You are here: Home > Nev(d)erland > Bermahasiswa di Luar Negeri: Harus Mandiri dan Tahan Banting

Bermahasiswa di Luar Negeri: Harus Mandiri dan Tahan Banting

Salah seorang mahasiswa sedang fotokopi buku

Salah seorang mahasiswa sedang fotokopi buku

Mahasiswa Mandiri

Saat ini saya sedang berada di Perpustakaan Faculty of Behavioral and Social Sciences, Groningen University. Awal September lalu, perkuliahan tahun akademik 2011/2012 dimulai. Dengan dimulainya tahun ajaran, berarti banyak tugas dan kuliah yang harus diikuti. Di tengah kesibukan yang harus saya kerjakan, saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan studi jenjang Master berkat sebuah beasiswa International Fellowships Program. Sebelum berangkat ke Belanda, saya dan teman-teman yang datang dari hampir seluruh Indonesia berkumpul di Jakarta untuk mengikuti Pre Academic Training di LBI-UI Salemba.

Maksud saya ke perpustakaan hari ini adalah saya ingin memfotokopi beberapa chapter buku materi kuliah. Saya harus memfotokopi hari ini agar bisa mengerjakan tugas matakuliah yang sedang saya ambil. Selesai memfotokopi, saya kemudian duduk di perpustakaan untuk membaca. Saat saya duduk bersama dengan mahasiswa yang lain, terlintas dalam pikiran mengenai kehidupan bermahasiswa yang saat ini sedang saya jalani. Saya mencoba membandingkan pengalaman yang saya alami di Groningen dengan pengalaman saya ketika menempuh jenjang sarjana.

Saya melihat tumpukan kertas yang berisi 3 bab yang baru saja saya fotokopi. Di Indonesia, apabila ingin memfotokopi buku, keseluruhan atau beberapa bab, dengan sangat mudah dilakukan, yaitu dengan cara pergi ke tempat fotokopi. Biasanya, di sekitar lingkungan kampus/sekolah, terdapat banyak orang yang membuka usaha jasa fotokopian. Bila butuh jasa fotokopi, saya tinggal datang ke sana, menunjukkan buku yang ingin difotokopi dan menunggu hingga selesai. Atau bisa juga ditinggal dan diambil sesuai kesepakatan. Malahan, sembari menunggu, saya dulu juga biasa duduk di kafe sambil minum kopi dan berbincang-bincang dengan kawan. Jika dirasa sudah selesai, saya kemudian mengambil buku dan hasil fotokopian kemudain membayarnya.

Tetapi, di Groningen saya harus melupakan “kenyamanan” seperti yang tergambar di atas. Mengapa? Sebab saya harus mengerjakannya sendiri. Sebelum memfotokopi, saya harus membeli kartu repro seharga 3 euro untuk 73 lembar, 5 euro untuk 127 lembar atau 10 euro untuk 262 lembar dan memasukkannya ke mesin. Kemudian, mau tidak mau saya harus berdiri di samping mesin fotokopi, menempatkan buku pada mesin fotokopi, memencet tombol dan kemudian membalik ke halaman berikutnya hingga selesai. Karena perkuliahan dan tugas yang banyak, sangat mungkin saya akan sangat sering melakukan aktivitas seperti di atas. Semua harus dilakukan secara mandiri.

Belajar Masak

Saya tinggal di sebuah internasional housing yang dihuni oleh banyak mahasiswa internasional yang datang dari banyak negara. Saat di dapur, saya sering bertemu dengan mereka pada saat sama-sama memasak. Pada hari-hari pertama di sana, saya bertemu dengan seorang gadis dari China. Sambil memasukkan bumbu-bumbu masakan, kami berbincang-bincang.

Dia mengaku kalau tidak bisa memasak. Bila di rumah, orang tuanyalah yang mempersiapkan makanan untuknya. Jadi, ketika sampai di Belanda inilah dia baru mulai belajar memasak. Saat dia bertanya apakah saya bisa dan biasa memasak, saya menjawab “yes”, terlepas dari rasa masakannya sedang-sedang saja.

Paling tidak, saya tidak pernah membuang makanan yang saya masak. Saya pernah menjumpai gadis China itu yang membuang satu panci makanan ke dalam plastik dan menaruhnya di tong sampah. Saat saya melihat itu, saya bertanya alas an mengapa makanan itu dibuang. Dia santai dia menjawab bahwa rasanya aneh, jadi dia putuskan untuk membuang makanan yang dimasaknya itu.

