You are here: Home > Nev(d)erland > Hidup di (Buku) Negeri van Oranje

Hidup di (Buku) Negeri van Oranje

Negeri van Oranje

Foto bersama buku Negeri van Oranje

Selayang Pandang

Saya sempat khawatir ketika membayangkan tiba dan kemudian hidup di sebuah negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Kekhawatiran tersebut makin menjadi setelah mendapat informasi kepastian bahwa saya akan berangkat ke Belanda pada bulan April 2011. Di satu sisi saya sangat senang bisa meneruskan sekolah di negeri asal Marco van Basten itu, namun di sisi lain ketakutan juga muncul karena pasti akan banyak hal berbeda dengan situasi dan budaya di Indonesia.

Saya lantas mencoba untuk mencari informasi tentang Belanda. Saya merenung bahwa ketakutan itu muncul mungkin karena saya tidak memiliki informasi yang cukup tentang Negeri Belanda, termasuk hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan menjelang keberangkatan ke sana. Beruntung, internet sangat membantu memberikan informasi yang saya butuhkan dan mampu memberi efek tenang menjelang minggu-minggu keberangkatan.

Satu minggu menjelang keberangkatan, saya mengikuti Pre Departure Orientation (PDO) yang diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia di Menara Jamsostek, Jakarta. Dengan dipandu oleh Mbak Siska, saya bersama kawan-kawan diberi banyak informasi tentang kehidupan di Belanda. Sesi ini semakin menambah informasi tentang Belanda. Saya juga menerima satu paket yang dinominasi warna oranye, warna khas Belanda. Saya memeriksa satu per satu paket tersebut, dan alangkah terkejutnya saya karena di dalam tas tersebut berisi buku “Negeri van Oranje” yang masih tersegel.

Tentu saya sangat senang sekali mendapatkan buku tersebut. Saya pernah melihat Andy F. Noya, host acara Kick Andy, membagikan buku Negeri Van Oranje kepada penonton di studio pada salah satu acara Kick Andy. Ketika itu, ilmuwan-ilmuwan dari Indonesia dalam sebuah perkumpulan bernama Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional hadir sebagai bintang tamu. Buku Negeri van Oranje tersebut menambah koleksi buku-buku yang saya miliki, sekaligus menambah perbendaharaan informasi tentang Belanda.

Buku Negeri van Oranje ditulis oleh 4 orang mahasiswa Indonesia yang berkesempatan mengenyam pendidikan di Belanda. Mereka adalah Wahyuningrat (alumnus Utrecht University), Annisa Tyas Purwanti (alumnus Leiden University), (Rizki Pandu Permana) alumnus Wageningen University) dan Adept Widiarsa (alumnus The Hague University of Applied Sciences). Buku tersebut berlatar belakang pengalaman para penulis selama berkuliah di Belanda yang kemudian ditokohkan oleh 4 orang mahasiswa dan 1 orang mahasiswi; Daus, Geri, Wicak, Banjar dan Lintang. Dengan komposisi tersebut, bisa membayangkan bagaimana kisah mereka?

Memaknai Kehidupan

Tidak rugi membaca buku Negeri van Oranje. Alur ceritanya tidak monoton dan menarik diikuti. Cerita buku ini berlatar belakang pengalaman nyata sehingga menjadi kekuatan dari novel ini karena detail-detailnya sangat jelas. Selain mendapatkan banyak bayangan mengenai berbagai lokasi di Belanda, novel ini juga menyuguhkan berbagai sudut pandang kehidupan mahasiswa yang tengah berkuliah di negeri yang jauh dari Indonesia.

Sebagaimana cerita kehidupan yang tidak pernah terduga, alur kisah Negeri van Oranje juga berangkat dari pertemuan tak terduga kelima tokoh utama di Stasiun Amersfoort karena terjadi badai yang membuat semua perjalanan kereta terhenti beberapa jam. Dari stasiun tersebut, muncullah sebuah ikatan persahabatan yang mereka beri nama Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherlands alias AAGABAN. Dengan munculnya AAGABAN, hadir pula beragam cerita kehidupan yang diwarnai kehidupan sehari-hari Daus, Geri, Wicak, Banjar dan Lintang sebagai seorang mahasiswa dan anak muda.

