Thanks Proximus…Dank U Hilma

Di salah satu sudut Kota Maastricht

Di salah satu sudut Kota Maastricht

Sebuah SMS masuk saat aku terduduk di dekat pintu masuk stasiun kereta di Maastricht. Aku sangat kaget sebab sedari turun dari Bandara Internasional Schiphol, aku tidak bisa menggunakan handphone.  Segera saja kubuka dan kubaca SMS yang masuk tersebut. Terihat nomor berkode (+31), namun karena teridentifikasi sebagai nomor baru, aku tidak bisa mengenali siapa yang mengirimkan SMS tersebut.

Ternyata Hilma yang mengirimkan SMS. Dia bertanya mengenai siapa yang akan menjemputku dan Bang Zaenudin di Stasiun Maastricht. Bila ada SMS yang masuk maka berarti aku juga bisa mengirim SMS keluar. Aku segera mengetik pesan dan dikirimkan ke Aude, International Relations Officer Center for European Studies Maastricht University, yang berniat menjemputku dan Bang Zaenudin di stasiun kereta. Namun sangat disayangkan, SMS tersebut gagal terkirim. Aku juga mencoba membalas SMS Hilma. Pada mulanya gagal terkirim. Setelah dicoba beberapa kali, akhirnya bisa terkirim. Aku melihat tulisan Proximus di layar handphone yang kuduga adalah sebuah nama operator telepon.

Beberapa kali SMS Hilma masuk.  Aku berharap-harap cemas ketika membalasnya. Aku ingin tetap terhubung dan berkomunikasi dengan Hilma supaya ada yang menjemput. Aku hanya bisa berdoa dan meminta keajaiban agar lekas bisa sampai di GuestHouse Maastricht University. Aku dan Bang Zaenudin sudah ingin melepaskan lelah setelah menempuh hampir 16 jam penerbangan, naik kereta 2,5 jam ditambah dengan barang bawaan yang sangat banyak.

Beruntung sekali. Aku masih bisa berkirim SMS meminta tolong untuk dijemput di Stasiun Maastricht dan Hilma menjawab supaya aku menunggu. Aku langsung membalasnya dan memberitahu lokasiku dan Bang Zaenudin. Setelah SMS itu terkirim, aku berharap Proximus masih  tertulis pada layar handphone. Tapi sangat disayangkan, dia telah pergi dan berganti bertuliskan “searching”. Aku mencoba mengganti metode pencarian jaringan dari otomatis menjadi manual. Namun Proximus tidak ada. Oh TUHAN, apakah ini sebuah keajaiban?

Aku hanya bisa mengucap syukur bahwa ada pertolongan itu. Waktunya sangat tepat sekali. Aku dan Bang Zaenudin bisa segera tiba di GuestHouse Maastricht University. Sambil menunggu Hilma, aku dan Bang Zaenudin menikmati suasana di stasiun kereta Maastricht. Angin berhembus sangat kencang dan perut sudah minta diisi. Aku dan Bang Zaenudin lantas berbagi tugas. Aku menjaga barang-barangf bawaan sedangkan Bang Zaenudin membeli makanan dan minuman.

Aku melayangkan pandangan di sekitar stasiun kalau-kalau Hilma sudah datang menjemput. Kata Om John yang kutemui di kereta, jarak stasiun dengan Maastricht University tidak begitu jauh.  Kira-kira 10 menit kemudian, aku melihat Hilma dari kejauhan. Begitu mendekat aku segera berjabat tangan dengannya. Aku berkata kepadanya bahwa Bang Zaenudin sedang membeli makanan. Sambil menunggu Bang Zaenudin, Hilma mengeluarkan rokoknya dan ngobrol denganku.

Untuk memastikan jadwal bus, Hilma pergi ke halte yang berada tidak jauh dari lokasi kami berdua. Ketika Hilma sampai di halte tersebut, Bang Zaenudin tampak dari jauh membawa bungkusan. Setelah sampai di depanku, aku membuka bungkusan yang dibawa dan memberitahunya bahwa Hilma sudah datang dan sedang mengecek jadwal bus di halte. Ternyata Bang Zaenudin membeli dua buah kebab dan dua kaleng Fanta. Karena kebab tersebut sangat besar, kami memakan satu buah saja untuk berdua. Saat Hilma datang, kami tengah menikmati kebab itu. Aku menawarinya makan juga, tapi tidak mau. Akhirnya kami putuskan membawa kebab itu ke guesthouse.

Begitu selesai, kami bergerak ke halte bus. Rasanya ingin segera sampai. Aku dan Bang Zaenudin menarik kedua koper bawaan kami yang sudah over bagasi. Menurut Hilma, perjalanan ke guesthouse akan memakan waktu sekitar 10-15 menit. Aku harus bersabar menunggu beberapa menit lagi. Saat aku bertanya berapa euro untuk naik bus nanti, Hilma menjawab bahwa dia akan menggunakan strippen kaart jatahnya yang diberikan oleh Centre for European Studies. Dengan kartu tersebut, kami tidak perlu mengeluarkan uang. Driver bus akan menstempel strippen kaart tersebut sebagai tanda pembayaran tergantung jarak yang dituju. Jika jaraknya dekat, maka strippen kaart cukup distempel satu strip saja.

Aku dan Bang Zaenudin mengangkat koper kami masing-masing ke dalam bus dan meletakkannya pada posisi yang tepat supaya tidak mengganggu orang yang lewat. Lagi-lagi banyak kursi yang kosong, namun aku lebih memilih berdiri seperti kebiasaanku bepergian di Jakarta dengan menggunakan TransJakarta. Aku memandangi keindahan kota yang baru saja kudatangi. Banyak bangunan kuno nan megah, tata kota yang sangat teratur, udara yang terlihat sangat bersih dan jauh dari polusi. Tidak lupa orang-orang yang berjalan dengan leluasa di trotoar dan bersepeda di jalur sepeda dengan sangat nyaman. Sangat bersyukur sekali diberi kesempatan menikmati keindahan Kota Maastricht.

Sekitar 10 menit kemudian, bus sudah sampai pada halte tujuan kami, St. Annadal Zuid. Pintu bus terbuka, beberapa orang penumpang sudah turun. Aku dan Bang Zaenudin berada pada urutan paling belakang karena harus mengangkat koper. Kami harus berjalan 10 menit lagi untuk sampai di Guesthouse Teikyo Building. Hilma membantu kami registrasi di resepsionis guesthouse dan menjadi pemandu dadakan untuk menjelaskan beberapa hal seperti penggunaan kunci ruangan, laundry room dan toilet.

Kami akhirnya sampai di kamar. Hilma berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Aku mengucapkan terima kasih karena sudah banyak membantu. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan terobati ketika merasakan suasana kamar yang nyaman.