Bersepeda di Belanda
Awal Cerita
Wardah mengendarai sepeda mininya di jalur sepeda
Ini adalah kisah yang kualami bersama Emil, Wardah dan Nela bersamaan dengan penyelenggaraan ajang kompetisi badminton Maastricht Miriam Habibie Cup ke-8 di Sporthall Geusselt, Olympiaweg, Maastricht. Bersama tujuh teman-teman IFP yang mengikuti Pre Academic Training di Maastricht, aku turut membantu panitia yang dikoordinir oleh Ketua PPI Maastricht, Meneer Unang Mulkhan. Bertepatan dengan hari pertama kegiatan tersebut, aku dan kawan-kawan diberitahu bahwa staf KBRI Den Haag akan hadir sehingga kami bisa melakukan kewajiban warga negara Indonesia begitu tiba di negara lain, yaitu lapor diri ke KBRI.
Sehari sebelum hari pelaksanaan, kami diberitahu bahwa syarat untuk lapor diri ke KBRI adalah fotcopy passport, foto ukuran 3×4 dan mengisi formulir yang bisa diunduh di website KBRI Belanda. Atas bantuan rekan-rekan PPI Maastricht, kami bisa mendapatkan formulir tersebut dan mencetaknya. Kami sudah mempersiapkan syarat-syarat tersebut dan dibawa pada hari Sabtu.
Ketika bertemu dengan staf KBRI, kami diberitahu bahwa kami juga harus membawa passport asli untuk ditandai sebagai bukti sudah lapor diri. Sayangnya, tidak ada satupun yang bawa passport asli sehingga harus kembali ke Brouwersweg 100 untuk mengambil passport. Supaya lebih cepat, hanya 4 orang saja yang akan ke guesthouse dengan meminjam 2 sepeda milik Unang dan Arina. Aku memboncengkan Wardah dan Emil memboncengkan Nela.
Deg-Deg Ser
Perjalanan naik sepeda dari Olympiaweg ke Brouwersweg berjalan cukup lama, maklum ini adalah pengalaman perjalanan pertama naik sepeda di Belanda. Semenjak tiba di Belanda, aku hanya melihat orang-orang di Belanda yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi sebab aku belum memiliki sepeda. Saat melihat orang-orang naik sepeda, ada sesuatu hal yang kukhawatirkan bila suatu saat nanti aku juga naik sepeda, yaitu belum familiar dengan jalur khusus sepeda dan masih sering menggunakan sisi kiri yang bisa berakibat terkena tilang polisi atau terjadi kecelakaan.
Selain bertanggung jawab membawa “beban yang berat”, perasaan cemas itu sepertinya nyata menghinggapi saat aku dan Emil mengayuh sepeda. Kami belum hafal dengan jalur-jalur sepeda. Kami harus sering turun dan menuntun sepeda ketika memasuki wilayah yang menurut pengertian kami verboden untuk naik sepeda. Kami berargumen bahwa naik sepeda memang dilarang, tapi menuntun sepeda tidak mungkin dilarang sebab kami sering melihat orang-orang menuntun sepeda bahkan mengangkat sepeda ketika melewati tangga. Akhirnya, begitu sampai di Maastricht Station, aku mengalami apa yang selama ini kulihat. Aku mengangkat sepeda ketika melewati anak tangga. Nikmati saja meneer!
Saat melewati beberapa ruas jalan di Kota Maastricht, kami juga sering tidak yakin dengan jalan yang dilalui. Namun begitu melihat ada orang yang melewati jalan tersebut dengan bersepeda, perjalanan dilanjutkan kembali. Rasa lelah menyerang kedua kaki sebab siang itu pengalaman pertama bersepeda di Belanda dengan jarak tempuh yang cukup jauh ditambah berboncengan pula. Aku dan Wardah harus berhenti beberapa saat untuk memulihkan tenaga dan minum air putih sebelum melanjutkan perjalanan ke guesthouse Maastricht University.
Asyik Bersepeda
Setelah urusan pengambilan passport selesai, kami harus segera balik ke Olympiaweg. Kali ini sepertinya akan lebih asyik. Masing-masing kami akan naik sepeda. Wardah dan Emil akan naik sepeda yang mereka miliki. Namun, belum sampai keluar dari pintu gerbang, aku melihat ban sepeda belakang yang dinaiki Nela kempis. Kami harus berhenti untuk mengecek. Semoga hanya kurang angin saja. Beruntung di kantong sepeda Unang terdapat pompa sehingga Emil segera memompa. Setelah ban mengeras, perjalanan kami lanjutkan.
Menyusuri jalur khusus sepeda di Belanda sangat mengasyikkan. Kami terlihat santai dan menikmati jalur sepeda di Belanda yang siang itu terhitung sepi. Kondisi itu sangat kontras saat perjalanan dari Olympiaweg ke Brouwersweg. Kami seperti “raja” di jalan. Aku pernah melihat seseorang yang mengendarai mobil harus mengalah dan berhenti mendahulukan sepeda yang lewat. Demikian pula dengan pejalan kaki. Seorang teman bercanda dengan mengatakan bahwa seseorang yang naik sepeda adalah anak Ratu sehingga memperoleh keistimewaan. Apapun itu, aku sangat menikmatinya.
Bersiap-siaplah jadi montir sebab bengkel sepeda sulit ditemui di Belanda
Di balik keasyikan itu semua, ada hal penting yang harus dipahami oleh seseorang yang mengendarai sepeda. Dia harus siap dengan segala kondisi yang menimpa selama bersepeda, seperti ban bocor, rantai putus dan kerusakan sejenisnya.
Tidak seperti di Indonesia yang dengan mudah menemukan bengkel sepeda, seorang yang bersepeda di Belanda harus siap menjadi montir untuk sepedanya masing-masing atau paling tidak memiliki teman yang bisa membantu memperbaiki sepeda yang rusak.
Seperti yang dialami oleh sepeda Arina yang dinaiki oleh Nela di Sabtu siang kemarin. Di tengah jalan, ban sepeda belakang mengalami kekurangan angin. Kami harus berhenti sejenak dan memompa ban tersebut. Di siang itu pula, aku melihat seseorang yang mengganti ban sepeda belakang di tepi jalan.
Bagaimana kalau ingin ke bengkel? Aku belum tahu persis bagaimana menemukan bengkel sepeda atau tambal ban sepeda seperti yang sering ditemui di Indonesia, khususnya di Jawa. Mereka bisa dikenali dengan mudah melalui ban sepeda bekas yang dipasang di depan bengkel. Selain mudah ditemui, bengkel-bengkel tersebut juga masihg terhitung murah.
Tapi di Belanda, sulit sekali mendapati bengkel sepeda di tepi jalan. Aku baru sekali melihat langsung bengkel sepeda yang terdapat di kawasan Brusselse Poort, Maastricht. Tapi, pertimbangkan dulu sebelum pergi ke bengkel. Menurut informasi dari Tante Jane dan Om Doni, ongkos montir dihitung 30 euro per jam, belum termasuk orderdil apabila ada penggantian. Silakan dinilai sendiri apakah mahal atau murah.
Jadi, lebih baik barangkali membeli peralatan-peralatan yang dipakai untuk memperbaiki sepeda seperti pompa, kunci pas, tang, obeng dan peralatan lainnya untuk mengantisipasi jika ada kerusakan pada sepeda. Alternatif lain, dekatlah dengan teman yang pintar memperbaiki sepeda sehingga bila ada kerusakan dapat meminta pertolongannya. Jika tidak, bersiap-siaplah pergi ke bengkel yang menurutku bertarif mahal.









Jadi inget waktu kecil seneng ikut mbengkel….
Lebih seneng lagi kalau dibelikan peralatan
Apa maksudmu dengan ‘membawa beban yang berat’ win ??? grrrrrrrr !!!!!
maksudnya si Win itu adalah ada kelebihan muatan di belakang sepedanya…
Kabur ah…
keren bos