You are here: Home > (Not) Daily Stories > Berpuasa di Belanda, Sahur dan Buka Yang Sunyi

Berpuasa di Belanda, Sahur dan Buka Yang Sunyi

http://jogetmp3.com/wp-content/uploads/2011/05/marhaban_yaa_ramadhan_by_adipatijulian1.jpg

Gambar ilustrasi dari Google

“Sahur…Sahur…Sahur…Sahur,” terdengar suara yang begitu nyaring untuk membangunkan dan mengingatkan bahwa waktu sahur sudah tiba.

Tidak hanya sekali saja, mungkin bisa tiga, empat, lima atau lebih suara “Sahur…sahur…sahur” tersebut terdengar. Di tambah pula teriakan anak-anak yang membawa kentongan, obor atau kaleng bekas untuk membangunkan penduduk di suatu kampung. Suasana Ramadhan terasa istimewa dan spesial dengan kehadiran suara-suara yang membangunkan orang dari tidur tersebut.

Bila sudah terbiasa dengan keramaian Ramadhan seperti digambarkan di atas, maka ketiadaan suara-suara di pagi hari menjelang waktu sahur menjadi sebuah hal yang janggal. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Jawabannya bisa dan sangat mungkin.

Saya membaca sebuah wall post di Facebook, tertulis “Sahur perdana yg sunyi,tanpa rendang…hiks..” untuk mengisi “What’s on your mind” ala Facebook.  Kawan tersebut kini sedang menempuh studi Inggris dan untuk pertama kalinya menjalankan ibadah puasa di negeri orang. Maka itu tidak heran bila dia mengatakan “sahur perdana yang sunyi” karena suara-suara yang biasa terdengar di pagi menjelang sahur tidak ada.

Cerita kawan di Inggris di atas juga terjadi dengan kawan yang sedang belajar di Kota Maastricht, Negeri Belanda. Jangankan suara membangunkan sahur, suara adzan dari masjid pun nihil. Di wall post jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg pula tertulis:

tidak ada suara beduk, tidak ada suara kelentong, tidak ada suara speaker, sepi senyap menunggu waktu sahur. Sahuuuuuuuuuuuuuuur3x

Pengalaman pertama Ramadhan di negeri orang, paling tidak pengalaman bulan Ramadhan di Eropa seperti yang ditulis di atas,  jelas menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Selain berkaitan dengan cerita di atas, berpuasa di Eropa menjadi “tantangan” tersendiri bagi orang yang menjalankan Rukun Islam yang ketiga tersebut.

Jam 02.30 pagi waktu Belanda. Biasanya di Indonesia sudah mulai terdengar suara orang yang memberitahu bahwa waktu sahur telah tiba. Tapi di Maastricht sangat jauh berbeda. Tidak ada suara dari masjid atau penduduk sekitar untuk membangunkan saat makan sahur tiba. Sangat sunyi dan sepi menjelang waktu sahur. Orang yang berpuasa harus mengandalkan diri sendiri atau mungkin sesama teman untuk saling mengingatkan bahwa waktu sahur sudah tiba hingga waktu imsak dengan memerhatikan jadwal puasa yang telah dimiliki.

Setelah sahur dan imsak, kemudian dilanjutkan dengan sholat Subuh. Di Indonesia biasanya banyak orang berbondong-bondong pergi ke masjid. Pengalaman dari beberapa teman yang pertama kali puasa di Maastricht, mereka tidak sholat Subuh berjamaah di masjid. Barangkali karena faktor suhu udara yang sangat dingin di pagi hari dan jarak dengan masjid yang cukup jauh, menyebabkan mereka mengurungkan niat pergi ke masjid namun melakukan sholat subuh di kamar masing-masing.

Tibalah tantangan berikutnya muncul. Hari pertama puasa, hawa dingin masih meliputi Kota Maastricht. Saat cuaca dingin tersebut, rasa lapar dan rasa kantuk seringkali menyerang. Namun, aktivitas perkuliahan harus tetap berjalan. Di saat dingin dan lapar itu, aktivitas yang enak untuk dilakukan adalah minum kopi atau minuman hangat lainnya dan makan cemilan. Namun, tentu saja hal tersebut tidak boleh dilakukan bagi mereka yang menjalankan puasa di bulan Ramadhan. Tantangan yang cukup berat tersebut harus sudah dihadapi di hari pertama puasa dan hari-hari berikutnya.

Bila di Indonesia makan sahur rata-rata pukul 03.00 dan jam berbuka puasa pada pukul 18.00, sangat berbeda dengan puasa Ramadhan di Belanda. Mereka yang berpuasa Ramadhan di negara Belanda harus mulai sahur pada pukul 03.00 pagi dan waktu berbuka puasa pada pukul 21.30 malam atau kira-kira harus berpuasa  17, 5 jam. Tentu lebih lama bila dibandingkan dengan waktu berpuasa di Indonesia dan kemungkinan tantangannya juga lebih berat.

Waktu sholat tarawih juga tentu berbeda. Setelah berbuka puasa, kira-kira setelah lewat jam 22.00 malam, kawan-kawan di Maastricht mulai pergi ke masjid untuk sholat tarawih. Sholat tarawih tersebut berakhir hingga sekitar pukul 00.00 waktu setempat. Dan bisa dibayangkan jika beberapa jam kemudian, sudah tiba lagi waktu sahur dan subuh. Barangkali harus pasang alarm jam dan handphone untuk mengingatkan dan membangunkan supaya waktu sahur bisa tepat waktu dan tidak bangun kesiangan. Atau malahan tidak tidur hingga waktu sahur tiba?

Bagaimanapun, pengalaman berpuasa di bulan Ramadhan di Eropa akan selalu dikenang dan berkesan. Kemeriahan saat makan sahur dan berbuka puasa tentu menjadi sesuatu hal yang sulit didapat jika melakukan ibadah Ramadhan bukan di Indonesia. Mungkin juga keanekaragaman hidangan khas nan spesial ketika Ramadhan menjadi sesuatu hal yang dirindukan. Tetapi, di atas semuanya itu, yang terpenting adalah hati dan niat untuk menjalankan ibadah puasa. Selamat berpuasa Kawan-Kawan! Selamat menyongsong hari kemenangan!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply