You are here: Home > Nev(d)erland > Ketika Merindukan Panas Matahari

Ketika Merindukan Panas Matahari

Karena ketiadaan, rasa syukur muncul

Salah satu sudut keramaian di Grote Markt Groningen

Salah satu sudut keramaian di Grote Markt Groningen

“Hari ini panas!” sorak saya ketika melihat prakiraan cuaca di Sabtu pagi.

Huh, rasanya saya seperti mendapat kenikmatan besar dengan mendapat kabar bahwa Kota Groningen pada hari Sabtu akan disinari dengan panas matahari. Maklum, beberapa hari ini, langit Groningen terus menghitam dan menangis. Sinar matahari begitu mahal di Groningen. Tidak hanya mendung dan hujan saja, angin Groningen semakin membuat kayuhan sepeda terasa berat.

Rasanya tidak hanya saya saja yang harus berbasah kuyup di atas sepeda. Setiap kali mengayuh sepeda, banyak orang-orang yang mengenakan mantel atau bersepeda sambil memegang payung. Oleh sebab itu, payung dan mantel hujan adalah perlengkapan wajib yang harus dibawa saat bepergian sebab hujan bisa turun secara tiba-tiba meskipun tampak tidak akan turun hujan.

Walaupun summer, banyak yang berkata bahwa musim panas tahun ini sangat tidak bersahabat. Saya secara langsung merasakannya. Saya kira di musim panas bisa menikmati sinar matahari sebagaimana di Indonesia. Namun kenyataannya, musim panas kali ini malahan berkawan akrab dengan jaket, payung dan mantel hujan.

Jadi, ketika hari panas seperti hari Sabtu kali ini, saya pasti akan menikmatinya dengan cara bersepeda barang 2 atau 3 jam. Saya sudah bisa menduga bahwa penduduk Groningen akan keluar dari rumah mereka untuk merasakan cahaya matahari. Caranya bermacam-macam. Ada yang berbaring di taman, duduk di cafe hingga bersepeda. Lokasi-lokasi di Grote Markt dan Noorderplantsoen bisa dipastikan akan menjadi tempat favorit untuk menikmati sinar matahari.

Pada saat mengayuh sepeda 2 hari yang lalu di tengah guyuran hujan, saya berimajinasi sedang berada di Indonesia. Betapa nikmatnya panas ketika sedang berada dalam kedinginan. Tetapi, saya juga teringat salah satu update status Facebook seorang teman di Indonesia yang mengeluh kepanasan. Srengenge nembe ngenthang-ngenthang, demikian istilah dalam Bahasa Jawa untuk menggambarkan matahari yang tengah bersinar terik.

Pemandangan seperti di Grote Markt Groningen di atas mungkin hanya sedikit dijumpai di Indonesia. Karena hampir setiap hari matahari bersinar terik, orang Indonesia termasuk saya menganggap sinar matahari sebagai sesuatu hal yang biasa. Tetapi, nuansa yang berbeda saya temui di Groningen. Meskipun sinar matahari sedikit, saya belajar untuk bersyukur. Ternyata, sinar matahari sangat mahal di Groningen. Karena ketiadaan, rasa syukur muncul.

IMG_2496 (800x600)

Menikmati hangatnya matahari di Noorderplantsoen

Saya sangat menikmati sinar matahari di Sabtu siang ini, demikian pula warga Kota Groningen. Saya putuskan untuk berkeliling tanpa tujuan untuk melepas lelah dari membaca beberapa buku. Ketika memasuki city centre, banyak orang sudah banyak yang berkumpul dan berjalan-jalan di sana. Suasana sangat ramai sekali karena bertepatan dengan pasar hari Sabtu. Saya lantas memarkir sepeda di depan sebuah toko buku. Saya ingin menengok Grote Markt. Pasti di sana juga sangat ramai. Dari kejauhan, barisan meja dan kursi sudah dipenuhi oleh para pengunjung sambil menikmati minuman dan makanan.

Puas berputar di Grote Markt, saya ingin melihat suasana di Noorderplantsoen, sebuah taman hijau di Groningen. Ketika panas, tempat ini menjadi salah satu tempat favorit untuk nongkrong. Ketika memasuki kawasan Noorderplantsoen, di sebuah lapangan basket ada beberapa pemuda-pemudi yang tengah bermain basket. Semenjak saya tiba di Groningen tanggal 18 Agustus yang lalu, saya sering lewat depan lapangan basket tersebut, tetapi belum pernah melihat orang yang bermain basket di sana. Di hari Sabtu siang yang panas ini, saya akhirnya melihat lapangan basket tersebut dipakai.

Ketika masuk ke dalam kawasan Noorderplantsoen, di lapangan berumput, banyak pemuda-pemudi yang berbaring. Tidak jauh dari sana, terdapat sebuah telaga. Di pinggirnya tampak beberapa orang yang duduk dan berbaring. Ada yang sendirian, berdua atau berkelompok. Saya termasuk dalam kelompok yang ketiga sebab di Noorderplantsoen saya bertemu dengan dua orang Indonesia yang saat ini tengah mengambil program Master di Groningen Universiteit. Kami bertiga duduk di pinggir telaga sambil mensyukuri nikmat Yang Maha Kuasa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

One Response to “Ketika Merindukan Panas Matahari”

  1. [...] bumi, maka pada saat itu, gembira muncul tak tertahankan. Saat sinar matahari langka, saya begitu merindukan panas matahari yang begitu melimpah di Indonesia. Kejutan dan kekagetan cuaca sering saya alami. Hal yang sama [...]

Leave a Reply