Menyambut Keajaiban di Maastricht

Foto di kereta yang mengantar dari Utrecht Centraal ke Maastricht

Foto di Kereta yang mengantar dari Utrecht Centraal ke Maastricht

Berada di sebuah daerah yang masih asing tentu memiliki tata cara dan peraturan yang berbeda dengan daerah asal. Peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” terlintas dalam pikiranku sesaat setelah keluar dari pintu kedatangan di Bandara Internasional Schiphol Amsterdam. Barangkali peribahasa itu untuk menyambut kedatanganku dan Bang Zaenudin yang baru saja mengambil barang-barang di bagasi. Kami berdua keluar dari bandara lebih lambat karena bergantian ke toilet dan menjaga barang. Kira-kira dua setengah jam sebelum mendarat, ada gejolak yang hebat di dalam perut. Terasa ada sesuatu yang ingin dikeluarkan, namun hal tersebut sulit diwujudkan di toilet pesawat. Kami berpikir bahwa udara yang disemprotkan untuk membersihkan toilet duduk di pesawat akan sangat tidak tepat jika dilakukan untuk membersihkan feses, sangat berbeda jika udara tersebut digunakan untuk membersihkan urine. Bang Zaenudin sempat masuk ke toilet dan menyaksikan sisa-sisa feses penumpang yang tertempel di toilet pesawat. Oleh sebab itulah, kami memutuskan untuk menahan rasa tidak enak di perut tersebut  sampai tiba di Amsterdam.

Setelah menunaikan panggilan alam yang sudah tertahan beberapa jam, kami segera menukarkan mata uang dollar dengan uang yang berlaku di Belanda, mata uang Euro. Kami segera melakukan hal itu  karena harus segera membeli tiket kereta yang akan mengantar dari Schiphol ke Maastricht. Sistem transportasi yang berlaku di Belanda sempat membuat bingung meskipun kami sudah membaca beberapa petunjuk. Kebingungan kami bertambah karena hampir semua informasi berbahasa Belanda. Kami harus bertanya. Ungkapan “malu bertanya sesat di jalan” sepertinya akan sangat pas jika berada pada sebuah daerah yang masing asing. Pertanyaan intinya adalah bagaimana supaya kami berdua sampai di Kota Maastricht dengan menggunakan kereta. Seorang staf informasi berkata kepadaku bahwa sebaiknya kami berdua pergi mengantri di loket penjualan karcis kereta sebab nanti kami akan beri itinerary yang akan membantu dalam perjalanan ke Kota Maastricht.

Meskipun harus bolak-balik bertanya sambil mendorong troli yang mengangkut dua buah koper berbeban masing-masing 27 kg dan 35 kg, aku dan Bang Zaenudin terlihat tetap bersemangat dan tidak lelah, entah roh apa yang merasuki kami berdua. Sejurus kemudian, kami menuju loket penjualan karcis dan mengatakan bahwa kota tujuan kami adalah Maastricht. Setelah berdialog beberapa saat, petugas loket memberikan harga tiket kereta kelas 1 dari Schiphol ke Maastricht dengan harga 45 Euro untuk dua orang. Dengan tidak berdiskusi panjang, kami menerima tawaran tersebut. Setelah membayar, petugas tersebut memberikan rencana perjalanan dari Schiphol ke Maastricht. Kami harus menunggu di Spoor 3 menuju ke Utrecht Centraal dan dilanjutkan dengan Spoor 15 menuju ke Kota Maastricht. Karena petugas tersebut berkata bahwa kereta akan datang 10 menit lagi, kami lekas menuju ke Spoor 3.  Kami harus meninggalkan troli di dekat eskalator dan mengangkat koper yang cukup berat.

Meskipun sudah diberitahu rencana perjalanan dari Schiphol ke Maastricht, kami masih bingung bagaimana cara mengetahui Spoor 3 dan 15 tersebut. Lagi-lagi bertanya pada orang adalah jawabannya. Bang Zaenudin bertanya pada salah seorang penumpang yang tengah menunggu kereta. Ternyata kami berdua memiliki tujuan yang sama ke Utrecht Centraal. Dia menjelaskan beberapa hal yang paling tidak memberikan informasi mengenai sistem transportasi kereta di Belanda.

Kereta tiba tepat waktu. Dengan terburu-buru aku dan Bang Zaenudin mengangkat koper masing-masing dan masuk ke dalam gerbong agar tidak ketinggalan kereta. Mungkin karena hari Sabtu dan berada di kelas 1, gerbong yang kami tumpangi sangat sepi. Untuk meyakinkan bahwa tujuan kami ke Utrecht Centraal, kami bertanya pada petugas kereta yang masuk ke dalam gerbong. Kami berada di jalur yang benar dan 30 menit lagi kereta akan sampai di stasiun tujuan. Meskipun mendapatkan kursi, namun kebiasaanku di TransJakarta Busway tidak bisa hilang begitu saja. Aku lebih memilih berdiri di samping jendela kaca dan memandang jalan dan pemandangan yang dilalui. Belanda di Sabtu siang sangat sepi. Tidak ada kemacetan dan polusi seperti yang terjadi di Jakarta.

Kereta melaju dengan sangat cepat. Stasiun demi stasiun telah dilalui. Menurut rencana perjalanan yang diberikan oleh petugas tiket kereta, kami akan sampai di Utrecht Centraal pada pukul 12.08. Ketika melihat jam sudah menunjukkan waktu kedatangan di stasiun tujuan, aku sudah mulai siap-siap turun. Kereta tiba tepat waktu di Utrecht Centraal. Kami tidak punya waktu banyak di stasiun tersebut sebab kami harus segera naik ke kereta yang akan menuju ke Maastricht. Untuk meyakinkan, kami bertanya pada seorang petugas bahwa kereta yang akan kami naiki adalah kereta yang menuju ke Maastricht. Setelah dijawab “ya” dan mengucapkan terima kasih, kami segera masuk ke gerbong. Kami meletakkan koper di dekat pintu gerbong. Karena akan menempuh perjalanan kira-kira dua jam, aku dan Bang Zaenudin mencari tempat dan kursi yang PW (PeWe : Posisi Wuenak). Gerbong yang kami tumpangi lagi-lagi sangat sepi. Hanya terlihat dua orang cewek Belanda yang sedang membaca majalah dan seorang meneer yang tengah sibuk dengan kertas-kertas pekerjaannya.

Suasana di dalam gerbong sepi. Jarang terdengar percakapan. Aku memilih duduk sambil melihat dan mengagumi pemandangan rumah-rumah yang sederhana dan pertanian Belanda yang tertata rapi sambil sesekali memejamkan mata. Demikian juga dengan Bang Zaenudin. Saat terduduk di kursi kereta itu, aku seringkali tidak sadar bahwa saat ini aku sudah berada di negeri Belanda. Aku masih merasakan suasana naik kereta di Pulau Jawa.

Suasana hening dalam kereta berubah ketika kereta berhenti di sebuah stasiun. Dua orang laki-laki masuk. Salah satu dari mereka mengomentari Bang Zaenudin yang memakai kupluk. Dia bertanya apakah dingin dengan menggunakan bahasa Indonesia. Aku menoleh kepada kedua orang itu. Dari raut muka dan wajahnya, mereka adalah orang Indonesia. Berdua terlibat percakapan dengan Bahasa Belanda yang tidak kumengerti. Beberapa saat kemudian, aku dan Bang Zaenudin bercakap-cakap dengan kedua orang tersebut yang memang berasal dari Indonesia, namun sudah memiliki kewarganegaraan Belanda. Om John dan Om Joy, demikianlah nama mereka. Om John bekerja di perusahaan kereta yang saat ini kunaiki sedangkan Om Joy bekerja pada salah satu perusahaan di Belanda. Sambil lbercakap-cakap, aku menyodorkan kacang mete yang dibawa Bang Zaenudin dari Mataram. Om John sangat menyukai kacang itu.

Percakapan terus berlanjut. Kami saling bercerita tentang banyak hal. Tentang perjalanan ke Belanda, Jakarta, Indonesia dan tentang pengalaman kedua Om tersebut di Belanda dan Indonesia. Om Joy ternyata pernah tinggal setahun di Kawasan Menteng Jakarta. Percakapan yang mengasyikkan tersebut dipotong oleh seorang cewek seksi yang lewat ketika kereta berhenti di suatu stasiun. Sambil memandangi cewek Belanda tersebut, Om John dan Om Joy berpesan kepadaku dan Bang Zaenudin supaya kami berhati-hati ketika berada di Maastricht. Apalagi pada malam minggu. Apa artinya? Mereka mengatakan bahwa kami berdua akan menyaksikannya ketika di Maastricht nanti. Hmm, it’s ok!!!

Om John berkata bahwa beberapa saat lagi kereta akan tiba di Maastricht. Sebuah sinyal yang bagus dan berharap dapat mengurangi rasa lelah dan lapar selama perjalanan 2,5 jam dari Schiphol ke Maastricht. Aku meminta kontak Om John dan Pm Joy supaya suatu saat dapat menghubungi mereka atau mungkin bermain ke rumah mereka. Dengan senang hati Om John memberikan kartu nama sedangkan Om Joy memberikan nomor teleponnya.

Aku berada di depan Maastricht Station

Aku berada di depan Maastricht Station

Sebuah pengumuman dalam Bahasa Belanda muncul. Aku hanya bisa menangkap kata “Maastricht” dan menebak bahwa kereta sudah memasuki stasiun Maastricht. Aku memandang keluar jendela dan melihat beberapa cabang rel yang menjadi ciri sebuah stasiun. Aku juga melihat tulisan “Maastricht” di sebuah papan. Setelah kereta berhenti dengan sempurna, kami berempat turun. Aku dan Bang Zaenudin mengangkat koper kami masing-masing. Om John segera berpamitan karena harus segera balik ke Amsterdam. Begitulah pekerjaannya. Sampai di sebuah stasiun lantas harus pergi ke stasiun yang lain. Om Joy masih sempat menemani hingga pintu tunggu stasiun hingga akhirnya berpamitan. Kami saling berjabat tangan lantas berpisah.

Lalu apa yang terjadi denganku dan Bang Zaenudin? Kami harus melanjutkan perjalanan ke Maastricht University. Mumpung ada waktu yang banyak dan longgar, kami mengambil beberapa gambar di stasiun. Sesuatu yang sangat sulit kami lakukan di Schiphol dan Utrecht Centraal karena kami terasa diburu oleh waktu untuk segera naik kereta. Kami lantas masuk lagi ke dalam stasiun. Bang Zaenudin mencari toilet dan menitipkan koper dan tas kepadaku.

Sambil menunggu aku mengamati orang-orang yang lalu lalang di dalam stasiun. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik sepeda, ada yang sendirian, adapula yang berpasang-pasangan. Ketika melayangkan pandangan, aku melihat dua orang cewek Belanda yang baru saja bertemu dan melakukan ciuman pipi 3 kali ala Belanda. Aku juga melihat ada sepasang pemuda pemudi Belanda yang tengah berciuman sangat mesra di dekat pintu masuk. Mereka tidak menghiraukan orang-orang yang keluar masuk stasiun.

Beberapa menit kemudian, Bang Zaenudin datang. Kami berjalan keluar stasiun lantas duduk di sebuah tempat duduk. Cuaca sangat cerah. Angin bertiup agak kencang. Aku merapatkan kancing jaketku. Kami belum tahu dengan siapa dan apa supaya sampai di Maastricht University.  Ada nomor kontak yang kucoba SMS, namun ternyata gagal. Aku berharap akan ada keajaiban. Keajaiban itu sungguh terjadi. Ikuti kisah berikutnya!!!