You are here: Home > Opinion > Kemuskilan, Berpikir Positif dan Keberhasilan

Kemuskilan, Berpikir Positif dan Keberhasilan

Winners never quit and quitters never win – Vince Lombardi

Mukadimah

Kehidupan dan masa depan ialah sebuah misteri. Tidak ada seorang pun yang tahu bila belum menjalani langkah demi langkah kehidupannya. Meskipun sebuah misteri dan selalu penuh tanda tanya, masa depan yang cemerlang bukan berarti datang begitu saja. Dia bisa direncanakan, diraih dan dirasakan oleh setiap manusia. Hambatan dan rintangan jelas akan ada dan harus dihadapi, namun bukan berarti bisa menggagalkan untuk mencapai kesuksesan.

Ketika bercakap-cakap dengan seorang teman tentang kisah orang-orang yang sukses, kami menyimpulkan mereka tidak serta-merta menjadi sukses, namun harus melewati serangkaian proses yang panjang, berliku dan seringkali meletihkan. Barangkali mereka sangat sering menerima kegagalan, tetapi mereka tidak takut untuk terus mencoba, mencoba dan mencoba.

Itulah warna-warni kehidupan. Cara pandang seseorang yang akan menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh untuk menghadapinya, apakah dia akan bersikap optimis ataukah pesimis. Belajar dari orang-orang yang sukses, keberhasilan dan kemenangan hidup hanya bisa diraih oleh sikap yang optimis dan selalu berpikiran positif atas apa yang dihadapi dalam kehidupan.

Maka dari itu, ketika menghadapi kesulitan dan tantangan dalam hidup sehari-hari,  jangan sekalipun memberi kesempatan kepada sikap dan cara pandang yang negatif masuk menguasai pikiran sebab hal itu dapat menurunkan memotivasi diri. Padahal, bila motivasi dan percaya diri sudah musnah maka akhirnya akan membuahkan kegagalan.

Pada tahap-tahap berikutnya, saya akan mencoba untuk memberikan pengalaman pribadi tentang apa yang telah saya uraikan di atas. Mungkin bagi sebagian orang bukan sebuah pengalaman yang istimewa, namun semoga dapat memberikan inspirasi setiap orang yang membacanya. Cerita pengalaman berkaitan dengan proses penerimaan beasiswa yang saya ikuti dan akan terbagi dalam 3 kategori besar yaitu kemuskilan, berpikir positif dan kesuksesan.

Muskil Memperoleh Beasiswa

Ada banyak orang yang berkata bahwa memperoleh beasiswa adalah sebuah hal yang sulit, karena peminat yang sangat banyak dan telah berpengalaman, sistem seleksi yang ketat serta seringkali membutuhkan unsur bejo (keberuntungan). Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa untuk mendapatkan beasiswa, maka dibutuhkan syarat memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang bagus.

Barisan persyaratan dan perkataan orang itu menggoyahkan semangat dan keinginan saya untuk mendapatkan beasiswa, padahal saya sangat ingin mendapatkan beasiswa S2 sebab orang tua sudah tidak mungkin lagi menginvestasikan dana untuk pendidikan saya. Di sisi lain, saya juga sama sekali belum pernah mengikuti kursus-kursus bahasa Inggris yang paling tidak memberi bekal untuk penguasaan bahasa asing tersebut. Saya hanya mengandalkan belajar autodidak.

Saya mencoba terus berpikir positif untuk memotivasi diri bahwa saya mampu dan bisa. Sejak lulus tingkat S1 di tahun 2007 akhir, saya berusaha mencari informasi-informasi beasiswa namun belum ada keberanian untuk mencoba mendaftar. Saya hanya meneruskan informasi tersebut ke teman-teman melalui Facebook, milis atau email, dengan harapan mereka mendaftar.

Kira-kira 2 tahun kemudian, di pertengahan tahun 2009, saya membaca pengumuman beasiswa di sebuah surat kabar di sebuah warung makan di Kota Denpasar. Nama beasiswa yang baru pertama kali saya dengar, International Fellowship Program. Sesampai di rumah, saya membuka website pengumuman beasiswa tersebut dan akhirnya, meski masih dengan setengah keberanian, saya memutuskan untuk mencoba mendaftar program beasiswa untuk kali pertama.

Saya mempersiapkan persyaratan yang diminta dengan sebaik-baiknya. Setelah selesai, saya mengirimkan persyaratan itu, dengan harapan semua akan berjalan dengan lancar. Selama masa tunggu tersebut, dalam pikiran terjadi pertempuran antara pikiran yang negatif dan positif. Siapa yang akan menang, dialah yang akan menguasai pikiran saya. Saya mencoba untuk selalu berpikiran positif agar bisa memberi semangat dan tetap percaya diri.

Berpikir Positif: Pasti Bisa!!!

Kegundahan hati dan takut gagal selalu menghantui, namun pikiran saya terus mencoba untuk menyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa lolos mendapatkan beasiswa tersebut. Hari demi hari berlalu, hingga suatu saat saya iseng-iseng membuka website beasiswa yang saya ikuti. Tiba-tiba saya menjadi tegang sebab ada pengumuman pelamar yang lolos untuk tes Bahasa Inggris. Antara cemas dan gemetar, saya mengunduh lampiran yang berisi pengumuman tersebut. Saya lolos untuk mengikuti tes Bahasa Inggris.

