You are here: Home > (Not) Daily Stories > Terima Kasih Bapak dan Emak

Terima Kasih Bapak dan Emak

“Jika sejak dalam kandungan saja mereka sudah sangat mencintaiku, dengan cara bagaimana aku membalas cinta dan kasih Bapak dan Emakku? Sungguh tak terbatas doa dan restu Bapak dan Emak bagiku”

-Winarto-

Sesungguhnya aku merasa berat ketika berpamitan dengan keluargaku untuk studi lanjut di Negeri Belanda pada pertengahan bulan April yang lalu. Aku bisa melihat dengan sangat jelas rona kebahagiaan bercampur dengan kesedihan yang terpancar pada wajah Bapak dan Emak. Mereka tentulah sangat bangga ketika aku mendapatkan beasiswa untuk studi lanjut meskipun akhirnya harus berpisah jarak lintas negara untuk beberapa saat.

Aku sempat meneteskan air mata saat berpamitan. Aku terus kepikiran Bapak. Di usianya yang ke-70, sebetulnya aku ingin selalu berdekatan dengannya sebab penglihatannya sudah tidak normal. Mata kanannya sudah buta karena diserang glukoma, sedangkan mata kirinya menurut dokter juga mengalami penyakit yang sama tetapi masih bisa sedikit melihat. Aktivitas kesehariannya kini hanya di sekitar rumah dengan sangat bergantung pada Emak dan kakakku.

Emakku sangat hebat. Sadar bahwa Bapak penghasilan sebagai seorang tukang sampah sangat minim,  Emakku turun tangan membantu perekonomian keluarga dengan berjualan hasil kebun seperti pisang atau sayur-sayuran yang dijajakan di sekitar perumahan di dekat rumahku. Aku sering ikut berjualan berkeliling. Hingga ketika aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, Emak menemukan ide bisnis yang tepat yaitu berjualan pecel dan bakmi di tahun 1990 hingga sekarang.

Aku sangat beruntung mendapatkan orang tua seperti Bapak dan Emakku. Meskipun berlatar belakang pendidikan tidak tinggi, Bapak dan Emak menyadari bahwa pendidikan untuk anak-anaknya sangat penting. Dengan semangat tersebut, Bapak dan Emak terus berusaha agar aku dan kakakku bisa bersekolah hingga jenjang perguruan tinggi. Bapak dan Emak terus mendorongku untuk terus belajar dan tidak perlu memikirkan apa yang orang tua pikirkan untuk membiayai sekolah. Sangat luar biasa sekali sebab semua kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Walaupun dengan segala keterbatasan, aku sangat bersyukur.

Oleh karena Bapak dan Emak sudah berjuang dengan bermandikan keringat, aku memiliki tanggung jawab dan amanah yang tidak ringan. Aku harus berhasil dan membuat kedua orang tuaku tersenyum dan berbahagia melalui ukiran prestasi-prestasi di sekolah. Aku berhasil membuktikannya dan membuat membuat orang tuaku tersenyum.

Walaupun demikian, aku merasa bahwa prestasi yang kuraih belum cukup untuk membalas cinta dan kasih Bapak dan Emak. Jika sejak dalam kandungan saja mereka sudah sangat mencintaiku, dengan cara bagaimana aku membalas cinta dan kasih Bapak dan Emakku? Tidak hanya kebutuhan jasmani saya yang tercukupi, Bapak dan Emak juga tak henti-hentinya berdoa buat masa depanku. Sungguh tak terbatas doa dan restu Bapak dan Emak bagiku

Bapak dan Emak hanya mampu menyekolahkanku hingga jenjang Strata 1. Mereka sudah “angkat tangan” untuk membiayai studi ke jenjang berikutnya. Karena aku masih ingin sekolah lanjut, aku hanya meminta restu kepada Bapak dan Emak bahwa aku bisa sekolah lagi melalui jalur beasiswa. Aku, Bapak dan Emak sangat yakin bahwa TUHAN akan memberikan jalan.

Keyakinan itu terbukti. Aku diberi kesempatan untuk studi lanjut. Bagiku, semua itu terjadi tidak lepas dari doa dan restu Bapak dan Emak. Melalui beasiswa itu, aku dipercaya untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar, tidak hanya membuat bangga Bapak dan Emak, namun juga amanah masyarakat lingkungan sekitarku.

Kini, aku dan orang tuaku dipisahkan oleh jarak lintas negara dan perbedaan waktu. Aku sangat percaya bahwa Bapak dan Emak akan selalu sehat-sehat saja. Setiap kali merenung dan berdiam diri, aku terbawa bawa suasana kehangatan kasih sayang mereka. Bapak dan Emak adalah panutan dalam hidupku bila suatu saat aku akan berkeluarga.

Aku masih ingin terus membahagiakan Bapak dan Emak. Mereka telah bekerja keras tak kenal lelah untuk membesarkan dan mendidikku. Aku terkadang bingung dengan apakah aku bisa membalas cinta dan kasih orang tuaku. Walaupun aku tahu bahwa Bapak dan Emak sudah cukup bahagia dengan keadaan saat ini, tapi aku masih belum puas. Sepertinya tidak akan bisa aku membalas jasa-jasa kedua orang tuaku. Benarkah?

Aku mencoba untuk terus menjadi yang terbaik untuk kedua orang tuaku. Dengan amanah yang kuemban saat ini, aku menyadari bahwa aku harus berhasil menjalankan amanah tersebut supaya membuat kedua orang tuaku bangga dan berguna untuk lingkungan.

Bapak dan Emak telah mengajarkan banyak hal yang sangat berguna untuk masa depan dan keluargaku nanti. Mereka adalah role model bagiku. Terima kasih Bapak, terima kasih Emak untuk kasih sayang dan cinta selama ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

2 Responses to “Terima Kasih Bapak dan Emak”

  1. alfons says:

    Sungguh sebuah tulisan yang menyejukkan jiwa. Terima kasih atas tulisannya bro, salam hangat dari Maastricht

  2. Chacha says:

    wah suka bacanya,

Leave a Reply