You are here: Home > Opinion > Bank Ide Itu Bernama Kompasiana, Kenapa Bingung?

Bank Ide Itu Bernama Kompasiana, Kenapa Bingung?

http://4.bp.blogspot.com/_8jzHCNhzPXY/TQr7coYJYFI/AAAAAAAAAr0/MtG9q5zXx6A/s1600/kompasiana11111.jpg

Gambar dari internet

Ketika membaca tulisan berjudul “Nulis Apa Ya?” di Kompasiana yang ditulis oleh Ismail Elfash, saya teringat dengan frasa “bank ide” dalam tulisan saya yang berjudul “Ingin Lancar Menulis, Intimlah Dengan Catatan yang juga termuat di media yang sama.

Mengapa saya teringat dengan frasa tersebut? Judul tulisan “Nulis Apa Ya?” tersebut bagi saya cukup provokatif sebab setelah membaca, perhatian saya tertuju kepada isu “ide menulis” yang sering menjadi salah satu faktor seseorang produktif menulis, terlihat dari jumlah tulisan yang dihasilkan, juga dalam hal konsistensi menulis.

Ketika membahas topik tersebut tentu ada faktor yang mempengaruhi produktivitas dan konsistensi, seperti aktivitas keseharian seseorang, idealisme penulis yang ingin menghasilkan tulisan yang sempurna (menurut si penulis) atau mungkin karena ada faktor lain?

Di tulisannya, Ismail Elfash juga memberikan kekaguman pada kompasianer yang mampu memproduksi 131 tulisan dalam sebulan. Namun, lagi-lagi saya tidak akan berfokus pada jumlah tulisan yang dihasilkan, sebab jika dihitung secara matematis, nilai 131 tersebut dapat diraih jika rata-rata dalam sehari menghasilkan 4 tulisan, bisa tulisan pendek atau panjang.

Lantas saya menyimpulkan bahwa jumlah tulisan “tidak begitu diperhitungkan” (walaupun mungkin ada penghargaan untuk penulis yang teraktif menulis), namun yang lebih dipentingkan adalah konsistensi untuk terus menulis, menulis dan menulis.

Persoalan yang mungkin muncul adalah sesuai dengan judul tulisan Ismail Elfash, Nulis Apa Ya? dan saya nilai sebagai akar persoalan ketika seseorang tidak memiliki ide untuk memulai sebuah tulisan. Jika sudah demikian, bagaimana mengatasinya?

Secara umum, ada banyak jalan untuk mendapatkan ide menulis. Di microsite Telkomsel Kompasiana Blogshop saja, hampir setiap hari bermunculan tips-tips untuk mendapatkan ide dan menulis, belum lagi di sumber-sumber yang lain. Sangat banyak informasi dan pengetahuan yang bisa didapat dari sumber-sumber tersebut.

Namun, akhirnya saya mencoba menerapkan tips dan cara sederhana untuk mendapatkan ide menulis yaitu dengan hanya dua kata kunci saja; membaca Kompasiana. Ide tersebut muncul karena hampir setiap hari berbagai tulisan dengan beragam tema dan gaya menulis muncul di Kompasiana. Dengan demikian, Kompasiana tidak hanya sebagai media jurnalisme warga, tetapi juga sebagai gudang ide untuk menulis.

Mengapa demikian? Dialektika Hegel merujuk pada sebuah dialog dan diskusi dengan bernalar serta logika. Jika ada thesis maka akan muncul antithesis (yang akhirnya menjadi sebuah thesis baru) dan akan muncul antithesisnya…dan seterusnya. Dengan demikian, ketika sebuah tulisan opini dan reportase dilontarkan, pasti akan memunculkan opini dan tanggapan lain yang kemungkinan memiliki kesamaan perspektif atau bertolak belakang, apakah setuju dengan pandangan yang diberikan atau tidak .

Maka dari itu, jika sebuah tulisan di Kompasiana muncul, bacalah tulisan tersebut kemudian sampaikan pendapat dan pandangan terhadap tulisan yang dibaca, apakah setuju atau tidak setuju. Jika memiliki kesamaan atau perbedaan perspektif, susunlah menjadi sebuah tulisan yang mendukung (pro) atau tidak mendukung (kontra) dengan disertai beberapa alasan.

Saya mendapat ide menulis ini setelah membaca tulisan Ismail Elfash tersebut. Segera setelah saya mendapat ide tersebut, saya kemudian menuliskannya. Bila setelah membaca Kompasiana kemudian mendapatkan ide namun belum sempat menuliskannya, simpan dan catatlah tautan-tautan yang penting dalam sebuah catatan (Baca: Ingin Lancar Menulis, Intimlah Dengan Catatan)

Dengan cara tersebut, ide tulisan akan terus mengalir. Percayalah. Saya yakin bahwa Kompasiana adalah bank ide. Ada yang tidak setuju? Saya tunggu tulisannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

One Response to “Bank Ide Itu Bernama Kompasiana, Kenapa Bingung?”

  1. imadewira says:

    Menurut saya, kehabisan ide sebenarnya suatu hal yang tidak pernah terjadi, karena ketika kehabisan ide, “kehabisan ide” itu pun bisa dijadikan sebuah ide tulisan.

Leave a Reply