Aku dan Bahasa Inggris
Ada Tantangan
Bagiku, belajar Bahasa Inggris adalah sebuah tantangan. Aku tidak memiliki dasar dan penguasaan yang kuat untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa itu. Sebetulnya, aku sangat ingin kursus Bahasa Inggris di sebuah lembaga atau kursus privat seperti teman-temanku di masa sekolah dan kuliah. Tapi keinginan itu tidak terwujud sebab tidak didukung sumber daya finansial yang cukup. Keinginan serupa juga terjadi pada mata pelajaran lain. Namun aku sadar bahwa jala. Masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Kalaupun tidak ada jalan, buatlah jalan!
Dengan sumber daya yang terbatas, aku mencoba mengoptimalkannya. Aku berusaha belajar mandiri. Aku membeli buku-buku pelajaran Bahasa Inggris di belakang Sriwedari Solo yang terkenal sebagai tempat menjual buku-buku bekas. Aku juga meminjam bacaan-bacaan dari teman atau kakak angkatan. Perpustakaan sekolah dan kampus menjadi tempat terindahku untuk belajar sebab di sana banyak buku dan kamus yang bisa dimanfaatkan.
Dengan tertatih-tatih aku belajar, berlatih dan mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Di awal masuk Sekolah Menengah Pertama, seorang guruku secara tiba-tiba meminta murid-muridnya bergiliran maju dan menulis angka dalam bahasa Inggris. Ada banyak yang gagal, tidak sedikit pula yang berhasil. Aku termasuk dalam kelompok yang gagal. Aku kebagian untuk menulis ordinal number. Aku bingung membedakan beberapa huruf dalam ordinal number. Sebagai hukuman karena gagal, aku harus menulis angka dalam sebuah buku kosong hingga berlembar-lembar dan ditandangtangani oleh orang tua. Merasa “dipermalukan”, kegagalan tersebut malahan menjadi cambuk yang menghajar selutuh tubuhku. Kejadian di kelas Bahasa Inggris tersebut mendorongku untuk bersemangat belajar.
Semasa kuliah sarjana, aku sedikit kelimpungan bila berhadapan dengan buku atau artikel yang harus dibaca dan dibahas. Melihat buku yang tebal dan artikel yang panjang seringkali sudah membuat pening. Tapi semua itu harus dibaca dan dipelajari. Aku harus memaksa diriku untuk membaca kata demi kata dan kalimat demi kalimat hingga tuntas. Rasa lelah seringkali muncul tapi belajar harus tetap jalan terus.
Nilai di atas kertas tidak jelek. Tetapi aku merasa masih ada banyak kekurangan. Lingkungan di sekitarku tidak mendukung untuk belajar Bahasa Inggris secara total. Dalam pergaulan dan percakapan sehari-hari, Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa masih sangat mendominasi. Latihan ketrampilan berbicara, menulis, mendengar dan membaca dalam Bahasa Inggris masih sangat minim. Apapun itu, aku terus berusaha untuk membekali dasar-dasar berbahasa Inggris karena aku sangat yakin bahwa suatu saat nanti akan berguna.
Beruntung aku bekerja di sebuah perusahaan yang mau tidak mau harus berbahasa Inggris. Akhirnya aku memperoleh lingkungan yang tepat. Namun demikian, aku membutuhkan adaptasi di lingkungan tersebut. Aku ditantang untuk menulis, berbicara, membaca dan mendengar Bahasa Inggris setiap hari, tidak hanya dengan orang Indonesia tetapi juga dengan native speaker langsung. Aku berdayakan semua materi yang kuperoleh dari sekolah dan belajar mandiri agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru tersebut. Aku terus berlatih mandiri.
Keinginan untuk mengikuti kursus di sebuah lembaga akhirnya terwujud. Sebagai Fellow Elect International Fellowship Program, aku diwajibkan mengikuti Pre Academic Training di LBI UI Salemba. Tentu aku sangat bergembira. Ini akan menjadi kursus Bahasa Inggris pertamaku. Tanggal 4 Oktober 2010 aku memulai kursus Bahasa Inggris di LBI. Aku belajar TOEFL dari bulan Oktober hingga Desember 2010 dan belajar IELTS mulai dari bulan Januari hingga Maret 2011. Aku sangat beruntung karena mendapat tutor-tutor yang hebat dan teman yang sangat mendukung untuk belajar Bahasa Inggris. Aku banyak mendapatkan masukan dari mereka.
Terus Belajar
Aku banyak belajar hal baru selama kursus Bahasa Inggris di LBI. Ternyata samudera pengetahuan itu sangat luas. Aku menyadari bahwa masih banyak yang tidak aku ketahui dan itulah yang mendorongku untuk selalu berusaha mengikuti setiap perkuliahan di kelas. Hal ini sudah aku lakukan sedari zaman sekolah dan kuliah. Aku berusaha untuk 100% hadir di kelas kecuali jika ada sesuatu hal yang penting sehingga mengharuskanku untuk tidak masuk.
Selain belajar Bahasa Inggris, aku dituntut untuk menaikkan skor TOEFL dan IELTS. Tentu bukan pekerjaan yang mudah, tapi bukan sesuatu hal yang tidak mungkin. Selain belajar di kelas bersama teman-teman dan para tutor di LBI; Ms Rahma, Ms Memmy dan Ibu Anna; aku juga tetap belajar mandiri. Aku harus melakukan percepatan sehingga target yang sudah ditetapkan bisa tercapai.
Hingga bulan Desember 2010, sudah banyak materi yang dipelajari, namun skor belum mengalami kenaikan yang signifikan. Aku sedikit frustasi namun tetap terus berlatih dan berusaha. Dalam sebuah konsultasi dengan Ibu Mira, banyak nasihat yang kuterima, salah satunya tetap berusaha dan belajar. Aku mengamini hal itu.
Bapak Hamidjojo Surjotedjo, Senior Executive for Accenture's System Integration & Technology group, sedang menyerahkan hadiah dalam Do You Know Awarding Night
Aku menantang diriku sendiri untuk membiasakan menulis dalam Bahasa Inggris. Aku memberanikan diri untuk membahas studi kasus dalam Bahasa Inggris. Awalnya ragu, namun aku harus berani melangkah. Kompetisi yang diadakan oleh Accenture tersebut mengharuskan pesertanya untuk membahas 7 studi kasus, bisa diulas dengan menggunakan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia. Pada mulanya aku ingin menulis pembahasannya dalam Bahasa Indonesia, tapi pada akhirnya aku mengetik ulasannya dalam Bahasa Inggris.
Keputusan itu aku ambil semata-mata dalam rangka belajar membiasakan diri dalam lingkungan berbahasa Inggris. Tiap minggu aku harus menyelesaikan satu pembahasan di tengah tugas-tugas dan materi-materi lain yang harus dipelajari. Pada mulanya terasa sangat berat, namun setelah terbiasa semua jadi enak untuk dilakukan. Sempat keteteran tapi pada akhirnya aku berhasil mengatur waktuku.
Dalam sebuah diskusi dengan diri sendiri, aku mengungkapkan bahwa apabila apa yang telah kulakukan tidak akan sia-sia. Bilamana sampai kalah dalam kompetisi tersebut, paling tidak aku sudah banyak mendapatkan hal baru dari studi kasus dan pembahasannya. Selain itu, aku banyak menerapkan pakem-pakem Bahasa Inggris yang diberikan oleh Ms Rahma, Ms Memmy dan Ibu Anna. Aku banyak mendapatkan manfaat dengan mengikuti setiap sesi perkuliahan di LBI.
Tapi TUHAN berkehendak lain. Dalam sebuah malam penganugerahan hadiah di Hotel Shari-la, diumumkan bahwa aku menjadi juara II. Aku tidak menyangka bahwa ketujuh ulasan yang kubuat bisa menduduki peringkat kedua. I can’t believe that but it’s happened!!!
Aku sadar bahwa masih banyak yang harus ditingkatkan. Di depan masih banyak hal yang harus dipelajari. Aku tidak akan berhenti belajar.








