Kredo Bang Napi

Masih ingat kredo Bang Napi dalam sebuah program berita SERGAP yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI? Di setiap akhir acara, Bang Napi selalu mengatakan: “Kejahatan tidak selalu terjadi hanya karena niat pelakunya, tapi juga kesempatan. Waspadalah, waspadalah!“.
Saya masih segar mengingat peristiwa handphone saya yang raib dicopet di TransJakarta Busway pada bulan Oktober 2010. Ketika itu memang situasi di dalam bus sangat padat sekali ditambah saya tidak waspada dan berhati-hati dengan memasukkan handphone di saku celana kain. Akibat berdesak-desakan dengan penumpang yang lain ketika akan keluar di Halte Salemba Carolus, saya tidak menyadari kalau ada tangan yang merogoh saku celana. Alhasil, ketika sudah berhasil keluar dari pintu bus, saya baru tahu kalau handphone saya sudah raib.
Tidak waspada!! Selama menunggu di Halte Central Senen, saya mengirimkan beberapa SMS. Saya tidak menyadari apabila ada seseorang yang mengamati gerak-gerik saya. Pada saat bus datang, saya masuk dan memilih berdiri di pojokan. Penumpang yang mengantri di halte diizinkan untuk masuk semua. Bus sangat padat oleh penumpang. Hampir mendekati Halte Salemba UI, ada sebuah handphone yang jatuh yang diketahui oleh pemiliknya. Dia segera mengambil handphone yang terjatuh itu. Si pencopet gagal untuk mengambil handphone itu.
Saat bus mendekati Halte Salemba Carolus, saya bergerak menuju pintu keluar. Saya terhalang oleh penumpang yang berdesak-desakan. Pada saat itulah, Si Pencopet menjalankan aksinya. Dia sangat berhasil memanfaatkan situasi yang crowded di dalam bus. Dengan sangat lihai, sebuah handphone sudah berpindah ke tangannya.
Namun, cukupkah dengan waspada? Hari minggu kemarin ketika dalam perjalanan untuk outbound, seorang teman bercerita kronologis telepon genggamnya yang juga hilang di dalam angkutan kota (angkot). Awalnya saya tidak percaya, bagaimana mungkin teleponnya bisa hilang di dalam angkot yang relatif kecil jika dibandingkan dengan bus TransJakarta? Kalaupun dicopet oleh seseorang, bukankah penumpang yang lain kemungkinan besar melihatnya?
Ceritanya menjadi lain ketika sebagian besar penumpang tersebut adalah sebuah komplotan. Mereka sudah merencanakan aksi kriminalitasnya dengan matang. Boleh jadi komplotan tersebut sudah mengincar mangsa mereka dari kejauhan. Mereka sudah memata-matai seseorang untuk menjadi mangsanya seperti ketika sedang menelpon, berkirim SMS atau aktivitas lain yang memanfaatkan handphone. Apabila seseorang sudah terkepung oleh komplotan pencopet, tindak kriminal bisa dengan mudah terjadi.
Satu cerita lagi ketika saya melihat dua orang preman yang memalak penjual nasi goreng di daerah Salemba hari Jumat malam. Sepertinya mereka sudah terbiasa memalak di sana. Dari luar tenda, saya bisa melihat dan mendengar percakapan mereka. Ketika disodori uang Rp 20.000, kedua preman itu menolak sebab pedagang yang lain memberi Rp 50.000. Kedua preman itu masih setia menunggu meskipun ditinggal lawan bicaranya melayani pembeli.
Jika sudah pada situasi tersebut, apakah waspada saja cukup? Ketika saya menyadari handphone saya hilang di TransJakarta Busway, saya sudah merelakannya. Saya menganggap bahwa si pencopet sedang membutuhkan uang untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya atau keperluan lain yang mendesak. Namun, belajar dari tindak kriminalitas yang terjadi di dalam angkot dan pemalakan terhadap penjual nasi goreng, saya mulai lebih berhati-hati lagi ketika bepergian. Upayakan untuk meminimalkan penggunaan barang-barang yang bisa memancing tindak kejahatan di tempat umum seperti halte bus. Apabila terjadi tindak kriminalitas, lebih bijak jika dilaporkan supaya mendapat penanganan dari pihak yang berwajib. Adakah yang punya saran lain?









Pokoknya prinsip saya, kalau sudah masuk angkutan apapun, mesti tetap waspada
.
Waspadalah…waspadalah
Tapi kalau sudah ketiduran, ya sudah…
What’s Happening i am new to this, I stumbled upon this I’ve found It absolutely helpful and it has helped me out loads. I hope to contribute & assist other users like its helped me. Good job.