Hikayat Alu, Lumpang dan Muntu
Sambal Oelek: Sebuah Peluang Bisnis
Wardah dan beberapa temannya tampak cemas dan kebingungan. Ketika sampai di Belanda, mereka mengetahui bahwa di sana sulit menemukan muntu. Muntu adalah batu atau kayu yg khusus digunakan untuk melumatkan bumbu (sbg pasangan cobek); batu atau kayu pelumat bumbu dsb (KBBI Offline). Oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, muntu dan cobek adalah sepasang alat dapur yang wajib tersedia di dapur untuk melumatkan bumbu-bumbu dapur atau membuat sambal.
Benda dari “zaman batu” tersebut pasti sangat dirindukan oleh mereka yang sudah terbiasa masak menggunakan muntu dan cobek. Mereka akan merasakan ada sesuatu hal yang hilang jika bumbu masakan atau sambal tidak digilas oleh muntu. Bagi orang yang suka makan sambal, muntu adalah perkakas dapur penting yang harus dimiliki untuk menghasilkan rasa sambal yang sangat luar biasa. Muntu dipercaya memiliki andil dalam menghasilkan rasa masakan yang sedap.
Apa yang bisa terjadi, contoh kasus yang terjadi pada Wardah dan kawan-kawannya, jika sudah kadung nggathok (terlanjur ketagihan) makan sambal dan nguleg bumbu dengan cobek dan muntu? Jika masuk pada lingkungan yang baru, salah satunya ketiadaan muntu dan cobek, tentu akan membuat seseorang mengalami apa yang disebut dengan culture shock terutama keterkejutan pada makanan baru. Oleh Cambridge Advanced Learner’s Dictionary third edition, culture shock adalah a feeling of confusion felt by someone visiting a country or place that they do not know. Mereka akan sangat merindukan muntu dan cobek yang sangat mudah tersedia di Indonesia.
Muntu pantat botol
Memang sudah banyak alat-alat modern yang dapat dipakai sebagai barang substitusi cobek, namun banyak orang yang sudah mencoba mengatakan bahwa hasil masakan tidak seenak dan sesedap makanan yang bumbu dan sambelnya dihancurkan dengan muntu. Muntu dan cobek memang membawa daya magis yang kuat.
Lantas, apa yang terjadi? Sebagai bentuk melepas rasa rindu pada cobek dan muntu di Indonesia, beragam cara dilakukan untuk tetap memanjakan lidah. Pelampiasannya adalah pada bumbu-bumbu instan. Wardah dan teman-temannya juga membeli Sambal Oelek di Toko Oriental meskipun secara rasa masih kalah jauh berbeda apabila diuleg langsung dengan muntu Cara lainnya, seperti yang dilakukan Zaenudin atas prakarsa seorang teman untuk menggantikan peran muntu, digunakanlah pantat botol. Sungguh aneh tapi nyata.

Lumpang dan alu. Gambar dari Google
Peralatan lain yang fungsinya mirip dengan muntu dan cobek adalah lumpang dan alu, atau sering pula disebut dengan lesung. Lumpang bisa terbuat dari bongkahan kayu atau batu, sedangkan alu biasanya terbuat dari kayu (alat penumbuk). Biasanya lumpang dan alu dipakai untuk menumbuk padi, beras, kacang atau kedelai. Para petani, sebelum berkembang mesin penggilingan modern, lesung dipakai untuk menumbuk padi. Karena itulah, terdapat tembang Jawa yang berjudul Lesung Jumlenggung yang menggambarkan kecerian para petani menumbuk padi.
Baik muntu, lumpang dan alu bagi beberapa orang adalah kehidupan. Ibu Mujiyem, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Dusun Benowo Palur, menggunakan lumpang dan alu untuk membuat sambal pecel. Sudah sejak tahun 1990, dia membantu suaminya untuk menafkahi keluarga hingga menyekolahkan kedua orang anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi dengan berjualan pecel. Hampir tiap hari, terdengar bunyi alu yang bertumbukan dengan lumpang batu manakala membuat bumbu pecel. Lumpang dan alu memiliki nilai kehidupan untuk keluarganya.
Demikian juga kisah Ibu Atin, penjual lotek di depan Kampus Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Batu muntu yang tiap hari melumat bumbu-bumbu lotek begitu sangat memiliki arti dalam kehidupannya sebab dari sanalah nafkah keluarga bersumber. Berkat muntu di tangannya, Bu Atin juga mampu menyekolahkan keluarganya di jenjang perguruan tinggi.
Sekali lagi, baik alu, lumpang dan muntu menunjukkan daya magisnya. Perkakas tersebut mampu memberikan warna lain dalam masakan dan juga mampu memberikan kehidupan bagi beberapa anak manusia seperti yang terlihat pada kehidupan Ibu Mujiyem dan Ibu Atin. Memang sangat beralasan jika Wardah dan kawan-kawannya atau para pecinta perkakas alu, lumpang dan muntu akan selalu merindukan kehadiran mereka.