Saat selesai membuang makanan itu, dia menghampiri saya dan bertanya cerita saat saya memulai belajar memasak. Saya jawab bahwa mulanya saya belajar memasak dari melihat orang yang memasak dan dari Google. Lewat Google, saya bisa mencari resep-resep makanan beserta dengan cara mengolahnya kemudian mempraktekkannya di dapur. Dia mengangguk-angguk dan berniat mencobanya.

Bagi saya, memasak adalah sebuah pilihan yang harus dilakukan. Saat saya kuliah program Sarjana dulu, saya lebih memilih untuk membeli makanan di warung. Demikian pula ketika berada di Jakarta untuk beberapa bulan. Untuk makan pagi, siang dan malam, saya mengandalkan warteg di kawasan Salemba. Selain warteg, rumah makan padang juga sering menjadi tujuan. Tetapi di Groningen, saya juga harus meninggalkan kondisi nyaman itu sebab akan sangat boros bila harus makan di restoran. Mungkin sesekali boleh, tapi kalau tiap hari, saya mungkin bisa gulung tikar.

Jadi dengan pilihan untuk memasak sendiri, saya bisa mendapat beberapa keuntungan. Selain secara financial lebih murah, saya juga bisa banyak belajar memasak masakan teman-teman di satu koridor housing. Kadang saya bertanya ke seseorang teman ketika sedang sama-sama berada di dapur. Saya jadi ingin mencobanya jika sudah tahu bumbu dan cara memasaknya. Selain itu, dengan bekal pengalaman ini, mungkin nanti kalau saya sudah punya istri dan keluarga, saya bisa menyenangkan mereka melalui masakan yang saya buat.

Mahasiswa Tahan Banting

Satu pengalaman lagi yang saya rasakan selama berada di Groningen adalah saya diajarkan untuk tahan banting. Bukan berarti kalau saya berkelahi, saya tidak akan merasakan apa-apa saat dibanting, tetapi tahan banting yang dimaksud adalah saya dididik untuk siap dan tahan terhadap apapun yang saya alami.

Suatu hari, setelah beberapa hari di Groningen, saya pergi ke city centre Groningen. Saat melewati Noorderplantsoen, saya melihat seorang wanita yang berhenti di pinggir jalan bersama dengan sepedanya. Ternyata ban depan sepedanya kempes. Saya mengamatinya dari jauh dan tanpa terlihat kebingungan, dia langsung membalik sepedanya sehingga ban berada di atas. Dia sudah sangat terampil mengerjakan langkah-langkah penambalan ban bocor.

Sekali lagi, saya harus melupakan bengkel-bengkel sepeda yang berceceran seperti di Indonesia jika terjadi kerusakan pada sepeda yang saya miliki. Yang saya lakukan adalah membeli peralatan dan perlengkapan bengkel sederhana; seperti pompa, kunci-kunci, tang, alat tambal ban etc; sebagai jaga-jaga kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan pada saat naik sepeda. Peralatan tersebut selalu saya bawa jika bepergian dengan menggunakan sepeda. Sebetulnya bisa pergi ke bengkel, namun karena biaya yang cukup mahal, maka memang lebih bijak jika memiliki sedikit ketrampilan perbengkelan. Jadi, bila ada kerusakan sepeda, maka pemilik sepeda itu biasanya langsung membetulkannya sendiri.

Tidak hanya terkait dengan sepeda saja. Saya sering melihat teman-teman saya di housing, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengangkat sendiri meja, kursi, kasur atau barang-barang lainnya. Ketika di jalan, karena masih banyak mahasiswa baru, saya juga sering memperhatikan mereka yang membeli barang untuk keperluan kamar dan mengangkatnya, dengan berjalan kaki maupun menggunakan sepeda. Tidak tahu persis alasannya, tetapi mungkin saja karena mereka sudah terbiasa hidup mandiri, bisa juga karena upahnya mahal jika harus membayar taksi atau meminta tolong seseorang.

Apapun alasannya, saya sangat bersyukur bisa digembleng tidak hanya dalam pendidikan akademik tetapi juga bagaimana hidup di tengah-tengah masyarakat melalui prinsip kemandirian seperti pengalaman di atas. Pasti ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari perjalanan di negeri seberang ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

3 Responses to “Bermahasiswa di Luar Negeri: Harus Mandiri dan Tahan Banting”

  1. Yodie says:

    Mas Winarto yang baik,

    Terima kasih untuk artikel yang menarik ini!

  2. Wah mantap infonya… sayngat bermanfaat… Semoga banyak orang yang tertolong dengan adanya blog ini…Salam kenal…

  3. salam action semuanya….

Leave a Reply