Tidak Ada Alasan Untuk Tidak Sekolah
“Selalu ada jalan untuk yang mau berdoa dan berusaha”
Pengantar
Dua puluh enam tahun yang lalu, tepatnya bulan November 1984, seorang bayi kecil mungil lahir dari pasangan Bapak Salimin dan Ibu Mujiyem. Pasangan yang tengah berbahagia tersebut memberi nama bayi tersebut “Winarto”, sebuah nama yang singkat dan mudah diingat. Tumbuh dan berkembang di keluarga yang sangat sederhana, Winarto akhirnya memasuki masa-masa sekolah di awal tahun 1990.
Orang tua Winarto bukan berasal dari keluarga yang kaya. Untuk menafkahi istri dan kedua anaknya, Bapak Salimin bekerja sebagai seorang tukang sampah yang berkeliling dari kompleks ke kompleks. Menyadari bahwa suaminya bekerja sangat keras, Ibu Mujiyem lantas membuka sebuah warung kecil yang menjajakan pecel, bakmi serta makanan kecil. Dengan mengandalkan pekerjaan tersebut, keluarga Bapak Salimin berusaha untuk bertahan hidup dan menyekolahkan kedua anaknya.
Menyadari bahwa kedua orang tuanya telah bekerja membanting tulang, Winarto tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Dia memiliki mewujudkan impian kedua orang tuanya dengan berbekal pendidikan yang dijalani. Tidak ada jalan lain. Prestasi adalah sebuah langkah untuk membuat orang tua berbahagia. Dengan belajar tekun, Winarto berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh prestasi sehingga mampu membuat bapak dan ibunya tersenyum.
Semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi, Winarto mampu menunjukkan prestasi yang membuat kedua orang tuanya bangga. Capaian tersebut didapat atas hasil belajar yang tidak pantang menyerah. Dengan hasil yang diraih, Winarto ingin terus menempuh pendidikan hingga ke jenjang Master bahkan ke level Doktoral. Namun, apa yang terjadi?
Beberapa saat sebelum memutuskan untuk masuk ke Universitas Kristen Satya Wacana, Bapak Salimin bersama sekeluarga terlibat dalam sebuah diskusi keluarga. Dalam diskusi tersebut, Bapak Salimin selaku kepala keluarga berkata kepada kedua anaknya bahwa hanya sanggup untuk membiayai kuliah hingga jenjang S1. Apabila kedua anaknya ingin melanjutkan ke jenjang Master, Bapak Salimin mengatakan bahwa secara keuangan tidak bisa membantu, namun secara semangat dan motivasi, doa orang tua tidak akan pernah putus untuk kedua anaknya.
Berdoa dan Berusaha
Akhirnya, Winarto pun masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dengan doa dan restu kedua orang tuanya. Dalam benaknya, berprestasi untuk kemuliaan kedua orang tuanya masih terus tertanam mengingat biaya untuk masuk ke perguruan tinggi yang semakin berat untuk ukuran keluarganya. Oleh sebab itu, di kampus, Winarto berusaha keras untuk terus meraih capaian yang berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Selain itu, melalui prestasi tersebut, Winarto memiliki kepercayaan bahwa akan lebih mudah untuk mendapatkan beasiswa sebagai langkah untuk meringankan beban orang tua membiayai studi di universitas.
Selain aktif secara akademik, Winarto juga membekali diri dengan kemampuan berorganisasi di kampus. Berbagai aktivitas kemahasiswaan diikuti namun tetap menjaga keseimbangan dengan aktivitas akademik. Winarto juga bekerja sebagai asisten dosen dan asisten penelitian bersama dengan beberapa dosennya. Hasilnya, Winarto mendapat beasiswa Peningkatan Prestasi Akademic dari Dikti dan mendapat uang dari hasil kerjanya sehingga dengan beasiswa tersebut, dia bisa membiayai kuliahnya.
Dengan hasil tersebut, Winarto berkeinginan untuk melanjutkan studi Master. Namun, uang dari mana? Itu adalah pertanyaan mendasar yang bisa meluluhlantakkan cita-citanya. Dia teringat dengan ucapan bapaknya yang sudah tidak mampu membiayai kuliah untuk program S2. Tetapi, selalu ada jalan untuk yang mau berdoa dan berusaha. Winarto sangat percaya akan hal itu.
Setelah dinyatakan lulus dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Winarto bekerja di Denpasar, Bali. Walaupun sudah bekerja, dia masih berkeinginan untuk bersekolah. Saat berbincang dengan kedua orang tuanya, dia selalu tetap minta doa restu agar keinginannya bersekolah lagi terkabul.
Beasiswa Master
Suatu sore di sebuah warung makan di Denpasar, Winarto bersama temannya Tirta Agung membaca sebuah pengumuman beasiswa International Fellowships Program yang diumumkan oleh the Indonesian International Education Foundation (IIEF). Dia tertarik untuk mendaftar beasiswa tersebut meskipun dia tidak yakin karena merasa kemampuan berbahasa Inggris masih kurang dan belum pernah mengikuti test IELTS ataupun TOEFL. Namun akhirnya, dia memutuskan untuk mengirimkan aplikasi.
Setelah menunaikan kewajibannya untuk mengisi form aplikasi, Winarto hanya berserah kepada Yang Esa. Email pemberitahuan bahwa dia lolos ke test TOEFL dan wawancara pun mengejutkan dirinya. Walaupun belum pernah ikut test TOEFL, dia mengikuti test tersebut dengan berharap-harap cemas dan sebulan kemudian diberitahu lolos ke tahap wawancara yang akan dilakukan di Kota Kupang di akhir bulan Mei 2010. Wawancara adalah tahap penentuan. Winarto pun tetap meminta dukungan doa dari orang tuanya agar diberi kekuatan untuk menghadapi tahap wawancara. Pada saat memasuki ruang wawancara, dia percaya diri menatap kuliah program Master.
Apapun hasilnya, dia berserah. Dia sudah melakukan yang terbaik. Hingga di sore hari menjelang malam tujuh belasan, sebuah email masuk dari Mbak Nurwening yang menginformasikan 50 orang terpilih dan lolos menerima beasiswa IFP. Winarto masuk sebagai salah satu orang terpilih tersebut. Betapa sangat berbahagia. Dia kemudian memberitahu orang tuanya dan mengatakan bahwa dia diterima beasiswa untuk kuliah S2. Yang Maha Kuasa telah menjawab doa-doa yang dipanjatkan.
Pesan Moral
Cerita di atas adalah kisah nyata saya, Winarto. Orang tua saya menyadari bahwa pendidikan untuk anak adalah penting. Meskipun hidup di tengah kekurangan, Bapak dan Ibu saya tahu bahwa anak-anak membutuhkan sekolah dan pendidikan sebagai bekal kehidupan. Tidak ada alasan untuk tidak sekolah.
Kekuatan doa dan kerja keras menjadi kunci untuk menggapai setiap cita-cita yang sudah digantungkan. Bagaimanapun, perjuangan belum berakhir. Terus belajar dan berkarya menjadi kewajiban yang harus terus dijalankan. Mendapat beasiswa adalah sebuah kebahagiaan, namun dibalik itu semua ada tanggung jawab yang besar untuk dapat berkontribusi pada pengembangan dan pembangunan masyarakat Indonesia. Mendapat beasiswa adalah sebuah amanah.
Semoga kisah ini bisa menginspirasi!!!
*Tulisan ini lolos audisi Antologi Buku “Suara Hati: Berani Mimpi Berani Aksi” yang diadakan oleh Ayo Menulis Buku.









ini yang aku bilang baguss!!!
Thanks
Matur nuwun sharingnya Mas..
sangat memotivasi..
semoga bisa menyusul ..Amin