Tapi jalan masih panjang. Berbekal belajar autodidak, saya mengikuti tes tersebut. Hanya pasrah dan mengerjakan tes dengan sebaik-baiknya dan berharap bisa lolos untuk tahap berikutnya. Saya mencoba untuk rileks sebelum, ketika dan sesudah tes. Saya berpikiran positif bahwa saya pasti bisa.

Kira-kira hampir dua bulan setelah tes tersebut, ada sebuah surat dengan sampul besar datang. Surat itu dikirim dari Jakarta. Pelan-pelan saya buka ternyata berisi undangan wawancara beasiswa. Saya tidak menyangka, betul-betul kaget, saya bisa lolos ke tahap wawancara. Untuk menghadapi tahap ini, saya kembali persiapkan segala sesuatunya; fisik, mental dan spiritual; termasuk berdoa dan meminta doa restu orang tua.

Hari wawancara beasiswa tiba di akhir bulan Mei 2010. Saya berangkat ke Kupang sebagai lokasi wawancara bersama beberapa teman dari Bali. Saya telah meyakinkan diri bahwa saya siap menghadapi wawancara. Ketika sudah hampir giliran jadwal wawancara, saya coba melepaskan semua beban yang bisa menghambat penampilan saat wawancara. Satu jam lebih wawancara itu berlangsung dan setelah selesai saya bersyukur bahwa sudah melakukan yang terbaik.

Buah Berpikir Positif: Keberhasilan

Pengumuman dijadwalkan pada akhir bulan Agustus 2010. Waktu tunggu yang cukup lama antara setelah proses wawancara, membuat saya masih sering cemas akan hasilnya sebab beberapa kandidat penerima beasiswa yang saya temui terlihat lebih pengalaman dan kompeten. Namun saya tetap berpikir positif bahwa pasti bisa lolos serta mencoba tetap rileks menunggu pengumuman.

Sore hari menjelang malam tirakatan memperingati kemerdekaan Indonesia. Sebuah email masuk dan memberitahu 50 orang penerima beasiswa. Saya tegang dan cemas mencari apakah nama Winarto tertulis di sana. Karena tersusun menurut abjad, saya langsung meluncur ke bagian bawah mengingat huruf depan nama saya adalah W.

Oh Tuhan, nama Winarto betul ada di bagian bawah. Masih setengah tidak percaya, berulang-ulang saya membaca email tersebut. Tapi memang bukan mimpi, ini nyata. Apa yang selama ini menjadi misteri terjawab sudah setelah melewati proses yang panjang dan berliku. Luar biasa. Saya sangat girang membaca pengumuman tersebut, lantas mencari Bapak dan Emak terus memeluknya. Saya mengatakan bahwa saya berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi S2.

Saya tidak akan pernah melupakan momen berbahagia tersebut. Saya yang masih “hijau” dan belum banyak pengalaman bisa lolos sebuah program beasiswa yang selama ini dicari dan didambakan oleh banyak orang. Boleh jadi hari tersebut adalah sebuah kemenangan yang saya alami atas ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang terus menghantui.

The Spirit of Positive Thinking

Sejatinya, berpikir positif adalah pangkal dari keberhasilan dan untuk menjadi pemenang. Ketika dalam proses mengalami berbagai macam cobaan, halangan rintangan dan kegagalan, maka seorang pemenang tidak akan pernah menyerah untuk terus mencoba dan berusaha. Sebagimana dikatakan oleh Vince Lombardi bahwa winners never quit and quitters never win.

Pada kisah di atas, saya terus mencoba untuk membangun pikiran yang positif. Berpikir positif dapat memberikan energi untuk terus berusaha. Ketika menerima kegagalan, maka pikiran yang positif mendorong untuk tidak menyerah dan patah semangat. Dia akan terus memotivasi dan menyemangati diri sendiri. Berpikir positif juga dapat menghilangkan perasaan takut yang sebetulnya belum tentu akan terjadi, tapi mengintimidasi dan bisa melemahkan.

Oleh sebab itu, tidak ada gunanya berpikiran negatif, sebab pikiran negatif hanya akan melemahkan semangat. Hidup memang akan penuh kesulitan dan rintangan, namun dengan berpikiran positif maka akan mampu memberikan semangat untuk terus berjuang hingga mencapai keberhasilan dan kesuksesan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

3 Responses to “Kemuskilan, Berpikir Positif dan Keberhasilan”

  1. [...] Kemuskilan, Berpikir Positif dan Keberhasilan | Winarto's … [...]

  2. Alimah says:

    Hebat mas Win, memang hanya dengan berpikir positif yang mampu melalui segalanya dengan baik-baik saja.

    aku pun berkali-kali gagal, tapi tetap berpikir positif dan semangat suatu saat aku akan mampu mendapatkan beasiswa S2. jika sempat menjawab, senang skali jika mas Win bisa berbagi tentang hal apa saja yang biasanya dipertanyakan dalam wawancara beasiswa S2? terimakasih sebelumnya

  3. @helgaindra says:

    satu kata buat tulisan ini

    SALUT!

Leave a Reply