You are here: Home > Nev(d)erland > Kini Aku di Negeri Orang

Kini Aku di Negeri Orang

Jumat, 15 April 2011 jam 21.30 WIB. Aku termenung di jendela kaca pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 88 yang sebentar lagi akan membawa penumpangnya menuju Dubai dan Amsterdam. Pandanganku tidak kualihkan pada para awak Garuda Indonesia dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang tengah sibuk mempersiapkan penerbangan. Perasaan senang dan sedih menyelimuti hati dan sanubariku. Dalam hitungan menit, pesawat tersebut akan take-off meninggalkan tanah air tercinta. Ini adalah penerbangan internasional pertamaku. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa peristiwa malam ini akan terjadi dalam sejarah hidupku.

Awak pesawat memberi informasi bahwa sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Sambil mendengarkan informasi dan memperhatikan situasi di luar, aku teringat dengan kedua orang tuaku. Dua jam sebelum penerbangan, aku menelpon Bapak dan Emak. Sambil mendengarkan nasihat mereka, aku hampir menitikkan air mata. Aku tidak bisa banyak berkata. Aku hanya berkata bahwa aku akan baik-baik saja di Negeri Belanda. Terkhusus untuk Bapak, aku berpesan agar tetap menjaga kesehatan. Glukoma yang menyerang kedua mata Bapak telah membatasi ruang dan geraknya. Mata kanannya sudah sama sekali tidak bisa melihat, sedangkan mata kirinya barangkali hanya bisa melihat beberapa persen saja. Setelah berhenti bekerja akhir Desember 2010 yang lalu, kini Bapak hanya berada di dalam rumah saja. Sebuah pemandangan yang sangat berbeda ketika Bapak masih sehat dan kuat. Sebetulnya aku khawatir dengan keadaannya. Bapak yang terbiasa bekerja keras tetapi kini hanya berada di dalam rumah dan lebih banyak berdiam diri. Tapi aku percaya bahwa TUHAN akan menjaga Bapak, Emak dan keluargaku.

Aku berangkat ke Negeri Belanda bersama Bang Zaenudin, fellow IFP yang berasal dari Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kami berdua akan menyusul 6 teman fellow IFP Indonesia yang sudah berada di Negeri Belanda. Dengan sangat terpaksa, perjalanan kami diundur karena permohonan visa yang mengalami sedikit kendala. Menurut rencana perjalanan awal, aku dan Bang Zaenudin berangkat pada hari Minggu tanggal 10 April 2011, namun visa kami berdua  baru bisa diambil pada hari Kamis 14 April 2011.

Berdasarkan informasi dari beberapa teman, perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Schiphol akan ditempuh selama kurang lebih 16 jam. Perjalanan yang mungkin sangat melelahkan, namun untuk sepertiku yang baru pertama kali melakukan perjalanan luar negeri pasti akan sangat menarik. Aku hanya berkata pada diriku bahwa perjalanan 16 jam tersebut ibarat naik Kereta Api Argo Lawu Gambir Jakarta-Solo Balapan PP. Kalau dipikirkan pasti akan sangat lama, tetapi ketika perjalanan itu dinikmati akan terasa sangat cepat dan menyenangkan. Apalagi tujuan akhir perjalanan tersebut adalah Negeri KIncir Angin Belanda, sebuah  negeri yang diceritakan oleh banyak orang sangat menarik dan kini aku berkesempatan untuk dapat menginjakkan kaki di sana. Thanks GOD!!!!

Tidak banyak hal yang kulakukan di dalam pesawat. Ngobrol, membaca, melihat film dan tidur sambil mendengarkan musik yang disediakan oleh Garuda Indonesia. Aktivitas yang terakhir barangkali memiliki porsi yang terbesar. Hal tersebut mungkin dilakukan oleh penumpang yang lain juga. Tidur di atas pesawat memanglah berbeda dengan tidur di atas ranjang. Beragam posisi tidur aku coba, juga dengan melakukan beragam selingan aktivitas seperti membaca, makan atau melihat film. Dengan memanfaatkan fasilitas bantal dan selimut, tidur menjadi sebuah pilihanku selain untuk beristirahat juga sebagai cara agar perjalanan terasa lebih cepat.

Saat aku tertidur, melalui earphone aku mendengar pengumuman dari awak pesawat bahwa beberapa saat lagi akan mendarat di Dubai. Aku lantas membuka mata dan menyaksikan Kota Dubai di malam hari dari jendela pesawat. Dubai di malam hari sangat menawan dan mempersona. Terlihat lampu-lampu yang gemerlapan dan tertata rapi nan indah. Ingin rasanya terus memandangnya dan menginjakkan kaki di sana.

Pesawat Garuda Indonesia mendarat di Dubai sekitar pukul 02.46 waktu lokal. Aku dan Bang Zaenudin sudah berencana untuk turun dari pesawat untuk berjalan-jalan dan mengambil beberapa foto di sekitar bandara. Namun apa daya, ternyata penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke Amsterdam tidak diperbolehkan turun dari pesawat mengingat keterbatasan waktu transit. Aku hanya bisa berdiri di pinggir pintu pesawat saja sambil melihat beberapa awal pesawat Garuda Indonesia dan catering bandara memasukkan persediaan makanan. Meskipun tidak bisa sekedar menginjakkan kaki di Dubai, aku sangat percaya bahwa suatu saat nanti aku akan diberi kesempatan untuk berkeliling Kota Dubai dan daerah di sekitarnya. Amin ya TUHAN.

Pesawat akan segera meninggalkan Dubai untuk menuju ke Amsterdam. Perjalanan akan ditempuh selama 7 jam 5 menit, demikian informasi yang diberikan. Karena di luar masih gelap, aku masih belum rela untuk melepaskan pandanganku pada pemandangan indah Kota Dubai dari atas udara. Sebuah pengumuman muncul lagi. Ternyata pesawat sedang melintas di atas bangunan tertinggi di dunia yang berada di Kota Dubai, Burj Khalifa. Meskipun hanya melihat dari atas pesawat, aku sudah sangat gembira. Ini pengalaman luar biasa. Suatu hari nanti pasti aku akan berada di sana. Aku mengulangi doa yang tadi kupanjatkan sesaat setelah informasi bahwa penumpang tidak dibolehkan turun dari pesawat. Untuk hal ini aku ucapkan Amin lagi ya TUHAN.

Tujuh jam lagi aku akan tiba di negeri orang, Negeri Belanda. Pemandangan indah Kota Dubai sudah hilang berganti kegelapan. Aku memutuskan untuk melihat mendengarkan musik dan kemudian tidur. Saat akan memakai selimut, aku teringat dengan komentar di Facebook oleh beberapa komentar teman-teman yang sudah sampai di Belanda. Mereka berpesan supaya aku mengambil selimut yang diberikan kepada penumpang Garuda Indonesia. Mungkin mereka tidak tahu bahwa selimut itu bisa dibawa pulang. Kalau saja kapasitas tas masih cukup, aku akan mengambil banyak selimut namun sepertinya hanya bisa menampung dua selimut saja. Aku akan memasukkan ke tas bila nanti sudah mendarat di Schiphol.

Pemandangan Di Atas Garuda GA 88

Sebuah Pemandangan di Atas Pesawat Garuda GA 88 dari Jakarta ke Amsterdam

Sesekali aku melihat pemandangan melalui jendela. Mentari sudah bersinar terang. Langit sangat biru. Pemandangan yang terlihat di bawah hanyalah gumpalan awan yang terus sambung-menyambung hingga membentuk sebuah daratan yang sangat luas. Aku membayangkan bisa bermain bola dan berlari-lari di atas awan-awan itu. Sangat mempesona.

Sebuah informasi diumumkan bahwa pesawat akan mendarat 2 jam lagi di Amsterdam dan penumpang akan dibagikan sarapan pagi. Pikiran waktuku masih sering berada di Indonesia. Aku baru menyadari bahwa saat ini aku sudah berada di atas benua Eropa. Aku perlu menyetel pikiran waktuku supaya sinkron dengan waktu Eropa. Aku sudah tidak sabar menjejakkan kaki di Negeri Belanda. Dua jam lagi. Tidak lama lagi aku akan sampai di Belanda. Sesudah menikmati santap pagi, aku melihat film Indonesia berjudul Senggol Bacok, sambil menanti detik-detik pendaratan di Negeri Belanda.

Melalui jendela pesawat, daratan awan putih masih tampak terlihat. Aku merasa dua jam terasa lama sekali. Tiba-tiba aku bisa melihat tanah daratan dan tidak lama kemudian diikuti sebuah pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Schiphol Amsterdam. Penumpang diminta untuk segera mengenakan sabuk pengaman dan menegakkan sandaran duduk.

Schiphol

Sampai di Bandara Internasional Schiphol

Roda pesawat telah mendarat dengan sangat mulus. Penumpang dimohon tetap di tempat duduk sampai pesawat berhenti dengan sempurna. Aku menata pikiranku supaya memikirkan hal-hal apa saja yang harus kulakukan apabila penumpang sudah diperbolehkan untuk turun. Hal ini kulakukan supaya tidak ada barang yang ketinggalan di dalam pesawat termasuk mengambil paling tidak dua buah selimut untuk dimasukkan ke dalam tas.

Pesawat sudah berhenti dengan sempurna. Para penumpang kelas eksekutif dipersilakan untuk turun dari pesawat terlebih dahulu. Aku segera mengambil tas ransel, mengemasi barang-barang dan melipat dua buah selimut. Ternyata memang hanya cukup dua buah selimut saja yang bisa masuk ke dalam tas. Bang Zaenudin juga memasukkan dua buah selimut.

Setelah dirasa semua beres dan tidak ada barang yang ketinggalan, aku, Bang Zaenudin dan para penumpang yang lain turun dari pesawat secara teratur menuju ke tempat pengambilan bagasi. Setelah berjalan cukup panjang, para penumpang yang baru dating harus mengantri di bagian imigrasi. Setelah ditanya tujuan berada di Belanda, petugas imigrasi mempersilakan aku pergi. Aku dan Bang Zaenudin melanjutkan perjalanan ke tempat pengambilan bagasi. Aku mengambil troli untuk mengangkut dua buah koper besar yang mengalami kelebihan bagasi sebab berat keduanya sebesar 63 kg, sementara masing-masing penumpang terkhusus untuk yang berstatus mahasiswa diberi jatah bagasi sebesar 30 kg. Aku dan Bang Zaenuidin sudah menemukan koper kami masing-masing dan menaikkan ke troli.

Sebetulnya kami berdua sudah menahan sakit perut sejak berada di dalam pesawat. Kami memutuskan untuk menunggu melepaskan sakit tersebut setelah sampai di Schiphol dan selesai mengurus bagasi. Ingin tahu sebabnya, kisah pengalaman naik kereta dan hari pertama di Kota Maastricht, tunggu kisah berikutnya ya!!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

3 Responses to “Kini Aku di Negeri Orang”

  1. Annastasia says:

    aaaahhhh…pengen! mana terusannya….!

  2. [...] sampai Maastricht. Betul-betul perjalanan panjang dari Jakarta-Schiphol-Maastricht. Sejak sampai di negeri seberang ini, saya mulai menyesuikan diri dengan negeri [...]

Leave a Reply