SMS Mama dan Bapak

http://www.klik-kanan.com/blog/wp-content/uploads/2010/08/Kirim-SMS-Gratis-Via-Internet.jpg

Selasa, 8 Maret 2011 pukul 13.59 WIB. Telepon Blueberry yang ada di saku kemejaku bergetar. Dari getarannya, aku bisa mengenali bahwa sebuah pesan singkat masuk. Setelah kulihat di layar handphone, pesan singkat tersebut dikirim oleh sebuah nomor yang belum tercatat dalam buku kontak yang berarti berasal dari nomor baru, yaitu +6287844407968.

Pesan yang menggunakan bahasa Jawa itu dikirim oleh seseorang yang mengaku sebagai Bapak(ku). Meskipun aku sudah tidak percaya bahwa pesan itu dikirim oleh Bapak, namun saya tetap membacanya untuk sekedar iseng-iseng saja. Berikut ini adalah bunyi pesannya:

Iki BPk nyileh HPne konco
Tulung tukune pulsa As20 ewu
nomor anyare Bpk iki nomore 085399477979 saiki penting
mrgo bpk ono mslh mngko bpk seng nlpn awakmu

Bapak minta kiriman pulsa???? It’s strange!!!!

Beberapa bulan yang lalu aku juga sering menerima pesan singkat yang mengaku sebagai Mama dan meminta kiriman pulsa. Pesan singkat seperti itu sangat aneh bagiku. Pertama, karena aku tidak memanggil ibuku dengan panggilan “Mama”.

Apakah pengirim SMS itu melakukan survei nomor-nomor yang dimiliki oleh orang yang kenal Bahasa Jawa sebelum melancarkan aksinya? Untung saja aku orang Jawa yang mengerti isi pesan singkat di atas, meskipun pada akhirnya aku tidak percaya pada isinya. Apabila hal itu dilakukan, wahai pengirim SMS, berarti Anda sangat berusaha keras untuk mendapatkan apa yang ada mau. Kalau pesan itu dikirim ke nomor orang yang tidak mengerti Bahasa Jawa, maka usaha Anda akan gagal total sebab mereka tidak tahu maksud pesan yang dikirim. Atau Anda berpikir untuk gebyah uyah saja tanpa pandang bulu tahu/tidak tahu bahasa Jawa karena biaya mengirim SMS sangatlah murah?

Timbul pertanyaan, apakah ada orang yang percaya pada pesan-pesan seperti itu dan mengirim pulsa untuk yang mengaku sebagai Mama/Bapak?? Semoga saja tidak ada. Jikalau ada, sebaiknya lebih berhati-hati di kemudian hari.

Dari seberang sana ketika aku menulis ini, aku seperti mendengar sebuah suara, “Tapi ya bagaimana lagi  Mas, namanya juga lagi usaha!!!”