You are here: Home > Nev(d)erland > Merah Putih Biru Coret

Merah Putih Biru Coret

http://3.bp.blogspot.com/-mVOi0aWdIQM/TamXi7T1j0I/AAAAAAAAABI/iWk4Rvx7oxo/s1600/merah-putih-di-puncak.jpg

Foto dari Google

Indonesia Dalam Kata

Kevin, seorang tutor di Maastricht University, sangat terkesan ketika melihat video Sundari Sukoco di Youtube yang kutunjukkan. Saat itu aku menunjukkan lagu Bengawan Solo dan bercerita tentang Solo dan Indonesia. Pada kesempatan lain, Nasir, seorang teman dari India, mencoba untuk menirukan beberapa kata dan frase yang popular di Indonesia seperti selamat pagi, selamat siang, mantap dan sebagainya. Dari beberapa kata tersebut, “mantap”begitu sangat melekat dalam dirinya sehingga setiap kali bertemu dia selaku mengucapkan mantap. Sangat senang sekali ketika mendengar seseorang yang belajar mengucapkan kata dalam Bahasa Indonesia seperti yang pernah terlihat saat Obama mengucapkan “Pulang kampung ni” dan disambut dengan tepuk tangan para hadirin di Universitas Indonesia Depok.

Bercerita tentang Indonesia menjadi sebuah kewajiban ketika berada di negara lain. Mau tidak mau, berbagi cerita tentang Indonesia harus dilakukan. Kisah di atas hanyalah sekelumit cerita yang kini harus kuhadapi selama di Belanda, sebuah negeri yang memiliki ikatan batin dengan Indonesia terutama di masa kolonialisme. Meskipun demikian, kekayaan dan keluasan wilayah Indonesia seringkali menjadi kendala sebab kebingungan pada aspek apa saja yang harus diceritakan kepada orang yang belum mengenal dan mengerti tentang Indonesia. Apakah aku harus bercerita tentang Papua atau pulau lain yang sama sekali belum pernah kukunjungi?

Aku akhirnya menemukan jawaban bahwa hal tersebut bukan sebuah kendala sebab aku masih bercerita banyak tentang budaya dan adat Jawa yang selama ini kupelajari atau pengetahuan-pengetahuan umum yang seputar Indonesia. Malahan, di tanah Belanda inilah aku jadi rajin mengunjungi situs-situs berita dan video yang menampilkan budaya-budaya Indonesia dari berbagai daerah. Akan sangat memalukan jika ketika ditanya tentang Indonesia, aku terlihat gelagapan seolah-olah aku tidak memiliki rasa nasionalisme terhadap bangsa sendiri.

Aku sempat terkejut ketika diajak oleh Tante Jane ke tempat latihan pencak silat di sebuah kawasan di Kota Maastricht. Sudah banyak orang yang tahu bahwa Indonesia terkenal dengan pencak silatnya dan orang akan dengan mudah menjustifikasi bahwa orang Indonesia akan pandai bermain pencak silat. Kenyataannya tidak. Aku bahkan sama sekali belum pernah sekalipun mengikuti perguruan pencak silat. Aku hanya senang melihat ketika ditayangan televisi yang menayangkan olahraga beladiri tersebut.

Sedikit cerita tersebut mengantarkanku pada sebuah pernyataan bahwa di Belanda inilah aku malahan banyak belajar tentang Indonesia, sebuah negeri yang sebulan lalu aku tinggalkan. Aku jadi sering menjelajah Indonesia walaupun melalui media internet. Aku tiba-tiba menyadari bahwa semangat nasionalisme terhadap bangsa Indonesia semakin bertumbuh ketika berada di Belanda.

Nasionalisme Merah Putih

Baru beberapa hari setelah sampai di Belanda, aku mengalami keterkejutan budaya (culture shock) ketika melihat bendera merah, putih dan biru yang berkibar pada saat Koninginnedag (Queen Day) 30 April yang lalu. Aku merasa masih seperti di Indonesia dan timbul keinginan supaya peristiwa hotel Yamato/Hotel Orange terulang. Tapi aku tiba-tiba tersadar bahwa saat ini aku berada di tanah yang memiliki warna bendera merah putih biru tersebut. Rasa cinta tanah air menggebu-gebu di negeri orang.

Aku memaknai beberapa kisah di atas sebagai sebuah kebanggaan terhadap Indonesia. Cerita bersama Kevin, Nasir dan peristiwa pada saat Koninginnedag mengiringku pada apa yang disebut dengan nasionalisme. Aku harus menunjukkan kepada Kevin bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang hebat. Aku merasa bangga ketika Nasir belajar dan mampu mengucapkan beberapa kata dalam Bahasa Indonesia. Aku juga begitu merindukan merah putih yang berkibar di angkasa.

Melalui sebuah kontemplasi, aku sampai pada sebuah pertanyaan apakah ketika aku berada di Indonesia aku tidak bangga dengan Indonesia atau malah karena sering bertemu dengan sesama orang Indonesia, rasa kebanggaan terhadap Indonesia memudar sebab banyak berbicara dan mendengarkan berita-berita miring tentang Indonesia. Tetapi, ketika bertemu dengan orang asing, rasa kebanggaan terhadap Indonesia memuncak seperti yang kualami pada kisah-kisah di atas.

Kevin dan Nasir mungkin dua dari sekian banyak orang asing yang akan bertemu denganku dan akan saling berbagi untuk bercerita tentang Indonesia. Siapapun akan bangga memperkenalkan bangsanya sendiri ke orang yang masih belum tahu tentang bangsa tersebut. Percaya atau tidak, orang akan cenderung berkata “wrong or right is my country” tentang negaranya. Walaupun di dalam negeri beredar isu miring, namun ketika bercerita, sisi-sisi positif yang akan ditonjolkan. Atau apabila ada seseorang yang berkata jelek terhadap negaranya, maka dia akan membelanya.

Barangkali itu semua naluri seseorang ketika bertemu dengan seseorang yang belum mengenal sebuah negara. Aku dan beberapa teman dari Indonesia begitu semanagt menceritakan Indonesia kepada beberapa orang di Belanda. Kami yang berasal dari beberapa wilayah di Indonesia saling melengkapi saat mempromosikan Indonesia. Aku jadi teringat dengan lagu Kebyar-Kebyar yang dinyanyikan oleh Gombloh. Di tengah-tengah lagu tersebut, Gombloh membacakan sebuah puisi singkat:

Biarpun bumi berguncang

Kau tetap Indonesiaku

Andaikan matahari terbit dari barat

Kau pun Indonesiaku

Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan daku darimu

Ceritakan Indonesia

Keragaman suku bangsa dan budaya adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Selain dilestarikan, budaya-budaya tersebut harus juga diceritakan kepada orang lain. Jangan sampai, budaya-budaya tersebut tenggelam oleh datangnya budaya-budaya baru.

Ketika aku persiapan berangkat ke Belanda, salah seorang teman titip CD gendhing-gendhing Jawa yang akan diberikan sebagai sebuah souvenir. Aku juga membawa beberapa barang-barang khas Indonesia, Jawa khususnya, seperti pembatas buku dan gantungan kunci wayang, batik serta blangkon.

Konsekuensi dari membawa barang-barang tersebut adalah aku harus belajar yang lebih mendalam untuk dapat diceritakan kepada orang-orang. Akan sangat lucu jika ada orang yang bertanya tentang Wayang Kulit, atau bertanya tentang Arjuna, tetapi aku tidak bisa menjelaskannya. Aku mulai mencari informasi-informasi tentang budaya-budaya Indonesia dan belajar tentangnya. Hal tersebut akan sangat bermanfaat sekali terutama di kalangan sesama pelajar international. Aku dan teman-teman selain belajar juga membawa misi kebudayaan.

Kekayaan budaya Indonesia harus terus dijaga. Sangat beruntung sekali karena saat ini sudah diperlengkapi dengan berbagai teknologi yang membantu untuk mendokumentasikan berbagai budaya dan kesenian Indonesia lantas membagikannya melalui berbagai jalur sosial media seperti Facebook, Twitter atau Youtube. Selain bahasa tutur, bercerita tentang Indonesia juga bisa dilakukan melalui media-media tersebut sekaligus sebagai sebuah manajemen pengetahuan (knowledge management).

Dengan media-media tersebut, kekayaan budaya tersebut bisa disimpan serta bisa diakses oleh siapapun dan dimanapun sehingga dapat memfasilitasi seseorang yang ingin bercerita dan belajar tentang Indonesia. Oleh sebab itu, sangat perlu diperkaya konten-konten ke-Indonesia-an seperti lagu, keunikan lokal, bahasa, tarian dan sebagainya. Untuk para blogger, semestinya kekayaan Indonesia bisa menjadi materi yang diolah untuk ditulis dalam blog atau di media jurnalisme warga seperti Kompasiana.

Akhirnya, mengutip lirik terakhir lagu Bendera yang dinyanyikan oleh Cokelat “Merah putih teruslah kau berkibar ku kan selalu menjagamu” dimanapun aku berada.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply