Memimpikan Moda Transportasi Darat Yang Manusiawi
Membayar tiket bus yang dilayani langsung oleh seorang pengemudi
Masih teringat dengan jelas pada tanggal 11 Oktober 2010 yang lalu, saya mengantri dan berdesak-desakan di Halte Central Senen Jakarta. Semenjak menginjakkan kaki di Jakarta di bulan September, TransJakarta merupakan alat transportasi yang sering saya pakai untuk bepergian selain angkutan kota, taksi atau metromini. Sore itu, suasana di Halte Central Senen sangat ramai dan padat karena bersamaan dengan jam pulang kantor.
Setelah menunggu selama hampir 20 menit, akhirnya sebuah bus datang dan langsung diserbu oleh para penumpang. Di dalam bus yang penuh sesak, saya berdiri dan berpegangan pada sebuah tiang besi di dalam bus. Tanpa saya sadari, ada sebuah tangan yang masuk ke kantong celana dan mengambil sebuah handphone yang saya miliki. Saya baru menyadari bahwa handphone saya hilang ketika saya sudah turun di sebuah halte dan bus yang saya tumpangi sudah menghilang.
Kenangan buruk tersebut teringat kembali setiap kali saya hendak menggunakan transportasi umum. Saya tidak ingin peristiwa kehilangan handphone atau barang berharga lainnya terulang kembali. Saya bermimpi dapat menikmati transportasi darat yang aman dan nyaman. Saya berimaginasi suatu saat saya tidak perlu lagi berdesak-desakan di halte bus karena bus tidak kunjung datang dan kemudian masih harus bersesak-sesakan di dalam bus.
Saat hendak pergi ke Maasmechelen Village di Belgia, saya baru menyadari bahwa mimpi saya di atas telah terwujud. Meskipun tidak saya alami di Indonesia, saya diberi kemurahan untuk dapat menikmati transportasi darat di Eropa yang jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Ketika berada di dalam bus, saya kembali bermimpi dan berdoa bahwa apa yang saya alami ini dapat diwujudnyatakan dan dinikmati di Indonesia.
Salah satu faktor penting dalam pelayanan transportasi adalah ketepatan waktu. Saya sangat terkagum dengan bus yang datang tepat pada waktu yang dijadwalkan. Penumpang akan terasa sangat nyaman ketika bus tidak datang terlambat sebab waktu sangat berharga. Saya dan banyak penumpang transportasi umum di Indonesia sering membuang waktu yang tidak sedikit hanya untuk menunggu bus yang tidak kunjung datang.
Satu hal yang juga berbeda adalah ketika penumpang hendak membayar tiket. Dengan teratur mereka masuk dari pintu depan dan membayar pada chauffeur (driver) atau jika penumpang sudah menggunakan kartu langganan, mereka tinggal menempelkan pada mesin yang sudah disedia ketika masuk dan keluar bus. Ilustrasinya terlihat pada gambar di atas.
Halte bus di depan Maasmechelen Village
Ada hal lain yang berbeda? Setelah saya mengamati, saya juga baru menyadari bahwa halte bus di Indonesia sangat jauh mahal dari sisi biaya pembuatan dan operasional jika dibandingkan dengan halte bus di Eropa, khususnya di Belanda dan Belgia. Dengan hanya bermodal sebuah tiang dan jadwal bus, sudah jadilah sebuah halte.
Menjadi persoalan memang sebab ada beberapa halte bus yang tidak memiliki atap sehingga apabila hujan, penumpang tidak bisa berteduh. Seperti yang saya dan teman-teman alami ketika hendak pulang dari Maasmechelen Village. Namun, hal tersebut tertutupi dan terbayar dengan kedatangan bus yang datang tepat waktu.
Saya juga merasa aman dan nyaman sebab penumpang tidak berdesak-desakan seperti yang sering terlihat di TransJakarta, walaupun kewaspadaan dan kehati-hatian tetap perlu dimiliki. Selain itu, saya juga melihat bahwa transportasi bus di Eropa sangat mengakomodasi orang tua dan difabel. Mereka dapat menikmati “kemerdekaan” bertransportasi yang jarang saya temui dan lihat di Indonesia.
Ah, lagi-lagi saya bermimpi apa yang saya alami tersebut dapat dinikmati di Indonesia suatu hari nanti. Tapi saya diberi kesempatan untuk menikmati moda transportasi darat di Eropa yang nyaman pun juga dimulai dari mimpi. Tidurlah untuk bisa bermimpi tetapi bangun dan terjagalah untuk mewujudkan mimpi tersebut. Pasti suatu saat akan terjadi. Hopefully.









[...] Memimpikan Moda Transportasi Darat Yang Manusiawi [...]