You are here: Home > Opinion > Menyelami Samudra Ide

Menyelami Samudra Ide

http://www.esqtechsolutions.com/blog/wp-content/uploads/2011/01/thinking-powerimg.jpgCarilah maka kamu akan mendapat

Pengantar

Salah satu kendala terbesar yang dihadapi seseorang ketika menulis adalah bagaimana cara  mendapatkan ide dan mengorganisasikannya. Seseorang yang hendak menulis, seringkali diperhadapkan pada sebuah “jalan buntu” karena ide yang tak kunjung datang atau karena kebingungan mengorganisirnya.

Sebelum melangkah pada tahap berikutnya, perlu dipahami terlebih dahulu inti dari menulis. Ketika seseorang hendak menulis, terlebih dahulu harus ditentukan tujuan dari kegiatan tersebut; apakah writing to reflect, writing to inform, writing to persuade atau writing to evaluate (Kirszer and Mandell 2011). Poin yang tidak kalah penting adalah menentukan target pembaca sehingga tulisan yang dihasilkan betul-betul mengenai pada sasaran yang dituju.

Setelah menentukan tujuan dan sasaran pembaca, langkah berikutnya adalah bagaimana mengembangkan ide tulisan dan mengorganisirnya. Pada poin inilah kutipan “carilah maka kamu akan mendapat” relevan untuk menggambarkan bahwa pengembangan ide tulisan membutuhkan proses  dan usaha. Pada banyak kasus, ide sebuah tulisan bisa muncul tanpa diundang dan bahkan bisa pergi tanpa diantar. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, diharapkan dapat menjadi sebuah percikan api yang menyulut pemikiran pembaca sehingga kegiatan menulis menjadi sebuah hal yang menarik.

Bercumbu Dengan Ide

Menulis adalah sebuah kegiatan untuk mengorganisasikan ide dan gagasan untuk disusun dalam sebuah bentuk karangan/tulisan. Barangkali menjadi sebuah masalah yang umum ketika seseorang hendak menulis harus berhadapan terlebih dahulu dengan topik yang hendak dibahas, memecah topik tersebut menjadi beberapa gagasan serta mendukungnya dengan  informasi/penjelasan yang lebih detail.

Untuk menjembatani persoalan tersebut, diperlukan penyelaman dan pencarian ide. Ibarat sebuah samudra, ide harus dicari, ditelusuri, dipilih,  dipilah dan diorganisir sehingga menjadi sebuah kesatuan yang utuh (unity). Maka itu, proses penyelaman ide tersebut sangat dibutuhkan untuk mengumpulkan gagasan-gagasan dan pada akhirnya menghasilkan tulisan yang memenuhi syarat 5 C; Convincing, Concise, Consistent, Clear dan Clean.

Ide dapat dijumpai dan ditemui melalui beberapa cara. Sebetulnya, ide bisa datang dan berasal dari berbagai sumber. Salah satu aktivitas yang sangat menunjang dalam penyelaman ide adalah membaca. Melalui membaca, seseorang akan menangkap gagasan dan pemikiran orang lain untuk kemudian disintesis. Selain itu, seseorang juga akan mendapatkan berbagai sudut pandang pemikiran terhadap sebuah topik atau persoalan. Sudah hampir bisa dipastikan, seseorang yang kesukaannya membaca, akan dilingkupi dengan beragam informasi dan gagasan yang mendukung tulisannya.

Ide tulisan semakin melimpah dengan munculnya beragam media massa cetak, elektronik dan online yang terus membanjiri masyarakat Indonesia. Jejaring sosial, microblogging, blog juga turut memberikan kontribusi sebagai sumber inspirasi sebuah tulisan. Konten, peristiwa dan diskusi yang menjadi topik perbincangan di media-media tersebut, dapat merangsang sebuah pemikiran hingga muncul sebuah ide/gagasan.

Tidak jarang, sebuah inspirasi muncul ketika membaca sebuah tulisan orang lain atau bahkan komentar orang lain hingga menjadi sebuah tulisan yang utuh dan komprehensif. Tidak sedikit pula yang terinspirasi oleh lirik sebuah lagu. Oleh sebab itu, seseorang harus terus bercengkrama dan “bercumbu rayu” dengan ide tulisan sehingga keduanya menjadi lebih akrab dan menyatu.

Kelimpahan sumber informasi dan sumber gagasan akan menjadi sebuah bumerang jika tidak diorganisir dengan baik. Maka dari itu, seseorang perlu membuat sebuah kerangka tulisan yang menampung gagasan-gagasan yang akan dituangkan. Kerangka tersebut akan sangat membantu menyusun tulisan yang sesuai dengan prinsip 5c di atas.

Tidak jarang pula seseorang yang mempunyai catatan kecil yang berguna untuk menulis ide yang datang secara tiba-tiba dan kemungkinan akan pergi secara dadakan pula. Hal-hal kecil seperti inilah yang harus diantisipasi agar ide yang muncul tersebut tidak hilang sehingga bisa dimasukkan ke dalam sebuah tulisan. Catatan kecil itu juga dipakai untuk merangkum setiap informasi penting yang diperoleh selama membaca buku atau memperoleh sumber informasi yang lain.

Jalan Buntu?

Jika sudah dipaparkan bahwa beragam cara dapat dilakukan untuk mendapatkan sumber ide menulis, namun seringkali seseorang menemui jalan buntu ketika hendak menulis. Menulis apapun bentuk dan tujuannya sangat membutuhkan “feel menulis” yang seringkali hilang akibat jenuh.Yang harus dilakukan agar keluar dari jalan buntu tersebut adalah berhenti menulis sejenak dan lakukan hal lain untuk merefreshing otak dan pikiran.

Mengumpulkan ide dan gagasan kemudian menuliskannya sebagai sebuah karangan bukanlah pekerjaan yang mudah, meskipun banyak pula yang berpendapat bahwa menulis adalah sesuatu hal yang mudah. Apapun pendapat seseorang tentang mudah/sulit dalam menulis, menulis adalah aktivitas yang asyik dan menantang. Kadang bisa menulis dengan lancar karena ide mengalir seperti Sungai Bengawan Solo, namun juga pasti suatu saat akan menghadapi situasi jalan buntu, yaitu saat kehilangan gagasan untuk ditulis.

Namun, samudra ide begitu sangat luas dan kaya akan sumber-sumber yang harus terus diselami. Patut ditanamkan pada pikiran bahwa tidak mungkin ada jalan buntu, yang ada hanyalah belum bertemu dengan jalan keluar. Jadi, jika di awal tulisan ini tertulis “carilah maka kamu akan mendapat” pada bagian akhir tulisan ini juga menekankan pada hal yang sama yaitu jika terus mencari dan berusaha, pasti akan ada hasil yang diperoleh. Selamat menyelami lautan ide dan terus menulis.

Bacaan:

Kirszer Laurie G and Stephen R. Mandell. 2011. The Pocket Wadsworth Handbook fifth edition. Wardworth CENGAGE Learning.

http://www.vertex42.com/resumes/pdfs/ResumeTips.pdf

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Leave a Reply