Ibu Dengan Banyak Anak Lulusan Universitas di Belanda
Seorang perempuan dengan bawaan koper yang besar sudah duduk di kamar Wardah. Di sampingnya ada Tante Jane yang kemudian bercerita bahwa dia baru saja menemukan “anak baru” di jalan. Anak baru itu kemudian diketahui bernama Mbak Unie Nuzul, seorang dosen di Universitas Diponegoro yang akan tinggal selama beberapa minggu di Kota Maastricht untuk mengikuti program Distance Learning di Master of Health Profession Education di Maastricht University (MHPE).
Unie Nuzul sangat beruntung bisa bertemu Tante Jane. Di tengah kebingungan mencari alamat guest house dan barang bawaan yang sangat banyak, dia bertemu dengan Tante Jane yang sangat baik hati, apalagi pada mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang sedang berkuliah di Negeri Belanda.
Walaupun tinggal di Kota Maastricht, Tante Jane sangat dekat dengan banyak mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang kuliah di beberapa kota di Belanda, seperti Den Haag, Wageningen dan Groningen. Selain itu, mereka yang sudah lulus kuliah dan kembali ke Indonesia, sampai saat ini masih sering berkontak dengan Tante Jane. Mereka sering mengatakan kangen pada sosok Tante Jane yang selalu ceria dan suka bercerita.
Tante Jane memang seperti seorang Ibu yang selalu memberi perhatian kepada anaknya. Bila sudah duduk bersama, Tante Jane selalu bercerita tentang pengalamannya bertemu dan bergaul dengan “anak-anaknya” yang tengah dan tamat berkuliah di Belanda. Di kala bercerita, Tante Jane mengingat dengan sangat baik nama-nama dan cerita-cerita seru yang dialami. Maka tidak heran jika banyak orang yang terus kangen pada Tante Jane.
Untuk mahasiswa yang tengah kuliah di Maastricht, Tante Jane pasti selalu mengundang makan bersama masakan Indonesia. Walaupun telah lama bermukim di Belanda, masakan ala Indonesia yang dimasak oleh Tante Jane sangat enak. Tentu hal tersebut mengobati kerindukan mahasiswa-mahasiswi Indonesia akan masakan Indonesia.
Tante Jane memiliki buku kumpulan biografi anak-anaknya yang mengenyam pendidikan di Belanda. Buku tersebut dipakai untuk tetap mempererat dan menjalin komunikasi antara Tante Jane dengan anak-anaknya itu.
Dari tahun ke tahun, dari angkatan ke angkatan, Tante Jane tak henti-hentinya ringan tangan membantu. Seperti ketika ajang kegiatan Maastricht Cup 2011 yang diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kota Maastricht bulan Mei 2011 yang lalu. Tante Jane dengan penuh semangat membantu dan menjadi salah satu kunci keberhasilan penyelenggaraan lomba bulu tangkis untuk pelajar dan masyarakat Indonesia di Eropa tersebut.
Tante Jane sangat luar biasa dan tentu juga suaminya, Om Donny. Keluarga tersebut tidak pernah tidak membagikan cinta dan kasih sayang kepada mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Belanda. Keluarga tersebut juga menjadi tempat kursus gratis Bahasa Belanda. Apabila bertemu, pasti Om Donny dan Tante Jane mengajarkan beberapa kata Bahasa Belanda serta berbagi informasi tentang kehidupan dan budaya di Belanda.
Tante Jane dan Om Donny memang hebat. Dank je wel Tante Jane dan Om Donny.









wah, sy anak baru tinggal di maastricht , juga bloom beruntung ketemu pelajar indonesia di maastricht….semoga sy bisa ketemu tante jane juga suatu hari nanti….