Tragedi Persami: Minum Minyak Tanah

Di awal tahun ajaran 2000/2001, saya bersama teman-teman SMA Negeri 3 Surakarta mengikuti Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) di Bumi Perkemahan Jurug, Surakarta. Acara Persami tersebut wajib diikuti oleh semua siswa baru. Sepuluh kelas diberangkatkan pada Sabtu siang di bulan Agustus dari lokasi sekolah di kawasan Warung Miri ke Bumi Perkemahan Jurug yang berdekatan dengan Taman Satwa Taru Jurug dan Sungai Bengawan Solo.
Sesampai di Bumi Perkemahan Jurug, masing-masing kelas sudah dibagi-bagi ke dalam beberapa kelompok tenda. Kakak Pembina juga sudah memisahkan antara wilayah tenda untuk siswa laki-laki wanita. Masing-masing kelompok sudah diberi tugas masing-masing, termasuk mendirikan tenda, mengatur perlengkapan tenda sekaligus membersihkannya. Semua harus dilakukan secara gotong royong masing-masing kelompok, namun jika sangat diperlukan bisa meminta bantuan Kakak Pembina.
Kami juga sudah membawa peralatan-peralatan yang dibutuhkan selama Persami. Peralatan-peralatan tersebut disampaikan oleh Kakak Pembina seminggu sebelum kegiatan Persami dilakukan. Masing-masing kelompok lantas berdiskusi dan berbagi jatah peralatan yang harus dibawa. Selain peralatan umum, seperti peralatan masak dan bersih-bersih, kami juga diminta untuk membawa perlengkapan pribadi seperti peralatan mandi, baju ganti hingga obat-obatan pribadi.
Di sore hari, kami mengikuti beberapa acara dan permainan yang sudah dirancang oleh Kakak Pembina. Sebelum sholat Magrib, jadwal kami adalah memasak sambil mempersiapkan diri menampilkan atraksi di acara api unggun. Masing-masing kelas harus menampilkan atraksi, seperti menyanyi, menari, baca puisi dan sebagainya. Semua tergantung kreativitas kelas.
Sesuai shalat Isya, peluit sebagai tanda kami harus berkumpul di lapangan dibunyikan. Baik yang sudah siap maupun belum siap harus segera tiba di lapangan untuk memulai acara api unggun. Tidak berapa lama kemudian, kami sudah berkumpul di lapangan. Beberapa kawan terlihat menyusul sambil mengenakan atribut pramuka. Salah seorang pembina sudah bersiap memimpin acara api unggun. Setelah briefing, kami diminta bersiap-siap untuk tampil sesuai dengan undian.
Satu per satu aktraksi sudah ditampilkan. Ada yang menari, menyanyi, baca puisi hingga lawak. Kami sangat puas dengan acara api unggun malam itu. Setelah acara usai, kami diminta kembali ke tenda masing-masing untuk tidur dan istirahat malam sebab keesokan harinya, acara akan sangat padat. Kami pun melangkah ke tenda masing-masing. Ada yang masih terdengar berbicara di dalam maupun di luar tenda, ada pula yang langsung tidur.
Pagi-pagi buta, kira-kira setelah shalat Subuh, ada suara kegaduhan di samping tenda saya. Tenda tersebut ditempati oleh teman-teman siswa kelas 1-2. Saya segera keluar tenda. Salah seorang teman terlihat sedang berkumur-kumur. Kegaduhan tersebut memancing teman-teman yang lain muncul dari tenda-tenda di sebelahnya. Beberapa teman yang masih terkantuk-kantung bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Akhirnya, rasa penasaran tersebut terjawab. Sidiq, salah seorang teman di kelas 1-2, meminum minyak tanah yang diwadahi botol air mineral. Cairan di dalam botol tersebut disangka sebagai air mineral. Mungkin karena masih gelap, dia tidak tahu kalau botol tersebut berisi minyak tanah. Untung dia langsung memuntahkannya setelah mengetahui bahwa cairan tersebut tidak layak minum dan segera berkumur-kumur.
Kami semua prihatin atas kejadian tersebut, namun kami lantas tertawa setelah beberapa saat kemudian Sidiq terlihat tersenyum dan tertawa. Mungkin dia menertawakan kecerobohannya sendiri. Berita heboh pagi itu segera tersebar cepat hingga telinga teman-teman peserta Persami.








