Hikmah Bencana: Bersyukur Dalam Segala Keadaan
~Mula~
Detik demi detik terus berlalu. Dia tidak menambah atau mengurangi kecepatan berputarnya. Waktu terus melesat hingga bulan November sudah tiba. Begitu banyak kejadian-kejadian mengejutkan yang telah terjadi pada beberapa hari yang lalu. Siapa yang menyangka bahwa akan terjadi bandang di Wasior? Siapa yang bisa memperkirakan bahwa akan ada gempa dan tsunami di Mentawai? Dan siapa pula yang bisa memberitahu bahwa dalam waktu yang tidak begitu lama, Gunung Merapi memuntahkan lava pijarnya?
Silih berganti bencana alam datang dan menimpa rakyat Indonesia. Ini jelas sangat memprihatinkan. Belum lagi selesai sebuah masalah, telah datang masalah lain yang tidak kalah penting. Belum lagi selesai recovery daerah bencana, telah muncul bencana lain yang meratakan sebuah wilayah. Apakah ini betul-betul menjadi pertanda bahwa dunia akan segera berakhir? Itu juga tidak ada orang yang tahu. Karena tidak ada yang tahu, maka akan lebih bijak jika tidak berbicara/membicarakan tentang itu.
Kejadian yang beruntun dan bertubi-tubi membawa keprihatian umat manusia lain. Sebagai bentuk rasa kemanusiaan, berbondong-bondong solidaritas untuk meringankan beban para korban bencana dihimpun dan dikirimkan. Para volunteer diorganisir dan dikirimkan ke daerah bencana. Sumbangan dalam beragam bentuk dan nilai terus dikumpulkan. Doa-doa dan harapan-harapan terus dilambungkan agar bencana berhenti dan tidak memakan korban lebih banyak.
Tidak ada yang mau tertimpa dan menjadi korban bencana. Tapi apabila itu sampai terjadi, bagaimana harus menyikapinya? Banyak cara menyikapi sebuah bencana yang tejadi dan tentu masing-masing orang memiliki cara-cara sendiri untuk menyikapi sebuah bencana. Bencana bisa dinilai sebagai sesuatu hal yang menyakitkan, namun juga bisa dipandang sebagai teguran dari Yang Maha Kuasa kepada umat manusia agar tansah eling atas apa yang terjadi dan dialami dalam kehidupan.
~Bersyukur Selalu~
Apakah perlu mengeluh apabila tertimpa sebuah bencana? Sebagai seorang manusia biasa, masing-masing orang memiliki kekuatan dan cara pandang masing-masing dalam menilai sebuah bencana yang menimpa. Dalam kondisi yang tidak menentu akibat bencana, apakah masih mungkin untuk mengucapkan rasa syukur atas bencana yang terjadi? Well, jawabannya bisa bermacam-macam dan salah satu jawaban atas pertanyaan itu adalah sangat mungkin.
Selalu ada pelajaran hidup yang bisa dipetik dari sebuah bencana. Tidak jarang, kebesaran Yang Maha Kuasa ditunjukkan pada saat terjadinya bencana. Seperti ditulis oleh Detikcom beberapa waktu lalu yang mengabarkan bahwa seorang anak yang bernama Azizah selamat dari tsunami di Mentawai setelah tersangkut di pohon (Baca Detikcom, Minggu 31 Oktober 2010, Tersangkut di Atas Pohon, Azizah Selamat Saat Tsunami di Mentawai).
Bila bencana datang, itu berarti manusia sedang diingatkan untuk selalu introspeksi dan bersabar diri. Ada sebuah pesan dari Novel Rembulan Tenggelam di Wajah-MU karya Tere-Liye. Novel yang sangat menarik dalam menjawab 5 pertanyaan besar Rehan, seorang konglomerat yang harus menempuh lika-liku kehidupan; tidak tahu siapa orang tuanya, hidup di panti asuhan yang pemiliknya mata duitan, beberapa kali bertempur dengan maut hingga ikut dalam aksi perampokan berlian seribu karat. Tidak berhenti di situ, setelah bertobat dan sukses menapaki tangga karir di bidang konstruksi bangunan, Rehan harus mengubur mimpinya untuk mendapati karena istrinya keguguran dan akhirnya meninggal.
Bagaimanapun, ujian dalam hidup harus dihadapi. Salah satu lagu D’massive yang berjudul Jangan Menyerah, sangat relevan untuk tulisan ini. Di dalam liriknya, pencipta lagu itu mengungkapkan bahwa hidup adalah anugerah, oleh sebab itu, rasa syukur harus dipanjatkan dalam segala keadaan.
Jika melihat bencana-bencana yang terjadi di Indonesia, mungkinkah ada yang menyesal dilahirkan di Indonesia, sebuah negeri yang dikelilingi Pacific Ring of Fire dengan deretan gunung-gunung berapi serta rawan gempa? Mengapa tidak di Arab? Mengapa tidak di Amerika? Mengapa tidak di Eropa? Mengenai hal itu, manusia tidak ada yang bisa memilih hendak dilahirkan dimana. Ini juga menjadi sebuah pertanyaan besar dalam hidup Rehan. Jawaban dari penulis novel itu sangat sederhana, karena keberadaan dan hidup manusia akan menjadi sebab-akibat bagi kehidupan orang lain.
Satu hal yang tidak terlewatkan dalam sebuah bencana adalah solidaritas untuk saling mendukung dan meringankan korban. Dengan memanfaatkan banyak media, aksi-aksi solidaritas terus bergerak dan dikirim ke kantong-kantong pengungsian beserta bantuan makanan, obat-obatan, kebutuhan sehari-hari hingga terapi psikologi pasca bencana. Mungkin, inilah salah satu “sisi positif” bencana. Jika bencana datang, maka aksi-aksi solidaritas dan kemanusiaan bergerak sangat pesat. Bila bencana datang, manusia seakan diingatkan untuk membantu dan berbagi dengan sesama. Betulkah demikian?
Apapun itu, untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saat ini terkena dan menjadi korban bencana; wasior, mentawai dan merapi; tetaplah sabar dan terus semangat dalam menjalani hidup. Tetap bersyukur dalam segala keadaan karena pasti ada hikmah di balik bencana ini. Selamat datang bulan November 2010. Mengutip lirik lagu Bondhan Prakoso dan Fade2Black bahwa everythings gonna be ok. Amien and GBU.









tapi dari yang saya baca…cloud computing ini keknya salah satu yang dinilai gagal juga deh…paling respon dan aktivitas dunia tidak seheboh yang dibayangkan sebelumnya
This is really interesting, You are a very skilled blogger. I have joined your rss feed and look forward to seeking more of your magnificent post. Also, I have shared your site in my social networks!
You made certain fine points there. I did a search on the matter and found nearly all people will consent with your blog.
you.|great information you write it very clean. I am very lucky to get this tips from you.|great information you write it very clean. I’m very lucky to get