You are here: Home > Nev(d)erland > Bakar-Bakar di Malam Minggu

Bakar-Bakar di Malam Minggu

Akhirnya malam minggu yang ditunggu datang juga. Jam 4 sore saya bersama 4 teman yang lain (Wardah, Om John, Hilma dan Dian) berangkat ke rumah Tante Jane. Ada 3 orang teman yang akan menyusul ke rumah Tante Jane sebab Bang Zaenudin masih akan berskype dengan keluarganya di Lombok sedangkan Emil dan Nela sedang pergi ke gereja.

Sesampai di rumah Tante Jane, kesibukan sudah terlihat di sana. Om Rob sedang membantu Tante Jane di dapur sedangkan Om Dony tengah mempersiapkan tungku api dan arang dengan memanfaatkan hair dryer Tante Jane yang akhirnya diketahui bahwa penggunaan hair dryer tersebut tidak seizin pemiliknya.

IMG_0957

Wardah sedang bergaya sambil membakar sate

Melihat semua sibuk, kami lantas ikut bergabung dalam kesibukan dapur. Tante Jane memberi tugas membuat sate yang terdiri dari daging ayam, paprika, jamur dan udang. Wah, betapa sangat nikmatnya.

Setelah selesai mengerjakan tugas tusuk-menusuk, sate-sate tersebut diserahkan ke Om Donny untuk dibakar pada tungku api yang sudah disiapkan. Mantap sudah.

Tante Jane menganggap kami semua adalah anak-anaknya. Jadi tidak heran jika diminta untuk mengambil sendiri kotak-kotak minuman yang ada di kulkasnya. Tidak heran juga jika Tante Jane sering memberitahu banyak hal ketika memasak di dapur; bagaimana cara memotong sayuran, cara mengelap meja, mencuci tangan, menjaga kebersihan dapur dan sebagainya. Jika jarang Tante Jane tampak “keras” saat melihat sesuatu yang tidak berkenan di hatinya. Tapi kami semua senang dengan semuanya itu.

Keceriaan sore tersebut semakin bertambah karena pasukan yang ditunggu-tunggu sudah berdatangan. Setelah kedatangan Bang Zaenudin, lantas disusul dengan Emil, Nela, Christopher (anak Tante Jane dan Om Dony beserta kedua temannya. Pesta dimulai.

IMG_0958

Nikmatnya Sate

Saat semua bergiliran mengambil makan, saya dan Om John mendapat tugas untuk membakar daging yang sangat enak sehingga sangat dirindukan, namun sayang Bang Zaenudin, Wardah, Dian dan Hilma tidak diperbolehkan memakan daging tersebut (Pasti tahu daging yang dimaksud). Dengan menggunakan tungku listrik, daging tersebut dibakar dan setelah dicicip, rasanya sungguh-sungguh mantap.

Semua senang, semua kenyang. Barangkali slogan tersebut sangat tepat untuk menggambarkan suasana keramaian pada Sabtu malam di rumah Tante Jane. Berkat makanan yang terjadi sangat berlimpah, kami semua kekenyangan. Kami semua sangat riang sebab penuh dengan canda dan tawa yang terus dilontarkan. Juga nyanyian lagu-lagu Indonesia yang diiringi oleh petikan dan genjrengan gitar oleh Emil.

Intinya semua bergembira!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

2 Responses to “Bakar-Bakar di Malam Minggu”

  1. annastasia says:

    Mauuuu!

Leave a Reply