Mengindahkan Hukum Keluar-Masuk

Nonton Bareng Kompasiana film The Social Network pada hari Sabtu, 13 November 2010 di XXI Plasa Senayan kemarin memberikan ide untuk membuat sedikit catatan samping; bukan tentang nonton bareng atau tentang film yang ditonton. Lalu apa yang ingin disampaikan? Mungkin sesuatu yang kecil, namun seringkali banyak orang yang mengabaikan hukum keluar masuk ini.
Banyak gedung tinggi menyediakan lift sebagai fasilitas untuk mengantar orang untuk naik/turun antar lantai. Demikian pula di Plasa Senayan. Untuk sampai di XXI sebagai lokasi nonton bareng yang berada di lantai 6, maka digunakanlah lift. Satu per satu orang memasuki lift yang akan mengantar dari lantai ke lantai. Lift hampir penuh. Di dalamnya sudah mepet dan dempet.
Dalam suasana berdempetan, saya mencoba “berjudi” dengan diri sendiri. Apa yang dijudikan? Saya sering melihat ada orang yang langsung menerobos masuk ke dalam lift, sedangkan orang masih berjudel di dalam dan belum bisa keluar. Apakah hal tersebut akan terjadi di lantai 6 nanti?
Satu per satu lantai dilewati. Bagai memasang angka di judi dadu, setelah mata dadu terlemparkan, akhirnya perjudian saya itu terjawab. Tidak menang dan tidak kalah, sebab tidak ada orang yang akan masuk lift di lantai 6 itu. Satu per satu Kompasiner keluar lift dan saya keluar paling belakang.
Rasa penasaran saya belum terjawab. Saya masih mencoba memerhatikan perilaku pengguna lift di beberapa titik di Plasa Senayan. Kejadian yang sering saya lihat kembali terjadi beberapa kali. Di saat orang yang berada dalam lift ingin keluar, namun pada saat bersamaan, ada orang yang ingin masuk ke dalam lift. Saya hanya bergumam mengapa tidak memberi kesempatan untuk orang dari dalam lift keluar lebih dulu, dan setelah itu baru masuk ke dalam lift. Apakah karena sedemikian terburu-buru?
Lain lift, lain pula di TransJakarta. Untuk bepergian di Jakarta, saya lebih suka menggunakan TransJakarta Busway. Saya sampai menyimpan peta rute TransJakarta di tas untuk dapat mengetahui rute-rutenya. Pemandangan seperti kejadian di lift di atas kerap terjadi di hampir setiap halte. Ada banyak hal yang memiliki pintu khusus penurunan penumpang, namun tidak sedikit pula yang memiliki pintu yang sama untuk menurunkan sekaligus menaikkan penumpang.
Di pintu yang terakhir itulah yang seringkali terjadi masalah. Penumpang yang ingin turun terhalang oleh penumpang yang hendak naik bus. Seperti yang saya alami kemarin. Seusai Nonton Bareng Kompasiana dan datang ke acara Education UK Exhibition di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta. Untuk sampai ke Salemba, maka dibutuhkan transit di beberapa halte. Salah satunya Halte Dukuh Atas 1.
Hampir sampai di Halte Dukuh Atas 1, saya dan penumpang lain yang hendak turun di sana bersiap-siap antri di dekat pintu. Begitu sampai, terlihat beberapa calon penumpang yang ingin naik bus. Bukannya menunggu, namun salah seorang penumpang yang masih berumur lima belasan tahun nyelonong masuk. Meski dihalangi oleh petugas dan diminta sabar menunggu penumpang yang akan turun, dia tetap saja masuk. Kejadian itu hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang terjad di halte TransJakarta.
Lalu harus bagaimana? Untuk kasus di lift dan bus TransJakarta, semestinya para penumpang mengindahkan hukum keluar-masuk. Artinya, biarkan orang yang ada di dalam lift/bus keluar terlebih dahulu. Apabila sudah kelar, gantian mereka yang ingin masuk lift/bus. Dengan begitu, semua jadi lancar dan amankan? Apakah saking terburu-buru atau takut tidak kebagian tempat sehingga mereka tidak mengindahkan hukum keluar masuk?









Kalau di dalam pertandingan sepakbola/futsal, pemain pengganti yang masuk lapangan sebelum pemain yang digantikannya keluar dari lapangan, akan dihukum kartu kuning langsung.