You are here: Home > Opinion > Perguruan Tinggi, Penggerak Roda Ekonomi

Perguruan Tinggi, Penggerak Roda Ekonomi

http://dreamlandaulah.files.wordpress.com/2010/06/students.jpg
Foto dari Google

Seberapakah kontribusi perguruan tinggi terhadap sektor perekonomian di masyarakat? Pertanyaan tersebut menarik untuk ditelusuri mengingat perguruan tinggi memiliki andil yang cukup besar untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui penciptaan lapangan dan sumber pekerjaan untuk masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan pokok manusia dan transportasi.

Pertama, bagi mahasiswa perantauan, kost adalah alternatif ketika mereka menempuh pendidikan di sebuah universitas. Banyak masyarakat di sekitar kampus memanfaatkan kesempatan bisnis tersebut dengan membuka usaha kost-kostan untuk mahasiswa yang membutuhkan kamar sebagai tempat tinggal. Usaha tersebut terbilang sangat menjanjikan sebab setiap bulan, pemilik rumah kost dapat memperoleh penghasilan dari usahanya.

Taruhlah rata-rata harga kamar kost 500 ribu rupiah per bulan. Bila melihat tingkat hunian dan permintaan yang cukup tinggi, sebagai contoh di daerah Salemba, jika sebuah rumah memiliki 10 kamar yang disewakan, maka per bulan keluarga tersebut memiliki pendapatan kotor dari penyewaan kawar tersebut sebesar 5 juta rupiah. Contoh sederhana tersebut paling tidak memberikan gambaran bahwa terjadi simbiosis mutualisme antara perguruan tinggi dan masyarakat yang dapat berkontribusi pada sektor perekonomian.

Selain penyewaan kamar kost, usaha laundry dan mencuci di kawasan perguruan tinggi juga cukup besar. Masyarakat melirik bisnis tersebut karena melihat mahasiswa dinilai sudah sibuk untuk mengurusi studinya sehingga keperluan cuci-mencuci pakaian kadang terbengkalai. Di banyak tempat, cuci pakaian dengan sistem kiloan atau sistem bulanan juga banyak ditemui. Bisnis ini juga cukup menjanjikan.

Bagaimana dengan bisnis makanan? Bisnis makanan terlihat mencolok di sekitaran kampus. Dari warteg, warung tenda di pinggir jalan hingga restoran dapat mudah ditemui di seputaran bangunan universitas. Seorang mahasiswa seringkali tidak memasak sendiri untuk makan sehari-harinya, barangkali karena sudah sibuk atau karena memang tidak terbiasa memasak sehingga lebih memilih membeli makanan. Keputusan ini kadang diambil dengan alasan bisa memilih berbagai macam variasi menu dan makanan yang dijual.

Sebagai contoh seperti yang terlihat di Kampus UI Salemba. Di sana banyak yang memanfaatkan peluang dengan menjual berbagai jenis makanan. Banyak pula dijumpai penjual asongan yang menjual air minum mineral, tissu, kopi dan sejenisnya di seputaran kampus. Peluang seperti ini juga banyak dimanfaatkan di kampus-kampus lain karena banyak mahasiswa memiliki kebutuhan dan perilaku yang hampir sama.

Bagaimanapun, dengan mobilitas yang cukup tinggi, kebutuhan transportasi juga penting. Jika di Jakarta ada bajaj, maka di Jawa Tengah dan Jogjakarta, becak juga menjadi alternatif. Selain bus, taksi atau angkutan kota, ojeg motor banyak dimanfaatkan sebagai alat transportasi oleh para mahasiswa pula oleh staf kampus.

Selain itu, usaha fotokopi, alat-alat tulis dan alat-alat kantor juga laris manis di seputaran kampus perguruan tinggi, pula usaha persewaan komputer dan pengetikan. Bisnis ini sangat mudah ditemui di banyak perguruan tinggi karena memang dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan akan kertas, alat tulis dan alat kantor.

Dengan melihat beberapa contoh di atas, perguruan tinggi mampu menciptakan peluang-peluang bisnis untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Tentu masih ada bisnis-bisnis lain yang bisa dimanfaatkan dengan adanya sebuah perguruan tinggi bukan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply