You are here: Home > Nev(d)erland > Noord Oost Zuid West Thuis Best

Noord Oost Zuid West Thuis Best

Noord Oost Zuid West Thuis Best”, demikian kata Annemarie di kala aku dan teman-teman sedang belajar Bahasa Inggris di Gedung School of Business and Economic, Tongersestraat 53 Maastricht. Salah seorang tutor di Maastricht University tersebut secara tiba-tiba melontarkan sebuah pepatah dalam Bahasa Belanda dan menuliskannya whiteboard. Sebelum Annemarie menjelaskan pepatah tersebut, aku mencoba untuk mendalami maknanya sebab kata per kata memiliki kemiripan dengan Bahasa Inggris.

Jika diterjemahkan bebas ke Bahasa Inggris, pepatah tersebut berarti “North East South West House is the best” untuk menggambarkan bahwa rumah sendiri adalah tempat yang terbaik. Setelah mengetahui makna pepatah tersebut, aku tiba-tiba jadi kangen dengan rumahku yang terletak di sebuah dusun di Kabupaten Karanganyar, Dusun Benowo.

Rumahku sangat sederhana, namun bagiku sangat bermakna. Rumah yang dibangun sejak tahun 1981 tersebut menjadi saksi kelahiranku hingga aku beranjak dewasa. Di sanalah aku belajar, bermain dan bergaul baik dengan keluarga dan tetangga. Walaupun kini tembok-tembok dan lantainya sudah retak karena tidak menggunakan besi, aku terasa berat ketika harus meninggalkannya. Di rumah itulah aku mendapatkan kasih sayang dari Bapak dan Emak. Di sana pula aku selalu menikmati makanan masakan Emak yang “mak nyus” dan tiada bandingannya.

Melihat kondisinya saat ini, aku berkata ke Bapak dan Emak bahwa aku akan membangunnya. Aku teringat suatu waktu Bapak pernah berkata bahwa rumah tersebut harus dibongkar total kalau hendak merenovasinya. Pondasinya harus kuat supaya tidak retak-retak seperti saat ini. Selain itu, apabila hujan, rumah tersebut sering banjir karena lokasinya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan jalan.

Bila renovasi rumah itu betul-betul dilakukan, maka aku akan sangat merasa kehilangan bentuk asli rumah tersebut. Pasti aku akan kehilangan setiap sudut-sudut rumah yang selalu menemaniku. Aku akan merindukan pawon (tungku untuk memasak dengan menggunakan kayu bakar) yang sudah ada di dapur berdinding bambu sejak dari rumah itu dibangun. Di depan pawon itu, aku tiap pagi mencari kehangatan sambil membantu Emak memasak pagi.

Aku sangat rindu dengan suasana rumah. Berada di tengah-tengah keluarga adalah saat-saat yang sangat membahagiakan. Aku merasa damai ketika mendengar suara Bapak dan Emak. Di sana aku merasa sangat aman.

Aku mengamini lagu berjudul Rumah Kita yang dipopularkan oleh God Bless. Aku sangat terkesan dengan refrain lagi tersebut yang berbunyi:

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
Semuanya ada di sini
Rumah kita

Berulang kali aku mendengarkan lagu tersebut di Youtube. Lagu tersebut menggenapi rasa rinduku pada rumahku setelah Annemarie mengenalkan pepatah Belanda yang memiliki kesamaan makna dengan lagu Rumah Kita.

Di kala mendengarkan lagu Rumah Kita tersebut, aku juga teringat dengan sebuah film “Keluarga Cemara” yang memiliki syair lagunya membuatku termenung beberapa saat. Di awal lagu tersebut berbunyi:

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga

Aku merasakan bahwa rumah dan kehangatan keluarga adalah anugerah TUHAN yang tidak ternilai harganya. Aku mencintai keluargaku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply