Duizend Cherry Niet Betalen
Siapa yang menanam akan memetik buahnya? Saya dan teman-teman tidak menanam pohon Cherry tapi hari ini kami memetik banyak buah cheery. Kata Om Donny Roumen, “Duizend cherry niet betalen.”
Buah cheery nan segar langsung masak di pohon
Setelah hari Sabtu “kijken-kijken niet kopen” di Maasmechelen Village Belgia, sehari kemudian, saya bersama Om Donny Roumen, Emil, Dian dan Zaenudin pergi ke Heukelom yang juga terletak di negara Belgia. Dengan mengendarai mobil, kami meluncur dari Maastricht pukul 13.20 waktu Belanda. Agenda utama saya dan teman-teman adalah memetik buah cheery.
Saya dan teman-teman diajak oleh Om Donny pergi memetik cheery di kebun yang dimiliki oleh Om Berg, saudara Tante Jane dan Om Donny. Tentu saya sangat senang, demikian pula dengan teman-teman, sebab kami akan menikmati buah-buah segar langsung dari pohonnya.
Setiba di lokasi, kami segera keluar dari dalam mobil. Tidak berapa lama, Om Donny memandu ke lokasi pohon cheery. Dengan menembus semak belukar, akhirnya kami sampai. Kami perlu berhati-hati dengan beberapa tanaman yang bisa menyebabkan rasa gatal di kulit apabila menyentuhnya. Sangat beruntung Om Donny sudah memperingatkan hal tersebut.
Menembus semak belukar
Beberapa pohon sudah menunggu untuk dipanjat. Buah cheery yang berwarna merah sudah tidak sabar menunggu untuk dipetik. Saya melihat banyak buah cheery yang berjatuhan di tanah dan beberapa sudah membusuk. Terlihat juga banyak buah cheery yang sudah terlebih dahulu disantap oleh burung-burung. Dalam hatiku bergumam bahwa hal tersebut menggenapi bacaan Firman TUHAN di kitab Matius 6: 26 yang berkata:
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
Segera kami beraksi. Pada mulanya kami memetik buah cheery yang bisa diambil tanpa harus memanjat pohon. Namun, akti tersebut hanya dilanjutkan oleh Dian sebab Om Donny, saya, Emil dan Zaenudin memutuskan untuk memanjat pohon.
Karena memakai sepatu dan mengenakan celana jeans, saya sedikit kesulitan bergerak. Sebelum sampai di ketinggian, saya memutuskan untuk melepas sepatu dan kaos kaki sebab menurut saya hal tersebut lebih nyaman ketika bergelantungan di pohon. Mungkin karena sudah terbiasa ketika di kampung.
Dengan berbekal sebuah kantong plastik, saya memetik buah cherry yang berwarna sangat merah. Sambil memasukkan buah-buah cheery ke dalam kantong plastik, buah-buah cheery tersebut juga langsung masuk ke dalam mulut. Sungguh sangat nikmat karena buah-buah yang langsung dipetik dari pohon tersebut.
Cheery hitam; sangat manis sehingga menjadi incaran burung
Saking banyak buah cheery yang harus dipetik, saya sangat menikmati ketika perlahan-lahan menginjak dahan demi dahan pohon cheery hingga berada di posisi yang tidak lagi rendah. Meski hawa dingin menusuk ujung-ujung kaki yang tanpa sepatu, saya masih saja melanjutkan perjuangan memetik cheery-cheery tersebut.
Tidak terasa kantong plastik sudah penuh, namun buah-buah cheery tersebut belum habis juga. Om Donny terlihat sudah turun dengan membawa buah-buah cheery dalam kantong plastik besar, sementara Emil dan Zaenudin juga masih asyik memetik buah cheery. Demikian juga dengan Dian yang masih terlihat memetik buah-buah cheery yang bisa dijangkau tanpa harus memanjat sambil sesekali memakannya.
Akhirnya, perjuangan memetik cheery dihentikan untuk sementara karena hasil buruan sudah sangat banyak. Kantong-kantong plastik yang dibawa sudah terisi penuh. Kami berencana minggu depan datang untuk memetik buah cheery lagi. Kami membawa beberapa kantong plastik yang sudah berisi cheery dengan muka gembira dan puas.
Setelah beres, kami kembali ke Maastricht, namun sebelum itu, Om Donny mengarahkan mobilnya ke rumah anaknya tidak jauh dari lokasi kebun cheery tersebut. Om Donny bermaksud memberi sebagian cheery hasil panenan. Karena tidak ada di rumah, Om Donny menggantungkan satu kantong plastik di pintu rumah.
Kami juga mampir ke rumah Om Berg, tidak hanya untuk berkenalan, namun juga untuk berterima kasih atas buah-buah cheery yang kami petik hari ini. Sampai di sana, kami disambut dengan ramah dengan dijamu bir Belgia dan makanan ringan. Sesudah itu, kami saling berbincang-bincang untuk beberapa saat.
Karena sudah capek, akhirnya kami berpamitan pulang. Sebelumnya, Zaenudin berinisitif untuk berfoto bersama sebelum berpisah. Kami memutuskan untuk mengambil lokasi foto di jalan depan rumah Om Berg yang sekaligus menjadi perbatasan antara Belanda dan Belgia. Sungguh sangat indah hari ini. Terima kasih TUHAN untuk berkat-Mu.
Foto-foto lain bisa dilihat di sini dan di sini.









Ah, jadi iriiii..
Nice experiece you have there..