You are here: Home > Inspirasi > Karena TUHAN Tak Pernah Berhenti Bekerja

Karena TUHAN Tak Pernah Berhenti Bekerja

Foto Bapak, Emak dan Kakak ketika Keluarga Tante Jane berkunjung ke Palur

~Preambule~

Saya sering membaca dan mendengar sebuah Firman TUHAN yang ditulis pada kitab Yeremia 17: 7-8. TUHAN berfirman dengan perantaraan Nabi Yeremia untuk disampaikan kepada setiap orang yang percaya. Dengan jelas Firman TUHAN berkata:

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

Sekali lagi, ayat tersebut saya dengar ketika saya berbicara dengan Pakdhe Sainu melalui telepon satu hari sebelum saya berangkat ke Kupang pada akhir bulan Mei 2010 untuk mengikuti wawancara beasiswa International Fellowships Program (IFP). Dari Denpasar Bali, saya niatkan hati untuk menghubungi Bapak, Emak dan keluarga Pakdhe Sainu di Palur dengan harapan mendapat suntikan motivasi dan mental sebelum berhadapan dengan tim pewawancara pada hari Minggu 30 Mei 2010.

Ini adalah pertama kali saya mengikuti wawancara beasiswa program master. Meskipun saya pernah sukses mengikuti wawancara beasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana ketika menempuh S1 dan wawancara kerja, namun wawancara kali ini memiliki tekanan dan tantangan tersendiri. Kisah dari beberapa teman, blog dan berita-berita yang beredar, International Fellowships Program merupakan salah satu beasiswa yang “diburu” oleh banyak peminat dengan beragam keahlian dan pengalaman yang mereka miliki. Faktor itu yang membuat saya gentar dan ragu ketika ingin mengirimkan aplikasi.

Saya masih teringat ketika saya membaca pengumuman pengiriman aplikasi beasiswa IFP ini. Suatu sore di Warung Makan Lely Sporty di Jalan WR. Supratman Denpasar. Saya dan Tirta Agung hendak makan di sana. Saat hendak duduk, saya mengambil sebuah surat kabar yang tergeletak di atas meja. Satu per satu halaman saya buka hingga saya menemukan sebuah pengumuman beasiswa. Pada mulanya saya tidak tertarik mengingat syarat dan seleksinya pasti berat. Selain itu, saya belum memiliki pengalaman cukup dan kemampuan Bahasa Inggris juga berkembang melalui belajar mandiri. Setidaknya dua hal itu yang terus menjadi kendala bagi saya ketika hendak melamar beasiswa.

~Proses Seleksi~

Setelah membaca pengumuman beasiswa itu, keraguan masih menyelimuti apakah mengirim aplikasi atau tidak. Saya cuma mencatat alamat website IIEF yang tertulis di pengumuman tersebut sebagai sumber informasi lebih lengkap. Jikalau saya nanti berminat untuk mengirim aplikasi, saya bisa membaca informasi-informasi yang saya butuhkan di website tersebut.

Dengan masih merasa ragu, saya putuskan untuk mengirim aplikasi pra pendaftaran di bulan Agustus 2009. Menurut jadwal yang sudah ditetapkan, para pelamar beasiswa akan mendapat pengumuman lolos/tidak seleksi pra pendaftaran pada akhir bulan November. Pelamar yang lolos harus mengisi formulir aplikasi beasiswa dan dikirim paling lambat akhir bulan Desember 2009.

Puji TUHAN. Saya mendapat sebuah paket beramplop besar dari IIEF. Saya membuka amplop tersebut berisi formulir aplikasi beserta dengan amplop pengembalian dan sebuah surat yang ditandatangani oleh Ibu Mira Sambada. Antara senang dan terkejut, saya memandangi surat dan formulir aplikasi yang cukup tebal tersebut. Namun, jalan masih panjang. Saya masih harus melewati beberapa tahap lagi. Saya harus segera melengkapi formulir aplikasi tersebut dan mengirimnya balik sebelum batas waktu yang telah ditetapkan.

Satu per satu pertanyaan dalam formulir saya jawab. Saya juga mempersiapkan persyaratan dokumen yang diminta hingga formulir aplikasi beasiswa siap dikirim balik. Sebelum mengirim, saya berdoa. Dengan berbagai kegalauan dan keraguan yang masih ada, saya serahkan semuanya kepada TUHAN. Saya percaya bahwa TUHAN terus dan tidak akan pernah berhenti bekerja dan berkarya. Melalui sebuah jasa pengiriman, saya mengirim satu paket amplop berisi formulir yang telah diisi dan dokumen yang disyaratkan.

Pada bulan Februari 2010, kebetulan saya sedang berada di depan komputer. Saya teringat bahwa seharusnya sudah ada pengumuman pelamar yang lolos ke tahap berikutnya. Saya membuka website IIEF dan memang betul di sana sudah ada pengumuman pelamar yang lolos test TOEFL. Saya mencari nama “Winarto” dan ternyata ada. Saya masuk seleksi tahap berikutnya berupa test TOEFL yang akan dilaksanakan di Language Centre Universitas Udayana, Denpasar. Saya semakin berdebar-debar. Saya merasa penguasaan bahasa Inggris yang saya miliki belum cukup kuat mengingat saya hanya belajar secara mandiri. Saya belum pernah mengikuti kursus intensif bahasa Inggris. Saya juga belum pernah mengikuti test kemampuan berbahasa Inggris baik TOEFL ataupun IELTS.

Saya harus berani melangkah. Mengingat saya belum pernah mengikuti test persiapan TOEFL, saya membuka website ETS untuk belajar dan mengetahui apa itu TOEFL. Saya hanya memiliki waktu 3 hari untuk belajar tentang TOEFL. Saya percayakan segala sesuatunya kepada TUHAN. Saya hanya menjalankan bagian saya, berdoa dan belajar. Saya percaya TUHAN akan bekerja sangat luar biasa.

Pengumuman tahap berikutnya muncul pada akhir bulan April 2010. Saya menerima surat dari IIEF dan memberitahukan bahwa saya lolos tahap wawancara beserta jadwal wawancara. Saya harus ke Kota Kupang untuk wawancara beasiswa pada hari Minggu tanggal 30 Mei 2010. Masih tidak percaya pada kejadian itu, saya membuka website IIEF dan di sana juga sudah termuat pengumuman wawancara beasiswa International Fellowships Program. Nama “Winarto” tercantum sebagai salah satu kandidat penerima beasiswa IFP. TUHAN memang luar biasa bekerja dan akan terus bekerja.

Saya memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum wawancara di Kota Kupang. Saya pelajari kembali formulir aplikasi beasiswa yang telah saya isi. Tidak lupa, saya menelpon keluarga di Palur dan meminta bantuan doa untuk kesuksesan dan kelancaran wawancara nantinya. Saya juga menghubungi beberapa teman di Denpasar yang kebetulan juga lolos wawancara. Kami sepakat untuk berangkat bersama dari Denpasar ke Kupang. Saya juga bersyukur karena Kak Remi memberi saya tumpangan selama beberapa malam di rumahnya di Kota Kupang.

Sehari sebelum berangkat ke Kupang itulah, saya menelpon Bapak dan Emak di Palur untuk memohon restu. Saya juga menelpon Pakdhe Sainu. Melalui percakapan telepon itu, saya dikuatkan untuk menghadapi wawancara beasiswa. Saya harus mengandalkan TUHAN sepenuhnya.

Hari Minggu, 30 Mei 2010. Saya diantar Kak Remi ke Hotel Pantai Timor Kupang. Saya dapat jatah wawancara jam 11.00 WITA. Satu jam sebelumnya, saya sudah berada di lokasi wawancara agar saya tidak tergesa-gesa dan ada persiapan sebelum masuk ruang wawancara. Beberapa menit sebelum masuk ke ruang wawancara, saya berdiri, menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Saya masuk ke ruang wawancara dengan percaya diri.

Di ruangan, terdapat 3 orang pewawancara dan Ibu Mira Sambada dari IIEF. Saya dipersilakan duduk dan wawancara pun dimulai. Berbagai pertanyaan yang terdapat pada formulir aplikasi beasiswa dilontarkan, namun tidak jarang pula pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada di sana atau tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tetapi TUHAN member hikmat untuk menjawab setiap pertanyaan.

Ketika salah seorang pewawancara bertanya tentang keluarga, saya terdiam sejenak. Saya menghela nafas panjang kemudian mulai menjawab. Saya menitikkan air mata ketika bercerita tentang kisah hidup Bapak sehari-hari bekerja sebagai seorang tukang sampah. Saya terbata-bata ketika menjelaskan cerita Bapak di tempat pengasingan selama 14 tahun di Pulau Buru. Di sana Bapak bertaruh nyawa untuk dapat bertahan hidup hingga bebas dan kembali ke Jawa pada tahun 1980 hingga akhirnya menikah dengan Emak. Selain bercerita tentang Bapak, saya juga mengisahkan Emak yang kesehariannya berjualan pecel di teras rumah. Saya serasa tidak kuat ketika bercerita tentang kisah hidup yang keras kedua orang tua saya.

Tidak terasa, satu jam lebih saya habiskan di ruang wawancara. Saya mengucapkan terima kasih kepada para juri dan bersalaman dengan mereka. Ketika hendak keluar ruangan, Ibu Mira meminta saya menunggu sebentar untuk bertanya sesuatu. Saya pun keluar ruangan dengan perasaan lega. Sambil menunggu Ibu Mira, saya mengucap syukur karena saya sudah melakukan yang terbaik, mengenai hasil saya serahkan pada TUHAN.

~Dukungan Keluarga~

Sehabis berbicara dengan Ibu Mira, saya lantas berpamitan. Kak Remi akan menjemput saya jika saya sudah selesai wawancara. Sambil menunggu dijemput, saya keluar Hotel Pantai Timor dan di depan hotel itu saya memandangi lautan yang terhampar luas sambil terus memuji kebesaran TUHAN. Saya menelpon Bapak dan Emak dan memberitahukan bahwa wawancara saya sudah selesai. Saya mengatakan bahwa wawancara berjalan lancar dan menunggu hasilnya pada bulan Agustus. Ketika saya menutup pembicaraan itu, Kak Remi datang. Kami pun naik sepeda motor ke Pantai Lasiana di Kupang.

Bagi saya, Bapak dan Emak adalah sumber inspirasi dan motivasi. Saya banyak belajar dari mereka. Saya sangat merasakan curahan cinta dan kasih Bapak dan Emak kepada saya dan Winarno kakak saya. Mereka orang tua yang sangat luar biasa. Bapak dan Emak tidak kenal lelah bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anaknya.

Maka itu, mungkin wajar jika saya menangis dan menitikkan air mata ketika harus bercerita tentang Bapak dan Emak. Walaupun tidak memiliki pendidikan yang tinggi, mereka bercita-cita agar anak-anaknya memiliki pendidikan untuk kehidupan yang lebih baik. Tetapi, kendalanya adalah keuangan. Bapak pernah berkata bahwa hanya mampu membiayai kuliah hingga jenjang sarjana. Menanggapi hal itu, saya berkata dengan yakin bahwa saya mampu melanjutkan jenjang master bahkan hingga jenjang doktoral karena TUHAN akan membuka jalan untuk umat yang selalu mengandalkan TUHAN.

Aplikasi beasiswa IFP adalah lamaran pertama yang saya kirimkan, walaupun terdapat kecemasan dan kegalauan ketika mengirimnya. Tetapi saya berserah pada TUHAN. Dukungan dan doa dari keluarga sangat kuat saya rasakan. Tahap demi tahap yang saya lalui saya beritahukan dengan maksud agar orang tua terus mendukung dalam doa. Suatu waktu Bapak pernah berkata bahwa jika pengumuman nanti menyatakan bahwa saya belum berhasil, saya harus tetap semangat dan tidak henti berusaha.

Di tanggal 11 Agustus 2010, saya kebetulan berkunjung ke Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Saya bertemu dengan beberapa orang teman dan diajak untuk mengikuti pembacaan dan perenungan ayat Alkitab. Sore itu, kami bersama-sama membaca sebuah ayat pada Kitab 1 Korintus 2: 9, yang berbunyi:

“Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Saya sangat diberkati dengan pembacaan ayat tersebut. TUHAN akan memberi kejutan. Saya menantikan kejutan dari-NYA. Kejutan itupun datang secara tiba-tiba. Menurut jadwal, pengumuman penerima beasiswa akan dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2010. Tetapi, suaru sore menjelang malam tirakatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65, sebuah email masuk dari Mbak Nurwening. Kebetulan saat itu saya sedang duduk di depan komputer. Dengan berdebar-debar saya membuka email tersebut. Pada pembukaan email, disebutkan bahwa ada 50 orang penerima beasiswa. Apakah ada nama “Winarto” di sana?

Saya memencet tombol Ctrl+F dan mengetikkan kata “Winarto” dan didapati hasil bahwa nama itu ada dalam daftar. Puji TUHAN. DIA betul-betul memberi kejutan yang sangat luar biasa. Secara tidak sadar saya berteriak. Di luar kamar saya mendengar suara Bapak yang tengah meletakkan sabit untuk mencari rumput. Saya segera keluar dan memeluk Bapak. Emak datang, saya juga lantas memeluknya. Saya melihat air mata Bapak mengalir sebagai tanda ucapan syukur kepada TUHAN.

TUHAN sangat ajaib. TUHAN sangat luar biasa. TUHAN akan terus berkarya dalam kehidupan umat yang senantiasa mengandalkan-NYA. Amen!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

2 Responses to “Karena TUHAN Tak Pernah Berhenti Bekerja”

  1. vita says:

    well done mas win

  2. nocual says:

    Pagi mas Winarto,

    Selamat ya sudah terima beasiswa.
    Mas, kalo bisa di share pengalaman pertanyaan-pertanyaan saat di wawancara oleh Ibu Mira. :D

Leave a Reply