Cerita kehidupan AAGABAN selama bermahasiswa sangat menginspirasi. Tidak mudah hidup sebagai seorang mahasiswa di negeri rantau. Namun sebagaimana pepatah yang sering terdengar “sekali layar terkembang pantang biduk kembali ke pantai” maka seperti kelima anggota AAGABAN, saya memiliki semangat dan berkeyakinan bahwa saya bisa. Walaupun akan mendapat banyak badai dan rintangan, dengan tekad yang kuat saya yakin bisa melaluinya.

Bisa dibayangkan bagaimana berat perjuangan menjadi mahasiswa di negeri orang. Kurang tidur untuk menyelesaikan paper dan tugas, aktivitas sehari-hari yang harus mengandalkan kayuhan kaki di atas pedal sepeda untuk pergi ke kampus hingga harus berhasil mengatur keuangan agar tidak terlantar di negeri orang. Jika dipikir-pikir, semua itu terasa berat, namun dengan tekad yang kuat, pasti akan bisa dan sukses.

Jurus lain yang dikeluarkan oleh persahabatan AAGABAN ketika bersekolah di negeri seberang adalah bersosialisasi dan beraktivitas di luar kampus. Variasi aktivitas harus dilakukan agar tidak jenuh. Novel Negeri van Oranje memberikan banyak tips-tips berbagai social activities dan events di Negeri Belanda. Oleh sebab itu, adanya perbedaan budaya dan adat di negara asing dapat dimanfaatkan sebagai ajang untuk mengerti dan memahami perbedaan budaya sekaligus sebagai tempat untuk belajar di kelas kehidupan. Pengalaman di kelas kehidupan tersebut sangat tidak ternilai harganya.

Bagaimana dengan cinta? Tema ini selalu saja hadir untuk menyegarkan dan menarik suasana. Cerita cinta sangat kental di novel Negeri van Oranje, apalagi kisah cinta tersebut terjadi di dalam kisah persahabatan kelima anggota AAGABAN. Rasa cemburu seringkali muncul sebagai bumbu penyedap manakala Lintang dekat dengan salah satu tokoh pria AAGABAN, entah Wicak, Daus, Geri dan Banjar. Terlebih ketika Lintang dan Geri berdekatan seperti layaknya pasangan yang serasi hingga pembaca mungkin tergiring bahwa mereka berdua akan bersanding di pelaminan. Penulis novel berhasil mempermainkan emosi pembaca dengan puncaknya ketika mengetahui bahwa Gery memiliki pasangan sesama laki-laki.

Hebatnya, kisah persahabatan mereka tidak rusak gara-gara kisah cinta di dalam kelompok AAGABAN meskipun sempat terjadi perang dingin di antara mereka. Peran Lintang sangat dominan dalam menjadin komunikasi di antara anggota AAGABAN baik melalui komunikasi offline dan online di Yahoo Messenger. Makna persahabatan yang sangat indah.

Akhirnya, thesis dan sidang adalah detik-detik penantian yang ditunggu-tunggu sebagai seorang mahasiswa. Dengan semangat dan kerja keras, anggota AAGABAN berhasil lulus dengan prestasi yang luar biasa di program studi masing-masing. Hebat!!! Setelah menyelesaikan thesis, petualangan AAGABAN dilanjutkan dengan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Tidak lupa beragam tips jalan-jalan diberikan oleh keempat penulis novel Negeri van Oranje ini.

Di akhir cerita, mereka semua berhasil dan sukses dengan karir masing-masing. Setelah menyelesaikan membaca kisah Lintang dkk, saya seakan sudah mengetahui jalan-jalan yang akan saya lalui ketika berkuliah di Belanda nanti. Fase-fase beradaptasi dengan lingkungan yang baru, atmosfer akademik yang berbeda dengan Indonesia serta pengalaman bertemu dan bersosialisasi dengan budaya Eropa tersaji di novel yang terbit tahun 2009 ini. Terima kasih Negeri van Oranje.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply