buku tersebut dengan harga 15 euro. Saya segera membayarnya sambil terus berbincang-bincang tentang usahanya. Saat saya bertanya di mana letak tokonya, dia berkata kalau dia tidak memiliki bangunan toko. Dia biasa berpindah-pindah lokasi berdagang. Mendengar jawaban itu, saya bisa membayangkan betapa berat karena dia harus mengangkat dan menata buku-buku di dalam kotak-kotak itu sendirian.
Jual Beli Buku di VisMarkt Groningen
Saya juga meminta kartu nama bila suatu saat nanti saya ingin mencari buku. Setelah menyerahkan sebuah kartu nama, Meneer de Vos, nama penjual buku itu, juga meminta untuk menghubungi kalau saya hendak menjual buku-buku. Di tengah perbincangan kami, ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang datang. Ternyata mereka hendak menjual buku. Saya menyaksikan transaksi jual beli tersebut.
Seusai transaksi, Meneer de Vos kembali berbincang-bincang dengan saya. Saya melihat jam, ternyata sudah jam 13.30. Saya meminta pamit karena harus segera pergi ke gereja. Tapi sebelumnya, saya meminta Meneer de Vos untuk mengambil sebuah foto bersama dengan 2 buah buku yang saya beli dengan berlatar belakang kotak-kotak buku.
Mejeng dengan 2 buah buku
Bedankt voor alles!!!









Wah menarik nih ceritanya. Cuaca belum dingin, ada pasar murah, ada banyak cerita. Sayang, saya belum pernah ke “khroningen”